Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 91


__ADS_3

Setelah Alan sudah sampai tepat dimana posisi Marvin berdiri, ia langsung memeluk Marvin dengan sangat erat.


'Oh Tuhan, sungguh egoisnya aku ketika itu aku enggan untuk menunggu penjelasan dari ayahku, aku sungguh menjadi anak yang benar-benar bodoh. Maafkan Alan ayah..' batin Alan ketika ia memeluk erat Marvin.


Marvin pun langsung ikut serta menangis ketika ia dipeluk oleh Alan yang mana pelukan tersebut terasa hangat dan terasa tulus dari sang anak yang sayang dengan dirinya.


'Terimakasih Tuhan,' Batin Marvin tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur kepada sang pencipta karena kebahagiaan yang selama ini dia nanti-nantikan akhirnya ia dapatkan yaitu bertemu kembali dengan putranya yang hilang selama 17 tahun yang lalu.


Semua warga yang menyaksikan mereka tanpa terkecuali, ikut terharu ketika melihat sebuah keluarga yang bersatu kembali.


***


Kemudian, ketika Marvin, Mike dan Alan sedang berkumpul terdengar suara tamparan cukup keras dari arah belakang mereka.


Plak! Plak! Plak!


"Dasar anak tak tau diri kau! Bed*bah! Sungguh memalukan!" Teriak seseorang yang sedang menampar seseorang cukup keras yang tak lain dia adalah Johan. Dia sedang menampar putrinya sendiri yaitu Jessi.


"Papa!" Teriak Jessi.


"Tak usah kau berteriak-teriak! Kenapa kau berani berbuat seperti ini Jessi! Sungguh memalukan! Bahkan almarhum mama kau pun sangat menyesal telah memiliki putri yang kelakuannya memalukan macam kau! Kurang apa aku dalam mendidik mu hah! Sehingga kau tumbuh menjadi gadis yang tidak punya malu dan tidak memiliki hati semacam ini Jessi!" Teriak Johan.


"Papa! Kenapa papa tega berbicara seperti itu kepadaku pa! Kenapa papa sama sekali tidak membelaku!" Jawab Jessi dengan nada tinggi seraya menangis.


"Membela macam apa hah! Kau adalah seorang gadis! Tidak sepantasnya kau melakukan hal bodoh semacam ini hanya karena seorang lelaki! Sungguh sangat memalukan!" Teriak Johan karena dia sendiri selaku ayahnya sempat tenggelam dalam muslihat yang dibuat oleh Jessi. Namun ketika kebenaran telah terungkap ia sungguh merasa malu dan emosi melihat kelakuan putrinya sendiri.


"Tapi pa! Papa sekalipun tidak akan pernah mengerti tentang perasaanku!"


"Aiish! Perasaan macam apa pula itu hah! Ingatlah Kau itu masih remaja. Isilah hari-hari kau dengan aktifitas yang positif seperti yang sudah papa ajarkan selama ini! Dan utamakan lah pendidikanmu! Bukan malah seperti ini Jessi! Sungguh sangat Memalukan, paham kau!"


"Cukup pa!"


"Kau yang cukup! Ayo pulang! Cepat Pulang kau!" Pungkas Johan sembari menarik tangan Jessi hendak membawanya pulang.


Ketika Johan menarik tangan Jessi hendak membawanya pergi, semua warga yang berada disana melihat semua kearahnya, lalu mereka saling meneriakinya.


"Huuuu! Dasar wanita tidak tahu malu kau!" Teriak para warga yang lebih dominan ke ibu-ibu. Johan selaku orang tuanya dengan sangat buru-buru membawa Jessi hengkang dari tempat tersebut. Karena rasa malu yang tak terhingga ia rasakan setelah apa yang dilakukan oleh putri tunggalnya.


Namun bagi Jessi sendiri, ia samasekali tidak menghiraukannya.

__ADS_1


"Alan! Alan! Oh Tidak, lepaskan pa, Alaaaaaan" Teriak Jessi ketika ditarik pergi oleh sang ayah. Ia tiada henti-hentinya menengok kearah Alan. Sembari terus-menerus memanggil namanya.


"Sudahlah diam kau!" Bentak Johan seraya menarik tangan Jessi jauh lebih kuat.


***


Disisi Marvin, Alan dan Mike, mereka hanya melihatnya dari arah kejauhan seraya menggelengkan kepala, khususnya Marvin sebagai sesama orang tua tunggal.


Setelah Johan telah membawa Jessi pulang, kemudian sang kepala desa langsung membubarkan warga yang berkumpul disana. Namun sebelumnya, ia sempat berdialog terlebih dahulu kepada seluruh warga yang berada disana tentang segala kejadian yang telah terjadi tersebut hanyalah fitnah belaka.


Alhasil, semua wargapun akhirnya menyesalinya, dan beberapa diantaranya langsung meminta maaf kepada Marvin, dan Marvin jua pun langsung menerima permintaan maaf tersebut dengan besar hati.


Karena bagi Marvin segala apapun yang sudah terjadi adalah suratan takdir Nya, alhasil iapun sama sekali tidak menuntut, karena Alan sendiri langsung memegang tangan Marvin seraya menggelengkan kepala ketika para warga saling meminta maaf kepadanya.


