
Ia kembali memanggil-manggil Mike secara berulang-ulang sembari masih menepuk-nepuk pipi dan pundaknya. Ia merasa sangat cemas karena belum ada respon dari Mike sama sekali. Kemudian, ia meletakkan jarinya didekat hidung Mike untuk memastikan keadaan dirinya karena melihat dari fisiknya nampak sangat pucat.
'Puji Tuhan, syukurlah'
Alan merasa lega ketika ia masih bisa merasakan hembusan nafas dari Mike. Kemudian, ia meninggalkan Mike beberapa saat untuk mencari sesuatu. Ia berjalan mengelilingi rumah kosong yang tidak berpenghuni tersebut.
Kemudian, Ia melihat ada kain bekas bergantung diantara tali tambang dari samping rumah kosong tersebut, entah milik siapapun itu langsung ia ambil karena kebetulan jua kain tersebut dalam keadaan bersih, mungkin saja kain milik tetangga sebelah kosong rumah itu atau milik siapapun tidak Alan pedulikan.
Setelah kain tersebut berhasil ia ambil, ia langsung kembali kepada Mike, sesaat setelah sampai pada Mike yang masih belum jua sadarkan diri, ia langsung melepaskan pakaian Mike yang tengah basah kuyup kemudian ia ganti dengan kain yang telah ia temukan tersebut untuk menggantikan pakaian Mike yang telah basah kuyup supaya dia tidak begitu kedinginan. Pikir Alan.
***
Hujan masih belum jua mereda. Alan merasakan sakit di sekujur tubuhnya, kemudian ia duduk jua sembari menyandarkan kepalanya pada tembok tepat disebelah Mike.
Ia melamun seorang diri sembari memikirkan segala hal yang telah ia lalui dalam beberapa hari ini. Terlebih lagi kini ia melihat ada seseorang yang memiliki wajah sama persis dengan dirinya.
'Siapakah sebenarnya kamu, kenapa kamu memiliki rupa yang sama denganku, akan tetapi tidak, bukan, ya, bukan seperti ini, justru siapakah sebenarnya aku, kenapa aku memiliki rupa sama persis denganmu dan kenapa aku bisa menjadi dirimu.'
Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan didalam batinnya yang belum ia pertanyakan dengan pemuda yang berada disampingnya tersebut, karena ia telah menjadi dia dalam beberapa hari ini.
Beberapa menit kemudian, lamunannya terpecah ketika ia mendengar dan melihat Mike menggeram-geram.
"Mike, hey..Mike, apakah kamu tidak papa?"
Namun mata Mike masih terpejam, dan ia semakin menggeram-geram karena menggigil kedinginan. Kemudian Alan langsung memegang kening beserta lehernya untuk memastikan suhu tubuhnya.
"Ya Tuhan, kamu demam."
Kemudian Alan langsung memegang tangan Mike untuk membantu menghangatkan suhu badannya menggunakan kedua telapak tangan serta membantu menyandarkan kepala Mike kepada bahunya sendiri sembari menunggu hujan mereda.
***
Beberapa saat kemudian, hujan lebat kian mereda, namun masih terdapat rintikan air hujan yang masih terus terjatuh. Ketika Alan menyandarkan kepala Mike pada bahunya ia ikut serta tertidur hingga beberapa saat. Karena ia merasakan lelah serta rasa sakit yang ia rasakan setelah dianiaya oleh Bonanza di sekujur tubuhnya.
Kemudian ia terbangun karena terkejut ketika kepala Mike terjatuh dari pundaknya dan terjatuh tepat pada pangkuannya. Namun, ketika ia membuka matanya ia mendapati Mike masih belum jua sadarkan diri.
"Mike..bangunlah, hey, Mike..sadarlah" Alan kembali memanggil-manggilnya, karena masih belum jua tersadar, kemudian Alan langsung menggendongnya untuk kembali melanjutkan perjalanannya hendak mencari pusat pengobatan terdekat alias rumah sakit.
***
Hari kian semakin larut malam, rintikan air hujan masih terus berjatuhan dari atas langit walau dalam volume yang kecil. Mengiringi langkah kedua anak manusia yang mengalami takdir begitu membingungkan didalam kehidupannya masing-masing.
Alan berjalan sembari menggendong Mike dipinggir jalan sesuai langkah kakinya melangkah, sembari ia menengok kesana dan kemari untuk melihat keberadaan rumah sakit, namun karena ia masih berada dikawasan pinggiran kota, maka tidak ada rumah sakit terdekat yang terlihat, namun beruntung ia melihat ada sebuah klinik yang buka 24 jam.
__ADS_1
Dengan segera ia membawa Mike menuju ke klinik tersebut namun masih berjarak kurang lebih sekitar 300 meter dari ia berdiri. Karena tubuh ia sakit sembari menggendong Mike yang mana tubuhnya sedikit lebih besar dari dirinya menjadikan langkahnya sangat lambat.
***
Setelah sampai didalam klinik tersebut, Mike langsung dirawat oleh sang dokter, sementara Alan jua langsung diberikan pengobatan pada bagian luka-lukanya.
Setelah Alan selesai diberikan pengobatan, ia masuk kedalam ruang perawatan Mike. Ia mendapati Mike masih belum siuman. Alhasil ia langsung duduk disebelahnya untuk menunggunya sembari memandang kearah wajahnya.
