Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 106


__ADS_3

"Iya kak, Tuan menitipkan pesan ke saya bahwa beliau tidak bisa mengantarkan kakak Michealan dan kakak Mike, karena Tuan ada urusan penting ke luar kota. Beliau sudah berangkat dari subuh, kak. Tuan juga menitipkan pesan permintaan maaf karena tidak bisa pamit langsung ke kakak berdua."


"Oh, begitu rupaya. Baiklah tidak masalah" jawab Alan singkat sembari masih mengunyah roti.


Usai menyampaikan pesan tersebut, Bu Tiah hendak melanjutkan kembali aktifitasnya.


"Bu," panggil Alan.


"Iya kak, ada apa?" Bu Tiah kembali menoleh ke arah Alan.


"Ah, tidak-tidak silahkan lanjutkan kembali" Alan menghentikan niatnya hendak bertanya dimanakah Mike berada kepada Bu Tiah.


"Baik, Kak" Bu Tiah melangkah pergi nampak ekspresinya penuh tanya.


Setelah usai sarapan, Alan bergegas menuju ke pintu keluar. Di sana sudah ada sang supir sedang menunggu hendak mengantarkannya ke sekolah. Alan tidak seperti Mike jika bertemu dengan para pekerjanya selalu menyapa, ia hanya diam saja ketika sang sopir tersenyum sapa kepadanya.


Melihat sikap anak dari sang majikannya seperti itu sang supir pun sudah menduga bahwa yang sedang berada dihadapannya tersebut bukanlah Mike.


Alan dan Mike secara fisik memang sangatlah susah untuk membedakannya dan salah satu cara mudah untuk mengetahui mana yang bernama Mike dan mana yang Alan adalah sikapnya.


***


Alan bergegas masuk ke dalam kendaraan di susul oleh sang sopir menyalakan mesin kendaraannya. Setelah sudah lima menit, sang supir belum jua tancap gas karena dia sedang menunggu Mike, yang mungkin saja dia masih di dalam rumah. Pikir sang supir tersebut.


"Kenapa masih diam saja?" Tanya Alan dari kursi belakang.


"Anu.." Supir hendak menjawabnya namun kalimatnya terpangkas oleh Alan.


"Jalan saja sekarang, Sudah semakin siang."


"Tapi.. Baiklah" Pungkas sang supir merasa sedikit sungkan berbicara dengan Alan karena sikap dia sangat dingin.


Sementara Alan sendiri meminta sang supir supaya cepat berangkat karena ia kesal terhadap Mike yang sudah berkata hendak berangkat sekolah bersama-sama pagi ini tetapi dia malah tidak terlihat sama sekali dan membuat Alan khawatir. Akan tetapi lain dari pada itu Alan memanglah tipikal orang yang disiplin.


Perjalanan menuju ke sekolah melalui jalan protokol maka tidak heran pastilah terjadi kemacetan yang cukup parah mengingat pada waktu tersebut adalah jam sibuk.


Kebetulan supir pribadi khusus yang mengantar-jemput Mike tersebut tipikal orang yang suka berbicara. Dia banyak berbicara ketika sedang macet.

__ADS_1


"Hadoh.. kapan ibu kota tidak macet begini. Halah-halah itu bocah masih piyik udah mengendarai motor, mana kagak pakek helm, kagak ada polisi pula ni jalan, et dah" sang sopir berbicara sendiri dalam logat bahasa khas ibu kota sembari menoleh ke arah jendela. Biasanya jika ia mengantar Mike ketika Mike kebetulan mau di antar olehnya pasti Mike nyahut berbicara, tetapi tidak dengan Alan dia malah sedikit menutupi telinganya karena sang sopir berbicara sendiri cukup lantang.


"Pak, maaf apakah tidak bisa di perkecil sedikit volumenya?" Ucap Alan.


"Maaf kak, hehe"


Sang supir cengegesan sembari garuk-garuk kepala merasa semakin tidak enak. Sementara Alan sendiri sudah kembali fokus membaca buku yang berada di tangannya karena ia merasa jenuh akibat jalanan tersendat.


Ketika sudah menjelang sampai di sekolah, Alan meminta sang supir untuk menghentikan laju kendaraan sebelum tepat sampai di lingkungan sekolah.


"Maaf apakah tidak apa-apa Kakak berhenti di sini?" Tanya supir. Sementara Alan hanya mengangguk tanpa menjawab satu kalimatpun. Ia langsung beranjak keluar dari dalam kendaraan membuat sang supir enggan untuk bertanya lagi ataupun mengucapkan banyak kalimat lagi.


