Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 154


__ADS_3

Mike sadar akan kesalahannya namun ia tipikal anak yang bandel maka ia malah cengegesan bak anak yang tidak berpendidikan saat melihat ekspresi Marvin tampak marah kepadanya.


Lekas melangkah pelan dibelakang Marvin dan Daniel yang sudah melangkah terlebih dahulu memasuki rumah saat pintu gerbang sudah dibukakan oleh bu Tiah.


Begitu mereka sampai tepat diruang tamu depan, sungguh tidak ia duga kala tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.


Plak! Plak!


Ia sangat terkejut lekas memegang pipi dengan telapak tangannya seraya memandang sang Ayah dalam tatapan menyedihkan.


Bagaimana tidak? sebab selama 18 tahun ia hidup hanya dengan ayahnya tidak pernah sekalipun sang Ayah menamparnya meskipun banyak kesalahan yang ia lakukan.


Ya, sebuah tamparan dari sang ayah ini terjadi untuk kedua kalinya, yang mana dahulu kala hanyalah sebatas melalui kata-kata saja, saat dia tengah murka kepadanya.


Lantas sang Ayah hendak kembali mengayunkan pukulannya, tetapi terhempas langsung oleh Daniel yang menghalanginya.


Seet!


"Hentikan Vin, Astaga Tuhan .. Ada apa denganmu dan apa yang kamu lakukan ini, Vin!" Seru Daniel Semasih memegang tangan Marvin.


"Diamlah Dani, ini urusan saya dengan putra saya" Antusias Marvin hendak melepaskan tangan dari cengkraman Daniel yang tengah menghalangi, tetapi Daniel pun antusias diri untuk tetap mencegahnya.


"Lepaskan tangan saya Daniel, Anak ini perlu sekali-sekali di beri pelajaran!" Seru Marvin tampak semakin marah.


"Tidak Vin, ini tidak benar! Hentikan Vin, Ada apa denganmu kamu tidak pernah seperti ini kepada putramu sendiri" Lanjut Daniel mencengkram kuat tangan sang sahabat.


Sementara Mike mengerutkan kening seraya mengusap-usap pipi kala melihat adegan tersebut.


"Kamu berkata seperti itu karena kamu tidak pernah memiliki seorang Anak Daniel, maka kamu tidak akan pernah mengerti!" Celetuk Marvin tanpa disengaja seraya melotot.


Sontak hati Daniel serasa tersambar petir kala kalimat tersebut terucap langsung oleh mulut sahabatnya sendiri. Yang mana kalimat tersebut samasekali tidak pernah terucap kala semenjak dulu.


"Apa .. Vin?" Lirih Daniel lantas memudarkan cengkraman tangannya secara perlahan. Sontak Marvin pun langsung menyadari bahwa kalimat tersebut sangat menyakiti perasaan sahabatnya.


Namun, disisi Mike sendiri saat kejadian tersebut sedang berlangsung, ia meraih tangan sang Ayah lekas ia tempelkan di pipinya sendiri.


Plek!


"Tidak apa-apa Om, lepaskanlah tangan papa saya, biarkan papa saya memukul saya sepuasnya." Ucapnya lekas menoleh ke arah Marvin nan menepuk-nepukkan tangan Marvin pada pipinya sendiri.


Plek! plek! plek!


"Tamparlah pa, Ayo tamparlah Mike sekuat tenaga dan Sepuas papa. Ayo tampar pa! Cepat tampar Mike, pa!" Seru-nya lekas meneteslah air mata seraya tak lepas pandang menatap mata Ayahnya.


Sontak Marvin melepaskan kembali tangannya namun bibir membisu tak tau harus berkata apa.


"Kenapa diam saja pa! Ayo tampar Mike, kenapa papa ragu hah? Apa yang papa pikirkan pa, tampar Mike Pa," Mike tak kuasa menahan air mata lantaran merasa ada yang berbeda dengan Ayah-nya.


Lekas ia meraih kembali tangan Ayahnya seraya mengulangi lagi adegan tadi.

__ADS_1


"Tamparlah Pa, tamparlah Mike jika itu keinginan papa, Mike memang salah, Mike memang pantas menerimanya, lakukan saja pa, lakukan saja pa!" Seru-nya mengulang-ulang kalimat yang sama membuat Marvin akhirnya benar-benar menamparnya.


Plak!


Ia memejamkan mata seraya menoleh Kepala setara bahunya saat tamparan itu benar-benar mendarat di pipinya.


