
"Hiish! Berisik nihan, Niku sanak Lunik!"
Brrak!
Andika memukul Mike lagi tepat pada bagian kepalanya membuatnya kembali tidak sadarkan diri, lantaran sebelumnya dia memang masih merasakan teramat pusing dibagian kepalanya.
Setelah itu, mobil taksi yang mereka kendarai kian sampai tepat didepan rumah yang dijadikan markas mereka. Mike langsung ditarik keluar oleh Andika hendak masuk kedalam rumah tersebut.
__
Andika dan Satria membawa Mike masuk kedalam rumah tersebut dalam posisi Mike masih belum sadarkan diri badan di seret paksa membuat celana Jeans yang ia pakai robek di bagian lututnya berujung tergores dan berdarah.
Sesampainya didalam, tampak posisi Bonanza sedang berdiri usai menganiaya Alan, sementara posisi Alan kini berada di sebelah pojok tembok setelah dilempar oleh Bonanza kearah tembok itu. Posisi badannya tengkurap dan jua menghadap ke arah dinding.
"Bro, lihatlah" Panggil Satria
"Kita udah berhasil menangkap sanak Lunik ini!" Sambung Andika kepada Bonanza lekas melemparkan tubuh Mike ke lantai dalam posisi kepala menunduk ke arah lantai tersebut.
Braak!
Mendengar itu, perlahan Bonanza menoleh, membalikan badan seraya melihat ke arah mereka berdua. Disusul semua orang yang ada didalam ruangan tersebut lekas melihat kearah mereka semua.
"Siapa dia?" Tanya Bonanza.
"Mau siapa lagi, Ini dia lah si baj*ngan Lunik, alias Mike bro," Satria menyeringai penuh bangga.
Bonanza terheran, "Apa kau bilang, Dia Mike?" nampak ekspresi tentunya tidak percaya,
Lantaran belum melihat seperti apakah gerangan pemuda yang dibawa oleh mereka yang kini posisinya tengah meringkuk dilantai. Dan jua lantaran baru saja ia menganiaya Alan yang dikira Mike.
Sementara disisi Alan, semasih mendengar kalimat Mike yang terceletuk dari Satria tadi, membuat degup jantungnya terpacu kencang.
Lantas perlahan setengah menoleh ke arah mereka, maka … nampak didepan matanya ada seorang pemuda dalam posisi tengkurap dilantai belum terlihat seperti apa rupa wajahnya. Didalam hatinya masih penuh pertanyaan benar atau tidakkah yang mereka katakan pemuda itu si--Mike?
'Mike?'
__
Sementara disisi Satria mengulang kalimatnya, "Iya bro, dia Mike." Lantaran melihat ekspresi Bonanza begitu tidak mempercayainya, sekaligus menoleh ke arah semua orang yang berada didalam ruangan tersebut nampak tidak percaya dengan apa yang tengah ia sebutkan bahwa pemuda yang tengah ia bawa benar-benar Mike.
Tentu semua itu terjadi, lantaran semasih mereka membawa Mike masuk kedalam, nyaris perhatian seluruh orang-orang didalam markas tersebut ke arah Bonanza yang sedang asik menganiaya Alan.
Setelah Satria mengucapkan kalimat demikian, Bonanza melangkah mendekat ke arah Mike, penuh penasaran.
"Apa yang loe bilang barusan, dia Mike hah!" mengulang kalimatnya semasih dia melangkah.
Tapi, baru saja kurang dari lima langkah kakinya berpijak menuju Mike, lekas terhenti lantaran pemuda tersebut langsung berkata cenderung teriak, "Aiiish! Sakit nihan palaku ini woi!" Perlahan bagun memegangi kepala dengan dua tangannya.
Melirik tajam ke arah si Bonanza lantaran sebenarnya semasih dia tengkurap tadi sudah sadarkan diri, awal mula hendak langsung berdiri saat mendengar suara Bonanza, tapi dia pura-pura sejenak untuk mengikuti alur mainnya.
