
Alan hanya meringis kesakitan kala senjata tajam itu melukai tangannya, Lantas barusaja lengan kanan terluka ia melirik tajam ke arah kedua orang tersebut sedang berlari menuju ke arahnya sembari melemparkan senjata tajam satu lagi, Kali ini bukan jenis samurai, melainkan badik.
Suut!
Tak ingin terulang untuk kedua kalinya, Lekas ia meraih pundak Bapak-bapak itu supaya sedikit bergeser seraya hendak menunduk menghindari senjata tajam yang melayang di udara tersebut.
"Awas Pak!" Ucapnya, namun dalam keadaan terdesak membuatnya meraih pundak bapak-bapak itu terlampau kuat menjadikan keduanya terpeleset hingga jatuh bersama-sama.
Glabrug!
"Wadoh, wadoh, Boyok-ku …" Rintih Bapak-bapak tersebut sangat terkejut, saat kebetulan posisi tubuhnya menimpa Alan.
Kejadian yang sedang berlangsung ini sangatlah singkat. Dengan segera Alan membenarkan posisi tubuhnya.
"Apa bapak baik-baik saja." Kali ini ekspresinya tampak tergesa-gesa lantaran bimbang jikalau kedua orang sampai disana berujung melukai bapak-bapak yang samasekali tidak terlibat dengan urusannya itu.
Akibat terlampau tergesa-gesa hingga tak disadarinya sesuatu yang berada didalam kantong jaketnya jatuh ke tanah, yakni sebuah kue spesial buatannya yang ia simpan rapi didalam stoples kecil yang hendak diberikan kepada Ananta namun belum jadi dilakukannya.
Setelah itu, Inisiatif tinggi yang dimiliki oleh Alan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi pada bapak-bapak tersebut, bergegas naik ke atas Motor lekas menyalakan mesin kendaraannya.
Brum … Brum ...
"Mari Pak, naiklah"
Bapak-bapak itupun segera menurutinya lantaran dia sendiri sedang kesakitan pada bagian pinggang akibat terpeleset tadi, sekaligus ia sudah bisa menduga bahwa posisi pemuda ini sedang dalam bahaya.
Walau Alan belum begitu pandai mengendarai sepeda motor, namun saat ini ia sangat yakin dengan apa yang dilakukannya, kebetulan kendaraan bermotor milik bapak tersebut tidak sama seperti milik Mike, yakni bukan jenis MOGE.
Sesudahnya Bapak tersebut duduk dengan baik dibelakangnya, Bapak itu terkejut ketika mengetahui kedua orang yang sedang mengejar Alan nyaris tiba di belakangnya seraya hendak meraih pundaknya. Tapi Alan sudah mengetahui itu. Maka, dengan segera ia memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh.
Brum .. Brum ..
Ngoengg …
"Brengs*k! Berhenti loe Woi!" Teriak kedua orang itu saat nyaris meraih pundak bapak-bapak itu dari belakang, tapi gagal.
Kedua orang itu segera mengambil senjata tajam yang tergeletak di tanah, kemudian mereka berlari sekencang-kencangnya mengejar Alan. Namun, Alan memacu kendaraan cukup kencang menjadikan tidak ada kesempatan bagi keduanya menyusul, hingga akhirnya salahsatu diantara mereka melemparkan senjata tajam sekuat tenaga ke arah Mereka (Alan dan bapak itu)
__ADS_1
"Musnah kau, Kampang!"
Suut!
Jleb!
"Arrgh! Ya Ampun Gusti" Teriak Bapak-bapak itu. Sontak Alan pun melotot.
"Pak, Apa bapak baik-baik saja?" Tanya-nya seraya fokus berkendara melihat jalan.
Bapak itu masih belum menjawabnya saat Alan bertanya satu kali. "Pak, apa bapak baik-baik saja, Pak?" Ulang-nya tampak khawatir.
"Ak--A--ku ra popo Le, kowe Fokus ae nyetire, tekan pol dalan iki ono klinik, mengko mandek'o ning kono yo." Jawab bapak tersebut.
(Artinya: Aku tidak apa-apa Nak, kamu fokus saja menyetirnya, sampai ujung jalan ini ada klinik, nanti berhentilah disana ya.)
"Baik pak." Jawab Alan singkat sudah menduga bahwa telah terjadi sesuatu dengan bapak tersebut, seraya tangan kiri meraih tangan bapak itu dibelakangnya kemudian meletakkannya di pinggangnya. "Peganglah erat Pak." Ucapnya seraya mempercepat laju kendaraannya.
