Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 38


__ADS_3

Alhasil Alan tak sadarkan diri hingga beberapa detik, namun ia cepat kembali sadar sebelum para petugas kebersihan melihatnya. Ia mencoba untuk kembali berdiri dan setelah ia berdiri Alan langsung membasuh wajahnya dengan air mengalir seraya memandang kembali dirinya sendiri di cermin. Beberapa detik kemudian ia langsung berjalan kembali menuju kelas walau ia jalannya sedikit sempoyongan.


Ia keluar dari dalam toilet karena ia tidak ingin berlama-lama melihat dirinya sendiri di cermin.


***


ketika ia hendak masuk ke dalam kelas, guru sudah berada di dalam ruang kelas, yang sedang mengajar hari ini adalah pak Erwan dan pelajaranpun sudah berlangsung.


Alan belum mengetuk pintu namun kepalanya sudah lebih dulu nongol kedalam dibalik pintu Karena kebetulan pintunya tidak ditutup rapat-rapat, kemudian guru menengok ke arahnya.


"Hey ngapain kau disitu, Kemari kau."


Alan tidak cengegesan seperti Mike saat kedapatan oleh guru saat telat atau saat bertingkah jail. Tanpa berkata apapun serta dengan ekpresi wajah yang sulit untuk di tebak ia langsung berjalan ke depan guru yang tengah duduk di kursinya.


Guru langsung mengomelinya ketika hari kemarin tidak masuk sekolah dan menanyakan lembaran materi soal yang di berikan olehnya pada tempo hari serta tugas yang di sampaikan oleh Ananta pada hari kemarin. (lihat pada bab 11 dan bab 34)


Ketika guru sedang mengomelinya, salah satu siswa yaitu Ananta hendak turun bicara tentang Mike yang kini hilang ingatan, namun langsung di sentak oleh guru tersebut sehingga dia langsung kembali terdiam.


Sementara Alan sendiri masih terdiam, namun ia ingat lembaran soal yang dimaksud oleh sang guru tersebut, yaitu lembaran materi soal yang ia temukan di atas meja belajar yang sudah langsung ia kerjakan ketika baru memasuki kamar Mike.


"Sudah saya kerjakan, Pak" jawab Alan singkat.


"Yasudah Cepat kau bawa kemari" perintah sang guru.


Alan mengangguk langsung berjalan menuju mejanya hendak mengambil lembaran soal tersebut didalam tasnya.


Ketika ia berjalan menuju kursinya, ia melewati meja Deril, Deril meliriknya dengan tatapan sinis serta Deril berpikir Alan akan terkena hukuman atas jawaban dari materi soal yang guru berikan tempo hari, mengingat Mike adalah siswa yang bodoh.


Sesudah Alan sampai di mejanya, ia langsung mengambil lembaran soal tersebut yang berada didalam tasnya. Dari arah belakang, Ananta berbisik-bisik memanggilnya.


"Sssttt, heh Mike, ssst..Mike"


Namun Alan tidak menghiraukannya, ia langsung berjalan kembali untuk memberikan lembaran soal tersebut kepada sang guru. Disaat guru hendak mengecek lembar jawaban dari materi soal yang baru saja Alan serahkan tersebut, ada suara yang mengetuk pintu dari luar kelas


Tok tok tok


Pak Erwan langsung membukanya dan yang mengetuk pintu tersebut adalah guru lain hendak memberitahukan kepada pak Erwan bahwa Mike kini telah mengalami amnesia. Sementara pak Erwan sendiri belum mengetahui tentang hal tersebut. Mendengar yang guru tersebut ucapkan, Pak Erwan merasa sangat terkejut.


"Apa? Astaga Tuhan."


Pak Erwan langsung memandang ke arah Alan yang masih berdiri di depan mejanya, setelah beberapa menit dia selesai berbincang-bincang dengan guru tersebut, dia kembali melanjutkan tugasnya untuk mengajar.

__ADS_1


"Yasudah silahkan kau kembali duduk di kursimu." Perintah Pak Erwan.


Alan mengangguk serta langsung kembali duduk pada kursinya.


Kemudian sang guru langsung berdialog kepada semua siswa-siswi memberitahukan bahwa kini Mike telah mengalami Amnesia.


Sontak para siswa-siswi terkejut dan tidak habis kira setelah mendengar pernyataan tersebut dari sang guru. mereka semua langsung melihat ke arah Alan secara serentak. Sementara Alan sendiri langsung menunduk ketika semua mata tertuju padanya. (Alan merasa risih)


Guru melanjutkan kembali mengajar yang sedang berlangsung, di sela-sela waktu dia mengecek hasil tugas yang dia berikan pada Mike pada tempo hari, dia sangat terkejut melihat jawaban dari materi soal tersebut, karena hampir 97% di kerjakan dengan benar. Pak Erwan masih merasa kurang begitu yakin antara iya atau tidak dengan hasil jawaban dari materi soal yang ia berikan padanya, terlebih lagi mendengar berita bahwa kini Mike lupa dengan segalanya.


Beberapa saat kemudian, jam pelajaran telah usai hendak segera beristirahat. Namun sebelum pak Erwan menyelesaikan pelajarannya, ia masih merasa sangat penasaran, alhasil ia memberikan materi soal lagi kepada Alan.


