
"Iya, karena loe itu emang anak sampah, loe di temukan ayah dan ibu di tempat sampah. Jadi, gak usah loe berlagak sok jadi kakak gua, ngerti!" Tanpa disadari ia mengatakan kebenaran tentang Alan, semua itu terjadi lantaran fokus dengan handphone-nya.
Semasih percakapan antara Alan dan Yadi berlangsung, Kebetulan Ferdi dan Ika tak sengaja mendengarnya saat mereka baru saja keluar dari kamar. Sontak mereka berdua terkejut nan melotot, sebelum akhirnya menyuarakan kalimat serentak.
"Yadi!"
Yadi terkejut nan menoleh, lantas tersadar dengan kalimat yang baru saja dia katakan. "Oops, maaf Ayah, Ibu, aku keceplosan." Langsung berdiri dari kursi duduknya.
Sementara Alan menoleh ke arah kedua orangtuanya, kemudian belah bibir lekas terbuka untuk menanyakan-nya, "Apakah yang dikatakan oleh Yadi benar Ayah, Ibu?"
Tanpa basa-basi ayahnya langsung menjawab "Iya, itu memang benar, kau memang bukan anak kami."
Sontak Ika lekas memegang tangan Ferdi, "Pa ..."
"Sudahlah Ma, tidak apa-apa, memang benar apa adanya begini. Mau sekarang ataupun nanti, cepat ataupun lambat, kenyataan ini tak akan bisa di hindari kalau Alan memang benar-benar bukan anak kita, tapi hanya anak sampah." Lanjut Ferdi tidak memikirkan perasaan Alan sedikitpun.
Bagai hati tersayat seribu badik yang Alan rasakan mendengar kalimat tersebut. "Apa maksud semua ini? jadi, apa aku bukan anak ayah dan ibu? lalu ... lalu ... siapakah orangtuaku, Ayah ... Ibu?" tak kuasa menahan pedih dalam hatinya, lantas berlinanglah air mata di pipinya.
"Ya, itu memang benar. Kami tidak tau siapa orang tua kau, kami menemukan kau di tempat sampah, mungkin saja orang tua kau tidak menginginkanmu, masih beruntung kami masih mau merawat kau sampai kau sebesar ini, paham?" Jawab Ferdi yang lagi-lagi tidak memikirkan perasaan Alan, justru dia terpikir seharusnya Alan-lah yang mikir.
Alan tidak mampu lagi mendengar lebih banyak kalimat yang sangat menyakitkan ini. Tentu saja, sebabnya kalimat tersebut membuat ia tidak bisa menerima itu, seakan dia benar-benar anak yang samasekali tak diinginkan keberadaannya, hingga kalimat cacian dan hinaan masih terus-menerus membumbui setiap kalimat yang keluar dari mulut Ayah-nya.
Tak mampu lagi berdiri lama didekat mereka, perlahan melangkah pergi keluar rumah.
"Alan tunggu Nak, berhentilah Alan, jangan pergi!" Teriak Ika, hendak mencegahnya pergi lantaran mengerti perasaan yang tengah Alan rasakan saat ini.
Namun, barusaja dua langkah kakinya berpijak, tangan dia di raih oleh Ferdi, hingga langkahnya pun terhenti. "Sudahlah Ma, nanti juga dia pulang, biarkan aja dia pergi paling-paling cuma mau meratapi nasib semacam di sinetron tivi." Cetus-nya.
"Tapi Pa, mama takut dia kenapa-kenapa pa, hatinya sedang kacau dan mama juga takut jika dia gak pulang kerumah." Jawab Ika tampak tergesa-gesa.
"Aih berlebihan kali kau, memangnya mau pergi kemana lagi anak itu hah? mau mencari orang tuanya gitu? Ingat Ma, saat kita temukan dia di tempat sampah, sudah bisa di pastikan anak itu pasti pembawa sial, terus di buang sama orang tuanya!" Ucap Ferdi mengambil kesimpulan sendiri.
__ADS_1
"Belum tentu juga Pa, mungkin saja ada suatu kejadian yang membuat dia bisa sampai di tempat sampah itu atau apapun itu kita juga tidak tahu pa, waktu itu kita juga kan … gak langsung melaporkanya ke polisi. Mungkin semua ini takdir Tuhan dia menjadi anak kita pa." Ucap Ika sesenggukan.
"Halah! memangnya di drama yang ada kejadian seperti itu hah? cuih! kemungkinan benar itu dia anak hasil pergaulan bebas alias anak haram lalu di buang! ah, sudah-sudah! Apa pula kau menangisi anak itu, biarkan saja dia, nanti juga dia pulang. Jikapun dia tak pulang malah kebetulan, tanpa perlu repot-repot aku mengusirnya." Jawab Ferdi.
Ika masih dirundung kebimbangan, hingga air matanya terus mengalir membasahi pipi.
"Aih Sudah-sudah hentikan nangismu itu. Cepat kau buatkan aku kopi sana! Tak usah kau pikirin anak sampah itu, cepatlah!" Perintah Ferdi.
Meskipun air mata masih membasahi pipinya akan kekhawatiran yang dirasakannya, namun apalahdaya tak kuasa ia melawan kehendak suaminya, lantas bergegas ke dapur untuk melaksanakan perintah sang suami hingga sang anak lekas tidak ia pikirkan lagi.