Sontak membuat Bonanza sekaligus semua orang yang berada didalam ruangan tersebut sangat terkejut melihat Mike ada dua didalam ruangan itu.
__ADS_1
Begitupun dengan Alan yang posisinya tengah sedikit menoleh kearah mereka, sangat terkejut melihat paras pemuda itu, lantaran bagai melihat dirinya sendiri pada wajah sekaligus tubuh dia.
Didalam batin tidak berhenti berkata, 'Ya Tuhan, Ka-kamu Mike?'
__
Sementara disisi Bonanza lekas mengemukakan kalimat "Ka--kau, si-si-siapa kau!" Terbata-bata.
Mike tersenyum sembari melepaskan tangannya dari kepala ketika melihat ekspresi Bonanza nampak terkejut, namun merasa heran ketika melihat ekspresi wajahnya, kenapa dia terlihat sangat terkejut seperti itu? Lantas menoleh jua ke arah orang-orang yang berada didalam ruangan tersebut yang kini sedang melihat ke arah dia semua, kenapa sama-sama terlihat terkejut sekali?
Lantas, begitu ia menoleh ke arah pojok tembok, membuatnya melotot, lantaran disana ada pemuda yang tengah tergeletak penuh luka lebam dan sedang melihat kearahnya jua.
Mike memperhatikan sejenak siapakah gerangan pemuda itu lantaran wajahnya terlihat sangat memprihatinkan, penuh lebam dan berdarah-darah diarea pelipis dan wajahnya. Setelah beberapa detik ia perhatikan, semakin terkejut dengan apa yang tengah ia lihat, lantaran menyadari pakaian yang di pakai oleh pemuda itu adalah pakaian Favoritnya, serta rupa dari wajah pemuda itu ternyata 'sama' dengan wajah dia sendiri.
'Ya Tuhan'
"Hey! Siapakah sebenarnya loe!" Bonanza mengulangi pertanyaannya.
Mike menoleh Bonanza sembari menoleh lagi kearah pemuda tersebut.
Lantas menyadari ada kejadian janggal yang sedang terjadi disini.
Tertegun sampai kalimat Bonanza tak begitu didengarnya, didalam hati dia bertanya-tanya, 'Apa ... dia yang bernama Alan, Oh Tidak! ya Tuhan ...'
Mike tidak mempedulikan yang sedang Bonanza pertanyakan, beranjak langsung menuju Alan, tetapi, bahunya langsung didorong oleh Bonanza lantaran berjalan melewati dia.
"Hey, jawab pertanyaan gua, Siapa loe hah! Kenapa Mike bisa ada dua, yang mana Mike sebenarnya hah!" Bonanza semakin geram karena mendapati musuh bebuyutannya ada dua dalam rupa yang sama.
Brak!
Posisi terjatuhnya sangat dekat dengan wajah Alan, tentu perhatiannya langsung ke arah wajah Alan, begitupun dengan Alan ia melihat jua kearahnya.
Keduanya saling mengunci tatapan hingga beberapa detik dan saling mengucapkan kalimat lirih secara bersamaan.
"Engkaukah Alan … ?" - Mike
"Dirimukah Mike …?" - Alan
Mereka saling mengaguk membenarkan bahwa kalimat nama yang telah disebutkan oleh masing-masing dari keduanya adalah benar apa adanya.
__
Semasih mereka dalam posisi itu, Bonanza langsung menarik baju Mike dari arah belakang hingga posisi kembali berdiri.
Begitu berdiri, Mike langsung menangkis tangan Bonanza yang masih memegang bajunya itu.
Seet!
"Hey, Jawab pertanyaan gua! Siapakah yang bernama Mike diantara kalian hah!"
Lekas Mike menjawabnya, "Tak usah melotot dan menyolot macam itu kau! Gua lah yang bernama Mike!"
