Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 118


__ADS_3

Setelah Maria melangkah pergi, Mike kembali melangkah menuju ke arah Alan.


"Yup Lan, kita lanjut jalan. Lihatlah langitnya sudah mulai menghitam, sepertinya akan turun hujan lebat." Ajak Mike sembari merangkul Alan melangkah bersama-sama menuju ke arah parkiran.


Alan langsung menghentikan langkahnya lantaran menurut ia Mike melangkah ke arah yang salah.


"Oit, kenapa kamu berhenti mendadak Lan, ada apa? Ada suatu barang mu yang tertinggal kah?" Tanya Mike ketika ia nyaris menabrak Alan.


"Tidak, tetapi hendak kemana kamu melangkah, bukankah pintu keluar ke arah sebelah sana?" Jawab Alan sembari menunjuk ke arah yang dimaksud.


"Oho, begitu rupanya, iya aku tau itu pintu keluar. Tetapi aku mau mengambil motor ku dulu di parkiran, ataukah kamu ingin menunggu di sini saja, tuan muda?" Goda Mike sembari bertingkah bak ajudan yang tengah melayani bos-nya.


"Cih," Alan hanya meliriknya saja sembari langsung melangkah menuju ke arah parkiran.


"Oih, tunggu Lan. Aiissh kenapa jadi aku yang di tinggalkan, apakah kamu yang mau mengendarai motornya? Nih kunci-nya ada padaku Lan, wei Lan. Apakah kamu tidak mendengarkan kakak mu ini berbicara?" Mike banyak berbicara sembari mengejar Alan. Tetapi tidak dibalas kata sedikitpun oleh Alan karena menurut Alan, Mike terlalu banyak berbicara yang tidak perlu.


***


"Nih, ambillah kunci motor-nya" Mike hendak memberikan Kunci motor ketika ia sudah sampai di dekat Alan.


Namun, Alan hanya melihatnya saja tanpa meraih kunci tersebut maupun menjawabnya.


"Oih, kenapa masih diam saja Lan, ayo cepat ambillah. Bukankah kamu yang akan mengendarai motornya?" Mike sembari masih menyodorkan kunci tersebut.


"Siapa yang bilang seperti itu? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan itu? Maka, Cepatlah bergegas." Jawab Alan secara tegas karena melihat Mike banyak bertele-tele.


"Ebuset galak amat. Hehe, baiklah Tuan Muda, mari silakan naik Tuan Muda.." Goda Mike sembari menyalakan mesin motornya dan memberikan helm kepada Alan.


Alan meraihnya nan memakainya kemudian ia langsung naik ke atas motor.


"Apakah sudah siap, Tuan Muda?" Tanya Mike.


"Ya, segera bergegaslah."


"Baik, yosh.. Valentino Rossi akan segera melajukan kendaraan, lihat apa yang akan terjadi, apakah mereka akan menang dalam pertandingan kali ini," Celoteh Mike sembari menarik gas dalam posisi masih Netral.


Bruum bruum bruum


Alhasil, ia langsung mendapatkan cubitan cukup kuat dari sang adik.


"Aaarrrggh! sakit Lan, kenapa kamu mencubit ku si? Awuuhh" Mike meringis kesakitan.


"Apa yang sedang kamu lakukan Mike, kenapa kamu banyak bertingkah sekali. Bukankah kamu yang mengatakan sendiri bahwa langitnya sudah menghitam?" Jawab Alan nampak serius.


"Aiyaya, baiklah-baiklah kita segera jalan Tuan muda hehe, cuss lets go." Mike langsung memacu kendaraannya secara perlahan. Karena melihat karakter sang adik benar-benar susah untuk di ajak bercanda, maka ia harus benar-benar bisa mengerti akan sifat yang adik-nya miliki tersebut.


'Hufff, nasip.. ya nasip, ingin memiliki saudara sudah dari kecil, setelah punya satu adik kok gini amat, sip nasip' Batin Mike.


***


Setelah masih didalam perjalanan.


"Lan, apakah kamu bisa mengendarai sepeda motor?" Tanya Mike bersuara lantang mengingat suasana di jalan raya sangat bising dari berbagai kendaraan yang melintas.


"Tidak." Jawab Alan singkat.


Mendengar jawaban Alan, Mike langsung berinisiatif hendak melakukan apa yang ia ingin lakukan terlebih dahulu sebelum ia menuju ke tempat tujuan awal. Alhasil ia langsung berbelok arah menuju ke suatu komplek perumahan non-mewah yang tidak ada penjagaan ketat oleh satpam nan bebas akan siapapun yang masuk dan melintas.


Ia menghentikan laju kendaraannya di dekat taman perumahan yang posisinya masih kosong pengunjung, mengingat pada waktu siang hari memang cukup sepi pada area taman tersebut.

__ADS_1


Jrug! Jrug! Jrug!


Mike mematikan mesin kendaraannya.


