
Marvin geram melihat tingkah anaknya tidak bisa di atur. Namun ia sadari bahwa Mike menjadi seperti itu lantaran kurangnya pendidikan, etika dan moral khususnya dari dirinya sendiri selaku menjadi orang tua tunggal.
Sejenak ia menghela napas dalam-dalam untuk meredakan emosinya yang tengah memuncak. Ia merenungkan sejenak segala apa yang terjadi baik kini maupun masa lalu.
Ia teringat masa-masa yang mana seharusnya ia ada bersama Mike, namun waktunya selalu ia habiskan untuk mengurus perusahaan peninggalan sang ayah yaitu Muangka Lawrence. Bahkan hal yang sangat ringan untuk ia ada bersama Mike pun tidak pernah ia luangkan.
Hari demi hari ia hanya terkukuh dalam satu pemikiran yaitu kekayaan dan kejayaan adalah modal utama untuk bisa hidup sejahtera. Namun ia tidak berpikir bahwa hidup bahagia nan sejahtera tidak hanya dari berapa banyaknya nol didalam nominal uang melainkan dari keluarga.
Namun tidak bisa dipungkiri ia menjadi seperti itu lantaran sebuah tragedi yang pernah menimpanya saat ia ditinggalkan oleh orang-orang yang ia sayang dalam waktu yang bersamaan. Yaitu oleh Ayah, istri, dan jua kehilangan satu putra kembarnya.
Marvin menyadari bahwa ia sangat bersalah dengan Mike, lantaran Mike menjadi anak yang kurang kasih sayang. Namun sebaliknya kini ia semakin merasa menjadi orangtua yang gagal dalam mendidik anak setelah putra kembarnya kembali.
Ya, ia merasa menjadi orangtua yang gagal dalam mendidik anak setelah mengetahui kronologi dari putra kembarnya yang hilang itu.
Michealan terdidik oleh orangtua angkat yang kejam namun dia mampu menjadi anak yang patuh, berprestasi, memiliki etika dan moral yang sangat baik.
Karena yang ia ketahui bahwa seorang anak akan tumbuh menjadi sesuai lingkungan hidup yang ada pada diri anak tersebut. Jika lingkungannya buruk kemungkinan besar dia akan tumbuh menjadi buruk. Jika lingkungannya baik maka akan menjadi baik.
Namun itulah yang membuat Marvin sangat kagum dengan Michealan, dia tidak terpengaruh apapun oleh lingkungan hidupnya dulu. Dan itulah sebabnya kini Marvin memiliki kehawatiran tinggi terhadap mereka.
Ya, ia khawatir jika Michealan menjadi seperti Mike. Karena kedua putra kembarnya tersebut adalah generasi penerus keluarga Lawrence terakhir yang akan mewarisi Lowrence Corporation.
***
Next
"Mike," panggil Alan ketika mereka sudah didalam ruang kamar sembari melepaskan jam tangan dan menaruhnya di meja.
"Hum" Balas Mike sembari membuka beberapa laci dan lemari, mencari rokok.
Greeek ngiiek greeek
"Aha, lumayanlah masih ada satu bungkus" lirih Mike sembari masih menoleh kesana dan kemari, mencari korek api.
Melihat tingkah sang kakak membuat Alan hanya menggelengkan kepala, ia hendak bertanya namun tidak jadi ia lakukan untuk sementara.
Ia pun bergegas membersihkan diri.
Sementara Mike setelah mendapatkan korek api, ia pun duduk di kursi yang berada di balkon sembari smoking.
'Aih.. masalah ini belum selesai selama dia belum mendekam di penjara ataupun musnah untuk selama-lamanya.' Batin Mike kala terbayang kejadian yang baru saja terjadi.
Ya, Mike memiliki kehawatiran yang cukup tinggi setelah kejadian ini. Karena ia mengetahui Bonanza adalah orang yang sangat sadis dan licik.
Mike khawatir, Bonanza pasti akan semakin beringas atas serangan balik yang akan dia lakukan.
Sebenarnya masalah ini akan cepat selesai jika ada pihak berwenang yang terlibat. Namun sayangnya ia pun tidak bisa melakukan hal tersebut karena ia sendiri pun pasti akan terlibat dan pastinya akan mencoreng nama keluarga.
Mike tidak ingin hal itu terjadi, karena seburuk-buruknya ia bertingkah di luar, ia tidak ingin jika keburukan tersebut berimbas kepada keluarga.
__ADS_1
Seperti layaknya kini, Alan menjadi ikut terlibat lantaran kejadian tertukar posisi kala itu. Maka ia pun harus mengatur strategi sedemikian rupa supaya semuanya dapat terselesaikan tanpa terlibat dengan polisi.
***
Beberapa menit telah berlalu kini jam menunjukkan pukul 03:55 am. Alan sudah selesai membersihkan diri, sementara Mike masih diposisi yang sama yaitu merenung sembari menghisap zat nikotin di balkon.
Alan melihat sang kakak nampak banyak yang sedang dia pikirkan. Sebelumnya ia tidak akan menghiraukannya karena disana terdapat kepulan asap dari rokok yang Mike hisap yang mana ia tidak menyukainya. Namun akhirnya ia pun tetap datang mendekat.
"Mike" panggil Alan lirih, sedikit membuka pintu. Namun Mike belum tersadar dari lamunan. Alhasil ia pun kembali melangkah kedalam sejenak untuk mengambil sesuatu.
