
Jam menunjukkan pukul 13:00. Mike bergegas menyusul Alan yang sudah lebih dulu sampai di kamar. Ketika ia sampai, ia melihat Alan sedang duduk sembari membaca beberapa buku yang berada di meja belajar, mengingat jam berangkat pergi ke Mall masih sekitar satu jam lagi.
Mike berjalan ke arah balkon, dan membuka pintu yang menuju ke arah balkon tersebut. Ia berdiri tepat di pintu sembari menyandarkan badannya di pintu dan sesekali menoleh ke arah Alan, namun Alan sendiri tidak menolehnya karena ia fokus dengan buku yang sedang dia baca.
Kemudian Mike mengambil sesuatu di saku celana beserta sebatang korek api, ia pun langsung membakarnya (merokok)
Crek crek
Wusss
Asap dari rokok yang Mike hisap dan semburkan pastilah masuk kedalam ruang kamar, mengingat ia berdiri tepat di pintu tersebut. Alhasil membuat Alan yang sebelumnya fokus membaca buku, menjadi menoleh ke arah Mike ketika asap dari zat nikotin tersebut tercium.
"Apa yang sedang kamu lakukan Mike?"
"Seperti yang kamu lihat, hehe" Mike dengan santainya menjawab sembari semakin menyemburkan kepulan asap dari rokok yang sedang dia hisap.
Alan langsung beranjak berdiri dari tempat ia duduk menuju ke Mike, kemudian ia langsung mengambil sebatang rokok tersebut yang berada di mulut Mike.
Seet
"Oish, Kenapa kamu merebut yang sudah berada di mulutku Lan? Kalo kamu mau smoke juga, nih ambillah masih banyak kok." Mike sembari menyodorkan bungkus rokok ke Alan.
Alan tersenyum dan mengambil jua bungkus rokok yang berada ditangan Mike.
"Aha, aku tahu aku tahu" Mike tertawa mengira Alan hendak merokok juga.
"Apa yang kamu tahu Mike?" Alan meliriknya seraya membuang satu batang rokok yang Mike hisap tadi keluar dan ia hendak membuang juga sebungkus rokok yang berada di tangan kirinya.
"Oit, oit, aiyaaahhhh jangan dong Lan, aaaiih" Mike secara cekatan menghentikan Alan yang hendak membuang satu bungkus rokok tersebut, alhasil dia berhasil merebut kembali rokok itu.
Kemudian Alan hendak merebutnya kembali.
Seet
Seet
"Ye gak kena ye gak kena. hahaha gak kena, weeek." Mike mengejek sembari mengoper bungkus rokok tersebut ke tangan kanan dan kirinya untuk menghindari Alan yang sedang merebutnya.
"Cih, semacam sanak Lunik nian kau Mike." Gumam Alan bersuara lirih ketika ia tidak berhasil merebut kembali rokok itu.
"Lagian kenapa kamu mau membuangnya coba, huh." Mike mendengus.
"Kenapa pula kamu suka sekali menghisap racun itu?" Alan meliriknya.
"Hey Lan, cobain dulu lah, baru kamu boleh berkomentar"
"Itu kata-kata dari ku tadi," Jawab Alan merasa Mike meniru kata-kata yang ia lontarkan ketika di meja makan.
"Hehe, ayo kamu cobalah dulu, dan sini aku mau bisikin kamu tentang sesuatu" Mike sembari mengeluarkan kembali satu batang rokok tersebut.
"Sesuatu Apa? Enggak ah. Racun kok di hisap" Alan menolaknya dan hendak melangkah kembali masuk. Namun Mike langsung menarik pundaknya.
Seet.
"Apa Mike." Alan menoleh kembali ke arahnya ketika Mike menariknya.
"Sini aku mau bisikin dulu." Mike mendekat ke telinga Alan.
"Bisikin apaan?"
__ADS_1
"Ssst nih dengerin Lan, selain merokok itu nikmat, ini juga salah satu daya tarik untuk menarik perhatian dari beberapa cewek loh, hihihi" Celoteh Mike di dekat telinga Alan.
"Cih, ada-ada saja kamu." Alan sedikit menjauh dari Mike yang sebelumnya didekat telinganya.
