
Kemudian Saga kembali memacu kendaraannya hendak pulang. Mereka bertiga sungguh menyesali dengan perubahan sikap Mike yang kini menjadi sangat dingin dan tidak ramah. Namun apalah daya, mereka hanya bisa berharap dan berdo'a Mike yang mereka kenali secepatnya bisa ingat seperti sediakala, karena mereka sangat suka berteman dengan Mike. Karena sifatnya yang ramah dan hangat.
Setelah mereka bertiga pergi, Bu Tiah kembali mengunci pintu gerbangnya dan langsung masuk menemui Alan.
Sementara posisi Alan sedang duduk dikursi sofa sembari melihat televisi.
"Kak, ini barang-barang kakak yang tertinggal, tadi teman kakak yang memberikannya" Ucap Bu Tiah.
"Oh, iya." jawab Alan singkat menolehnya sejenak dan lanjut melihat lagi ke arah televisi lagi.
Setelah Bu Tiah pergi melanjutkan aktifitasnya, Alan mengambil barang-barang tersebut yang Bu Tiah Taruh dikursi sofa tepat di sebelah ia duduk.
Ia melihat didalam tas tersebut ada hape milik Mike, kemudian ia pun mencoba melihat hape tersebut. Kebetulan hapenya tidak diberikan pengamanan pada layar, alhasil ia dapat langsung melihat-lihat isi didalamnya.
'apakah ini miliku?' Batin Alan sambil melihat-lihat casing hape tersebut yang terlihat sangat elegan.
Ia langsung melihat-lihat isi didalam chat ataupun galeri didalam hape tersebut. Alan menyadari ia tidak ingat apapun, oleh karena itu ia ingin mengetahui tentang dirinya. Ia tipe orang yang sangat cerdas serta memiliki daya ingat yang kuat ketika memperhatikan suatu hal yang ia lihat.
Seperti yang ada didalam galeri foto di hape tersebut.
Terdapat foto Mike bersama teman-temannya di sekolah maupun teman yang lainnya termasuk ketiga orang yang tadi ia temui di depan pintu gerbang yaitu Saga, Dion dan Samuel. Ia akan mengingat foto teman yang ada di dalam hape tersebut untuk memudahkannya beradaptasi di lingkungan yang ia tidak kenali saat ini.
Alan sedikit tersenyum ketika melihat foto digaleri, wajah yang sangat mirip dengan dirinya alias Mike yang ia kira foto tersebut adalah foto dirinya, berpose sungguh sangat konyol bersama dengan para teman-temannya.
Kemudian Alan langsung berjalan ke arah kaca cermin.
Ia melihat dirinya sendiri sembari melihat foto yang ada didalam hape tersebut.
'Kok seperti ada yang beda ya, aku dengan foto ini? apakah karena efek kamera?'
Batin Alan bertanya-tanya pada dirinya sendiri sembari berkali-kali melihat ke foto tersebut dan ke cermin. Namun didalam foto tersebut ia melihat memang benar-benar wajah dia tanpa ada perbedaan sedikitpun, bagaikan buah pinang di belah dua. Alan merasa foto itu sedikit berbeda dengan dirinya karena kebanyakan didalam foto itu pose Mike banyak yang tersenyum. Sedangkan Alan sendiri sangatlah jarang tersenyum.
Bersambung..
****
Di sisi Mike.
Setelah Ferdi pergi, Ika menghampiri Mike ke dalam kamar. Ia melihat Mike sedang duduk termenung melihat ke arah jendela. Ika langsung menghampirinya, begitu ia sampai ia langsung memegang pundak Mike.
Mike pun langsung menoleh ketika pundaknya dipegang Ika.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa, Nak? maafkan ayahmu ya? jangan diambil hati atas ucapannya, ayah mu memang berwatak keras, Nak." Ucap Ika.
"Oh begitu, seperti batu saja keras." Cetus Mike.
Ika merasa heran, karena selama ini Alan Yang ia ketahui tidak pernah menjawab dengan kalimat dan nada demikian. Namun Ika menyadari Alan kini sedang mengalami kehilangan ingatan, mungkin saja dia berubah dikarenakan itu. Pikir Ika.
Kemudian Ika menceritakan tentang kehidupan sehari-hari yang Alan lakukan, dan segala macam kebiasaan Alan, yaitu belajar, membantu pekerjaan rumahtangga dan yang lainnya.
Mike mendengarkan yang Ika ucapkan namun tidak terlalu ia perhatikan, Mike hanya berpikir kini ia akan menjalani kehidupannya meskipun ia tidak bisa mengingat apapun dan siapapun termasuk dirinya sendiri.
***
Malam hari kemudian
Ferdi sudah pulang, ketika dia berada di dapur tiba-tiba dia emosi dan langsung melempar beberapa barang yang berada di sana.
Piyar tar Terantang tang tang
"Berengs*k! apa-apaan ini hah! woi Ika! Alan! kemari kau!" teriak Ferdi.
Kemudian Yadi, Ika dan juga Mike langsung berjalan ke arah dapur untuk melihat apa yang terjadi. Mike langsung melotot ketika melihat barang-barang yang berada di dapur hancur berantakan, terdapat banyak gelas dan piring yang pecah berserakan.