"Apa kamu kira semua ini sebuah drama hah!" Pekik Marvin seraya Melotot.


"Vin," panggil Daniel dari arah samping tetapi Marvin pun langsung mengangkat tangan setinggi bahu dalam artian 'Jangan ikut campur' Alhasil, Daniel bungkam lekas menyaksikan.


"Apa dengan papa menamparmu lalu kamu akan lepas dari semua kesalahanmu hah! Apa kamu akan benar-benar membuat papamu ini malu Mike!"


"Tapi faktanya, papa barusaja menamparku, kan?" Celetuk Mike disela-sela Marvin tengah berbicara.


"Diam kamu! Kebiasaan sekali kamu tak sopan memotong ucapan papa! Lihatlah Papa mu ini Mike, papa sudah tidak lagi muda, Apa kau ingin membuat hipertensi papamu ini meningkat dengan kelakuan liarmu itu hah!


Apa kamu tidak pernah memikirkan papamu ini Mike! Kenapa kamu sangat susah sekali di atur seperti ini, apa susahnya untuk nurut, tidak perlu kamu ikut-ikut anak brandalan yang tak berpendidikan itu, ikut tawuran-tawuran tidak jelas semacam preman yang tak berguna, papa membiayai pendidikanmu agar kamu itu tumbuh menjadi anak yang berguna, mengerti kamu!"


"Oh .. Anak yang berguna ya .. ya, ya, ya, Mike memang anak yang tidak berguna, Anak yang tidak berguna samasekali, karena gunanya Anak bagi papa hanya untuk meneruskan perusahaan papa, benar begitu bukan?" Jawab Mike seraya mengangguk-anggukkan kepala.


"Jaga bicaramu Mike! Kenapa kamu selalu salah mengartikan setiap kalimat yang papa ucapkan hah!" Pekik Marvin geram.


"Tetapi pada kenyataannya seperti itu kan pa? Perusahaan dan perusahaan lah yang selalu papa pikirkan dan utamakan, berkedok pada 'Anak yang berguna' pula." Cetus Mike.


"Astaga Tuhan anak ini, Apa salahku hingga Tuhan menciptakanmu didalam rahim mamamu sampai kamu tumbuh menjadi anak seperti ini, Mike! Mama kamu disurga pun Malu melihat kelakuanmu seperti ini!" Lanjut Marvin sembari memegang kepala dengan dua tangannya lekas ia lepaskan lagi tampak depresi.


"Apa pa … Malu? Papa bilang mama malu? Lantas apa yang papa lakukan kepadaku pa! Papa tidak pernah ada untuk Mike saat Mike masih kecil! Bahkan kini papa menyuruh orang untuk melakukan kekerasan kepadaku! Kenapa pa? Kenapa!" Lanjut Mike mengarah pembicaraan seputar orang-orang pesuruh Marvin di kantor polisi pagi tadi.


"Oh .. jadi itu maksud dari semuanya ya .. wah, baiklah Mike mengerti sekarang" Ucap Mike seraya sedikit bertepuk tangan nan senyum penuh misteri.


Prok! prok!


"Apa maksudmu Mike,"


"Mike tidak bermaksud apapun, tetapi apa papa tau? Misalkan Anak orang lain mendengar kalimat seperti yang papa ucapkan itu pasti anak itu akan merasakan sakit didalam hatinya? Tetapi tenang saja Pa, hati Mike tidak selemah itu, karena Mike tahu jikapun dia berada disini dan menyaksikannya maka dia juga tau apa yang Mike rasakan, karena dia jauh lebih tau tentang perasaan Mike daripada papa." Jawab Mike tampak sedih.


"Apa maksudmu Mike! Siapa yang kamu maksud?" Tanya Marvin tidak mengerti lantaran Mike menggunakan kosa kata yang baku. (Tidak gamblang)


"Sudahlah pa, Jikapun papa berpendapat seperti itu Mike yakin dia tidak akan sependapat dengan papa, karena hidupnya sama-sama menyakitkan sepertiku." Pungkas Mike beranjak pergi keluar rumah.


"Hei Mike, apa maksudmu, berhenti Mike! Mau pergi kemana kamu, Mike!" Panggil Marvin seraya Mengejar Mike keluar pintu rumah, tetapi Mike langsung lari menuju motornya lekas menyalakan mesin kendaraan, kemudian pergi.


Brumm .. bruum


Ngooeengg ... Wuussh


"Astaga Tuhan, Mike!" Seru Marvin seraya mengusap kepala tampak depresi menghadapi putranya itu. Ia samasekali tidak memahami kalimat Mike tadi.


