Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 113


__ADS_3

"Iya Pa, Mike ingat. Puji Tuhan.." Mike merasa sangat gembira ketika ia telah menyadarinya dan tiada henti-hentinya ia memanjatkan puji syukur.


"Yasudah, apakah kamu tau? Papa sudah mempersiapkan ini semua Nak," Lanjut Marvin.


"Maksud Papa?"


"Hem, Papa sudah mempersiapkan semuanya Nak, untuk acara pertama pesta ulang tahun kalian, acaranya akan diselenggarakan nanti malam di halaman belakang rumah kita. Papa juga sudah mengundang beberapa rekan-rekan Papa untuk memperkenalkan adikmu kepada semuanya." Jelas Marvin.


Marvin sengaja hendak melaksanakan pesta ulang tahun kedua putranya di rumah, dia tidak mengadakan acara tersebut di gedung ataupun di tempat lain. Karena baginya kehangatan keluarga baru saja hadir didalam hidupnya maka akan lebih baik jika semuanya dimulai dari rumah terlebih dahulu. Pikir Marvin.


"Benarkah Pa?" Mike sangat gembira sembari berkali-kali melihat ke arah Alan yang posisinya masih berdiri didekat wastafel.


"Tentu saja Nak, mungkin semua ini terkesan mendadak. Tetapi sebenarnya tidak, karena tanggal kelahiran kalian kan tidak bisa di ubah, hehe" Balas Marvin tertawa.


"Hehe Iya Pa, baiklah jika memang seperti itu, nanti Mike juga akan mengundang teman-teman sekolah untuk hadir serta di acara Kami." Pungkas Mike mengakhiri perbincangan.


Selepas mematikan sambungan telepon dengan sang Ayah, Mike kembali mendekat ke Alan. Tiada henti-hentinya ia tersenyum penuh gembira.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu terus-menerus tersenyum seperti itu?" Tanya Alan ketika Mike tengah melangkah mendekatinya. Karena Alan kurang begitu memperhatikan perbincangan Mike via telepon tadi, menyadari posisinya juga sedikit jauh.


Mike tidak langsung menjawabnya melainkan masih tersenyum sembari mengedipkan kedua matanya ke arah Alan hingga berulang kali nampak konyol.


"Cih, apa yang kamu lakukan Mike? Konyol."


"Apakah kamu tau? aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena harapanku dari aku masih kecil kini telah terwujud." Jawab Mike.


"Harapan apakah itu maksudmu?" Jawab Alan masih belum mengerti.


"Dalam beberapa hari ini kamu belum mengetahui tentang kakakmu ini bukan?"


Alan mengagguk.


"Dengarlah Alan, aku akan sedikit cerita. Ketika Aku masih kecil, di sekolah aku sangat nakal. Cih.. kamu saat ini pasti sedang berpikir sudah tau itu perbuatan tidak baik tetapi kenapa masih dilakukan bukan? Ya, aku menyadarinya Lan, aku sengaja sering berbuat ulah kepada teman-teman sekelasku dulu semata-mata hanya untuk mencari perhatian mereka. Supaya rasa kesepian dan kehampaan didalam hidupku ini dapat tertutupi dengan banyaknya teman. Saat di rumah, aku tidak mau menonton televisi terlebih lagi saat dulu masih maraknya drama seri keluarga, meskipun masih ada juga tontonan untuk anak-anak namun semua itu membuat ku enggan untuk melihat itu.


Kamu tahu alasannya kenapa? Aku iri Lan. Aku iri kepada teman-teman sekolahku dulu, mereka selalu di jemput oleh orang tua maupun saudaranya ketika berangkat maupun pulang sekolah ataupun saat ada acara yang mengharuskan wali murid hadir. Dan juga didalam drama televisi itu terlihat sangat nyata, mereka semua memiliki anggota keluarga, ada Mama, ada Papa, adik maupun kakak. Sedangkan aku.. Aku selalu sendirian dan kesepian. Apakah kamu tau, Jauh didalam lubuk hatiku, aku sangat menginginkan seperti yang orang lain miliki (keluarga lengkap)"


Mike tidak kuasa menahan air mata. Alhasil air matanya berlinang ketika ia sedang mengatakan kalimat tersebut karena ia samasekali tidak pernah mengutarakan keluh kesah tentang apa yang ia rasakan itu kepada siapapun. Melainkan baru sekarang ini ia nyatakan kepada saudaranya.


Melihat dan mendengar kalimat yang Mike utarakan itu membuat Alan terdiam nampak berkaca-kaca.


