Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 103


__ADS_3

Pekik orang tersebut seraya melotot melihat ke arah Alan.


"Maaf, saya tidak sengaja" Ucap Alan singkat, kemudian Alan fokus kembali melihat ke arah rak buku tanpa menghiraukan lagi orang itu.


Seseorang yang tersenggol oleh Alan merasa geram ketika dia melihat ekspresi Alan nampak tidak begitu menghiraukan setelah Alan tidak sengaja perbuat itu (menyenggol)


'Belagu dan sombong sekali orang ini.' Gumam orang tersebut didalam batinnya seraya mengambil kembali buku tadi yang terjatuh. Kemudian dia melangkah pergi dari sana sembari melirik Alan. Namun Alan sendiri tidak melihat ketika orang itu melirik penuh geram kepadanya.


Setelah orang itu pergi, Alan kembali beranjak mendekat ke Mike karena buku yang sedang ia cari sudah berhasil ia dapatkan.


"Dari mana kamu Lan?" Tanya Mike setelah Alan sudah berdiri kembali di sebelahnya.


"Ini, aku sudah mendapatkannya" Alan memperlihatkan buku yang ia dapatkan tersebut.


"Oh, eh tadi aku seperti orang gila tau, mengobrol sendiri, huh." Lanjut Mike mendengus.


Sementara Alan sedang membaca buku yang ia temukan tadi, ia pun hanya meliriknya saja.


"Aissh, serius tau. Jadinya kan.. aura tampan aku ini hilang, apalagi saat aku sedang berbicara sendiri tadi ada cewek cantik disebelahku, ketawa pula dia saat melihatku, aiih aku jadi malu"


"Begitu? Bukankah biasanya juga kamu malu-maluin?" Alan tersenyum tipis menutup buku yang sedang ia baca tersebut sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Aissh, sue! eh kamu sedang mencari apa, Lan?" Tanya Mike seraya menolah-noleh juga ke arah yang sedang Alan Lihat.


"Toilet di sebelah mana ya?"


"Oh toilet, nih ada disini, lihatlah" Mike sembari memperlihatkan kantong saku celananya.


"Cih, Apa maksudnya itu Mike, konyol sekali kamu." Alan mengerutkan kening namun diiringi senyum melihat tingkah saudaranya sangat konyol.


"Hehehe" Mike cengegesan


"Kalau kamu mau ke toilet, yasudah ayo aku anterin, tapi tunggu sebentar aku mau bilang ke papa dulu, supaya dia tidak nyariin. Siapa tau juga kamu di toilet lama karena mau bersemedi." Lanjut Mike seraya tertawa nan beranjak hendak ke arah sang Ayah.


"Cih, konyol. Tunggu Mike, sepertinya tidak perlu, biar aku sendiri saja yang mencarinya" jawab Alan.

__ADS_1


"Aiih nanti kamu bisa nyasar, Lan." Jawab Mike menghentikan langkahnya ketika hendak menuju ke arah sang Ayah.


"Seperti sedang di tengah rimba saja bisa nyasar, Mike." Jawab Alan sembari hendak melangkah pergi.


"Tapi Lan, bukan hanya di tengah rimba saja bahaya kalu nyasar Lan, justru disini lebih bahaya tau, aku khawatir jika sampai kamu menyasar, aku tak ingin berpisah lagi denganmu, Lan."


"Cih, Lebay." Alan langsung melangkah pergi.


"Aiish, sue!" Mike mendengus karena lagi-lagi Alan tidak menggubris celotehannya.


'Alangkah susahnya melunakkan sikap dia yang dingin itu, hem.. sepertinya aku harus mencari cara lain nih.' Batin Mike


***


Alan berkata dengan kalimat seperti itu kepada Mike tadi, semata-mata hanya untuk menyakinkan Mike. Walaupun sesungguhnya ia sendiri paling enggan jika bertanya-tanya kepada orang tentang apa yang sedang ia cari.


Layaknya seperti saat ini, ia sedang mencari letak toilet namun ia samasekali tidak bertanya kepada siapapun. Alhasil ia menemukan letak dimana toilet berada sedikit lebih lama. Ya, karena hari ini adalah hari pertama Alan memasuki pusat perbelanjaan yang besar, sehingga ia belum paham akan segala isi yang ada didalamnya (letak toilet, dan lain sebagainya). Sebenarnya ada toilet yang letaknya tidak begitu jauh dari bagian buku tadi. Namun ia tidak mengetahuinya.


ketika ia sedang berjalan, (sudah berada didalam ruang toilet pria) tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang dari arah berlawanan, karena kebetulan seseorang tersebut berjalan cukup cepat dan nampak tergesa-gesa sehingga ketika dia bertabrakan dengan Alan, orang itu sampai terjatuh. Sementara Alan sendiri hanya terpeleset, nyaris terjatuh juga.


Sementara posisi Alan masih membelakangi orang itu karena saat ini ia sedang berpegangan dinding ketika ia nyaris terjatuh. Ketika orang itu sudah dalam posisi berdiri, dia langsung menarik bahu Alan sehingga Alan berputar menghadap tepat didepan orang itu.