"Ada apa sih Fer, kenapa semua berantakan seperti ini?" Tanya Ika seraya melotot melihat barang-barang yang hancur tersebut.
Brrak!
"Lah, lagian salah sendiri hari ini kau samasekali tidak memberikan saya uang, yaudah kau makan air saja" jawab ika.
"Mata kau juga lihat kan? Uang buat Nebus obat buat anak sampah itu di klinik tadi pagi! Kau usaha lah, ngutang atau apa. Yang jelas jika suami kau lapar, harus tersedia makanan. Paham!"
"Apa kau bilang? Ngutang? Kau menyuruh saya berhutang lagi hah? Hey! Kau itu suami yang macam apa! bukannya kau yang usaha malah menyuruh saya yang usaha mencari hutangan!" Jawab Ika.
Suasana semakin memanas karena keduanya memiliki sifat yang sama-sama keras. Alhasil terjadilah adu mulut yang panjang.
Sementara Yadi langsung kembali masuk kedalam kamarnya, karena sudah sering ia melihat orang tuanya bertengkar seperti ini. Dan momok pertengkaran yang sering terjadi diantara mereka adalah masalah ekonomi.
Pada sisi lain, Mike masih berdiri tepat di pintu antara ruang tengah dan dapur, ia melihat ke arah mereka yang sedang bertengkar.
'Dari semenjak aku masuk kedalam rumah ini, kenapa suasananya terasa panas sekali. Minim sekali perdamaian didalam rumah ini. Hanya masalah sekecil itu kenapa kedua orang tuaku sampai bertengkar? apakah benar aku memiliki orang tua semacam ini?' Batin Mike bertanya-tanya.
"Woi Alan! kenapa kau bengong di situ hah! Kau tau ini semua gara-gara kau. Paham!" teriak Ferdi melihat Mike masih berdiri di sebelah pintu sembari menyaksikan mereka.
__ADS_1
'Cih, apa hubungannya denganku?' Batin Mike
"Hey anak bisu! malah diam aja kau, cepat kau bereskan barang-barang yang pecah ini." Perintah Ferdi sembari melangkah hendak keluar rumah.
Sementara Mike masih terdiam, ia hanya melirik ke arah Ferdi. Ekspresi wajah Mike terlihat penuh kesal, karena barang-barang tersebut berantakan disebabkan oleh Dia (Ferdi) tetapi ia yang disuruh untuk membereskannya.
Setelah Ferdi pergi, Ika melihat ke arah Mike, namun Mike sendiri langsung berjalan hendak kembali masuk ke dalam kamarnya, Ia tidak menghiraukan yang Ferdi perintah.
Ika hendak memanggil Mike ketika Mike melangkah masuk ke dalam kamarnya, namun tidak jadi Ika lakukan, akhirnya ia sendiri yang membereskan pecahan piring dan gelas yang berserakan di lantai tersebut.
***
Beberapa saat kemudian, Ferdi kembali pulang ke rumah membawa beberapa bungkus mie instan sehabis dia beli di warung.
"Kemana anak sampah itu? kenapa malah kau yang membersihkan semua ini hah!" Tanya Ferdi
Namun Ika enggan untuk menjawabnya.
"Hey Alan! kemari kau Alan!" teriak Ferdi memanggil Mike.
Namun, hingga beberapa kali Ferdi memanggilnya, Mike tidak jua keluar dari dalam kamar. Alhasil Ferdi semakin emosi langsung datang ke kamar Mike. Ferdi membuka Pintu kamar Mike secara paksa, kemudian ia langsung menarik tangan Mike serta langsung melemparnya keluar kamar.
Brak!
"Aaggh"
Mike langsung terjatuh ke lantai dan merintih kesakitan karena terdapat luka-luka di tubuhnya.
"Hey anak sampah tuli! Apakah kau tidak mendengar yang saya perintahkan tadi hah! Mau jadi anak pemalas sekarang kau hah! jangan mentang-mentang saat ini kau sedang terluka lalu seenaknya sendiri tak mau mengerjakan yang saya perintahkan. Kau pikir saya iba dengan perban yang membalut luka kau itu hah? Cuih!"
Sementara Mike masih terdiam. Dia hanya melotot penuh sengit ke arah Ferdi dan kini ia sedang berusaha untuk kembali dalam posisi berdiri. Setelah ia sudah berdiri, Ferdi mendekat kepadanya dan hendak langsung memukulinya.
Akan tetapi, Ketika Ferdi mengayunkan pukulan, Mike secara sigap langsung menangkis tangan Ferdi walau tangan ia sendiri masih terasa sangat sakit.
Seet!
Sontak Ferdi langsung melotot karena ini untuk pertama kalinya Alan menangkis pukulan yang ia ayunkan.
"Mulai berani kurang ajar sekarang kau ya, berani-beraninya kau menangkis pukulan saya!" Ferdi semakin tersulut emosi.
"Oh.. jadi begitu? selama ini anda selalu memukuli saya? wah, hebat sekali saya memiliki ayah seperti anda!" jawab Mike melotot sembari menghempaskan tangan Ferdi yang masih ia pegang.
__ADS_1
Seet!