Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 134


__ADS_3

Sinar matahari pagi menembus kedalam ruang kamar melalui celah-celah kecil tirai gorden kamar mereka, yang mana sinar tersebut tersorot tepat ke wajah Alan.


Alhasil, Alan lekas terbagun dari tidur singkatnya yaitu hanya selama 2 jam. Mengingat ia memang memiliki kedisplinan diri dalam bagun pagi maka tidak heran kala sekalinya membuka mata, maka ia tidak akan memejamkannya lagi.


Saat ini waktu menunjukkan pukul 6:30 am. Matahari sudah bersinar terang sebab hari ini cuaca sangatlah baik. Segera ia bergegas bangun untuk sedikit berolahraga pagi walaupun hanya sekedar beberapa gerakan tubuh yang ia lakukan di teras balkon, tetapi semua itu selalu rutin ia lakukan sedari dulu.


15 menit kemudian, ia sudah selesai melakukan rutinitas tersebut mengingat hari ini adalah hari libur sekolah maka tidak ada aktifitas yang berarti selain menghabiskan waktu dirumah bersama keluarga.


Perlahan ia melangkah kembali kedalam ruang kamar, niat hati ingin berbenah ruang kamar namun apalah daya saat melihat kasur ada sang kakak masih tertidur sangat pulas. Bahkan terdengar dengkuran yang cukup keras membuat Alan menggelengkan kepala.


Ia berniat hendak membangunkannya, namun tidak jadi ia lakukan lantaran teringat pesan Mike sebelum tidur tadi bahwa jangan membangunkannya di pagi ini. Alhasil ia pun segera bergegas membersihkan diri. (Mandi)


Usai membersihkan diri, ia meraih handphone di meja sembari mengeringkan rambut dengan handuk. ia teringat akan suatu janji yang ia buat sendiri pada hari kemarin. Alhasil ia pun langsung memiliki rencana hendak pergi kesana untuk menepati janji tersebut.


***


Tok tok tok


"Mike.. Michelan.. apa kalian sudah bangun, Nak?" Panggil Marvin dari luar pintu kamar.


Alan selaku yang sudah bangun maka ia lekas membukakan pintu itu.


Crek crek greeek


"Iya, Ayah"


"Oh, sudah bangun ternyata, apa Mike juga sudah bangun?" Lanjutnya sembari hendak melangkah masuk.


Alan tidak langsung menjawabnya melainkan ekpresinya sudah mengartikan bahwa ayah dapat melihatnya sendiri.


"Ya ampun anak satu ini," Marvin mengelengkan kepala melihat Mike tidur dalam posisi yang tidak beraturan, seraya ia melangkah mendekat.


"Mike, bangun Nak." Panggilnya sembari sedikit menggoyahkan kaki-nya Mike. Namun tidak membuat pulasnya tidur dia tergoyah.


Alhasil Alan ikut serta membangunkannya dari arah samping kepala Mike. Seraya sedikit menyentuh wajahnya


"Mike, bangunlah"


Namun, begitu Alan menyentuh seraya menyebut namanya, tiba-tiba sebuah pukulan langsung meluncur tepat ke wajahnya.


Prak!


"Tidak akan saya biarkan manusia Laknat macam kau menyakiti orang-orang didekatku, biadab!" Ucap Mike ketika ia tengah mengayunkan pukulan tersebut, mata dia masih terpejam.


"Apa yang kamu lakukan Mike!" Pekik Marvin lantaran terkejut.


Mike langsung membuka mata.


"Em.. eh Papa, Alan, kenapa masih petang begini udah pada berisik si?" Ucapnya sembari mengucek-ngucek mata.


"Masih petang apanya yang petang Mike? Cepat bangun, dan apa pula maksudmu tiba-tiba berpolah tidak jelas seperti itu sampai memukul adikmu begitu?" Lanjut Marvin.


"Hah? Memukul Alan? Apa benar seperti itu Lan?" Ia menoleh, tampak polos.


"Bergegaslah bangun, sudah siang" Alan mengalihkan topik pembicaraan.


"Huaaaam baiklah, baiklah" Jawab Mike sembari menguap-nguap tampak lusuh seraut wajah dan rambutnya.

__ADS_1


"Ah.. tadinya Papa ada rencana pada hari ini akan mengajak kalian pergi traveling ke suatu tempat bersama rekan papa, tapi.. semua itu sudah dia batalkan akibat kejadian tadi malam. Apakah kalian ada rencana ingin pergi kemana?" Lanjut Marvin tidak ingin membahas persoalan semalam saat ia memarahi mereka.


"Tidak Pa, Tidak Ayah" Jawab Alan serentak bersama Mike, tidak disengaja.


"Loh.. kok kompak sekali kalian? Wah.. wah.." Marvin tersenyum hangat. Begitu jua dengan Mike dan Alan karena masing-masing dari mereka tidak memiliki rencana ataupun keinginan untuk pergi liburan.


"Lantas.. apa kegiatan kalian di hari libur ini? Tapi.. ada baiknya jika kalian tidak banyak menghabiskan waktu yang tidak berarti. Beberapa bulan kedepan kalian sudah memasuki semester akhir, lebih giatlah belajar ya, Nak. Khususnya kamu Mike. Jangan sampai nilai kamu anjlok lagi, karena nanti adalah babak penentu kelulusan kamu dan pendidikan kamu selanjutnya."


"Baik, segera laksanakan kapten! Huaaam" jawab Mike tidak begitu serius menanggapinya.


"Papa berbicara serius Mike, apa kamu mendengarnya dengan baik?"


"Mike juga serius Pa, dua rius malah, hehe" Lanjut Mike seraya mengangkat dua jari sejajar kepala.


