
Rasa gundah kian menyelimuti kalbu kala mata tertuju pada gadis itu. Walau diri tidaklah pernah memiliki keraguan dalam mengungkapkan kebenaran, namun lain halnya dalam menghadapi perempuan.
Rasa ragu teramat membelenggu lantas Alan diam membisu sembari menunggu waktu, tubuh terdiam tetapi mata tak lepas pandang menyaksikan dari dalam mobil itu.
***
Disisi Ananta saat sudah keluar dari dalam kendaraan lantas meraih tangan Mike saat posisinya tersungkur di aspal.
"Maaf bang, apa kau baik-baik saja?" Tanya-nya belum menyadari kendaraan yang Mike kendarai sebab saat kejadian tersebut tengah berlangsung secepat kilat banyak para warga sekitar mengamankan motor Mike ke bahu jalan untuk mengurangi kemacetan.
Posisi Mike masih lengkap menggunakan helm type Full Face sehingga belum tampak jelas seperti apa wajahnya. Tetapi lain hal-nya dengan Mike sendiri, saat ia sudah melihat orang yang meraih tangannya lekas ia pun membuka pelindung kepala.
"Gua gak papa, Tata" Jawabnya saat posisi helm tersebut terlepas dari kepalanya dengan sempurna.
Sontak Ananta terperangah dalam kejutan, tak lain dan tak kurang ialah saat dirinya mendengar nama panggilan yang Mike sebutkan. Sebab memang benar adanya panggilan atas nama 'Tata' adalah nama akrab yang biasa Mike ucapkan kala memanggilnya.
"Loh, kok, kamu .. kamu .." Ananta tergagu sembari menelunjuk jari setinggi bahu. Sementara Mike langsung meraih jari sekaligus lengan Ananta, lekas menariknya ke arah motornya berada.
"Loe Ikut gua, sekarang." Ajak Mike seraya menariknya dalam sikap bar-bar seperti yang biasa ia lakukan kepadanya.
Seet!
"Aw, awh, Mike ish .. tunggu!" Jawab Ananta seraya menghempaskan tangannya tampak asam.
"Gua butuh loe, Ta' " Mike tampak sedih yang mana semula ekspresi asam Ananta sekejap mata kini berubah menjadi penuh iba. Bahkan segala keraguan yang tengah ia rasakan bagai musnah di telan Alam. Sebab segala logat kalimat yang terucap terdengar sangatlah akrab.
"Kamu baik-baik saja kan Mike?" Tanya-nya penuh keyakinan bahwa pemuda yang didepannya saat ini benar-benar pemuda yang ia kenali.
"Sepulang sekolah ini apa loe ada acara?" Tanya Mike.
Ananta bungkam, tak lepas pandang.
"Loe Ikut gua sebentar." Pungkas Mike lekas menyalakan mesin motornya.
Brum .. brum ..
"Tapi, jika loe keberatan mending kagak usah loe paksain, Ta' " Lanjut Mike tampak sedih sebab hatinya saat ini tengah kacau lantaran usai berseteru dengan sang Ayah hingga ia lupa menanyakan tentang kesehatan Ananta maupun hal lainnya.
"Em .. Baiklah, tunggu sebentar" Ananta lekas melangkah lagi ke arah mobilnya berada.
"Pak, bapak pulang duluan saja. Nanti saya pulang bisa naik taksi." Ucapnya kepada sang sopir.
"Tapi, Non .. kata Tuan kan .." Tanya sang Sopir, sementara Ananta pun menjawab sebelum sopir itu melanjutkan kalimat.
"Tidak apa-apa pak, jika papa saya tanya, bilang saja saya lagi pergi dengan teman saya yang bernama Mike, papa sudah paham kok." Ucapnya meyakinkan.
"Baiklah, Non" Pungkas sang sopir lekas tancap gas.
Disaat mobil penjemput Ananta hengkang dari sana, disaat itulah Alan dapat melihat posisi Motor Mike yang berada di bahu jalan lengkap dengan posisi Ananta barusaja duduk di atas motornya.
Tak lepas memperhatikan keduanya dari kejauhan, lantas tetap mengikuti perjalanan mereka dari arah kejauhan.
***
Mike membawa pergi Ananta sesuai kemanapun roda duanya berputar tanpa memiliki tujuan yang pasti. Hingga saatnya tiba suatu di taman, Mike menghentikan laju kendarannya di pinggir jalan. Alih-alih untuk membeli minuman, lekas menarik Ananta masuk kedalam taman.
Lantas duduk berduaan di kursi taman itu, sembari menghirup udara panas yang tengah membelenggu. Terdiam dalam kata diantara keduanya, sebab berkecambuk jua rasa hati Ananta.