Setelah barang tersebut sudah di tangan, ia pun kembali lagi ke arah tadi seraya meleparkannya ke Mike. Yaitu handuk.
Suut!
"Oit, oit, huff huff, haiyaa kamu ini Lan, aihh" Gumam Mike kala handuk menutupi kepalanya nan membuat rokok ditangan terjatuh mengenai paha.
"Haiyaa haiyaa saja terus Mike, sampai Natal tahun depan. Bergegaslah mandi." Lanjut Alan nampak asam.
"Hehe, baik laksanakan kapten!" Jawab Mike bergegas melaksanakan sesuai yang Alan ucapkan. Lagipula sebelumnya ia memang hendak melakukannya. (Mandi)
Setelah selesai mandi, ia pun menyusul Alan yang sudah rebahan di kasur namun belum memejamkan mata. Masih melihat handphone.
"Hufff.. hari yang melelahkan, hei Lan."
"Hum" sahut Alan namun tidak menoleh, ia fokus melihat handphone.
"Maafkan aku"
"Tentang banyak hal, em.. happy birthday untukmu dan untukku."
Sontak Alan langsung menoleh.
"Ulang tahun?" Ia nampak bingung karena tanggal ulangtahun dirinya bukanlah hari ini sesuai yang orangtua angkatnya berikan, yaitu masih lima hari kedepan. Dan jua dikarenakan Mike belum mengatakannya secara jelas pada hari kemarin (lihat bab 113)
"Iya, tepat dihari ini adalah hari bertambahnya usia kita, Lan. Maaf, semuanya jadi berantakan akibat ulahku. Aku salah persepsi." Mike menunduk menyadari kesalahannya.
"Tunggu, jadi maksud ayah marah tadi.."
"Iya Lan, itu semua salahku. Papa marah akibat kita pulang terlambat, pesta yang akan diadakan menjadi berantakan. Dan juga.. salahku sempat pergi tanpa memberitahu kamu terlebih dahulu." Lanjut Mike mengingatkan saat meninggalkan Alan dirumah sakit.
Alan terdiam tanpa kata, namun ia masih menatap Mike.
"Lan. Kenapa kamu diam?" Lanjut Mike. Namun Alan sendiri malah tersenyum khas penuh misteri.
"Lan, aihh jawab kek satu kalimat saja. Apa kamu marah?"
"Itu suatu pembelajaran untukmu. Jika ada sesuatu yang akan kamu katakan lebih baik katakanlah secara terus terang. Supaya memudahkanmu dalam segala hal."
"Jadi.. maksudmu aku orang yang bertele-tele?" Lanjut Mike, namun Alan hanya tersenyum sembari meletakkan handphone di meja sebelah dia lekas menata bantal dan selimut beranjak tidur.
__ADS_1
"Lan, aih.. kita belum selesai ngobrol Lan, apa kamu tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada kakakmu ini juga?"
"Humm.." Alan langsung menutup kepala dengan selimut.
"Haiyaa.." Mike langsung menarik selimut itu.
Seet!
"Aih, seperti anak kecil saja kamu, Mike." Ia melirik asam.
"Kanapa Lan?"
"Kenapa apa lagi Mike?"
"Kenapa kamu menjadi orang yang misterius seperti ini? Setiap kali aku mengira kamu marah tetapi kamu tidak marah dan segala hal yang aku pikir tentangmu selalu berbalik dari yang aku pikirkan."
"Lalu?" Alan masih meliriknya.
"Aku hanya takut, jika Kamu melakukan hal sampai melampaui batas"
"Melampaui batas dalam hal apa?" Tanya Alan tidak begitu serius menanggapinya.
"Ah, tidak-tidak. Tidurlah kamu pasti lelah."
"Kebiasaan sekali kamu Mike, tidak pernah tuntas dalam berkata."
"Sudah tidurlah, tapi ingat kamu nanti jangan membangunkan aku, huaaaam" pungkas Mike beranjak tidur.
***
Mike ragu-ragu hendak berkata lantaran ia jua tidak mengetahui pasti tentang sifat Alan yang misterius itu.
Ia teringat saat Alan menebas para musuh tadi benar-benar terlihat mengerikan bak psikopat yang tidak memiliki hati.
Mike khawatir jika hal tersebut berlarut-larut maka sifat psikopat yang ada didalam diri Alan dapat tumbuh kian membesar. Oleh karena itu ia memikirkan bagaimana cara supaya Alan tidak terlibat lagi dengan urusan yang berujung pada tindakan kekerasan.
Ya, semua itu karena Alan dan Mike berbeda pergaulan. Yang mana Mike mampu mengontrol diri dalam menghadapi musuh, sementara Alan tidak. Maka tidak heran jika Alan bisa melampaui batas dalam bertindak.
Namun, apakah Alan bisa lepas dari permasalahan ini sedangkan dirinya sudah terlanjur terlibat?
Nantikan kisah selengkapnya pada episode-episode mendatang.
Bersambung..
***
Catatan
Sudah Satu tahun tepatnya di tanggal 18 Juni. Cerita Story Of The Lives Twins berdiri hanya berada di platfrom ini menemani kalian.
__ADS_1
Author masih berusaha untuk kembali Update sering. Dukungan diperlukan melalui Like, dan komentar. Vote jika kalian memiliki poin.
Semua itu semata-mata hanya memberikan semangat untuk saya selaku yang mengarang dan menulis cerita ini. Terimakasih.