__ADS_1
"Oho, jadi loe rupanya, lalu siapa pemuda yang memiliki rupa yang sama dengan loe itu hah? Oho, ataukah itu saudara kembar loe?" Bonanza lekas melirik--memberikan kode pada teman-teman untuk segera meraih Alan.
Mike melotot begitu melihat Alan langsung di sergap oleh mereka, "Hey, Apa yang kalian lakukan, lepaskan dia, Yang kalian cari adalah gua! Bukan dia! Lepaskan dia!"
Tawa iblis terbahak-bahak saling bersahutan didalam ruang markas itu, "Hahahaha" Bonanza amat senang melihat ekspresi Mike.
Maka, segala kalimat umpatan lekas meluncur dari mulut Mike, "Gua bilang lepaskan dia b*ngsat!" melihat begitu liciknya cara Bonanza.
"Silakan Ambillah dia, rebutlah dia, tunjukkanlah jika loe itu memang jagoan!" Bonanza Menyeringai penuh bangga.
Tak menunggu aba-aba, Mike lakas maju menyerang mereka, "Cara loe benar-benar licik dan menjijikan!"
Maka, didalam ruang markas itu kini seperti sebuah arena perkelahian satu banding lebih dari sepuluh orang.
Tentu, tidak mungkin ada kesempatan menang bagi Mike, walau dia menguasai berbagai tak-tik pertarungan jika melawan orang dalam jumlah yang banyak semacam itu dan jua perbandingan dari bentuk fisik yang signifikan dari berbagai macam orang tersebut. Lantaran mayoritas mereka semua sudah dewasa, sedangkan Mike masih seorang anak remaja.
Alhasil Mike menjadi bulan-bulanan para komplotan geng Bonanza terlebih lagi dalam kondisi fisiknya yang belum sepenuhnya stabil, lantaran sebelumnya berkelahi dengan Naldo. Membuat segala hujaman datang bertubi-tubi di beberapa bagian tubuhnya.
Brak! Brak! Brak!
Meski mendapat segala pukulan dari berbagai arah, ia masih sanggup bertahan dengan terus-menerus melawannya hingga titik darah penghabisan.
__
#Disisi Alan
Saat ini dia masih dipegang erat oleh salah satu teman Bonanza, mata tak lepas memperhatikan Mike yang kini dalam posisi kesulitan melawan puluhan orang itu seorang diri. Alan merasa semakin muak dengan adanya kekerasan dan pengeroyokan yang telah mereka lakukan padanya dan pada pemuda yang amat antusias menolongnya itu.
Maka segera ia mengatakan, "Lepaskan tangan saya!" Pada salah satu orang yang kini tengah memegang tangannya dengan sangat kuat.
"Diam kau!" Pekik orang itu.
"Saya bilang lepaskan saya!" Lanjut Alan semakin muak.
"Aaiih, Berisik nihan mulut kau itu!" Jawab orang tersebut.
Tanpa basa-basi Alan langsung melepaskan tangan orang itu secara paksa hingga orang itu langsung jatuh kebelakang.
Braak!
Orang itu terkejut, lantaran sebelumnya dia pikir Alan tidak sekuat itu.
Begitu orang tersebut jatuh, Alan menatap tajam pada orang itu, terbesit rasa takut yang orang itu rasakan. Alan melangkah perlahan mendekat, semakin dekat kearahnya, lekas mengambil sebilah senjata tajam jenis badik yang terdapat disebelah orang tersebut.
Begitu senjata tajam kini di tangannya, Alan menyodorkan benda itu ke arah dia.
"Ap--apa yang kau lakukan kep*rat! Cepat lepaskan badik itu dari tangan kau!" Pinta orang itu merasa sangat takut nan gemetar.
Alan masih terdiam tanpa kata, seraya langsung mengangkat badik tersebut setinggi bahunya.
"Apa yang akan kau lakukan Hey, cepat buanglah badik itu dari tangan kau, Tidak! Jangan, tolong hentikan, ampuni saya, ampuni saya ...!"
__ADS_1