Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 104


__ADS_3

Meskipun orang itu masih saja berteriak mengucapkan kalimat ancaman, Alan sudah tidak menghiraukannya lagi. Kemudian Alan beranjak ke toilet lain untuk menyelesaikan urusannya di toilet. (Buang air)


Setelah ia selesai, Alan hendak menuju kembali ke tempat bagian buku tadi, namun sebelum ia melangkah kembali ke arah bagian tersebut ia memutar arah dulu ke arah bagian fashion karena ia merasa pakaian yang sedang ia pakai bau akibat terpecik sampah ketika ia memukul orang tadi dengan tempat sampah, yang mana isi dari sampah tersebut berserakan sehingga sedikit mengenai pakaiannya.


***


"Loh Mike, kemana Michealan?" Tanya Marvin setelah dia usai berbincang-bincang melalui telepon.


"Sedang pergi ke toilet Pa, tapi sudah dari beberapa menit yang lalu masih belum selesai, apakah dia nyasar ya?" Mike sembari menoleh kesana dan kemari.


"Kenapa tidak kamu temani tadi, Mike?"


"Dia saja yang tidak mau aku temani Pa. Apa aku susul saja dia kesana?"


"Lebih baik kita tunggu sejenak, lagian juga kamu tidak tau dia berada di toilet bagian sebelah mana, nanti malah sibuk saling mencari." Jawab Marvin menyadari Alan belum menggunakan telepon genggam sehingga akan sulit jika saling berpisah seperti ini.


Setelah Marvin selesai mengucapkan kalimat tersebut, Alan sudah kembali.


"Nah, ini dia bocahnya nongol" Sapa Mike sembari menepuk pundak Alan.


Plek!


"Maaf menunggu lama." Ucap Alan


"Kamu beneran bersemedi tadi di toilet, Lan?" Lanjut Mike sembari mendekat ke wajah Alan.


"Cih," Alan hanya meliriknya saja.


"Sudah-sudah, tidak masalah. Oh iya apakah kalian sudah selesai menemukannya? (buku)" tanya Marvin.


Alan dan Mike masing-masing saling mengangguk.


"Yasudah jika memang seperti itu, mari kita pulang hari juga sudah semakin senja" pungkas Marvin.


"Iya Pa, eiit tunggu sebentar." Lanjut Mike ketika mereka beranjak menuju ke arah kasir. Alhasil Marvin dan Alan menghentikan langkahnya.


"Apa lagi Mike? Apakah ada sesuatu yang tertinggal? ataukah ada sesuatu yang lupa belum kamu cari?" Tanya Marvin menoleh ke Mike.


Sementara Mike sendiri langsung menoleh ke arah Alan yang posisinya berjalan di sebelah dia, kemudian Mike memandanginya dari ujung kaki hingga kepala.


Alan pun mengangkat satu alisnya ketika Mike sedang melihat dirinya.


"Bukankah tadi kamu bukan memakai pakaian ini ya? dan juga saat kita berada di bagian fashion kamu tidak berganti maupun mencobanya? Lalu.. kapan kamu berganti pakaian ini?" Tanya Mike merasa heran nan penasaran.


"Em.. anu.." Alan ragu-ragu hendak menjawab


"Ah sudah-sudah mari kita pulang, keburu jalanan macet" sambung Marvin Sehingga kalimat yang hendak Alan jawab dari pertanyaan Mike tadi terpangkas.


"Aiih, emang udah langganan kalo jalanan macet mah.. eiit tungguin aku jangan di tinggal." celoteh Mike ketika Marvin dan Alan sudah langsung berjalan menuju ke arah karsir di saat Mike masih saja berdiam sembari berpikir.


Setelah semuanya usai, mereka bergegas pulang.


***


Perjalanan ketika mereka pulang berbeda dari saat mereka berangkat yaitu kini cukup tersendat karena padatnya arus lalu lintas. Sehingga mereka tiba di kediamannya tepat pukul 22:00 karena mereka juga sempat mampir ke beberapa tempat untuk membeli sesuatu.


"Ahh.. akhirnya kita sampai. Mari Mike, Michealan kita makan malam dulu" Ajak Marvin sembari membuka bungkus makanan di atas meja makan seusai mereka beli ketika dalam perjalanan pulang tadi.


