
lirih Alan kala melihat Mike masih tertidur dalam posisi jauh lebih parah dari sebelumnya.
Sejenak ia melihat ke arah jam dinding, kini waktu sudah menunjukkan pukul 19:45 pm. Ia heran, Apakah Mike tidur hingga selama itu tanpa terbagun sama sekali? Pikir Alan.
Ia hendak membangunkannya, namun belum jadi ia lakukan lantaran Mike pasti akan banyak bertanya jika melihat tampilan dirinya masih kusut, cenderung tidak rapih akibat perkelahian tadi. Alhasil ia pun membersihkan diri terlebih dahulu.
Beberapa menit telah berlalu, ia pun usai membersihkan diri lekas hendak mencari pakaian di lemari. Namun, ketika ia melangkah menuju kesana, di kejutkan oleh suara yang cukup keras di sebelah kasur.
Glodak!
Ia menoleh untuk melihat apa yang terjadi.
"Astaga, Mike!" Serunya lekas mendekat melihat sang kakak terjatuh dari kasur dalam posisi tengkurap. Namun anehnya Mike masih saja terpejam yang membuat Alan geleng-geleng kepala.
"Mike, astaga.. hei, bangun." Panggilnya seraya menepuk-nepuk pundaknya.
Plek! Plek!
"Em.. 5 menit lagi.." sahut Mike.
"Heeh?" Alan terbengong lantaran Mike menjawab namun mata dia masih saja terpejam. Ia hendak membantunya untuk kembali ke atas kasur, namun Mike malah menangkis tangannya berulang kali.
Seet! Seet!
"Huss.. huss.. nanti Lan, 5 menit lagi" Lirihnya.
"Cih, parah." Gumam Alan teringat Verza kala di asrama dulu, namun masih parah Mike jika dibangunkan.
Alhasil ia menyelesaikan untuk berbenah diri terlebih dahulu sebelum melanjutkan lagi untuk membangunkannya.
Tak selang waktu lama, ia kembali lagi untuk membangunkan sang kakak. Namun kali ini ia tidak menepuknya dulu melainkan langsung mengangkat badan Mike sampai posisi duduk.
"Fuuuff.. fuufff" Alan meniup-niup wajah Mike yang masih terpejam. Namun Mike malah menangkisnya dengan tangan lekas terkena wajah.
Plak!
"Astaga, Mike. Kamu ini tidur kok bisa seperti mayat hidup, Ayo cepat bangun." Ulang Alan sedikit menggoyangkan badan sang kakak.
Sieet sieet
"Emm Nanti Lan, huuaaah hah" Mike menyemburkan uap beraroma khas dari mulut, membuat Alan langsung mundur sembari tutup hidung.
Lanjut Mike membuka mata, lekas tersenyum lebar.
"Hehe"
"Parah kamu, cepat bangunlah dan bersihkan diri."
"Huaaam, brrrr" Mike memegangi kepalanya sendiri lekas melihat ke arah jam.
"What! Itu.. jam mati kah?"
Alan tidak menjawabnya namun tak lepas memandang seraut asam kepadanya.
"Oih Lan, kenapa memasang ekspresi semacam itu pagi-pagi begini. Gak enak sekali lihatnya." Gumam Mike sembari mengucek-ngucek mata.
"Pagi kamu bilang?" Jawab Alan.
"Errr.." Mike tampak linglung akibat terlalu lama tidur sehingga ia tidak ingat waktu pada saat ini.
Ia hendak beranjak bangun, namun disaat masih setengah berdiri ia langsung terjatuh lagi.
Gedebug!
"Oit, oit, haiyaa kenapa seperti sedang naik kapal laut begini si, buminya muter-muter." Gumamnya lekas beranjak berdiri lagi.
Sementara Alan masih diam sembari memperhatikan. Namun saat Mike hendak berdiri, terulang hal yang sama yakni terjatuh lagi.
"Oit, oit, oit"
Gedebug!
"Huufff.." Alan menghela napas melihat sang kakak. Alhasil, ia mendekat untuk membantunya berdiri.
