Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 178


__ADS_3

Catatan


Terdapat aksi kekerasan dan kata umpatan, bukan untuk ditiru!


___


Ke-empat orang itu balas senyum iblis pertanda puas atas keberhasilannya. Kemudian Anwar Jongkok tepat didepan kepala Alan. Lantas diraihlah rambut Alan cukup kuat (menjambak) Sampai Posisi Kepalanya mendongak ke atas.


Alan meringis kesakitan namun tiada suara apapun keluar dari mulutnya.


"Hahaha Hei Niku sanak Lunik, api kabagh? Muni gham mawat tungga" Ucapnya tersenyum iblis seraya mengepalkan kedua tangannya mengarahkannya tepat didepan wajah Alan.


(Hei kau anak kecil, apa kabar? lama kita tak jumpa)


"Apa tujuanmu?" Alan melihatnya dalam tatapan tajam hingga menumbuhkan amarah dalam diri Anwar. Lantas tiba-tiba dia mengayunkan sebuah pukulan tepat di wajah Alan.


Brak!


"Pers*tan dengan loe, bedebah!"


Tentu saja Alan tidak bisa berkutik, sehingga darah mengalir dari bibir-nya.


"Cih, Pengecut." Lirih-nya menahan sakit tapi tiada henti meliriknya tajam tanda melawan.


"Apa loe bilang? pengecut Hah!" Pekik Anwar kembali meraih kerah Alan hingga posisi dia berdiri.


"Katakan sekali lagi yang loe bilang itu, cepat katakan, Baj*ngan tengik!" Ulangnya didekat wajah berjarak kurang lebih 55 Cm.


"Pe nge cut, Apa masih kurang jelas?" Ulang Alan menyebutkan per satu kalimat, setara Mike dalam menghadapi lawan. menjadikan batas kesabaran Anwar kian menipis, terlebih lagi kala teringat sang adik pulang ke Sorga diduganya karena pemuda ini.


"Brengs*k! karena loe adik gua kini tiada, lalu bacot loe menyebut gua pengecut Hah, loe itu yang pengecut letoy! Hei loe lihat ini … lihat kedua tangan gua ini semua karena loe, B*bi!" Ucapnya menunjukkan bekas luka tebas ulah Alan beberapa hari yang lalu.


"Cih, jaga mulutmu, Kamu salah menduga." Balas Alan.


"Salah menduga loe bilang hah!" Pekiknya lagi menahan emosi sudah sangat membelenggu jiwa.


"Kenapa kamu terus mengulang-ulangi kalimatmu? Apa tidak ada kata lain yang bisa kamu ucapkan?" Lanjut Alan terdengar menggelitik telinga Anwar, lantas tanpa basa-basi Anwar menyerang Alan dengan beringas tanpa satupun perlawanan dari Alan.


"Musnah saja loe kampang!"

__ADS_1


Seet!


Brak! Brak! brak!


Betapa tidak? Posisi Kedua tangan Alan masih terikat tali dan jua sudah beberapa kali ia di pukul oleh para penculik itu sekaligus dari Anwar tadi. Dan kini Anwar terus-menerus memukul dan melempar Alan ke berbagai sisi pada ruang gedung itu.


Brak! brak! brak!


Akhirnya Alan lemas nan berdarah-darah. Akan tetapi, sungguh membuat Anwar heran, sebab meski Alan tampak tak berdaya namun ekspresinya setara Mike yakni samasekali tidak takut, justru tersirat senyum dari bibirnya.


"Humph."


Anwar dan beberapa orang disana terdiam menyaksikan sewaktu Alan berusaha berdiri.


"Jika kamu merasa adikmu kini tiada disebabkan olehku lalu kenapa kamu … " Ucap-nya sebelum tuntas ia berkata, Anwar lekas menjawabnya.


"Woi, Apa loe pikir gua akan melaporkannya ke polisi hah? hahaha Cuih! Tidak ada hukum negara yang berlaku bagi gua, karena kematian harus dibalas dengan kematian, ngerti Loe Hah!" Jawabnya mengarah ke hukum rimba.


___


Semasih percakapan itu berlangsung, disisi Jovan yang kini berada di area luar tidak bisa mengetahui apa yang terjadi didalam gedung itu.


Kebetulan yang diharapkannya langsung tampak walau masih melalui ponsel yakni panggilan dari Mike.


Kring … Kring …


Bip!


"Gua udah sampai di lokasi yang loe kirim bro, posisi loe dimana?" Tanya-nya terdengar tergesa-gesa.