***

__ADS_1


Ya, Maksud kalimat yang Mike ucapkan tersebut Adalah ia merasa bahwa Marvin tampak berubah semenjak kehadiran Alan serta membanding-bandingkan segala apa yang ada pada dirinya dengan saudara kembarnya tersebut.


Tetapi Mike memiliki hati yang teguh, ia tidak merasakan apapun (iri dan dengki) tentang perbandingan itu karena ia yakin jika posisi Alan saat ini sedang bersama dengannya serta mendengar segala kalimat Marvin, maka Alan pun akan berpihak kepada dirinya lantaran Alan lebih mengerti tentangnya daripada ayahnya sendiri.


Tetapi lain daripada itu, Mike sudah sangat menyayangi saudara yang ia dambakan sedari kecil, maka ia samasekali tidak ada hasrat hati untuk membeci saudara kembarnya sendiri 'Jikapun' sang ayah memang benar-benar membanding-bandingkan mereka berdua.


Tetapi sebaliknya dengan Marvin. Semua ini terjadi akibat perselisihan yang berujung kesalahpahaman antar seorang Ayah dan anaknya belaka. Yang mana Marvin tidak pernah membanding-bandingkan kedua putra kembarnya melainkan hanya memberi masukan kepada Mike supaya dia tidak larut dalam dunia Liar dan bisa memiliki sikap lembut seperti saudara kembarnya. (Alan)


***


Next


Saat Mike sudah tancap gas pergi, Marvin kembali masuk kedalam rumah lantas duduk di kursi sofa sembari menghela napas.


"Huuff .."


Daniel menghampiri nan duduk di sebelahnya.


"Vin," Panggil Daniel lirih, Marvin pun menoleh.


"Maafkan saya jika saya ikut campur dalam urusanmu Vin, namun hanya ini yang bisa saya lakukan sebagai sahabatmu untuk mengigatkanmu" Ucap Daniel belum tuntas berbicara namun langsung di sambung oleh Marvin.


"Maafkan perkataan saya tadi Dani, jika semua itu menyinggung perasaanmu" Ucapnya, lekas Daniel tersenyum seraya sedikit mengusap pundaknya.


"Hmph .. Saya sudah mengenali watakmu dari saat kita masih sekolah menengah pertama Vin, dan justru inilah yang ingin saya ingatkan kepadamu"


Marvin tak lepas pandang siap mendengarkan.


"Mungkin inilah yang dinamakan bernostalgia Vin, Saya melihat cara berbicara Mike dengan segala sikapnya, mengingatkanku saat kita masih sekolah dulu. Tentu saja banyak perbedaan antara Mike dan kamu sewaktu muda.


Wajar saja Vin, jaman kita masih muda dulu dengan anak muda jaman sekarang perbandingannya bagaikan bumi dan langit, tetapi sikap Mike adalah gambaran sikapmu dulu, Vin." Ucapnya sedikit tertawa kala masa-masa muda terngiang didalam pikirannya.


Lantas Marvin tersenyum dan mengangguk sebab ia pun langsung teringat masa-masa dahulu.


"Apa kamu sudah mengingatnya?" Tanya Daniel.


"Benar Dani, saya ingat saat-saat itu. Dan terimakasih Daniel karenamu saya jadi teringat sesuatu"


Lantas kini Daniel yang siap mendengarkan nan tak lepas pandang.


"Saya perhatikan kedua putra saya memiliki sifat dan karakter yang berbeda cenderung bertolak belakang, tetapi saya terlampau sibuk bekerja hingga saya lupa akan hal ini."


"Hal apa itu Vin?" Tanya Daniel.


"Marissa Almarhum Istri saya memiliki sifat yang sangat pendiam sedangkan saya sangat Aktif, ya .. Sifat kami sangat bertolak belakang." Lanjut Marvin seraya tersenyum.


"Jadi maksudmu?" Daniel sudah menebak, tetapi sebelum berkata-kata, Marvin sudah lebih dulu melanjutkan kata.


"Ya Daniel, Mike mengikuti sifat dan karakterku, Sedangkan Michealan sama persis seperti sifat Marissa." Pungkasnya tersenyum.

__ADS_1


Daniel pun tersenyum seraya menggelengkan kepala , ia teringat perkara yang baru saja usai terjadi lantaran menyadari bahwa antara Marvin dan putranya sesama memiliki sifat yang keras kepala.


'Halah .. Pantas saja kalian tak pernah akur.' Batin Daniel


__ADS_2