"Aha, kamu memang benar-benar adik yang baik hati" Celoteh Mike sengaja berbicara mendekat ke wajah Alan kala Alan tengah merangkulnya, membuat Alan sedikit memalingkan wajah akibat aroma khas dari mulut sang kakak yang membuatnya ilfil.
"Jangan banyak berbicara, cepat bersihkan dirimu." Alan menuntunnya menuju ke kamar mandi.
"Kenapa Lan, aromanya khas ya.. hehe. Rasakanlah sensasinya lagi nih, huuah" Mike sengaja meledek Alan dengan memberinya semburan napas dari mulut.
"Keterlaluan kamu Mike, cepatlah sana!" Pungkas Alan sedikit mendorong Mike kedalam kamar mandi.
"Oit, oit, oit,"
Suut!
"Aishh, untung kagak nyungseb. Sue! kamu Lan." Gumam Mike mendengus.
***
__ADS_1
Disaat Mike masih mandi, Alan langsung membereskan kekacauan didalam kamar yang masih sangat berantakan sedari pagi. Sesudah rapi seperti sedia kala, lanjut ia stay di meja belajar.
"Fiiuu.. fuuu.. fiuu.. fii.." Siul Mike bernada indah saat keluar dari kamar mandi lekas melangkah mencari pakaian di lemari tak jauh dari meja belajar.
Sejenak menoleh ke Alan, terlihat masih fokus belajar, Alhasil ia sengaja usil dengan menyanyikan sebuah lagu yang biasa ia nyanyikan sedikit lantang.
"Do your thang.. Do your thang.. with me now
What's my thang what's my thang tell me now tell me now, yeah, yeah, yeah."
Alan sedikit melirik, sebab suara Mike cukup membuat fokusnya terganggu, ia tidak terlampau menggubrisnya. Namun, Mike malah semakin mengeraskan suaranya dalam lagu yang sama membuat Alan geram langsung melemparnya dengan buku.
Suut!
Klotak!
"Oit, haha gak kena.. gak kena.. " ejek Mike merasa puas berhasil menjahili Alan seraya memakai kaos.
"Cih, kebiasaan kamu!" Seru Alan tampak asam.
"Hehe," Mike cengengesan meraih buku tersebut lekas membawanya kembali ke meja.
Kala Mike mendekat, Alan langsung menarik satu kursi lekas menyuruh Mike untuk duduk bersamanya tanpa melalui kata.
Greeek
"Haiyaa.." Mike memonyongkan bibir karena sudah tau apa maksudnya.
"Tidak ada haiya-haiya, Mari kita belajar. Aku melihat nilai matematika mu sangat buruk. Kenapa bisa seperti ini Mike?" Lanjut Alan seraya membuka buku milik Mike.
Mike terdiam seraya garuk-garuk kepala.
"Apa di kepalamu banyak ketombe? Jawablah kenapa kok bisa matematikamu seburuk ini, Apa kamu tidak pernah belajar?" Lanjut Alan bersikukuh menanyakannya.
"Semua terjadi bukan tanpa Alasan." Jawab Mike singkat.
"Bukan tanpa alasan?"
"Hum, semua itu terjadi bukan tanpa Alasan. Matematika.. inti dasar untuk segalanya kususnya dalam hitung-berhitung, tentu saja aku tau tentang itu." Jawab Mike.
"Lalu?" Tanya Alan.
"Kamu pasti sudah tau kakakmu ini kan? Jika aku pandai dalam berhitung otomatis suatu saat nanti kehidupan ku bakal membosankan seperti papa. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Aku ingin hidup bebas tanpa ada ikatan apapun dengan apapun, paham?"
"Maksudmu pergaulan bebas?" Tanya Alan.
"Wait, kamu pasti sudah menyangka yang bukan-bukan ya.. hehe tidak Lan, maksudku bukan seperti itu. Dengarlah, aku pernah membicarakan ini sebelumnya padamu namun akan ku ulangi lagi.
Seiring berjalannya waktu, pola pikir ini tumbuh dengan sendirinya, aku berpikir jikapun disuruh memilih untuk hidup mewah seorang diri tanpa perhatian dan kasih sayang dari keluarga atau hidup miskin bersama keluarga dan sahabat, aku pasti lebih memilih hidup miskin namun penuh kasih sayang dari orang-orang yang menyayangiku.