Akan tetapi, suara Mike terputus-putus lantaran jaringan dari kartu yang Jovan pakai tidak stabil pada lokasi itu. "Halo, Bro suara loe kagak jelas, Halo .." Berkali-kali ia panggil suara Mike masih saja terputus-putus.


Lantas akhirnya ia pergi sejenak dari tempat persembunyiaannya itu untuk mencari signal.


Sementara pada posisi Mike kini sudah sampai pada lokasi sesuai GPS yang Jovan kirim beberapa saat yang lalu, yakni masih berjarak cukup jauh dari lokasi gedung itu kurang lebih sekitar 1 Km.


Ya, semua itu terjadi lantaran Jovan sudah sangat khawatir sehingga dia langsung mengirimkan lokasi semasih berhenti di pertigaan jalan sebelum mobil penculik itu berbelok arah ke gedung itu yang ternyata masih berjarak 1 Km.


Setelah Jovan sudah mendapatkan jaringan, buru-buru ia menghubungi Mike. Namun, inilah sebuah kehidupan rumit yakni Jovan dan Mike saling memanggil sehingga sampai beberapa menit susah terhubung lantaran bertabrakan panggilan.

__ADS_1


"Aihh kenapa pula disaat genting begini hape malah begini, T*i bener dah!" Gumamnya kesal lantas mengalah untuk tidak menelponnya sejenak. Akhirnya panggilan dari Mike pun masuk.


Kring … Kring …


"Bro, loe dimana sik!" Tanya Mike terdengar kesal.


"Sorry, Sinyal gua kek curut disini bro."


"Iya posisi loe dimana? Gua udah sampai di lokasi yang loe kirim tadi."


"Astaga Tuhan" Jovan lekas menyadarinya.


"Hoih, buruan katakan posisi Loe dimana? dan gimana sama adik gua?" Mike terdengar tidak sabar.


Sementara Jovan sangat bimbang lantaran lokasi yang dia kirim ke Mike tadi dengan lokasi ia saat ini (Gedung tersebut) tidak melalui jalan utama melainkan masuk-masuk ke jalan sempit yang hanya bisa di lintasi satu mobil pribadi.


Sesungguhnya ada jalan besar yang bisa menuju kesana lantaran lokasi itu dekat dengan pembuangan sampah terbesar di kota itu. Namun, berhubung Jalan yang di lalui oleh Jovan adalah jalan kecil sesuai mobil penculik itu lintasi, maka membuatnya tidak mengetahui jalan tercepat.


Akibat kendala jaringan yang tidak stabil di lokasi itu, menjadikan sambungan data handphone Jovan tidak dapat tersambung maka ia tidak bisa mengirimkan lokasi kepada Mike. Akhirnya satu-satunya cara yang bisa ia lakukan saat ini adalah kembali ke jalan itu untuk menjemput Mike.


"Loe tunggu sebentar, gua jemput loe kesana, sekarang." Pungkasnya mematikan sambungan telephone itu lantas bergegas langsung menuju kesana.


___


Next


Sementara disisi Alan percakapan itu masih berlangsung cukup panjang. Semula Alan pendiam kini banyak kalimat Anwar yang dijawab olehnya.


Betapa tidak? Semua terjadi lantaran Alan sudah menyaksikan keseluruhan tentang semuanya yakni kejadian yang menimpa Ananta beberapa waktu yang lalu yang disebabkan oleh Andika beserta kelompok Bonanza termasuk dia (Anwar)


Tentu saja, kini ia selalu menjawab setiap kali Anwar berkata tentang kematian adiknya.


"Setiap perbuatan pasti akan mendapat balasan, entah itu nanti atau mungkin lusa. Bukankah kamu juga tau itu? Jika bukan karena dia sendiri yang memulai (Andika) tentu, semua ini tidak mungkin terjadi." Ucap Alan.


"Tutup mulut Loe! Macam mana pula loe menyalahkan adik gua, udah jelas-jelas loe yang membunuhnya!" Jawab Anwar.


"Percuma sampai seribu kali pun saya jelaskan, tidak akan masuk kedalam otak kamu." Jawab Alan lembut namun sangat menusuk sehingga Anwar kian geram lantas siap hendak melakukan penyerangan.


"Siap-siap ke Neraka loe bocah tengik!" Ucapnya. Sementara Orang-orang didalam sana jua sama saja yakni mengeluarkan senjata tajam masing-masing.

__ADS_1


"Tunggu!"


__ADS_2