__ADS_1
Disisi Alan sendiri tetap mengikutinya, walau banyak kalimat kata didalam batinnya.
'Apa yang kamu lakukan Alan, berhentilah melangkah, berhentilah melangkah Alan.'
Tetapi, berjuta kata hati ia pungkiri, sebab fakta kedua kaki tetaplah mengikuti. Berhenti dibalik pohon rindang yang terdapat didalam taman, mata tak lepas pandang melihat mereka duduk berduaan.
***
"Em .. Mike," awal Ananta hendak memulai kata.
"Dapatkah aku meminjam bahumu, Ta' " Balas Mike tanpa ragu, lekas menyandarkan kepala pada bahu Ananta. Diiringi air mata yang membanjiri pipinya membuat Ananta semakin penuh tanya.
"Hiks, hiks, hiks,"
"Em .. ka .. kamu kenapa Mike? Ada apa denganmu?" Tanya Ananta sembari mengusap lembut pundaknya (menenangkan)
"Air mata lelaki adalah sebuah harga diri, tetapi jika denganmu aku bisa melepaskannya," Jawab Mike masih dalam tangisannya.
"I .. iya, maksudku kamu kenapa dan ada apa, apa kamu sedang ada masalah, ceritakan saja Mike." Ananta mencoba menahan dirinya tentang apa yang hendak ia tanyakan kepadanya, mencoba mengerti tentangnya terlebih dahulu walau sejuta pertanyaan diri sangatlah membelenggu.
Mike bungkam meresapi kesedihan dalam tangisan dibahunya. Tiada ingin belah bibir terbuka akan masalahnya. Lantas Ananta sedikit menjauhkan kepala dari bahunya lekas memberikan minum untuknya.
"Nih, sebaiknya kamu minum dulu" Ucapnya lekas memberikan botol minuman jenis kopi dingin untuknya. Tetapi saat Mike meraihnya, tak sengaja jatuh lantas tumpah di celananya.
Seep!
"Aih, jadi basah dan kotor tuh kan .. duh, kamu ini gak bener megangnya, yaudah tunggu sebentar." Ucap Ananta lekas mencari tissu dalam tasnya, tetapi saat ini benda itu tidak ada dalam tasnya.
"Halah, gak ada pula. Kamu tunggu dulu sebentar ya Mike, aku akan segera kembali" Pamit Ananta hendak membeli tissu.
***
Disaat adegan tersebut berlangsung, Alan tengah beralih pandang ke arah lain. Sementara saat Ananta melangkah hendak membeli tissu, sungguh membuatnya terkejut hingga menumbuhkan amarah dalam dirinya ketika ia melintasi pohon rindang nan melihat Alan berdiri disana.
'Oh Tuhan,' Batin Ananta terperangah dalam kejutan menyaksikan kedua pemuda berparas Sama secara bersamaan.
Alan semula belum menyadarinya saat Ananta mengetahui keberadaannya disana. Tetapi, saat ia menoleh ke arah Ananta lantas terkejut jua dirinya.
'Oh Tidak, Ananta'
Amarah kian merekah dalam diri Ananta, lantas Perlahan-lahan ia melangkah mendekat kepadanya, tanpa seutas kata yang diucapkannya lekas meraih lengan Alan menuju Mike berada.
Seet!
"Ananta .." Lirih Alan memanggilnya, tapi apalah daya inilah konsekuensinya. Ananta tak menjawab satupun kata, lantas menariknya hingga sampai ditempat Mike berada.
"Bisa kamu jelaskan tentang semua ini Mike!" Seru Ananta seraya menghempaskan lengan Alan ke arah depan Mike, nyaris membuat Alan tersungkur ke tanah.
Seet!
Lamunan Mike lantas tercabik, hingga gundah yang tengah ia rasa bagai sirna begitu saja.
"A .. Alan, kamu disini juga? Lalu .. sejak kapan?" Tanya Mike seraya berdiri nan tak begitu mendengarkan seruan Ananta tadi. Dan yang Mike pikirkan saat melihat Alan tak lebih dan tak kurang hanyalah kejadian pada tadi malam, yakni saat dirinya tertangkap oleh polisi dan segala perkara yang terjadi.
Sementara Alan terdiam tanpa kata, mata tak lepas pandang melihat ke arah Ananta.
"Mike! Bisa loe jelaskan kenapa loe melakukan ini sama gue, hah!" Seru Ananta kala Mike belum menjawab seruannya dalam tutur bahasa seperti sedia kala. (Non-formal)
__ADS_1
"Awh penging kuping gua Ta' Astaga .. loe kenapa jadi teriak-teriak begini si, kebiasaan banget dah loe malu-maluin." Cetus Mike lantaran tidak mengerti keadaan hingga logat bahasa jua kembali seperti sedia kala.