'Oh Tuhan, saudaraku.. sungguh bodohnya aku jika aku berpikir hanya aku saja yang mengalami tekanan batin akibat keadaan yang menimpa hidupku. Kamu adalah manusia yang sangat hebat Mike. Kamu mampu menutupi apa yang kamu rasakan itu dengan tingkah mu yang selalu ceria di depan publik. Jauh didalam lubuk hatimu, kamu adalah orang yang rapuh jika menyentuh tentang keluarga.' Batin Alan.


Alan belum mengucapkan kalimat apapun melainkan langsung menyapu air mata Mike yang masih mengalir diantara kedua pipinya.


"Kakak, jangan menangis, bukankah sekarang sudah ada aku? Adikmu." Ucap Alan tersenyum untuk menghibur Mike.


Sontak membuat Mike langsung menegak kan pandang karena untuk pertama kalinya Alan menyebutnya dengan kalimat tersebut (kakak) lalu ia langsung memeluk Alan semakin menangis.


"Tolong Katakan sekali lagi, katakanlah lagi Alan, hiks hiks " Ucap Mike ketika ia tengah memeluk Alan.


"Sudah-sudah Kakak Mike jangan menangis ya, sudah besar kok menangis." Jawab Alan sembari mengusap-usap punggung Mike. (Menenangkan)


Ketika Mike sudah melepaskan pelukannya, ia menyapu air matanya sendiri seraya tersenyum dan menampar sendiri pipinya ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


Plak! Plak!


"Bodoh! Orang jadi kakak kok malah cengeng dasar bodoh, huh." Mike membicarakan dirinya sendiri nampak Konyol.


Namun jauh didalam lubuk hatinya, Ia merasa sungguh tidak pantas untuk mengeluh atas segala yang ia alami, karena semua itu tidak sebanding dengan penderitaan saudara kembarnya yang telah Alan alami selama puluhan tahun.


Sontak membuat Alan tersenyum nan menggelengkan kepalanya ketika melihat Mike tengah berbuat seperti itu.


"Sudah-sudah, jangan seperti ini. Seperti anak kecil saja." Lanjut Alan seraya meraih tangan Mike ketika Mike masih menampar-nampar pipinya sendiri.


"Cih, siapa juga yang seperti anak kecil. Aku ini adalah kakakmu. Dan kamulah adikku, paham?" Ucap Mike mendengus.


"Iya, iya kakak Mike.." Jawab Alan masih saja tersenyum.


"Eh, ngomong-ngomong Kok malah jadi seperti drama saja kita nih disini, hehe. Yaudah yuk kita pergi ke kantin, aku lapar" Ajak Mike.


"Cih, lakon kamu saja yang terus-menerus seperti drama" gumam Alan seraya mengangguk. Kemudian mereka hendak melangkah keluar dari ruang toilet.


"Eit, tunggu. Hehe" Ucap Mike menghentikan langkahnya secara mendadak sontak membuat Alan nyaris menabraknya karena Alan berjalan di belakang Mike.


"Ada apa lagi Mike? Apakah ada barangmu yang tertinggal?" Tanya Alan.


"Tidak, tetapi ada kalimat ku yang tertinggal alias belum tuntas ku katakan." Jawab Mike.


"Kalimat apa?"


"Apakah kamu tau, tengah malam nanti adalah hari spesial untuk kita bersama?" Ucap Mike seraya tersenyum


"Hu um, baiklah untuk saat ini tidak akan ku katakan langsung, nanti juga kamu akan tahu sendiri, Papa sudah menyiapkan semuanya untuk kita, Lan"


"Papa, Menyiapkan untuk kita? Menyiapkan apa?" Alan bingung karena Mike tipikal orang yang bertele-tele dalam menyampaikan sesuatu.


"Aissh, sudahlah kan tadi aku juga sudah bilang, kamu nanti bakalan tau sendiri, hihi. Yuk ah lanjut jalan." Pungkas Mike meraih tangan Alan hendak menariknya pergi.


'Kamu sendiri yang tadi bilang ada kalimat yang belum tuntas kamu ucapkan. Cih, Kamu benar-benar orang yang sangat berbelit Mike.' Batin Alan ketika ia sudah berjalan di tarik Mike.


"Tidak usah ngomong di batin kamu Lan. Aku mendengarnya." Ucap Mike.


"Apakah kamu seorang Dukun?"


"Haish, Sue! Bisa saja kamu menjawabnya." Jawab Mike.


"Tunggu sejenak Mike,"


"Hum, apa? Kamu tadi bilang aku dukun kan? yap, aku ini adalah dukun sakti yang bisa membuat para wanita klepek-klepek, hihi"


"Cih, dukun cabul maksudmu?"


"Aish, Sue! Tadi kamu mau bilang apa, Lan?" Lanjut Mike.


Kemudian Alan mengeluarkan hapenya, ia tidak berbicara melainkan hanya menunjuk-nunjuk ke layar hape tersebut. Sontak membuat Mike menggelengkan kepala karena ia tahu apa maksudnya.


