Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 84


__ADS_3

Selesai ia melihat foto tersebut, Alan masih terdiam sembari bertanya-tanya yang tak kunjung usai didalam batinnya, karena ia merasa teramat sangat bingung.


Kemudian Johan langsung mengambil kembali foto yang sedang berada ditangan Alan.


Seet!


Ia langsung mer*mas foto tersebut kemudian ia langsung melemparnya kembali pada wajah Alan.


Plak!


Sontak membuat lamunan Alan menjadi terpecah ketika Johan melemparkan buntalan foto tersebut ke wajahnya, kemudian Alan fokus kembali melihat kearah mereka berdua.


"Tidak! Itu bukanlah saya, saya tidak pernah melakukan hal demikian," jawab Alan.


"Lantas, Siapakah orang yang berada didalam foto itu hah! Sudah jelas-jelas itu adalah kau! Katakanlah sejujurnya apa yang telah kau lakukan kepada anakku! Apakah benar kau telah menodainya hah!" Johan nampak emosi.


"Hiks hiks hiks dia memang lelaki baj*ngan pa, Dia selalu mengelak tentang segala perbuatan yang telah dia lakukan, dia telah menghancurkan kehormatan putrimu ini pa.. hiks hiks hiks" Sambung Jessi meyakinkan ayahnya nampak memelas.


Melihat putrinya jongkok sembari menangis histeris kemudian Johan membantunya untuk kembali berdiri. Setelah posisi Jessi kembali berdiri, Johan melirik tajam kearah Alan.


Kemudian ia melontarkan sebuah kalimat sembari tangan ia menelunjuk kearah wajah Alan.


"Hey kau! Tanggung jawablah tentang segala perbuatan yang telah kau lakukan kepada putriku!"


"Tidak! Sekalipun saya tidak pernah melakukan hal demikian, dan saya sama sekali belum pernah menyentuh seorang wanita, terlebih lagi wanita tersebut adalah putri anda." Jawab Alan bersikukuh.


Mendengar kalimat yang Alan ucapkan, membuat Jessi semakin geram, karena sebenarnya segala ungkapan yang ia ucapkan kepada sang ayah adalah kebohongan belaka. Semata-mata hanya untuk bisa mendapatkan Alan bagaimanapun caranya.


Ya, Jessi telah dibutakan oleh rasa cinta yang tidak pernah terbalas dan tidak pernah ia dapatkan dari Alan. Foto tersebut adalah foto ketika Jessi membawa Mike kedalam suatu ruang didalam sekolahan dan dia telah membuat rencana tersebut sedemikian rupa.


Ketika itu Ia menyuruh salah satu teman sekelompoknya untuk memfoto mereka disaat posisi tepat yang Jessi inginkan ketika bersama Mike didalam ruangan itu. Teman Jessi memfoto posisi mereka Melalui celah-celah jendela.

__ADS_1


***


"Apa yang kau katakan Alan! Foto itu adalah bukti ketika itu engkau memaksaku, papa jangan percaya ucapan dia pa, dia berbohong, dia telah menodaiku pa!" Jessi nampak ketakutan sendiri ketika mendengar Alan bersikukuh tentang pemikirannya.


"Bercakap macam apa pula kau Jes!" Ucap Alan singkat kemudian ia langsung beranjak pergi tanpa mempedulikan suatu hal yang menurutnya tidak penting semacam itu.


Ya, Alan tidak terlampau menggubris Jessi dari dulu karena Alan sering mendapati Jessi ketika Jessi sedang beraksi membully siswi lain yang culun termasuk kepada Ani, ataupun ketika Jessi sedang bercumbu dengan bergonta ganti siswa yang berada di sekolahannya. Namun hal tersebut tidak pernah diketahui oleh Jessi bahwa Alan telah mengetahuinya selama ini.


Ketika Alan melihat segala kelakuan Jessi, ia berpikir hanya cukup tau saja bahwa kelakuan wanita itu tidaklah baik. Dan jua karena sejatinya dia adalah orang yang pendiam. jadi segala hal semacam itu hanya cukup ia ketahui dan ia paling enggan berurusan dengan orang semacam itu terlebih lagi jika sampai ia memiliki kekasih semacam wanita itu, sangatlah jauh dari pemikiran Alan.


Alan mengetahui bahwa Jessi telah menyukainya dari dahulu. Namun Alan tidak habis kira bahwa Jessi mampu berbuat senekat ini hanya untuk mendapatkannya.


***


Ketika Alan sudah melangkah pergi, Jessi berteriak-teriak cukup lantang sembari mengumpat dengan kalimat kotor. Kemudian ia langsung ditenangkan oleh sang ayah.