"Cuss kita turun sejenak, Tuan muda." Ucap Mike sembari melepaskan switer dan helm-nya.


"Ini kok.." Alan nampak bingung.


"Aku tau apa yang akan kamu tanyakan, kenapa kok kita tidak langsung ke Mall bukan?"


"Hum, Lalu?" Alan masih belum mengerti sembari menoleh ke seluruh arah di sekitar taman tersebut.


"Aku akan mengejarimu sejenak tentang bagaimana cara mengendarai sepeda motor ini."


"Lantas, apakah itu penting?"


"Tentu saja itu sangat penting untuk hidup didaerah perkotaan seperti ini Lan, apalagi sekarang kini kamu sudah hidup bersama kakakmu ini. Ah, sudahlah redam sejenak apa yang sedang kamu pikirkan itu. Intinya suatu saat nanti kamu akan memahami apapun yang kakakmu ini ucapkan dan ajarkan. Tidak untuk siapapun melainkan untuk kebaikan diri kamu sendiri."


Alan mengangguk. Karena tujuan utama maupun selanjutnya Mike mengajak ia pergi, ia sungguh-sungguh belum mengetahuinya, bahkan acara pesta ulang tahun mereka yang hendak di laksanakan pada tengah malam nanti pun Alan samasekali belum mengetahuinya.


"Baiklah Lan, perhatikan cara ini baik-baik." Mike langsung memberikan contoh tentang bagaimana cara mengendarai motor miliknya. Karena motor yang ia miliki jenis MOGE maka tidak mudah menjalankannya bagi orang yang belum pernah mengendarai sepeda motor seperti Alan.


Usai Mike memberikan contoh. Ia langsung mempersilahkan Alan untuk segera mencobanya.


"Ayo Lan, silahkan cobalah secara mandiri, jika memungkinkan aku akan duduk di belakangmu. Untuk mengantisipasi jika kamu sampai terjatuh," Tawaran Mike.


"Itu tidak perlu." Pungkas Alan sembari memulai menyalakan mesin motor tersebut nan langsung menjalankannya secara perlahan.


Brum.. brum..


Ketika Alan sudah mulai mengendarainya, Mike merasa sangat kagum dengan kepandaian Alan dalam berkendara. Bahkan ia pun tidak mempercayai jika Alan berkata bahwa ia tidak pernah mengendarai sepeda motor sebelumnya.


Weerrr.. ngoeng..


Wuusshh


Alan bolak balik melintas didepan Mike nampak senyum ceria terlihat pada wajah-nya. Mike pun membalas senyum sang Adik sembari bertepuk tangan menyemangati sang Adik yang terlihat sangat ceria itu. Karena pada waktu dan detik ini adalah pertama kali-nya Mike melihat Alan terlihat benar-benar sangat ceria.


Namun, dibalik senyuman Mike itu, terdapat kehawatiran cukup mendalam yang tengah ia rasakan. Yaitu kekhawatiran tentang keselamatan sang adik saat ia tiba-tiba teringat akan ancaman Bonanza via telepon kemarin. Terlebih lagi saat mendengar kabar dari yang guru sampaikan di sekolah tadi bahwa Deril kini telah meninggal dunia.


Pikiran Mike saat ini sedang sangat berkecambuk. Namun, ia mampu untuk bisa berekspresi layaknya tidak terjadi suatu masalah apapun, ataupun masalah yang akan datang nantinya. Ia sudah bertekat kuat bahwa ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjamin keselamatan sang adik ataupun orang-orang terdekatnya dari siapapun orang yang hendak menyakiti mereka.


Namun, rasa kekhawatiran tidak bisa membohongi ekspresi wajah asli dari seseorang yang tengah dilanda khawatir. Melainkan tetap terlihat bagi siapapun orang yang dekat dengan seseorang yang tengah merasa khawatir tersebut.


***


Beberapa menit kemudian


Alan telah usai bermain-main dengan kuda besi milik Mike itu. Alhasil ia langsung kembali berhenti di tempat Mike berada tadi.


Namun, suara bising dari kenalpot motor milik Mike yang tengah Alan gunakan dan kini telah berhenti, tidak membuat Mike menoleh ke arah Alan hingga beberapa detik.


Alan pun masih duduk di atas motor sembari memperhatikan sang kakak yang masih berjalan Mondar-mandir sembari menendang-nendang batu kerikil yang ada di aspal. Posisi kepalanya menunduk sembari menggigit kuku terlihat jelas bahwa sedang ada sesuatu yang tengah dipikirkan oleh sang kakak. Pikir Alan.


Tetapi Alan memilih untuk diam walaupun ia masih memiliki banyak pertanyaan kepada Mike yang belum di jawab dengan jelas oleh Mike, yaitu seputar Deril.