Karena memang Marvin sengaja tidak mengajak mereka makan di restoran saat berada didalam Mall, mengingat tadi belum tiba saatnya jam makan, lagipula saat di Mall mereka semua masih merasa sangat kenyang. Mengingat siangnya memakan masakan Alan dalam porsi yang cukup banyak, khususnya Mike dan Marvin.


"Loh kok cuma di lihat doang makananya Lan, apakah makananya tidak sesuai dengan seleramu?" Tanya Mike sembari mengunyah ayam goreng kesukaannya.


"Iya Nak, ayo kamu juga makan" sambung Marvin.


"Iya Ayah," jawab Alan langsung ikut serta makan walaupun hanya beberapa suap.

__ADS_1


Ketika Mike menoleh ke Alan dan melihat Alan hanya makan beberapa suap, ia langsung mengambil paha ayam goreng lalu ia hendak menyuapkannya langsung ke mulut Alan.


Sep!


"Emmph, apa sih Mike. Tidak, saya tidak Mau"


"Ayolah sedikit saja. Makanlah.. hihihi" Mike memaksa sembari cengengesan ketika Ayam goreng tersebut ia sodorkan ke mulut Alan.


"Emmp.. emmph" Alan masih saja tidak mau membuka mulutnya.


"Hihihi ayolah buka mulut mu, sedikit saja" Mike masih antusias untuk menyuapkannya.


"Mike.. sudah-sudah kamu jangan begitu, jangan memaksa seperti itu." Ucap Marvin.


"Aiissh Papa mah," Mike menghentikannya sembari melirik ke arah sang Ayah dan akhirnya ia melahap sendiri ayam goreng yang ia sedorkan ke Alan tadi.


Sementara Alan langsung menyapu bekas ayam goreng yang sedikit menempel di mulutnya tersebut menggunakan tisu. Kemudian ia melirik ke arah Mike sembari sedikit tersenyum.


"Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan saat ini Lan, Sue." Bisik Mike ke Alan karena ia tidak berhasil meniru Alan ketika Alan memaksanya makan sayur pada saat siang hari tadi. Dan kalimat yang ia sebutkan tersebut adalah ia merasa senyuman Alan mengejeknya karena ia tidak berhasil melakukan seperti Alan melakukan hal tersebut kepadanya. (Memaksa makan)


Marvin menggelangkan kepala melihat ekspresi Mike nampak Lucu, yang mana sebelumnya Mike tidak pernah selucu itu melainkan kaku.


"Yasudah, Mike, Michealan kalian segera beristirahat, esok pagi kalian sudah kembali ke sekolah. Dan khususnya kamu Michealan hari esok adalah hari pertama kamu masuk sekolah di sekolahan yang sama dengan Mike"


Alan menganguk sembari tersenyum. Marvin bergegas masuk ke dalam kamar. Di susul Mike langsung merangkul pundak Alan hendak mengajaknya masuk jua ke kamar.


Plek!


"Hehe, Come on tuan muda"


"Cih" Alan meliriknya sembari melepaskan tangan Mike yang berada di pundaknya.


Seet!


Namun lagi-lagi Mike kembali merangkulnya sembari cengengesan


Plek


"Aiish!" Alan langsung melepaskannya lagi dan lagi sembari menampiknya.


Seet! Plak!


"Aiih.. Sue! Come on lah tuan Muda"


Plek!


Hingga akhirnya mereka seperti orang yang sedang berkelahi (bercanda) narik ulur tangan. Mike antusias merangkulnya sementara Alan sendiri menangkis dan menangkisnya hingga berualang kali. Lalu Alan langsung berlari menaiki anak tangga, Mike juga langsung menyusulnya sembari tertawa-tertawa.


"Haha sue! Hey tunggu aku tuan Muda," Teriak Mike ketika Alan sudah berlari.


***


Setelah sudah didalam kamar, Alan sudah langsung berganti pakaian dan duduk di atas kasur sembari melihat-lihat hape yang baru saja dibelikan oleh sang ayah ketika di Mall tadi. Sementara Mike sedang sibuk berjalan mondar-mandir ke arah lemari sembari membuka beberapa laci.