___
Disisi Alan
Awal mula ia memang melangkah ke arah jalan, tetapi dia berbalik arah menuju ke rumahnya lagi melalui jalan belakang, hingga kini sampai di belakang rumah berjarak kurang lebih 200 meter dari rumahnya, tepatnya di bawah pohon rindang jenis cempedak yang terletak di pinggir sungai.
Duduk menyendiri meratapi nasib diri yang amat pedih ini, sungguh tak pernah disangkanya sedari ia masih balita bahwa dirinya bukanlah anak kandung mereka.
Meski selama penganiayaan selalu diterimanya sedari balita tak ada keluar sedikitpun air mata, kini ia tumpahkan pertanda sakit mendalam benar-benar ia rasakan.
Tentu, baginya sakit Fisik masih dapat ia tahan meskipun nyawa menjadi taruhan, pastilah sanggup ia korbankan semua itu demi mendapatkan kasih sayang. Maka, tidaklah pernah ia mengeluh meskipun hari-harinya selalu di suruh-suruh.
Duduk termenung dibawah pohon tersebut hingga sore hari menjelang petang. Cuaca hari itu kian mendung serta terdapat kilat-kilat petir diiringi suara Guntur yang menggelegar membuat seakan seperti suasana hati Alan yang kini dirundung kebimbangan.
Bergegas pergi dari bawah pohon itu, tanpa ada haluan yang ia tuju. Samasekali belum terpikirkan pulang kerumahnya, meskipun air hujan siap tumpah ke tanah.
Sejenak terpikir hendak kerumah sang sahabat (Verza) tetapi, mengingat letak rumah dia hanya berjarak tiga rumah dari deretan rumah orangtuanya membuatnya enggan pergi ke sana. Lantas pergi tanpa arah dan tujuan pasti, sebabnya tak memiliki teman lagi selain Verza.
___
Hujan rintik-rintik perlahan membasahi rambutnya, hari pun semakin gelap gulita, terdengar suara Adzan berkumandang dari seluruh penjuru arah yang terdapat Masjid maupun Mushola. Alan masih terus melangkahkan kakinya di sepanjang pinggir jalan raya yang sangat bising suara kendaraan melintas. Lantas menyadari kala dirinya berjalan pada posisi yang salah. Yakni, disebelah kanan alias melawan arus.
__ADS_1
Maka, terpikir untuk membenarkan posisi langkahnya terlebih dahulu hendak menyebrang jalan, sejenak menunggu suasana supaya sedikit sepi, sebabnya kawasan tersebut memang selalu ramai kendaraan melintas dan jua minim penerangan.
Setelah beberapa menit ia menunggu, kini sudah cukup sepi, lekas perlahan ia menyebrang. Namun, lepas ia perhatikan lagi suasana sekeliling, tak menoleh ke kanan dan ke kiri hingga tanpa ia sadari ada sebuah mobil berwarna hitam sedang melaju dengan kecepatan penuh dari arah barat.
Saat ini, sang pengemudi didalam mobil itu hendak mengangkat panggilan telephone, tetapi semasih menempelkan handphone tersebut ke telinga tak disengaja jatuh ke bawah kaki.
Lantas dia hendak menggambilnya dalam posisi kakinya sedang menginjak pedal gas cukup kuat menjadikan laju kendaraannya amatlah kencang. Setelah handphone berhasil dia raih, lekas melihat ke arah depan. Maka … Terkejutnya ia melihat ada seorang pemuda mengenakan pakaian hitam sedang menyebrang jalan, tak lain dialah Alan.
Lantas sang pengemudi bergegas injak rem dengan sangat kuat.
Ciiiiittt!
Kendaraan tak bisa di kendalikan. Dan Na'as, Tepat pukul 18:15 Pm, Alan sudah tertabraknya hingga dia terpental ke kaca mobil.
Braak!
Darah pun muncrat dari mulut Alan di kaca mobil tersebut.
Sontak sang pengemudi sangat terkejut semasih kakinya menginjak rem, hingga akhirnya mobilnya berputar-putar di jalan itu, berakhir Alan terpental nan terseret hingga sejauh 10 meter.
Beruntung, saat ini suasana jalan tersebut sedang sangat sepi kendaraan yang melintas, sebab saat ini masih waktu magrib dan juga hujan turun gerimis kian lebat.
Sang pengemudi lantas memakirkan kendaraannya sejenak di bahu jalan, dia sangatlah bimbang hingga diam sejenak, tubuh-nya gemetaran tak menentu semasih ia melihat darah yang mengalir sedang terpecik rintikan air hujan di kaca depan. Tak berpikir lebih lama, lekas ia turun hendak melihat orang yang telah ditabraknya itu.
Setelah ia sudah menghampirinya, Sungguh terkejut melihat kondisi mengenaskan dari orang yang ditabraknya tersebut. Apalagi ia sangat mengenali paras dari pemuda ini.
"Astaga Tuhan, kamu ...." Ucap-nya, tak lain dialah Daniel sang sahabat terbaik ayah kandung-nya Alan yakni Marvin Muangka Lawrence.
Bersambung ...
Catatan Author;
__ADS_1
Perhatikanlah catatan author ini ya … kelanjutan cerita ini berada di bab 18.
Cerita ini terdapat lompat part. Sebaiknya perhatikan catatan author yang tertera di beberapa bagian bab, supaya tidak bingung dengan alurnya. Terima kasih.