Alan tidak ingin jika ayahnya sampai menuntut ataupun sejenisnya dari perkara yang telah usai terjadi, karena ketika Alan sedang dihakimi oleh mereka, Alan tahu bahwa semua warga yang menghakiminya telah terhasut oleh sang provokator, bukanlah mutlak dari mereka masing-masing membencinya.


Alan tidak ingin jika masalah tersebut berlarut-larut menjadi besar dan otomatis akan berbuntut panjang dan lama. Namun dibalik itu semua pribadi Marvin sendiripun sama seperti pemikiran Alan, karena jikapun masalah tersebut menjadi berlarut-larut otomatis akan menuai waktu lebih lama sedangkan ia sendiri hanya berpikir untuk segera membawa Alan untuk kembali kedalam kehidupannya, tidak lebih dan tidak pula kurang dari itu.


kemudian, semua warga yang berada disana berlahan-lahan berjalan pergi meninggalkan alun-alun tersebut. Lalu Verza selaku teman terbaik Alan langsung menghampiri mereka seraya tersenyum ditengah-tengah kerumunan para warga yang sedang berjalan pelan meninggalkan tempat tersebut.


***


"Hey kawan. Apakah engkau mengenaliku?" Sapa Mike.


Verza langsung tersenyum dan langsung mendekat kearah Mike seraya menepuk pundaknya.


Plek!


"Ya kawan, aku telah mengenalimu. Wahai Alan yang ke dua hehe" jawab Verza sembari tertawa.


"What? Apa kau bilang, aku Alan yang kedua? hey, No! Aku ini adalah Alan yang asli tau." jawab Mike sembari melirik ke arah Alan.


Membuat Alan langsung tersenyum ketika Mike sedang mencandai sahabatnya. Sontak membuat Marvin dan beberapa orang yang masih berada disana ikut jua tertawa ketika melihat Mike dengan kekonyolannya.


Kemudian, Marvin bercakap-cakap sejenak dengan sang kepala desa tersebut dan dengan beberapa orang yang masih berada disana, yaitu bercakap-cakap tentang ia hendak membawa Alan untuk kembali pulang kerumahnya.


Sementara Alan, Mike dan Verza mereka saling bercakap-cakap jua ketika Marvin sedang berbicara dengan para warga.


"Lan, apakah loe akan segera ninggalin gua?" Ucap Verza merasa sedih karena segala apa yang sudah terjadi dan setelah mengetahui bahwa sesungguhnya Alan bukanlah anak dari tetangganya, maka sudah bisa dipastikan bahwa kini Alan hendak segera pergi untuk kembali kepada keluarga aslinya.

__ADS_1


"Verz, aku tidaklah pernah meninggalkanmu, aku tetaplah sahabatmu dan engkau jua tetap sahabatku, jangan karena hanya jarak lalu engkau berpikir aku meninggalkanmu." Jawab Alan.


"Hey, kawan. Tengoklah kearah kesana" sambung Mike menelunjuk kearah gunung yang terlihat dari arah kejauhan.


Kemudian Alan dan Verza pun langsung melihat kearah yang Mike tunjuk.


"Lihatlah Disana ada gunung kawan" jawab Mike sembari tertawa.


"Aisssh! Loe mah suka sekali memecah suasana bro" jawab Verza mendengus.


"Haha, tidak-tidak, maksud gua adalah, awal semua dari segala yang terjadi dan yang menjadikan gua berada disini dan mengenal loe dan segala yang ada disini adalah gunung itu. Namun, ketika itu gua belum merasa puas berada di puncak sana. Jadi, suatu saat nanti pastilah gua akan kembali menaklukan tingginya gunung itu, dan pastinya bersama dengan saudara kembar saya yang tercinta ini." Jawab Mike sembari merangkul Alan.


"Bersamaku?" Jawab Alan singkat.


"Yap! Pastinya."


"Mengharap" Jawab Alan sembari meliriknya.


"What? Mengharap? Apakah kau tak mau? Hey, itu sangat mengasikkan tau" lanjut Mike.


"Membuang waktu saja."


"Aisssh, hey dengarlah, tidak ada yang namanya waktu terbuang jika itu untuk senang-senang." Lanjut Mike sembari cengegesan.


Membuat Verza yang melihatnya ikut tertawa sembari menggelengkan kepala.


"Hey, kenapa kau tertawa kawan?"


"Tidak, gua hanya tidak habis pikir dan ah.. susah untuk gua jelaskan." Jawab Verza.


"Hemmm ya bro, gua tau, loe pasti lagi terpikir yang sudah terlewat kan? Haha" lanjut Mike.


"Haha iya, kalian memiliki rupa yang sangat mirip nyaris terlihat sama, namun kalian sangatlah sangat jauh berbeda"


"Hey, tidak, tidak ada yang berbeda Lihatlah dan tunggulah. Suatu saat nanti, dia akan segera sama sepertiku, menikmati anugrah Tuhan didalam bumi ini. Ya gak?" jawab Mike mengangkat kedua alisnya sembari melirik kearah Alan yang posisinya masih ia rangkul.


"Mengharap." Jawab Alan singkat sembari meliriknya jua.


Sontak membuat Verza langsung tertawa ketika melihat kekonyolan dari kedua saudara kembar yang sangat jauh berbeda antara sifat dan karakternya.

__ADS_1


__ADS_2