'Kakak, saat kamu sedang fokus berhadapan denganku dan dihadapan publik, kamu mampu membuat ekpresi yang tidak bisa orang lain ketahui bahwa sebenarnya ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan. Tetapi, kala kamu sedang sendiri seperti ini, sungguh terlihat jelas bahwa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan. Kakak, bicarakanlah kepadaku apa yang sedang kamu pikirkan itu.' Batin Alan sembari masih memperhatikan Mike.


Tidak selang waktu lama, Mike menoleh ke arah Alan.

__ADS_1


"Weih Lan, sudah nongkrong disitu rupaya, hehe. Sudah selesai kah?" Ucap Mike sembari tersenyum melangkah ke Alan.


'Ekspresi kamu selalu tersenyum penuh ceria seperti inilah yang tidak bisa di ketahui oleh publik tentang bagaimana aslinya kamu, kak. Bahkan aku pun tidak bisa mengetahui mu.' Batin Alan.


"Woih Lan, di tanya malah bengong. Hayo lagi mikirin apa kamu? Kalo Mikir yang jorok-jorok saat malam hari saja, jangan di saat siang-siang bolong begini. Apalagi di tempat begini tidak khusyuk lah, hehe." Celoteh Mike sembari memakai switernya kembali.


"Cih, bicara apa kamu Mike, konyol!" Jawab Alan sembari turun dari atas motor.


"Hehe, yasudah mari kita lanjutkan perjalanan kita. Duh.. tapi tenggorokan ku ini terasa kering sekali." Ucap Mike merasa dahaga sembari menoleh ke kanan dan ke kiri berharap ada penjual es ataupun sejenisnya.


Namun, di sekitar sana tidak ada penjual es. Tetapi kebetulan ada seorang bapak-bapak paruh baya penjual es dawet keliling tengah mendorong gerobak es yang ia bawa menuju ke arah mereka. Alan mengetahuinya lebih dulu, alhasil ia pun menunjuk ke arah yang ia lihat.


"Lihatlah, itu ada penjual es"


"Oh iya, aku samperin ke sana dulu ya?"


"Bukankah nantinya dia melangkah ke arah sini?" Jawab Alan.


"Oh iya juga ya, hehe efek dahaga berat nih maklumi saja, otak blank." Mike cengegesan.


"Bukankah memang kenyataannya seperti itu?"


"Otak ku blank maksudmu kah?"


"Sesuai apa yang kamu ucapkan" Alan tersenyum ejek.


"Aissh, sue!" Mike mendengus.


Sesaat setelah penjual es tersebut melangkah tidak jauh dari mereka, Mike bergegas hendak membelinya.


"Pak, es-nya dong, dua ya. Bungkus."


"Es se sampon telas, le.." Jawab bapak-bapak tersebut menggunakan bahasa daerah (es-nya sudah habis, Nak)


"Iya tidak usah pakai gelas pak, pakai plastik saja." Jawab Mike tidak menyambung karena ia tidak mengerti maksud kalimat kata dari penjual es tersebut. (Telas artinya habis Mike mengartikanya dengan gelas)


"Es se sampon telas le, sampon telas." Jawab penjual tersebut mengulangi kalimatnya.


"Astaga Iya pak, saya sudah bilang kan tadi? pakai plastik saja tidak usah pakai gelas." Ulang Mike sembari garuk-garuk kepala karena ia sudah merasa sangat haus namun tidak segera di layani oleh penjual tersebut.


Alhasil, mereka saling bercakap-cakap dengan mengulangi segala kalimat yang mereka ucapkan tersebut sehingga bapak-bapak itu menjadi kesal.


Sementara Alan langsung terkekeh mendengar sang kakak tidak menyambung berbicara dengan sang penjual es tersebut. Namun ia enggan untuk ikut campur berbicara walaupun ia mengerti maksud bahasa daerah yang di pakai oleh penjual es dawet tersebut.


"Kowe ki diomongi ngeyel tenan. Pancen bocah edan, dasar bocah gemblung!"


(Kamu tuh dibilangin tidak percaya, memang anak gila, dasar anak tidak waras!)


Pekik bapak-bapak tersebut merasa kesal karena lelah berbicara dengan pemuda yang berada dihadapannya tersebut tidak menyambung.


"Eh, kok bapak tau kalau saya asal medan, tapi kini di Lampung?" Jawab Mike yang lagi-lagi tidak menyambung.


(Kata Edan Mike mengartikannya dengan kata Medan dan kata Gemblung Mike mengartikannya dengan kata Lampung)


"Healah! Wes lah, mendingan tak minggat ae. Kwesel ngadepi bocah gemblung koyok kowe. Pancen Wedus!"


(Sudahlah! Lebih baik saya pergi saja. Lelah menghadapi anak yang tidak waras seperti kamu. Dasar kambing!)


Pekik penjual es tersebut sembari mendorong grobak berjalan pergi nan mengumpat Mike.

__ADS_1


"Oiih Pak, hei Pak, aiih.. macam mana pula dia. Aku mau beli kok malah dia kabur."


__ADS_2