Walaupun didalam benaknya (supir) sangatlah banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan ke Alan tentang anak majikan yang satunya lagi tidak terlihat sama sekali. (Mike)


Bukan karena apa ataupun kenapa, tetapi dia sendiri sudah diberikan pesan oleh sang majikan (Marvin) bahwa khusus hari ini dia di suruh untuk mengantarkan Mike dan Michealan ke sekolah harus bersama-sama. Namun apalah daya sang supir sendiri pun sudah sangat paham dengan tingkah Mike yang sering tidak mau di antarkan ke sekolah.


***


Alan turun di pinggir jalan yang mana pada jalan tersebut menuju ke sekolahan masih berjarak kurang lebih 500 Meter. Ia sengaja melakukan hal itu karena ia hendak membeli correction tape dahulu di salah satu toko ATK yang berada di sekitar sana. Mengingat ia memang kelupaan membawa serta barang tersebut.


Tidak selang waktu lama, Alan sudah memasuki lingkungan sekolah. Ia berhenti sejenak sembari menghela napas dalam-dalam.


'Huuff.. yosh. Selamat datang Micheal'


Batin Alan merasa bersemangat hendak kembali menimba ilmu dengan nama baru, kehidupan baru, dan lingkungan baru walaupun ia sudah sempat merasakannya dalam beberapa hari yang lalu saat dirinya tertukar posisi dengan Mike.


Alan maju satu langkah, namun ia langsung menghentikannya lagi ketika teringat bahwa Mike tidak datang ke sekolah bersama-sama dengannya. Alan menoleh ke kanan dan ke kiri seraya berjuta-juta pertanyaan didalam batinnya.


'Kemanakah engkau pergi Mike?'


Alan pun menghela napas dalam-dalam lagi dan lagi untuk meredamkan sejenak perasaan yang berkecambuk didalam batinnya yaitu perasaan was-was nan khawatir tentang keberadaan saudara kembarnya (Mike)


Setelah itu Alan kembali melanjutkan langkahnya hendak menuju ke kantor kepala sekolah. Akan tetapi baru saja satu langkah ia melangkah tiba-tiba ada yang datang dari arah belakang.


"Dooor!"


Sontak membuat Alan terkejut.

__ADS_1


"Hehe wei Mike. Apa kabar kau bro, nampaknya sudah satu abad tidak masuk sekolah"


Seorang siswa yang datang menghampiri Alan bersama dengan beberapa siswa yang lain yang tak lain mereka adalah teman-teman Mike yaitu Taro, Ivan, Al dan Kenji.


"Hey Kemana saja loe pangeran kunyuk, betah amat keluyuran" Sambung Ivan seraya merangkul Alan dari samping kanan. Kemudian di susul oleh Kenji.


"Ayank akoh kemana aja ci.. aku tuh angen taux.." Ucapnya dengan bahasa Alay yang khas seraya merangkul Alan jua dari samping kiri.


"Bersemedi di gunung kembar mungkin si Mike mah, makanya dia betah banget gak masuk sekolah, haha" Sambung Al.


Sontak membuat Alan risih lalu ia langsung melepaskan diri dari Ivan dan kenji yang sedang merangkulnya.


Seet!


"Idih Ayank akoh macih galak aja ci, aku tuh jadi atut taux" kenji sedikit menghindar lalu menyumput di belakang Al.


"Aiih, okelah Mike saat ini loe memang tidak ingat dengan siapa kita-kita tetapi.. kita tetaplah kita yaitu sahabat terbaik loe. Kita semua bisa ngertiin kok perubahan sikap loe ini" Ucap Ivan seraya kembali merangkul Alan nan mengedipkan satu matanya.


Plek!


Cling cling


Ivan berkata demikian karena ketika terakhir kali mereka berjumpa, Alan telah berkata dengan kalimat yang membuat mereka kini dapat mengerti akan perubahan sikap Alan. Namun mereka belum mengetahui bahwa yang sedang berada dihadapan mereka bukanlah Mike.


"Tapi.. saya bukanlah Mik.." Alan hendak berkata bahwa dirinya bukanlah Mike, namun sebelum kalimatnya tuntas diucapkan ia sudah lebih dulu di rangkul oleh Taro seraya menariknya menuju ke ruang kelas.


"Bukan apa hah? Bukan hantu? Haha sudahlah Marilah pangeran, kita masuk. Come on.."


"Tunggu, aku bukan" Alan hendak mengucapkan kalimat yang belum tuntas ia ucapkan. Namun lagi-lagi kalimatnya terpangkas oleh semua teman-teman.


"Halah, bukannya aku sengaja.. melepasmu dari hudupku…" Jawab Taro dengan lantunan lagu.


"Aye, aye, jreng jreng jreng"


"Hahaha"


Semua teman-teman saling sambung menyambung lantunan lagu yang Taro nyanyikan sembari tertawa-tertawa membawa Alan masuk ke dalam ruang kelas.

__ADS_1


__ADS_2