Saat aku sudah tumbuh besar, Papa selalu memaksaku untuk terus belajar dan belajar supaya bisa menjadi anak sesuai keinginannya. Semakin aku di paksa rasa hati ini semakin tersiksa dan menolak Lan. Asal kamu tau dulu aku pernah punya pikiran mau kabur dari rumah loh, hehe."
"Segitunya?" Sahut Alan.
"Hu um, karena aku paling benci jika apapun yang tidak sesuai dengan pikiranku di paksa-paksa supaya nurut. Tapi, aku masih punya otak untuk berpikir. Jadinya ya.. gak beneran kabur cuma ngeluyur doang gak pulang-pulang hehe."
"Dan sekarang jadi keterusan?" Sahut Alan.
"Jangan di tanya, Hehe" Mike cengegesan.
"Cih," Alan tampak Asam.
"Eh Lan, ketahuilah dulu aku berpikir andaikan aku bukan anak tunggal, apapun yang papa inginkan dariku maka akan aku serahkan semua ke saudaraku." Lanjut Mike.
"Maksudmu?" Tanya Alan.
"Maksudku.. sekarang kan aku sudah tau bahwa aku bukan anak tunggal lagi alias punya saudara yaitu kamu, Jadi.. sekarang lebih baik kamu belajar yang giat ya, supaya semua yang papa inginkan bisa kamu wujudkan okey?" Lanjut Mike bergegas berdiri.
"Cih, Itu hanya alasanmu karena tidak mau belajar, hei, mau kemana kamu Mike?" Tanya Alan kala Mike melangkah mengambil jaket di lemari seraya meraih telepon genggam di atas meja.
"Cari rokok sebentar." Jawabnya seraya melangkah hendak meraih gagang pintu.
"Mike," panggil Alan.
"Hum, ada apa? aku hanya sebentar kok." Jawab Mike.
"Em.. tidak-tidak nanti saja, yasudah kamu cepat kembali." Pungkas Alan berpikir hendak menyampaikan pesan Verza tadi siang, namun belum jadi ia sampaikan dikarenakan keadaan.
"Seep" Mike melangkah pergi.
***
Next
Saat ini jam menunjukkan pukul 21:15 pm.
Alan fokus meneruskan belajar sementara Mike keluar menggunakan motor, sebab jarak antara area komplek perumahan dengan mini market cukup jauh. Namun ia tidak berkunjung ke mini market terdekat lantaran hendak sekalian mengisi bahan bakar.
"Alamak, tutup pula nih pom." Gumamnya kala sudah sampai di pom bensin terdekat. Alhasil ia melaju lagi untuk menuju ke pom bensin lain berjarak cukup jauh.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, plang SPBU sudah terlihat, namun sebelum sampai, motornya sudah lebih dulu kehabisan bensin.
Jrug! Jrug! Jrug!
"Oit, oit, Alamak, Aissh!" Gumamnya kesal. Alhasil ia pun mendorongnya.
Tidak selang waktu lama, usai ia mengisi bahan bakar, ia masih duduk di atas motor tepat di pinggir jalan pojok pom bensin itu hendak mengangkat panggilan dari telepon genggam yang terus-menerus berbunyi.
Kring.. kring.. kring..
Bip!
"Ya, ada apa bro?" Tanya Mike kala rekan-nya menelpon yakni Vidze.
"Gawat Bro, loe buruan kesini" Jawabnya tergesa-gesa.
"O" Mike hendak menjawab 'Oke' Namun belum terucap lantaran terkejut kala tiba-tiba ada yang meraih handphonenya. Yakni dirampas oleh pejambret.
"Woi!" Pekik Mike lekas meninggalkan motor bergegas hendak mengejar sang pejambret itu.
Kekuatan berlari antara pejambret itu dengan Mike jauh lebih cepat Mike. Alhasil walau sebelumnya jarak keduanya cukup jauh, kini hanya berjarak kurang lebih 7 langkah dari pejambret tersebut.
Mereka masih kejar-kejaran di pinggir jalan raya hingga akhirnya mereka belok ke arah jalan yang tidak terlalu besar namun masih cukup ramai pedagang di pinggir jalan maupun ruko-ruko.