Semasih fokus berkendara, tiba-tiba Alan merasakan ada sesuatu yang menempel di pundaknya yang tak lain ialah kepala Bapak itu kini menyandar di pundaknya.
"Pak," Panggilnya lagi.
Tidak mendengar jawaban dari bapak itu, lekas ia menghentikan kendaraannya sejenak di bahu jalan.
Jrug! Jrug! Jrug!
Ia melakukan itu karena yakin jarak Antara Kedua orang yang mengejarnya tadi sudah sangat jauh. Perlahan ia menoleh ke belakang sembari meraih pelan bahu bapak itu.
"Pak …" Panggilnya lirih, mendapati mata bapak itu terpejam, namun bapak itu masih sadar hanya tampak lemas.
Sontak ia melotot saat awal mula melihat tangan kanan bapak tersebut berlumuran darah tersorot lampu pada jalan itu. Kemudian dilanjutkannya melihat ke sisi belakang.
'Ya ampun Tuhan'
Yakni, sebuah senjata tajam jenis Badik menancap di bagian punggung bapak itu. Tak ingin lama-lama melihat orang lain menderita karena jadi korban dari masalah pribadinya, Ia bergegas memacu kendaraannya lagi menuju klinik yang terletak di ujung jalan itu sesuai yang telah bapak itu sebutkan tadi.
Skip
__ADS_1
___
Pada sisi Lain
Setelah melemparkan senjata tajam, kedua orang pesuruh Anwar tersebut menyadari tidak akan ada kesempatan bagi mereka dapat menyusul Alan. Lantas Akhirnya mereka terpikir lebih baik kembali lagi ke gedung tadi hendak menyusul Anwar yang mereka kira saat ini Anwar kembali ke sana.
Mereka tidak melalui jalan yang sama sewaktu mengejar Alan tadi, melainkan melalui jalan lain. Salahsatu orang itu masih memegang senjata tajam yang tidak dilemparkan ke Alan, jenis Samurai.
Lantas ketika mereka sedang berjalan tiba-tiba berjumpa dengan beberapa anggota Polisi yang sedang mencari keberadaan Alan sekaligus keberadaan Anwar dan lainnya termasuk mereka berdua.
Akibat mereka memiliki catatan kriminal juga, maka disaat melihat polisi mereka langsung refleks ketakutan, sehingga memperkuat dugaan polisi bahwa mereka berdua adalah rombongan penjahat yang menculik Alan.
Alhasil mereka langsung diringkus dan di introgasi. Pertanyaan demi pertanyaan pun langsung terlontar. Tentu saja, Sangat sulit bagi mereka untuk berbohong lantaran bukti kuat sangatlah tampak, yakni dari senjata tajam yang sedang mereka pegang tersebut.
Akhirnya mereka berdua di gelandang oleh beberapa jumlah anggota polisi kembali ke gedung itu, sementara beberapa polisi lainnya melanjutkan kembali pencariannya sesuai petunjuk dari jawaban kedua orang tersebut saat di introgasi tadi. Yakni mengarah ke timur.
___
Sementara pada sisi Mike masih terus berlari kencang menuju ke arah timur bersama Jovan hingga kini mereka tiba di pinggir jalan.
Mike tiada henti menoleh ke sana dan ke mari begitupun dengan Jovan, mereka masih terus berjalan menuju lurus ke arah timur di sepanjang jalan sepi itu.
Hingga beberapa saat kemudian, mereka berhenti sejenak. Jovan duduk di trotoar jalan sementara Mike masih berdiri seraya tiada henti mencoba menghubungi nomor sang Adik.
Semasih Jovan duduk di trotoar jalan tersebut, ia merasakan sensasi tidak nyaman didalam perutnya yakni perut terasa lapar.
'Aih cacing sialan, lagi keadaan genting begini ngapa kalian pada ikut-ikutan demo segala sik, ett dah.' Gumam batinnya kesal seraya mengusap perutnya sendiri.
Lantas untuk mengalihkan rasa laparnya itu ia hendak berdiri mendekat kembali ke Mike, namun ketika ia melangkah tiba-tiba ada suatu benda yang terinjak kakinya.
Klek!
"Oit, apaan nih?" Penasaran, ia segara meraih benda tersebut.
Sesudah benda tersebut di tangannya lantas ia perhatikan sejenak dengan baik sebelum akhirnya ia melotot kegirangan setelah mengetahui isi dari benda tersebut.
"Huaaaa"
__ADS_1