"Aiiish Lan, ini beneran tau, percayalah kepadaku"
"Tidak, Kalau aku percaya kepadamu lalu bagaimana dengan kepercayaan dengan Tuhan?" Alan mengejeknya.
"Aiissh, ada-ada aja. Bukan begitu maksudku Lan, aaiih kamu mah susah amat di ajak bercanda jadi orang, buset." Mike mendengus.
"Justru sebaliknya Mike, banyak dari wanita tidak menyukai lelaki merokok, karena secara logikanya rokok itu dapat membunuhmu."
"Iya aku ngerti, Tapi" Mike hendak nyerocos.
"Tunggu dulu Mike, dengarkanlah dulu, terkadang wanita berpikir saat melihat lelaki merokok adalah lelaki itu tidak menyayangi tubuhnya sendiri jika dia terus-menerus merokok, maka bagaimana lelaki itu dapat menyayangi dia jika lelaki tersebut tidak bisa menyayangi tubuhnya sendiri terlebih dahulu?"
Mendengar kalimat yang Alan ucapkan tersebut Mike langsung mendekat ke Alan dan menatap kedua matanya.
"Hey, Kamu mendengarkan atau tidak Mike? Yang ku ucapkan tadi?" Lanjut Alan sembari menjauhkan wajah Mike darinya.
Seet
"Hahaha," Mike tertawa lepas karena ia sedang berpikir sesuai apa yang sedang dia pikirkan sendiri tentang Alan ketika Alan mengucapkan kalimat tersebut.
"Kenapa kamu malah tertawa?" Alan merasa heran.
"Haha, tidak-tidak" Mike langsung memberikan satu batang rokok tersebut ke Mulut Alan, sontak membuat Alan melotot dan hendak membuang rokok tersebut dari mulutnya, namun kedua tangan dia keburu di genggam oleh Mike menggunakan satu tangan.
"Hehe"
"Emm emmm" Alan hendak berbicara namun Mulut dia sudah di sumpel rokok dan ia hendak membuang langsung rokok tersebut dari mulutnya.
Crek crek.
"Coba kamu hisap, lalu rasakanlah sensasinya" Lanjut Mike ketika ia berhasil menyalakan korek api dan berhasil membakar rokok yang berada di mulut Alan tersebut.
Karena Alan juga penasaran, alhasil ia mencoba untuk menuruti apa yang Mike ucapkan. Ia langsung menghisap rokok tersebut.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk"
Alan langsung batuk-batuk ketika ia menghisapnya dan menjadikan wajah dia memerah akibat ia benar-benar tidak bisa menghisap zat Nikotin tersebut.
"Huaahahha cemen amat, haha ups sorry-sorry." Mike malah tertawa lepas ketika melihat Alan sedang batuk-batuk.
"Uhuk uhuk, kukhan khasan nian kau Mike, Lawang." Alan bergumam sembari buru-buru beranjak masuk ke dalam hendak minum air karena rasa tenggorokannya terasa sungguh tidak nyaman.
"Huahaha sue, aku gak gila Lan, tapi rada-rada." Mike semakin tertawa ketika Alan mengumpatnya. Kemudian ia menyusul masuk untuk segera berganti pakaian.
***
Mike memilah dan memilih pakaian yang berada di lemari sembari bersiul karena suasana hatinya sedang baik. Ia sibuk memilah dan memilih pakaian sehingga ketika pakaian yang dia temukan bukanlah pakaian yang sedang ia cari, maka pakaian tersebut ia lemparkan jauh ke belakang.
Fiifuu.. nanana fuufii..
Seet
Fiifuu.. nanana fiifuu..
Seet seet
__ADS_1
Fifuu.. nanana fiifuu..
Seet
Sementara Alan sendiri sedang mandi lagi walau sebelumnya dia sudah mandi. Dan ketika Alan keluar dari dalam kamar mandi, ia tercengang ketika melihat kamarnya menjadi sangat berantakan akibat ulah Mike.
"Aha, ketemu juga akhirnya nih baju," Mike berbicara sendiri ketika pakaian yang sedang ia cari di temukan sembari menoleh ke arah Alan.
"Hey Lan, lihatlah ini kamu pakai pakaian ini ya, sudah ku pilihkan untukmu, kamu cepat pakailah" Mike mendekat ke Alan. Sementara Alan sendiri sedang fokus melihat ke seluruh ruangan karena terdapat banyak pakaian yang terlempar jauh hingga ke meja belajar.