Sontak orang itu langsung melotot tajam nampak marah ketika sudah melihat wajah Alan.


"Apa. Kau lagi!" Pekik orang tersebut karena sebelumnya dia telah melihat Alan (di tempat bagian buku)


Sementara Alan sendiri hanya diam saja, namun ia tidak menyadari bahwa orang yang saat ini sedang berada di hadapannya tersebut adalah orang yang sama ketika ia tidak sengaja menyenggol orang itu di tempat bagian buku tadi.


"Kenapa kau diam saja. Apakah engkau tidak memiliki Etika hah. Bukannya meminta maaf malah melotot!"


"Meminta maaf untuk hal apa?" Tanya Alan.


"Aissh, dasar orang kaya belagu, kau!" Pekik orang tersebut langsung menarik Alan seraya mendorongnya ke arah pojok wastafel. Hingga Alan menabrak dinding yang berada disana.


Brak!

__ADS_1


Sontak membuat orang-orang disana melihat semua ke arah Alan, namun mereka tidak ada yang melerai pertengkaran ini. Ketika Alan menabrak dinding yang disana, ia melotot tajam ke arah orang tersebut.


"Tidak usah kau melotot seperti itu. Kau pikir saya takut dengan orang-orang kaya yang belagu semacam kau, hah! Oho.. ataukah kau adalah anak orang kaya yang malang? Yang tidak bisa berbicara hah? (Bisu) kenapa kau hanya diam saja dari tadi. Segeralah kau meminta maaf. Atau akan ku paksa kau untuk melakukannya (Meminta maaf)"


"Cih," Alan menatap orang itu seraya tersenyum ngejek ketika orang tersebut berkata demikian, karena bagi Alan tingkah orang itu lucu. Dia (orang itu) yang menabrak namun malah ia yang disalahkan.


Sontak membuat orang itu merasa semakin geram ketika melihat ekspresi Alan seperti itu, karena bagi orang itu ekspresi wajah Alan terlihat sombong dan belagu.


"Oke, jika kau tidak segera meminta maaf, maka saya tidak segan-segan untuk memaksanya. Karena saya paling muak melihat orang yang bertampang belagu seperti kau, dasar anak orang kaya sombong! rasakanlah ini."


Orang itu hendak memukul Alan. Namun ketika orang tersebut mengayunkan pukulannya, tangan Alan sudah lebih dulu meraih tempat sampah berbahan dasar plastik yang berada di sebelahnya. Kemudian Alan langsung mengayunkan tempat sampah tersebut di kepala orang itu hingga beberapa kali sebelum tangan orang itu meraih tubuhnya. (Memukul)


Brrak brrak brrak


Hingga tempat sampah tersebut menjadi pecah dan hancur beserta isinya berhamburan. Alhasil orang itu langsung jatuh tersungkur.


Setelah orang tersebut terjatuh, Alan langsung mendekat seraya jongkok melihat ke wajah orang itu.


"Berhentilah menghina seseorang, dan kurangilah prasangka burukmu terhadap orang lain terlebih lagi kepada orang yang baru saja kamu lihat. Jangan mudah menyimpulkan sesuatu yang belum kamu ketahui aslinya. Kamu menginginkan saya untuk meminta maaf bukan? Saya pasti akan meminta maaf jika kesalahan tersebut adalah kesalahan saya."


"Cuih! Sekalinya belagu tetap saja belagu! tidak usah kau ngebacot macam itu! Dasar anak orang kaya Manja, berbicara sok bijak!" Pekik orang tersebut sembari beranjak duduk dan melotot ke arah Alan.


Mendengar kalimat yang baru saja orang itu ucapkan, Alan langsung beranjak berdiri, karena dari kalimat yang keluar dari mulut orang tersebut sudah bisa di pastikan bahwa dia adalah orang yang bertrempamen tinggi, Akan percumah jika Alan melanjutkan kalimat yang belum usai ingin ia ucapkan tadi. Karena tidak akan bisa di cerna oleh otak orang itu.


Kemudian Alan beranjak hendak keluar dari dalam toilet tersebut meskipun ia belum melakukan apa yang ia tuju sebelumnya (buang air)


"Hey, kau!" Teriak orang itu (memanggil Alan) sembari beranjak berdiri.


Alan pun langsung berhenti sejenak, lalu menoleh kembali ke arah orang itu.


"Saya akan mengingat baik-baik wajah kau, lalu tunggulah saatnya tiba, saya akan merobek mulut kau yang sok bijak itu serta menghancurkan tampang kau yang belagu. Camkan itu!"


"Cih" Alan hanya meliriknya seraya tersenyum tipis.


"Tak usah kau mengejek saya! Saya tidak pernah main-main dengan semua ucapan saya," lanjut orang itu merasa senyuman Alan seperti mengejeknya, membuat dia semakin geram.

__ADS_1


Sementara Alan sendiri hanya menggelengkan kepala seraya masih tersenyum tipis. Karena Melihat bentuk fisik dari orang itu sama seperti sahabatnya (Verza)


__ADS_2