"Malu-maluin loe bilang hah! Lantas apa maksud semua ini Mike!" Jawab Ananta tak kuasa menahan air mata. "Hiks, hiks, hiks"
"Eh, kok loe malah nangis si Ta' " Cetus Mike tampak Bodoh karena ia tidak menyadari bahwa ia belum memperkenalkan Alan kepadanya lantas menumbuhkan suatu kesalahpahaman hingga sejauh ini.
Sementara Alan tidak bisa melihat orang menangis terlebih lagi seorang gadis, maka ia pun hendak mendekat kepadanya.
"Berhenti loe!" Pekik Ananta seraya menutupi mulutnya sendiri menahan tangis.
Alan pun langsung menghentikan langkahnya.
"Em, ini sebenarnya ada apaan si kok malah jadi kayak drama begini?" Cetus Mike lekas memandang ke arah Alan. "Lan, ada apaan si? Kok tiba-tiba dia nangis?"
Usai Mike mengucapkan kalimat tersebut, Lantas Ananta mendekat ke arahnya nan menampar pipinya sekuat tenaga.
Plak! Plak!
Tidak hanya itu, Ananta jua langsung menampar pipi Alan sekuat tenaganya.
Plak! Plak!
"Kalian benar-benar lelaki bedebah! Sedari dulu loe memang sering bermain-main sama gue Mike! Tetapi kali ini kenapa loe tega melakukan ini Mike! kenapa loe mempermainkan hati gue Mike! Kenapa Mike!" Pekik Ananta semakin histeris.
"Permianan, permainan yang loe Maksud apaan si! Kok malah jadi runyam begini, pikiran gua yang lagi runyam Ta! Ngapa loe malah jadi ikut-ikutan begini si, aneh dah. Heran gua." Celetuk Mike seraya garuk-garuk kepala tampak depresi, tanpa memikirkan apapun perkara yang sudah terjadi sejak dirinya tertukar posisi.
Alan terdiam seribu bahasa nan hanya menyaksikannya, lantaran ia merasa jadi orang ketiga diantara keduanya.
Sementara Mike bersikap seperti itu lantaran ia tidak pernah mengetahui bahwa Ananta telah mengungkapkan perasaan kepadanya, tetapi pada saat itu Ananta ungkapkan kepada Alan saat mereka (Alan dan Mike) tertukar posisi.
Ya, Mike bersikap seperti ini lantaran ia hanya menganggap Ananta sebagai sahabatnya. Dan jua akibat saat ini ia sedang Depresi akibat permasalahannya sendiri (masalah dengan Ayahnya) sehingga ia kurang memperhatikan momok segala permasalahan Ananta.
Lantas Ananta mengulangi untuk yang kedua kali hendak menampar Mike, tetapi secara sigap Mike pun menangkisnya.
Seet!
"Cukup Ta! Loe apa-apaan si! Main tangan begini, heran dah ah!" Pekik Mike tampak emosi seraya sedikit menghempaskannya.
Seet!
"Mike!" Seru Alan tak suka mendengar bahasa Mike terlampau kasar kepada seorang wanita. Tetapi Mike tidak begitu menggubrisnya, lantaran hal tersebut sudah hal yang biasa baginya.
"Oh, oke .. jadi ini yang namanya M-Twins hah? M-Twins yang sangat didambakan oleh banyak gadis, siapa sangka keduanya penuh ambisi dan sesama penuh muslihat macam ini!" Ucap Ananta seraya melirik sinis ke arah keduanya.
"M-Twins, Ambisi, Muslihat maksud loe apaan Woi, Aneh banget sih Loe! Kesurupan apaan sih Loe Ta' " Jawab Mike tampak kesal karena ia belum mengerti samasekali.
"Mike!" Seru Alan lagi.
"Sudah cukup sandiwara kalian! Dan terimakasih Mike dan juga Loe! atas semua sandiwara yang kalian lakukan ke gue!" Pekik Ananta lekas melangkah pergi.
Ananta merasa dipermaiankan lantaran belum ada satupun sebuah penjelasan, baik dari Mike yang tak pernah mengatakan memiliki saudara kembar, maupun saat Alan menggantikan posisi Mike kala segala perkara yang telah berlalu.
"Ananta, tunggu!" Seru Alan lekas pergi mengejarnya.
Sementara Mike masih terdiam nan mengusap kepalanya tampak semakin depresi.
"Haissh! Apa-apaan sih dia arrgh! Pakek acara Drama gak jelas segala, gua yang lagi mau curhat, malah dianya kesurupan gak jelas begitu huh! Pusing pala gua!"
__ADS_1