Beberapa detik berlalu, berlahan-lahan namun pasti, Mike kembali membuka kedua matanya. Ketika Mike membuka matanya, pandangan ia langsung tertuju kepada Alan. Ia terdiam sejenak dan tercengang ketika melihat Alan, alhasil membuat ia langsung tersenyum.
Mengetahui Mike tersenyum, disambut senyuman hangat jua dari Alan. Kemudian, Mike hendak membenarkan posisi yang semula terbaring untuk duduk.
"Uhuk..uhuk..uhuk.."
"Jangan dahulu dipaksakan, biarlah tubuhmu rebahan sejenak, ataukah kamu hendak kekamar mandi?"
"Tidak, aku hanya ingin duduk sejajar denganmu, apakah kamu yang membawaku kesini? Lalu..anu..itu.. uhuk uhuk uhuk" Mike hendak mempertanyakan kejadian yang telah berlalu ketika berkelahi dengan para komplotan Bonanza.
"Sudahlah Jangan banyak berpikir dulu, istirahatlah sejenak, dan ini, minumlah dulu." Lanjut Alan memberikan segelas air putih hangat untuk Mike.
Kemudian Mike mengambil gelas yang Alan berikan tersebut dan lanjut meminumnya. Setelah selesai ia minum dan menaruh gelas itu kembali ke atas meja sebelah ia terbaring, ia langsung bergegas untuk berdiri.
"Hendak kemana kamu? Istirahatkanlah saja dulu tubuhmu, masih sakit bukan?" Ucap Alan.
Membuat Alan jua ikut tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum?" Tanya Mike.
"Itu yang seharusnya ku pertanyakan padamu" jawab Alan.
"Haha, tidak-tidak, aku hanya merasa seperti sedang mengobrol dengan cermin hehe, Yasudah mari kita keluar." Ajak Mike.
Alan jua tersenyum mendengar yang Mike ucapkan, karena begitu jua yang ia rasakan bahwa melihat Mike seperti tengah melihat dirinya sendiri.
"Akan tetapi.. apakah benar kondisi badanmu tidak papa?" Jawab Alan.
"Aiih, badanku tidak selemah itu, ayolah, mari kita keluar." Ajak Mike.
"Baiklah" Alan mengangguk.
***
Hujan telah mereda dengan sempurna, Alan dan Mike telah keluar dari dalam klinik tersebut dan tengah berjalan bersama-sama.
__ADS_1
Ketika mereka berjalan telah jauh dari klinik tersebut, Mike melihat ada sebuah taman kecil yang terdapat di kawasan yang tengah mereka lintasi, kemudian ia mengajak Alan untuk singgah sejenak di taman tersebut.
Mereka duduk di taman tersebut hanya berdua, karena cuaca dingin setelah diguyur hujan cukup lebat menjadikan taman kecil itu sepi, karena biasanya taman tersebut cukup ramai dikunjungi oleh para pemuda-pemudi maupun sanak keluarga untuk duduk-duduk santai di taman kecil tersebut.
Ketika keduanya baru saja duduk, masing-masing masih terdiam karena bingung hendak mengawali sebuah percakapan. Disisi Mike berpikir bahwa beberapa hari ini ia telah hidup menjadi Alan. Disisi Alan jua demikian.
Hingga beberapa menit mereka duduk hanya saling berdiam diri. Kemudian diantara keduanya hendak memulai percakapan.
"Anu"
"Itu"
Mereka mengucapkan kalimat yang sama secara bersamaan dan berulang-ulang membuat keduanya saling tertawa.
"Hahaha aiissh, kamu saja duluan." Ucap Mike.
"Tidak, kamu saja dulu." jawab Alan sembari tersenyum.
"Yasudah Baiklah, aku bingung mau mengawali obrolan, karena mungkin saja ataupun sebaliknya kamu jua merasakannya." Ucap Mike.
"Ehem, Apakah kamu bernama Mike Stevanus Lawrence?" Jawab Alan dan langsung bertanya secara to the point.
"Benar, aku Mike."
"Lalu.. kemanakah engkau selama ini?"
Mike terdiam sejenak, ia belum bertanya dan menanyakan sebaliknya, namun ia sudah menduga bahwa yang telah ia alami selama ini adalah sama persis yang dialami oleh Alan.
"Hey, kemanakah kamu selama ini Mike?" Alan kembali mengulangi kalimatnya.
"Oh, anu.. iya Aku hanya pergi bermain, dan memang sudah menjadi kebiasaanku keluyuran hehe" jawab Mike nampak canggung.
Walau ia sendiri memiliki sejuta pertanyaan jua didalam batinnya. Namun, setelah kejadian ketika ia melihat Alan disergap oleh kelompok Bonanza yang mana ia tidak mengetahui asal mulanya, ia telah menduga bahwa mereka telah mengira Alan adalah dirinya.
Namun, yang menjadi pokok utama pemikirannya kini adalah apakah ia memiliki saudara kembar yang mana ia tidak pernah mengetahui dan diberitahukan oleh ayahnya selama ini.
Dan jua ia telah mengalami yang dialami oleh Alan bahwa ia telah menjalani hidup sebagai dia.
"Apakah, anu.. itu anu.." Alan ragu-ragu hendak melanjutkan percakapannya.
"Em.. Lebih baik Kita lanjutkan obrolannya lagi nanti, Mari ikut denganku." Ajak Mike.
"Anu, Tapi.."
__ADS_1
Mike langsung memotong pembicaraan Alan dan ia langsung menarik tangan Alan hendak melanjutkan kembali perjalanannya.