Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 161


__ADS_3

Selain memang sudah kebiasaannya yang sulit hilang meski kini ia dirumah tidaklah sendirian, Mike pergi keluar rumah lantaran mendapat panggilan dari beberapa rekan-rekan.


Rekan-rekan yang masih sama serta tujuan bertemu hendak berbincang seputar permasalahan yang sama, yakni antisipasi akan serangan balik dari para lawan.


Kali ini mereka bertemu bukanlah di tempat tak berkelas seperti biasanya, melainkan main ke tempat clubbing khusus untuk orang dewasa. Mike memang masih remaja, tetapi ia mudah masuk kesana lantaran ia sudah cukup terkenal dalam kalangan orang dewasa khususnya di kehidupan seperti ini.


Mike memiliki jiwa toleransi yang cukup tinggi melihat beberapa rekan-rekan saling berbaur dengan para wanita penghibur. Tetapi tak membuatnya ikut serta lantaran dirinya mengetahui batas usianya.


Usai bersuka ria didalam sana, bersama rekan-rekan dari kelompok Dimas, Mike undur diri hendak berjumpa dengan rekan lainnya, yakni rekan-rekan yang terdiri dari Samuel, Dion dan Saga.


Kali ini tidaklah berjumpa ditempat seperti tadi, melainkan ia pergi ke Condominimum milik Saga. Sebabnya ia sudah dihubungi oleh Saga hingga berkali-kali lamanya.


Sesampainya disana, ketiga rekannya sudah kumpul bersama-sama dengan kegiatan masing-masing diantara mereka, yakni Ada yang bermain Game sembari memakan cemilan berupa kacang kulit, tak lupa juga beberapa merek minuman beralkohol pelengkap cemilannya. Ada jua yang sedang berbincang melalui telephone dengan kekasihnya. Sementara Saga sedang rebahan sembari berselancar di dunia maya.


"Hoi Mike, sampe juga loe" Sambut Saga sembari menerima jabat dari tangan Mike, Lantas Dion menoleh sejenak menyusul jua untuk berjabat.


Sementara Samuel masih asik berbincang dengan kekasih Via telephonenya sembari rebahan di pojok kasur tak jauh dari Saga, Lantas Mike mulai bertingkah dengan cara menjahilinya. Yakni, ia langsung rebut Handphone tersebut dari telinga Samuel.


Seet!


"Aish, Mike! Kembalikan oih, resek banget dah ah!" Teriaknya bergegas bangun hendak merebut kembali telephone genggamnya.


"Selamat malam Nona, saya pinjam kekasihmu sebentar ya, Kikuk" Celetuk Mike didekat Telephone Tersebut.


"Mike, haish! Resek Loe Akh!" Gerutu Samuel seraya meraih-raih Telephone itu dari tangan Mike.


Seet! Seet!


"Ett, Gak kena .. Ett Gak kena .." Ejek Mike.


Sementara Saga dan Dion terkekeh melihat Aksi keduanya bagaikan anak kecil. "Hahahaha"


"Mike! Aish .."


"Hilih .. Noh, noh ambillah. Ellah gitu aja ngambek." Ucap Mike seraya mengembalikan Telephone tersebut.


"Bukan gitu masalahnya Bro, Do'i gua lagi sensitif banget hari ini." Samuel tampak gelisah.


Lantas Saga, Dion dan Mike jua langsung bergumam secara serentak.

__ADS_1


"Hilihhhhh Si Do'i palang merah ni ye …."


"Aih, gua lagi serius kunyuk!" Jelas Samuel seraya garuk-garuk kepala nan kembali fokus kedalam telephonenya.


Mike masih saja terkekeh penuh kepuasan karena ia memang kebiasaan menjahilinya.


"Dasar Loe Mike, Demen bet jahilin kawan," Ucap Doin.


"Eh Dion, kek loe kagak ngerti si Mike aja kek mana bocahnya, dia emang rajanya bikin rusuh. Dan lebih tepatnya lagi tuh karna dia kagak pernah tau kek mana Punya Do'i" Ejek Saga.


"Aah ... bener juga yang loe bilang Bro, dia kan bocah yang masih plontos" Sambung Dion.


"Ee Kamvret! Plontas-Plontos! Gua Jotos juga Loe, Sue!" Mike lekas meraih bantal nan menimpuk-nimpuk kepala saga.


Blak! Blak! Blak!


Lantas ia ayunkan jua ke arah Dion, nan ke arah Saga lagi dan lagi.


Blug! Blug! Blug!


"Oih, ampun Tuan muda, tak bermaksud menyinggung, tapi gua sengaja karna itu fakta, huahahaha" celetuk Saga, Lantas dilanjutkan jua oleh Dion dalam kalimat yang nyaris serupa dengannya.