Clek klek


Greek greek


Karena bising akibat suara dari Mike membuka tutup beberapa lemari dan laci, akhirnya Alan melirik ke arah Mike yang masih sibuk membuka beberapa lemari dan laci tersebut sembari garuk-garuk kepala. Namun, Alan sudah menduga tentang apa yang yang sedang di cari oleh Mike alhasil ia kembali fokus melihat hapenya.


"Lan,"


"Hem"


"Ssst, hey Lan tengok kesini lah" ucap Mike karena Alan tidak menoleh ke arahnya sama sekali.

__ADS_1


"Lan," ulang Mike.


"Hem"


"Aissh, ham hem mulu" Akhirnya Mike mendekat ke Alan dan langsung duduk di sebelahnya.


"Widih sikep nian.." ucap Mike melihat hape yang tengah Alan pegang kemudian ia langsung mengambilnya.


Seet!


Alan pun hanya meliriknya saja ketika hape yang sedang ia pegang tiba-tiba di rebut Mike.


"Hehe, mari kita tes dulu kejernihan kamera ini" Ucap Mike sembari membuka aplikasi kamera didalam hape tersebut.


"Sini Lan, kamu mendekat" Pinta Mike sembari menarik bahu Alan.


Seet!


Kemudian ia langsung memfoto mereka berdua.


Cekrik


"Aha, coba kita lihat dulu hasilnya" lanjut Mike setelah usai berfoto bersama-sama. Alan pun mendekat hendak melihat hasil foto yang baru saja mereka lakukan.


"What! ekspresi macam apa kau ini. Aissh ulang lagi." Lanjut Mike sebelum Alan melihatnya.


"Coba aku lihat dulu bagaimana hasilnya tadi." Pinta Alan sembari hendak mengambil hape tersebut di tangan Mike, Namun Mike langsung menjauhkannya.


Seet!


"Wait, aku bilang kita ulangi lagi." Lanjut Mike membuat Alan sedikit mendengus.


Ketika mereka sudah dalam posisi hendak berfoto, Mike langsung sedikit menarik sebelah bibir Alan menggunakan tangannya. Namun Alan malah langsung menghindar dan menampik tangan Mike.


Seet!


"Apaan sih Mike."


"Ekspresi mu itu lho kaku nian, coba senyum dikitlah biar sedap di pandang mata, kek gini nih contoh-nya, iiiiii" Mike mempratekkannya sembari unjuk gigi mendekat ke Alan.


"Cih, konyol." Alan pun tersenyum melihat ekspresi Mike nampak Konyol saat Mike sedang mencontohkannya. Namun Akhirnya Alan mengikuti saran Mike untuk pose tersenyum ketika mereka berdua berfoto.


"Siap.. satu, dua, tiga"


Cekrik


"Aha, ini dia baru sip. Lihatlah" Ujar Mike sembari memperlihatkannya ke Alan. Membuat Alan langsung tersenyum ketika melihat hasil jepretan tadi.


"Gimana bagus, kan?"


Alan tidak menjawabnya melainkan hanya tersenyum sembari masih melihat foto tersebut.


"Ini adalah foto pertama kita Lan, simpanlah dengan baik-baik nanti di share ke hapeku juga akan ku simpan dalam album Story of the Lives Twins" Tutur Mike.


"Story Of The Lives Twins?" Alan menoleh ke Mike.


"Hu um, kisah kehidupan saudara kembar yaitu kisah kehidupan kita Lan, kelak kisah kehidupan kita ini akan menjadi sejarah sampai anak cucu kita nanti"


Mendengar kalimat tersebut Alan tersenyum sembari menatap ke wajah Mike.


"Kenapa malah tersenyum begitu, bukankah benar yang ku ucapkan tadi?" Tanya Mike.


"Iya, tapi tutur bahasamu itu seperti narasi dalam Novel." Jawab Alan sembari menaruh hapenya di atas meja sebelah kasur.


"Aiish sue! Oh iya Lan, Aku mau bertanya kepadamu"

__ADS_1


"Tanya apa?"


__ADS_2