'Jika Aku tidak bisa memilikimu, jangan harap ada wanita lain yang bisa memilikimu Alan! jika memang benar-benar engkau tidak bisa menerimaku, kau akan rasakan akibatnya! sekaranglah saatnya untuk kau Pergi ke neraka Alan! Hahaha' Batin Jessi telah membuat rencana sedemikian rupa.


Ayahnya merasa bingung antara iya dan tidak tentang pengakuan putrinya sendiri. Namun, melihat putrinya nampak depresi semacam itu, iapun tidak hanya tinggal diam begitu saja. Kemudian ia menyuruh kedua bodyguard-nya untuk segera mengejar Alan.


***


Ia langsung berlari menjauh dari rumah Jessi, ia berlari tidak melalui jalan pada umumnya melainkan melalui jalanan ladang (menerobos) Alan berlari cukup kencang dan tergesa-gesa, sehingga ia berhasil lolos dari kedua orang pesuruh Johan.


Alan nampak sangat tergesa-gesa karena setelah mendengar pengakuan Jessi dan mendengar kalimat Johan meminta ia untuk bertanggung jawab membuat Alan merinding.


Karena dari pengakuan Jessi dan jua ucapan dari Johan tentang sebuah tanggung jawab pastilah sudah bisa dipastikan bahwa Alan diminta untuk menikahi Jessi. Ya, maksud dari bertanggung jawab itu adalah menikahi, karena sudah menjadi umumnya didaerah perkampungan tersebut banyak pemuda-pemudi yang menikah pada usia dini. Baik itu lelaki maupun perempuan, bahkan ada yang umurnya masih dibawah Alan sudah banyak yang putus sekolah lalu menikah.


Alan merinding, karena ia sama sekali tidak memiliki pemikiran yang dangkal semacam itu yaitu untuk menikah pada usia dia yang masih sangat muda terlebih lagi jika untuk menikahi wanita semacam Jessi.


Alan masih terus menerus berlari, hingga sampai di kecamatan tempat ia tinggal. Tak selang waktu lama, akhirnya ia tiba di lingkungan rumahnya.

__ADS_1


Ketika ia sampai pada halaman depan rumah, ia melihat suasana sedang sepi, ya, karena masih tepat pukul 15:00 adalah waktu yang sangat sepi warga yang berada dirumah, karena pada jam itu kebanyakan para warga masih beraktivitas di ladang dan lain sebagainya.


Ketika ia sampai, pintu rumah dalam keadaan tertutup, kemudian ia menuju langsung kearah pintu belakang. ketika ia sampai dibelakang rumah, ia melihat Ika dalam posisi sedang duduk termenung seorang diri dibawah pohon cempedak yang terdapat dibelakang rumahnya.


Berlahan-lahan ia melangkah mendekat ke Ika, sembari menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Ferdi.


Ketika ia sampai tepat dibelakang Ika, ia langsung memegang pundak Ika dengan tangannya dari arah belakang.


"Ibu.."


Lamunan Ika menjadi terpecah ketika mendengar suara Alan. Kemudian ia langsung menengok kearah Alan.


"Alan.."


Ika langsung beranjak berdiri dan langsung memeluk Alan. Sembari menepuk-nepuk pundaknya.


"Hiks hiks hiks kemana saja kau Lan, Kenapa kau tega nian pergi disaat ayahmu tiada nak, Begitu bencikah kau dengan ayahmu.. hiks hiks hiks" ucap Ika menangis histeris.


Mendengar kalimat tersebut, membuat Alan sangat terkejut kemudian ia melepaskan kembali pelukan Ika.


"Apa maksud perkataan ibu.."


"Hiks hiks hiks ayahmu telah pulang ke surga nak.. kemana saja kau Alan.. hiks hiks hiks"


"Astaga Tuhan.. Ayah."


Alan langsung meneteskan air mata setelah mengetahui bahwa ayah tirinya kini telah tiada. Walaupun semasa hidupnya Ferdi telah banyak menganiaya Alan. Namun Alan tidak pernah membenci Ferdi sedikitpun.


Kemudian Alan menuntun Ika untuk masuk kedalam rumah. Lalu ia langsung membuatkan teh hangat untuk Ika yang sedang depresi. Walaupun ia sendiri sedang mengalami depresi yang sangat membelenggu pikirannya namun ia mampu membuat orang-orang yang ia cintai tidak mengetahui bahwa dirinya sendiri sedang mengalami kesulitan.


Ya begitulah Alan, dia sangat peduli dengan keluarga yang selama ini ia kira adalah keluarga kandungnya. Namun kepeduliannya itu tidak pernah terbalas sebagaimana mestinya oleh mereka.

__ADS_1


Catatan


Marvin dan Mike masih didalam perjalanan.


__ADS_2