"Huahahaha"


Perbincangan berlanjut sampai larut malam, hingga Mike tertidur disana lantaran ikut serta menenggak minuman.


****


Disisi Alan


Pagi hari kemudian


Ia bangun sejak petang, hendaklah ia melakukan aktifitas rutinnya (olahraga) namun ia tidak memasak makanan untuk sarapan. Lantaran bila sarapan sangatlah jarang menyantap makanan berat yang berkarbohidrat tinggi seperti nasi, sebabnya selembar roti perut terasa sudah terisi.


Sebelumnya ia tidak menyadari bahwa sang kakak pergi sejak malam hari, sebabnya ia pikir dia sedang diruang lain. Namun, setelah jam sudah menunjukkan pukul 6:15 am. Ia pun lekas menyadari setelah dirinya selesai mandi.


'Eh, kok dia tidak segera mandi sudah jam segini? pergi kemana lagi dia?'


Sembari menata rapi barang-barang sekolah kedalam tasnya, lantas ia sembari mencoba menghubungi sang kakak. Sambungan telephone Mike memanglah menyambung tetapi sekalipun tidak di angkat oleh dia.

__ADS_1


Akhirnya ia sudahi untuk menghubunginya lantaran waktu sudah semakin siang baginya. Bergegas kembali merapikan diri sebelum langkah kaki meninggalkan ruang kamar ini.


Namun, setibanya kaki berpijak di luar rumah lantas masuk kembali sejenak hendak menanyakan sesuatu pada asistennya.


"Bu .." panggilnya saat mendapati bu Tiah tengah menyapu lantai dapur.


"Iya, kak. Ada apa?" Jawabnya lantas mendekat.


"Pak sopir kemana ya?" Tanya-nya.


"Walah iya, duh gimana dia kok belum datang jam segini, maaf saya malah tidak tahu, kak." Jawab bu Tiah ikut bimbang nan merasa sungkan.


"Oh, begitu rupanya. Yasudah tidak masalah saya berangkat langsung saja." Pungkas Alan langsung beranjak pergi.


"Em .. Anu loh, eh tapi anu kakak Mike gimana kok gak berangkat bersama saja naik motor, weleh malah sudah ngacir kak Michealan ini, halah .. piye to." Gumam Bu Tiah Sembari garuk-garuk kepala lantaran ia tidak mengetahui bahwa Mike tidak berada di rumah.


***


Alan sudah cukup paham jalan menuju ke sekolahan maka tidak heran bila ia tidak ragu untuk berangkat seorang diri ke sekolah meski tanpa di antar sopir maupun berangkat bersama saudara kembarnya.


Ia menaiki trasportasi umum jenis Bus. Ditengah padatnya aktifitas para warga ibu kota pada waktu pagi hari seperti ini maka tak lepas saling desakan didalam bus tersebut dengan para penumpang lain.


Posisi Alan tidak mendapatkan tempat duduk, maka ia berdiri berdesakan dengan berbagai macam orang. Namun, meski berdesakan dengan banyak orang disana, ada suatu rasa didalam hatinya yang muncul secara tiba-tiba yang tak lain ialah teringat masa lalunya.


Ya, kehidupan Alan didaerah perkampungan dulu penuh perjuangan dalam berangkat menimba ilmu, bahkan terbilang lebih parah dari yang ia rasakan saat ini.


Ditengah tersendatnya lalu lintas pada jalan yang ia lalui, membuat Alan mulai merasakan resah. Semua terjadi lantaran ia memang tipikal orang disiplin maka ia tidak ingin bila sampai disekolah pada jam yang sudah terlewat.


Lantas ia menoleh ke arah kaca jendela untuk melihat plang maupun sejenisnya, yakni karena ia sudah mengetahui patokannya bila sudah tak terlampau jauh dari sekolahannya ia dapat turun disana nan dilanjutkannya berjalan kaki, pikirnya.


Namun, disaat ia melihat ke arah jendela, ia melihat seorang perempuan didalam mobil sedan yang tidak asing baginya. Ia melihatnya lantaran kaca mobil itu tidak terlapisi kaca film dengan sempurna, dan jua karena tersorot sinar matahari, membuatnya terlihat jelas dari sisi bus yang sedang Alan tumpangi ini.


'Ah, tidak mungkin. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Tidak mungkin bila gadis itu si dia.' Gumam Alan didalam batinnya.


***


Lantas .. Siapakah gadis yang dilihat oleh Alan tersebut?


Simak selengkapnya pada episode-episode mendatang. Terimakasih.

__ADS_1


100% Original Story by


@Kapten1868


__ADS_2