"Hey kau, ambil ini" panggil pak Erwan menelunjuk ke Alan.


Alan langsung berdiri hendak mengambil materi soal tersebut di meja guru. Setelah ia mengambilnya, ia langsung berjalan kembali ketempat duduknya dengan ekpresi wajah yang tidak bisa ditebak ketika mengambil lembaran soal tersebut.


Pak Erwan merasa heran karena yang ia ketahui selama ini, Mike banyak cengengesan dan banyak alasan jika dia tidak masuk sekolah serta mendapat hukuman tugas darinya, namun ia tidak melihat itu dari Mike yang sekarang ini.


Sesudah Alan mengambil lembaran materi soal tersebut, sang guru keluar meninggalkan kelas, disusul oleh para siswa-siswi karena jam memang sudah masuk dalam jam istirahat. Sementara Alan sendiri mengerjakan materi soal yang di berikan oleh guru tersebut secara langsung.


Para kelompok Mike diantaranya Taro, Al, Ivan dan Kenji melihat Alan sangat serius langsung mengerjakan materi soal tersebut kemudian mereka mendekat ke Alan dari arah belakang. Sementara Ananta sudah keluar dari kelas karena ia memiliki urusan lain.


***


"Wah.. sepertinya Tuan muda sudah tidak membutuhkan otak gua lagi nih" sambung Taro.


"Walah?" Ivan melotot mendekat ke lembaran soal yang sedang Alan kerjakan di atas meja.


Alan sedikit mendorong tubuh Ivan karena badan Ivan terlalu dekat sehingga Alan susah untuk menulis.


Seet!


Akan tetapi Alan tidak berkata apapun hanya melirik ke semua teman-teman yang mendekat padanya.


"Ngapa sih loe Van?" tanya Al ketika melihat ekspresi Ivan nampak terkejut.


"Tunggu Bentar-bentar" lanjut Ivan mengambil suatu lembaran soal didalam tasnya yang terdapat tulisan Mike.


"Nih coba geng kalian liat deh," Ivan sembari menyodorkan kertas yang terdapat tulisan Mike bersama dengan kertas yang sedang Alan tulis.


Semua teman langsung mendekat untuk melihatnya.

__ADS_1


"Wah? kok bisa begitu ya?" Taro merasa heran.


"Loh, kok tulisannya beda sama yang ini ya? widih.. jadi cakep bener, cuy" lanjut Al merasa kagum melihat tulisan Alan.


"Itu yang gua heran bro," jawab Ivan seraya memandang ke sejumlah teman-teman yang lain.


"Eh emang beneran bisa begitu ya? kalo orang hilang ingatan semuanya bisa berubah? bahkan tulisan juga bisa berubah?ah Eike jadi ingin hilang ingatan juga deh biar nanti Eike bisa berubah jadi lebih syantik" lanjut Kenji.


Mendengar kalimat tersebut Semua teman langsung menimpuk kepala Kenji sembari meliriknya dengan tatapan sengit.


Plak! Plak! Plak!


"Atah, atah, atah, atuh perih tau, huh!"


"Aux ah gelap!"


"Hehehe" Kenji cengegesan.


"Setahu gua, orang hilang ingatan ataupun tidak, gaya tulisan itu gak bakalan bisa berubah geng"


Alan masih terdiam dan hanya melihat ke arah mereka satu persatu dengan tatapan khasnya. Ekspresi wajah Alan sungguh susah untuk ditebak (misterius). Menjadikan semua teman-teman Mike Merasa sedikit canggung padanya, karena Mike yang dulu mereka kenal sudah sangat soulmate dengan mereka semua, namun kini sangat begitu asing bagi mereka.


***


Disaat semua teman-teman sedang berbicara sekaligus bercanda, Alan langsung menata bukunya serta memasukkannya kembali ke dalam tas tanpa menjawab sepatah katapun dari obrolan yang teman-temannya ucapkan. Setelah selesai ia bergegas dari tempat duduknya hendak pergi keluar kelas.


"Wei Mike, tunggu!" Pekik Taro.


Alan langsung menghentikan langkahnya dan masih berdiri membelakangi mereka.


"Gua tau dan gua ngerti tentang kejadian yang menimpa loe Mike, akan tetapi masa iya sih loe kehilangan ingatan, kehilangan pula sikap loe yang dulu." Ucap Taro.


"Benar Mike, meskipun loe sekarang tidak kenal dengan kita semua, tapi apa salahnya sih mencoba untuk mengenali kita semua lagi gua ingin Mike yang seperti biasanya" sambung Ivan.


"Mike yang gua kenal sikapnya tidak seperti ini Mike, sorry gua berkata apa adanya dan yang sejujurnya" lanjut Al.


Alan langsung membalikkan badan dan menatap kepada mereka semua serta tersenyum tipis.


"Jadi begitu rupanya" jawab Alan singkat hendak langsung berjalan pergi.


Sontak semua teman yang masih duduk maupun berdiri langsung mengejar Alan serta menghentikan langkah Alan sebelum Alan keluar dari kelas. Taro langsung memegang pundak Alan dari Arah belakang seraya memanggilnya dengan suara lantang.

__ADS_1


"Mike!"


__ADS_2