Disela-sela berlarinya, Mike secara ngawur meraih buah semangka berukuran sedang dari pedagang yang menjajakan dagangnya di atas mobil pick up.
"Woi, berhenti loe Maling!" Pekik para pedagang itu, kebetulan mereka tipe orang sang sangat kikir. Alhasil salahsatu diantara mereka ikut mengejar Mike yang masih berlari mengejar pejambret itu.
Hingga akhirnya tepat didepan sebuah bengkel mobil, Mike melempar buah semangka itu tepat di kepala si penjambret itu.
"Berhenti kau jambret!" Teriaknya
Suut!
Brak!
Lemparan Mike tepat sasaran, sontak si pejambret itu langsung tersungkur, lekas Mike meringkus tangannya ke arah belakang, membuat perhatian banyak orang yang menyaksikan.
Namun, disaat Mike berhasil meringkusnya, ia mendapat hantaman keras benda tumpul dari arah belakang yakni oleh pedagang kikir tadi.
"Matilah kau maling!"
Brrak!
Sontak Mike langsung terjatuh dalam posisi terlentang di sebelah jambret itu. Alhasil banyak orang yang datang mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi, termasuk orang-orang yang berada di bengkel itu.
"Oh Tuhan, Mike!" Ucap salahsatu orang yang berada di bengkel tersebut, yakni Saga. (Teman Mike saat mendaki gunung) bersama teman-teman lain yakni Samuel dan Dion.
Mereka bergegas menolong Mike.
Samuel menangkis pedagang kikir itu kala hendak memukul Mike lagi.
Dion meringkus si pejambret itu kala dia hendak kabur dalam posisi tengkurap serta tangan dia di bekuk ke belakang. Sementara Saga membantu Mike berdiri.
"Loe gak papa Mike, ada apa ini?" tanya Saga sembari menepuk pelan pundak Mike.
"Eh, kau bro, Gua gak papa, ini.." Jawab Mike belum tuntas berkata-kata sudah di serobot kata oleh pedagang kikir itu.
"Hei kau maling, Berani-beraninya kau mengambil dagangan saya! buah itu dibeli pakai uang ngerti kau, Cepat kau ganti rugi!" Pekiknya melotot garang.
Mike tersenyum seraya melepaskan tangan Saga dari pundaknya lekas mendekat ke pedagang kikir itu.
"Baiklah, Berapa kerugian anda dari satu buah yang saya ambil?" Tanya Mike.
"Hei Anak muda, Sekalinya maling tetap saja maling meskipun itu hanya satu buah, paham kau!"
"Ya, ya, Maaf saya mengakui itu salah. Baiklah ambillah ini sebagai ganti rugi dan lekaslah pergi." Pungkas Mike memberinya uang dalam jumlah banyak.
Sontak ekspresi wajah pedagang itu yang sebelumnya garang kini menunduk dan tersenyum setelah menerima uang tersebut. Sebab jumlah uang yang Mike berikan nyaris setara dengan jumlah modal dia dalam berjualan.
Setelah orang itu melangkah pergi, Saga dan Samuel geleng-geleng kepala.
"Hilih-hilih parah, jadi orang kok pelitnya sampai kecirit" Gumam Samuel.
"Eh, Kecirit tuh apaan Bro?" Sahut Saga, tampak Bodoh.
"Noh, tanya si Mike, tuh bocah pasti sering kecirit," Lanjut Samuel mengejek. Sontak Mike langsung menimpuknya.
Plak!
"Kecirit pala loe botak, Sue!"
"Hahaha" Samuel tertawa lepas.
"Wei kalian, masih ada gua disini kunyuk! Hei Mike, gimana dengan penjahat cilik ini?" Tanya Dion sembari masih menahan si pejambret itu di tanah.
Bersambung..
Catatan
__ADS_1
Ingatlah semua nama tokoh yang pernah bermain pada bab-bab awal. Sebab semua akan tetap bermain namun tetap sesui alur.
Ulang lagi bagi yang ingin melihat visual tokoh main karakter, bisa lihat di instagram @kapten1868 terimakasih. Jangan lupa mainkan jempol Like ye 😁