"Itu.." Alan menelunjuk ke arah yang di maksud.
"Walah iya, jadi kayak kandang dah nih kamar hehe udahlah biarin dulu saja tidak perlu di pikirkan, coba kamu segera pakai pakaian ini Lan" Lanjut Mike tidak mempedulikan kamarnya yang sangat berantakan akibat ulahnya dan memberikan pakaian yang dari tadi dia cari-cari untuk Alan.
Karena Mike bersikukuh, alhasil membuat Alan tidak begitu fokus kembali ke ruangan yang berantakan itu, ia segera kembali kedalam kamar mandi hendak memakai pakaian yang Mike pilihkan untuknya.
Setelah ia selesai memakai pakaian pilihan Mike tersebut, ia beranjak keluar dari dalam kamar mandi. Dan menoleh kearah Mike, yang mana Mike memang sedang menunggunya.
"Woah, sikep nian Lan,"
"Cih,"
"Aish, serius Lan, ber radius-rius meringkus malah hehe, kemari lihatlah sendiri di cermin." Mike langsung mengajak Alan menuju ke kaca cermin berukuran besar.
Mike tersenyum ketika mereka berdua berdiri bersebelahan di kaca cermin. Karena pakaian yang ia pilihkan untuk Alan adalah pakaian favoritnya, alhasil tampilan Alan nyaris sama sepertinya kala ia sedang memakai pakaian tersebut.
Melihat Mike tersenyum, membuat Alan juga ikut tersenyum ketika ia melihat dirinya sendiri bersama Mike di kaca cermin. Karena, ketika mereka berdiri bersebelahan, mereka terlihat sangat mirip nyaris sama persis bahkan membuat Alan menjadi merinding karena ia merasa dirinya ada dua didalam jiwa yang berbeda, Alan terdiam sembari memegang wajahnya sendiri dengan tangan ketika ia sedang bercermin bersama Mike.
"Hey, apa yang sedang kamu pikirkan, malah bengong" Mike seraya menyenggol pundak Alan.
"Ah, Tidak-tidak" Lamunan Alan menjadi terpecah ketika pundak ia di senggol oleh Mike.
"Bagaimana dengan pakaian yang ku pilihkan itu? Apakah kamu nyaman?" Tanya Mike.
"Tidak sama sekali."
"What! Yaelah Lan, muji dikit kek." Mike mendengus karena menemukan pakaian yang kini sedang Alan pakai tersebut sungguh sangat sulit bak penuh perjuangan, karena nyaris seisi lemari ia obrak-abrik hanya untuk menemukan pakaian itu.
"Cih, memuji yang bagaimana? Bukankah Kita hanya mau pergi ke pusat perbelanjaan? Dan pakaian yang kamu pilihkan ini seperti pakaian hendak balap liar saja."
"Oh iya juga ya, hehe" Mike cengegesan sembari garuk-garuk kepala, karena ia tidak terpikirkan tentang hal itu. Yang ia pikirkan hanya menemukan pakaian favoritnya tersebut lalu ia segera memberikannya ke Alan.
"Cih, yasudah kamu juga segera berganti pakaian, nanti ayah keburu kesini kita belum siap."
"Selow men, tapi.. masalahnya aku gak ada koleksi pakaian twins nih," Mike beranjak kembali ke arah Kasur untuk melihat pakaiannya.
"Cih, Semacam drama saja, orang kembar pakaiannya musti kembar. Pakai yang mana saja dan yang sewajarnya saja Mike."
"Aiyayaya, lalu.. kamu mau ganti dengan pakaian yang mana Lan?" Lanjut Mike seraya memilah-memilih kembali pakaian yang berserakan di kasur.
"Yang mana saja." Alan mendekat ke Mike sembari memilah-memilih jua pakaian yang hendak ia pakai.
Tak selang waktu lama, Alan menemukan pakaian yang cocok hendak ia pakai.
"HeKamu mau pakai yang itu?" Tanya Mike yang belum usai memilah-memilih.
"Hu um."
"Oh, yaudah terserah kamu saja, btw itu baju koleksi lama, nanti kita mencari yang model terbaru." Pungkas Mike.
__ADS_1
Bersambung.