
Rehan tidak bisa menangkis serangan Dion kala Dion sangat beringas melakukan serangan tanpa aba-aba tersebut.
Bagaimana tidak? Sebab Adegan terakhir kala Dion sampai disana adalah saat Alan tengah ditarik oleh Rehan, yang pastinya membuat ia berpikir bahwa Rehan tengah melakukan serangan terhadap Alan. Namun lain daripada itu penilaian Dion secara pribadi terhadap Rehan adalah dia pihak musuh.
Setelah Rehan tersungkur, ia langsung meraih tangan Alan lekas menariknya pergi.
Seet!
Ia bergegas membawa Alan menuju ke arah yang lebih jauh dari arena tadi. Tetapi baru beberapa langkah mereka berpijak, Alan menghentikan langkahnya bak seekor domba yang susah di tarik saat hendak dimasukkan kedalam kandang oleh pemiliknya.
"Oiih kenapa berhenti, Ayo kita cepat pergi dari sini." Ajak Dion kala Alan sedikit menghempaskan tangannya.
"Tidak, saya tidak akan pergi kemanapun tanpa kakak saya." Alan mengkhawatirkan Mike seraya menoleh ke arah jalan. Sebab suara beberapa mobil aparat kepolisian semakin mendekat terdengar sangat bising.
"Aish .. bro, keadaan ini sedang darurat, Mike sendiri tadi udah bilang ke gua supaya gua bawa loe pergi dari tempat ini. Udah ayo buruan kita cabut." Lanjut Dion terpaksa berbohong.
"Tapi .. ah, tidak!" Alan bersikukuh oleh pemikirannya sendiri yakni hendak kembali ke area tadi untuk memastikan Mike dalam posisi aman.
"Loe pikir gua bohong hah! Gua udah sangat paham sama Mike bro, dia gak mungkin jika dia kagak mikirin keselamatan loe. Jangankan loe yang asli adiknya sendiri, sedangkan dengan kita-kita yang hanya temannya saja Mike bisa mati-matian membela kita.
Harusnya loe mikirin dia juga lah, kalo loe balik kesono dan jika loe apes ketangkep polisi, apa gak tambah parah tuh urusannya nanti hah? Udah ayolah buru kita cabut." Lanjut Dion.
"Tapi bagaimana dengan Mike? Apa kamu bisa pastikan dia selamat dari sana?" Balas Alan melotot geram.
"Aih, udah basi masalah yang beginian bagi Mike mah, udah ayo kita buruan pergi." Pungkas Dion mengulangi kalimat yang sama seraya kembali meraih tangan Alan sangat kuat lekas menariknya pergi ke arah kendaraannya berada.
Seet!
Skip
***
Disisi Mike
Saga selaku awal mengetahui berita tersebut (Mobil polisi mendekat) dari Dion tadi lekas mendekat ke arah Mike untuk segera memberitahukannya.
Namun, posisi Mike saat ini sedang berkelahi dan jua banyak sekali musuh yang menyerangnya maka sedikit sulit bagi dia untuk mencapai ke arah Mike.
"Mike!" Seru Saga, namun Mike tidak menolehnya.
Alhasil, perlahan-lahan Saga mendekat ke arah Dimas yang posisinya tidak begitu jauh darinya.
Setelah Dimas sudah diberitahukan, lekas Dimas bergegas memberitahukan ke teman yang lainnya untuk segera mengamankan Jenazah Kodar dan membantu kawan-kawan yang tergeletak. Tetapi, setelah usai ia melontarkan kalimat tersebut kepada teman-temannya, area itu benar-benar sudah di kepung oleh polisi.
Wiiiww … wiiww … wiiiww ..
Sontak semua yang berada di area sana panik. Termasuk Mike, ia menoleh kesana dan kemari untuk mencari keberadaan Alan saat masing-masing kelompok sedang kocar-kacir berlarian menyelamatkan diri.
"Alan! Michealan! Oh tidak, kemana dia, Alan!" Seru Mike sangat khawatir.