"Aish, benar-benar perlu kamus berbahasa kamu Lan, ngomong lah.. 'Bang simpan nomor adikmu ini dong' gitu kek Lan," Lanjut Mike.

__ADS_1


Sementara Alan tidak berkata apapun ia malah masih belum berhenti melakukan yang tengah ia lakukan itu (menunjuk-nunjuk layar hape)


"Aish, ya, ya, baiklah sini aku ketikkan. Maaf kemarin aku lupa menyimpan nomor teleponku, hehe" Ucap Mike sembari meraih hape di tangan Alan.


"Nih sudah selesai. Yup kita lanjut jalan" pungkas Mike.


Alan mengangguk.


***


Setelah mereka melangkah menjelang sampai di kantin.


"Eh guys, lihatlah itu si Mike dan Mike yang ke dua" ucap para siswa-siswi yang hendak meminta foto Mike dan Alan tadi. Beberapa diantara Mereka belum begitu mengingat nama Alan.


"Eh iya itu mereka, ayuk girls kita samperin mereka ke sana." Sambung para teman-temannya sangat antusias ingin menjumpai Mike dan Alan.


"Hei Mike, Mike, Mike, dan Mike yang keduaaa" Teriak mereka secara bersama-sama sembari berlarian ke arah Mike dan Alan.


Pada sebenarnya sebelum Alan masuk ke sekolah itu pun mereka semua (siswi-siswi) memang banyak yang mengagumi Mike. Tetapi selama ini Mike sangat jarang masuk sekolah dan juga jika Mike masuk sekolah ia terlalu sibuk kumpul bersama dengan para rombongannya, membuat mereka semua merasa Mike terlampau Cuek.


Bahkan hanya ada satu wanita saja yang dapat dekat dengan Mike yaitu Ananta. Membuat para siswi-siswi itu iri dengan Ananta walaupun status Ananta hanya sebatas temannya saja. Yang mereka semua ketahui selama ini Mike tidak pernah memiliki kekasih.


Kini hadirnya Alan membuat banyak siswi-siswi semakin antusias untuk bisa mengenal Mike ataupun Alan. Ibarat jika mereka tidak dapat mengenal Mike lebih jauh, maka mereka dapat mengenal Kembarannya. Terlebih lagi Alan memang memiliki pesona satu tingkat lebih tinggi dibanding Mike walaupun mereka memiliki paras yang sama.


Mike dan Alan langsung menghentikan langkahnya ketika mereka berdua di kerubungi oleh banyak siswi-siswi. Tidak hanya siswi yang tadi saja melainkan para siswi-siswi dari berbagai kelas ikut serta berkumpul. Mereka semua banyak yang penasaran karena kabar bahwa Mike memiliki saudara kembar telah melebar luas ke seluruh sekolah itu.


"Hei Mike, hehe" para siswi-siswi berkumpul penuh senyum nampak di raut wajah mereka.


Mike dan Alan jua tersenyum namun keduanya merasa malu ketika dikerubungi banyak sekali siswi.


Kemudian banyak dari mereka yang langsung mengeluarkan hape hendak langsung memfoto keduanya karena beberapa diantara mereka tujuan utamanya memang memfoto Alan dan Mike sebagai momen hari pertama mereka ada disekolahan itu.


Ckrek! Ckrik!


Beberapa diantaranya menggunakan sinar saat memfoto sehingga menyilaukan mata Alan dan Mike. Alhasil ketika mereka langsung memfotonya Alan langsung menutupi bagian wajah terutama matanya dengan tangan. Namun tidak demikian dengan Mike, ia malah langsung unjuk gigi seraya mendongak kan dagu khas cowok cool dalam berpose.


"Hei Mike yang kedua, wajahnya jangan di tutupin dong.." pinta para siswi-siswi.


"Iya, Mike yang kedua.. jadi gak keliatan nih.. buka dong"


Bersambung.


Penjelasan tentang Tokoh utama


Alan bisa lebih banyak berbicara kepada orang-orang tertentu seperti keluarga termasuk kepada Mike. Sementara Mike sendiri banyak cengegesan bagai orang yang tidak berwibawa kepada orang-orang tertentu juga. Layaknya kepada guru dan termasuk juga kepada Alan, namun diluar daripada itu Mike adalah pemuda yang memiliki wibawa cukup tinggi di kehidupan liarnya meskipun ia masih remaja.


Catatan


Lika-liku kehidupan Mike dan Alan masih cukup panjang. Terdapat masalah yang cukup besar yang akan mereka berdua hadapi.


Masalah seperti apakah itu? Apakah Mike dan Alan mampu menghadapi masalah besar itu?


Selengkapnya akan hadir pada episode-episode mendatang. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2