
Catatan
Didalam bab ini author menceritakan diberbagai sisi secara sekaligus.
***
Disisi Ananta
Dia berlari langsung menuju toilet, lantas sampai disana banjirlah air mata yang sudah dia tahan semenjak pagi.
Meskipun Tuhan memberikan mental sekuat baja kepada insan didunia kususnya kaum wanita, tetap akan rapuh apabila tragedi tragis menimpa kehidupannya. Layaknya seperti yang dialami oleh Ananta ini.
Fisik dia memanglah kuat, namun hatinya sangatlah rapuh tertambah kesalahpahaman terhadap orang yang dia sukai semenjak dulu dan mampu bangkit disebabkan oleh orang yang ia sukai itu, namun fakta berkata lain bahwa yang membuatnya bangkit bukanlah orang yang ia duga. (Mike)
Maka ia benar-benar butuh waktu untuk menerima penjelasan darinya (Mike). Ia tumpahkan gundah hati melalui deraian air mata di pipi sebelum akhirnya ia keluar dari toilet itu nan melangkah ke arah perpustakaan.
Kala curahan hati tidak bisa ia utarakan melalui lisan (Privasi) meskipun kepada sahabatnya sendiri (Maria) maka cara terbaik yang bisa ia lakukan saat ini adalah diam menyendiri sembari membaca buku. Sebab dengan membacalah ia dapat meredamkan gundah hati dan pikiran, sekaligus otak menjadi pandai sebagai bonusnya.
Namun, disaat ia hendak mengambil buku pada rak yang tersedia disana, suatu perkara baru pun muncul secara tiba-tiba. Yakni disaat tangan sedang meraih buku yang hendak ia ambil, kebetulan bebarengan dengan tangan siswi lain yang hendak mengambil buku itu.
Alhasil mereka saling tatap pandang, lantas akhirnya tumbuhlah ekspresi asam diantara keduanya setelah sudah melihat paras masing-masing.
"Loe lagi, cewek songong!" Pekik siswi itu secara tiba-tiba. Lantas membuat Ananta jua geram sebabnya nada bicara siswi itu sungguh tidak enak didengar telinga dan jua Ananta masih sangat paham dengan paras siswi yang berseteru dengannya sewaktu pagi.
Akhirnya ia raih buku itu nan hendak membawanya pergi dari hadapan siswi itu. Sebab Ananta disiplin dan mengerti bahwa ia tidak ingin berseteru didalam ruang perpustakaan terlebih lagi bersama siswi kasar yang ia jumpai tadi pagi.
Namun, disaat ia hendak melangkah tiba-tiba pundaknya diraih oleh siswi itu cukup kuat.
"Woi! Mau kemana loe hah!"
Seet!
Hingga akhirnya membuat kakinya tergelincir nan terjatuh akibat tubuh tidak bisa seimbang.
Brrak!
"Aiish, Kampang!" Pekik Ananta emosi lantas bergegas berdiri nan melotot tajam melihat siswi itu.
"Apa mata loe melotot macam itu hah! Main kabur aja loe! Siniin buku itu, tadi gue duluan yang mengambil itu, ngerti gak loe hah!" Ucap dia bersuara lantang, hingga menarik perhatian para siswa maupun siswi didalam ruang perpustakaan yang seharusnya hening tersebut.
Beberapa siswa maupun siswi itu pun mendekat untuk menyaksikan.
"Bukankah gue yang sudah berdiri disini dari tadi sebelum loe datang? Lalu disaat gue mau mengambil buku ini tiba-tiba loe ikut mengambilnya, so .. ini milik gue lah. Dan .. loe apa-apaan main tarik-tarik gue begini hah!" Pekik Ananta, sebab dirinya sudah dirundung emosi jua.
Skip
__ADS_1
***
Disisi Alan
Disaat para teman sekelompok Mike sekaligus Jovan menghampirinya, ia masih terdiam tampak ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.
"Wei Bro, melamun aja loe pagi-pagi bolong begini." Celetuk Jovan lantaran ia bisa mengakrabi Alan layaknya Verza timbang para kelompok Mike. Mereka (kelompok Mike) belum meluncurkan kata apapun saat baru saja mendekat.
"Wei, bro" Seru Jovan seraya merangkul pundak Alan sebab Alan masih terdiam didalam lamunan.
Plek!
"Eh, iya .. Maaf ada apa?" Jawabnya sedikit terkejut lamunan pun tercabik begitu saja.