Perkelahian antar kelompok yang sedang berlangsung saat ini masuk dalam kategori tawuran besar, maka tidak heran jika langsung terendus oleh polisi.
Saat polisi mengepung area tersebut, banyak dari mereka khususnya yang tergeletak ditanah akibat terluka baik dari kelompok Dimas maupun dari kelompok musuh terciduk oleh polisi.
__ADS_1
Sementara Mike masih berdiri di posisi tengah sembari terus-menerus memanggil nama Alan nan menoleh ke seluruh penjuru arah.
Alhasil tangan ia langsung diraih oleh salahsatu teman sekelompoknya yakni oleh Vidze.
"Woi Mike, Ayo buruan kita cabut, Mike." Ucapnya sembari menarik tangannya.
Seet!
"Aish!" Mike pun langsung menghempaskannya sebab ia masih belum melihat keberadaan Adiknya.
"Wei, ini bahaya Mike ayo kita pergi." Lanjut Vidze hendak meraih kembali tangan Mike, namun langsung dia tangkis lagi.
Seet!
"Yaudah loe buruan pergi duluan, gua lagi nyari adik gua, Loe lihat gak dia dimana?" Balas Mike.
Vidze menggelengkan kepala.
Sementara Posisi Saga, Samuel dan lainnya sedang sibuk masing-masing membantu beberapa rekan yang tergeletak untuk membawanya pergi. Maka tidak heran jika mereka tidak memperhatikan Mike.
Kejadian yang sedang berlangsung ini sangatlah cepat bukanlah seperti drama yang sedang diputar lambat.
Disaat Mike tengah sedikit berbincang dengan Vidze, Saga mendengar kala Mike berteriak memanggil lagi nama Alan dan membentak Vidze untuk segera pergi terlebih dahulu dari area itu.
"Loe buruan pergi dulu, Vidz!"
"Tapi, gimana dengan loe Mike, jangan sampai loe sendiri yang ketangkep oleh polisi."
Saga sangat paham dengan Mike bahwa dia lebih mementingkan keselamatan rekan-rekannya terlebih dahulu sebelum dirinya sendiri, alhasil ia bergegas untuk meraih Mike.
Seet!
"Adik loe sudah Aman Mike, ayo kita juga segera pergi dari sini" Ajak Saga meyakinkan Mike walau ia sendiri tidak begitu yakin Dion berhasil membawa pergi Alan atau tidak.
"Oh oke," Jawab Mike lekas hendak pergi berlari.
Namun na'as saat Saga sedang meraih tangan Mike hendak bersama-sama lari, disaat itu pula ada salahsatu anggota polisi sampai di posisi tengah hingga Akhirnya Saga maupun Mike tertangkap.
***
Ya, Mike dan Saga tertangkap bersama beberapa teman sekelompok Dimas maupun dari kelompok musuh yang tergeletak tadi.
Sementara teman-teman sekelompok lainnya yakni kelompok Dimas, Kelompok utama Bonanza, anggota gengster Ngu cnxang beserta ketuanya dan jua anggota gengster yang Saga bawa mereka semua berhasil lolos. (Yang tidak terluka parah)
"Aih, sial" Gumam Saga didekat telinga Mike kala mereka berdua tertangkap.
Selanjutnya Mereka semua di kumpulkan menjadi satu saat penyergapan selesai. Mereka yang tertangkap disuruh membuka pakaian atas sembari jongkok saat komandan polisi sedang berceramah.
"Ini lagi, anak kecil ikut-ikutan macam kelakuan preman yang tak berpendidikan. Masih pelajar atau tidak sekolah kau," Tanya-nya mengarah ke Mike karena hanya Mike lah satu-satunya orang yang paling kecil diantara banyaknya orang yang tertangkap disana.
"Masih pelajar, pak." Jawab Mike dengan muka datar.
"Lantas, berapa usia kau dan Kelas berapa?" Lanjutnya.