"Ah sudah-sudah, cepatlah mandi dan bergegaslah turun, kita sarapan. Sajian semalam dapat kita makan untuk sarapan pagi ini"


"Ada ayam gorengnya kah? Wah.. yosh, yosh" Mike langsung beranjak berdiri nan melangkah keluar.


"Hei Mike, papa bilang mandi dulu, Astaga anak satu ini.." gumam Marvin menggelengkan kepala lantaran melihat Mike bertindak semau dia sendiri.


***


Alhasil ia mengajak Alan untuk ikut serta turun, sarapan. Ketika mereka tengah sarapan baik Mike maupun Alan saling bercanda mengoper sajian di atas piring mereka seperti anak kecil.


Seet!


"Ait, aih.. Ait"


Seet!


"Aku tidak mau yang ini Mike" Alan mengopernya lagi saat Mike menaruh Ayam goreng di atas piringnya.


Seet!


"Aku gak mau makanan kambing ini Lan," Mike jua mengopernya lagi dan lagi saat Alan menaruh beberapa sayur di atas piring Mike.


Sementara Marvin sendiri disibukkan dengan beberapa panggilan telepon yang masuk, membuat tidak begitu banyak perbincangan dengan kedua putranya yang sedang asik bermain oper makanan tersebut.


"Mike, Michealan" panggil Marvin ketika ia usai berbincang via telepon.


"Iya pa," sahut mereka menghentikan bercandanya.


"Berhubung kalian tidak memiliki rencana pergi, papa barusaja menerima telepon dari rekan Papa untuk bertemu. Kalian baik-baik dirumah selama papa pergi ya.. tapi ingat belajar." Lanjut Marvin.


'Aih.. lagu lama.' Batin Mike sudah paham terhadap sang Ayah yang hari-harinya penuh kesibukan.


"Baik, Ayah" sahut Alan mengangguk.


Setelah selesai sarapan, Marvin berbenah diri hendak pergi. Sementara Mike dan Alan masih duduk di ruang tengah sembari menonton televisi.


"Papa tinggal pergi dulu ya, Nak. Ingat pesan papa tadi." Pamit Marvin ketika sudah siap pergi.


"Siap, Laksanakan" seru Mike.


"Baik Ayah, hati-hati dijalan" sahut Alan tersenyum.


Setelah Marvin sudah keluar rumah, mereka berdua masih berada di posisi yang sama. Namun tidak selang lama, Alan beranjak berdiri.

__ADS_1


"Nyam, Nyam eh, mau kemana kamu Lan?" Tanya Mike sembari mengunyah cemilan di atas meja.


"Beraksi."


"What? Beraksi apaan?"


"Ikutlah jika kamu mau" Ajak Alan melangkah ke arah dapur. Mike bergegas mengikutinya.


"Nyaem nyaem Beraksi masak maksudmu kah?" Tanya Mike bersandar di kulkas mendekap stoples yang ia bawa berisi cemilan seraya masih mengunyahnya.


"Seperti yang bisa kamu lihat sendiri. Kebetulan usai mandi tadi aku membaca dibeberapa situs ada resep kue yang membuatku tertarik ingin coba membuatnya. Tapi.. apa kira-kira bahannya ada ya?" Lanjut Alan seraya membuka beberapa pintu lemari kitchen set.


"Oho.." Mike mengangguk-angguk sembari masih menguyah cemilan didalam stoples yang ia bawa tersebut.


"Apa kamu tidak ingin mencobanya juga Mike?" Alan masih mencari-cari bahan kue yang tersedia di sana.


"Aku? Mencoba membuat kue? Oho.. apa kata dunia? Gampang beli ngapain musti susah-susah bikin Lan, ribet amat."


"Bukankah Suatu apapun yang selama ini kita nikmati akan jauh lebih nikmat jika kita mengetahui bagaimana rasa nikmat itu tercipta? Tapi.. Ah, percumah juga aku jelaskan jika semua itu bukan keahlianmu."


"Nah, tul bentul, betul, betul" Mike mengangguk sembari memetik jari.


Klik!


"Lebih baik kamu segera mandi."


"Haiya.." Mike meliriknya tampak asam.


"Haiya-haiya saja terus, Mike. teruslah ber haiya-haiya" Alan jua meliriknya karena kalimat itu sangat sering ia dengar.


Mike tidak menanggapinya namun ia langsung beranjak melangkah sembari menyanyikan lagu yang masih booming saat itu.


"Do your thang, do your thang with me now. Do your thang with me now. What's my thang? what's my thang tell me now. tell me now yeah, yeah, yeah."


"Mike" panggil Alan menggelengkan kepala.


Namun Mike justru semakin mengeraskan suara melanjutkan lagu itu nan bertingkah konyol.


"Killin' me now, killin' me now Do you hear me yeah"


Alhasil, Alan langsung melemparkan celemek yang hendak ia pakai, lantaran risih melihat tingkah konyol dari sang kakak.


Suut!


"Kill me weeek gak kena.. Kill me week gak kena.." Mike cengegesan sembari beranjak pergi.


"Cih, parah." Gumam Alan sembari meraih celemek yang ia lemparkan tadi.


Bersambung..


***


Masa muda adalah masa-masa yang paling indah. Tidak ada kebahagia'an yang sempurna selain kebahagia'an yang tercipta dari kerukunan seluruh anggota keluarga kita. Karena segalanya berawal dari keluarga dan kembali lagi kepada keluarga.


Cinta (kekasih) memang bisa lebih kental dari darah (keluarga)


Tetapi.. Darah lebih kental daripada air (orang lain).

__ADS_1


Mari sayangilah seluruh anggota keluarga kita.


Jika ingin melihat Visual tokoh utama dan tokoh pendukung Follow ig saya @kapten1868. Saya upload disana.


__ADS_2