"Alamak .. Segitunya amat melamun kayak lagi mikirin urusan negara aja loe, Bro." Celetuk Jovan membuat gelak tawa seluruh rombongan Mike.
"Haha, bisa aja loe."
"Ayank akoh tadi kenapa sama si Tata begitu .. kayak celius banget." celetuk Kenji lantas mulutnya langsung di bekap oleh beberapa temannya.
Bepp!
"Emph .. emph"
"Diem loe akh, Kepo!"
"Em .. maaf saya tinggal ke perpustakaan dulu." Pamit Alan disela-sela mereka sedang berbincang.
Lantas disaat ia sudah melangkah, Jovan menyusulnya seraya merangkulnya.
Plek!
"Kuy, mari ke perpustakaan kita. hehe" Celetuknya sok akrab.
Skip
***
Disisi Mike
Ia masih terus melangkah keseluruh lingkungan sekolah. Namun keberadaan Ananta samasekali tidak ia temukan. Antusias diri dalam mencari Ananta lantaran ia tidak ingin bila kesalahpahaman ini terus berlarut-larut.
Ia berbeda dengan Alan kala sedang mencari seseorang pastilah dia sering bertanya pada siswa maupun siswi yang ia temui. Hingga akhirnya melangkah ke arah toilet, namun ia hanya melangkah mondar-mandir sejenak didepan toilet perempuan sampai banyak siswi-siswi saling berbisik kala mereka hendak masuk kedalam toilet.
"Oeh, ngapa loe orang pada ketawa-katawa. Oh iya, anu .. kalian Pada lihat Ananta gak?" Tanya-nya dalam sikap seperti biasanya yakni mengedipkan mata.
__ADS_1
Cling!
Mereka tidak menjawabnya hanya sekedar menggelengkan kepala saling berbisik nan tersenyum tampak malu-malu, lantas mereka segera menjauh dari Mike.
'Haiyaa .. ditanya serius malah pada malu-malu kayak kucing, embeeek .. eh salah, meeoongg.' Gumamnya dalam batin lantas hengkang dari sana menuju ke arah perpustakaan.
Sementara didalam perpustakaan, perseteruan antara Ananta dengan siswi itu masih berlangsung. Yakni disaat Ananta usai mengucapkan kalimat itu, siswi itu langsung merebut buku tersebut dari tangan Ananta.
Seet!
"Aih, seperti anak kecil saja loe." Ucap Ananta melirik sinis.
"Apa loe bilang barusan hah!" Siswi itu melotot tajam dan tiba-tiba saja dia mendorong bahu Ananta hingga dia menabrak rak.
Brak!
"Hei, hei, apa-apaan loe ini." Pekik Ananta melotot tajam.
"Loe itu kalau punya mulut di jaga, gak usah songong loe. Loe gak tau siapa gue kan, hah!" Pekik siswi itu tampak garang.
"Siapa elo? Mana gue peduli, yang gue tau loe itu anak baru yang tidak punya etika, paham!" Balas Ananta.
"Bedebah juga mulut loe ngatain gua gak punya etika, hah!" Lanjut Siswi itu seraya hendak melakukan tindakan kekerasan (memukul) dengan cara mengangkat satu tangannya.
Namun, disaat adengan tersebut hendak berlangsung, Mike sudah sampai kedalam ruang perpustakaan itu.
Melihat ada sebuah keganjilan didalam sana, Mike langsung bergegas melihat apa yang terjadi. Posisi Mike berada di sisi barat maka yang ia lihat adalah Ananta.
"Tata." Panggilnya.
Lantas ia bergegas untuk melerai perseteruan itu, tangan kanannya menarik tangan Ananta.
Seet!
Sementara tangan kirinya menangkis tangan siswi itu.
Seet!
"Apa keistimewaanmu sehingga kamu berani melakukan tindakan kekerasan disekolah damai ini?" Ucap Mike kala posisi kepala ia sedang menoleh ke arah Ananta.
Lantas siswi itu langsung melepaskan tangannya secara paksa dari cengkraman Mike kemudian dia berkata. "Pergi Loe! tidak usah ikut campur urusan gue!"
Sontak Mike melotot mendengar etika berbicara yang kasar dari siswi itu. Lantas perlahan ia pun segera menoleh ke arahnya.
Sungguh sangat terkejutnya ia kala sudah melihat paras dari siswi tersebut.
__ADS_1
"Astaga Tuhan."