__ADS_1
"Delapan belas tahun pak, kelas Dua belas"
"Aih, macam mana pula kau masih pelajar kelas dua belas ikut pula tawuran macam ini. Ujian akhir semester pun akan hadir sebentar lagi, bukannya perbanyak belajar untuk kelulusanmu, malah ikut-ikutan tawuran macam preman macam ini!"
Mike menunduk mengakui kesalahannya. Lekas polisi mendekat melihat fisik Mike secara keseluruhan. Sontak polisi itupun menggelangkan kepala melihat kedua pundak Mike terdapat tato berukuran besar.
"Mau jadi apa masadepanmu, kau pikir dengan baku hantam lalu kau akan tampak keren hah?" Lanjut Komandan polisi belum selesai berbicara namun Mike langsung menjawabnya.
"Saya memang sudah keren dari lahir kok pak, hehe" Ucapnya penuh percaya diri.
Sontak membuat beberapa orang sekaligus anggota polisi yang lain sempat hendak tertawa.
"Besar pula kau punya mulut rupanya, apakah orangtua kau membesarkanmu supaya menjadi anak yang sok jagoan macam ini hah? Hei Nak, Jangan kau sia-siakan pengorbanan orangtua dalam membiyayai pendidikanmu. Jangan banyak bertingkah yang tidak perlu semacam ini. Masa depan bangsa bisa hancur jika generasi muda banyak tingkah yang tak perlu macam ini, paham!"
"Paham pak .."
"Apa kau akan mengulanginya lagi?" Tegas polisi.
"Tidak pak," Jawab Mike.
"Baiklah, awas saja Jika suatu saat nanti saya menemukan kau dalam kasus seperti ini lagi. Yasudah akan segera saya panggil orangtua kau untuk menjemput kau ke kantor." Pungkas polisi mengakhiri percakapan.
Lekas mereka semua digelandang ke kantor polisi untuk diamankan.
***
Next
Disisi Alan
Kala mereka berdua sudah didalam kendaraan, Alan merasa resah hingga berkali-kali menoleh ke arah belakang maupun ke spion.
"Wei, kenapa ekspresi loe gugup begitu? Santai aja Men, gua udah paham dengan Mike, walau dia masih kecil tapi dia pemuda yang tangguh. Gua yakin sekarang ini dia pasti sudah lolos, dan sedang ikut mengurus teman dia yang meninggal dunia itu. (Kodar)" Ucap Dion sembari menyetir.
Alan tidak menjawab apapun, karena batin-nya bertolak dari perkataan Dion tersebut. Dan didalam batin Alan mengatakan 'tidak'
Ya, Alan merasa sedang ada sesuatu dengan saudara kembarnya maka ia pun merasa resah meskipun ia sendiri sudah paham bahwa Mike memang seorang pemuda yang tangguh.
"Nih, ambillah bersihkan dulu wajah loe" Ucap Dion memberikan tisu basah untuk Alan, sebab wajah Alan masih sangat kotor akibat Darah yakni darah percikan dari mata ketua gengster yang ia tusuk tadi maupun dari luka gores yang ada di pipinya.
Alan meraihnya lekas membersihkannya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai didalam komplek perumahan kediaman Alan. Lekas Alan pun turun.
"Gua cabut dulu, bro" pamit Dion.
Alan mengangguk sembari melambaikan tangan. Ia masih berdiri didepan pintu gerbang sembari melihat mobil Dion sedang melaju pergi.
Sontak ia sedikit melotot kala menoleh ke arah sisi lain. Ia melihat ada sebuah mobil yang ia kenali sedang melaju namun berjarak masih cukup jauh, yaitu mobil sang Ayah.
Alan tidak ingin sang Ayah melihat dia masih berada di luar gerbang terlebih lagi melihat kondisi wajahnya terluka nan masih terdapat percikan darah di sebagian bajunya.
'Oh Tuhan, Kunci dimana kunci' Batin Alan tergesa-gesa sembari merogoh semua kantong saku maupun jaket.
__ADS_1