
Mike menatapnya tajam penuh amarah kala Rehan menjawab kalimat bernada demikian. Akan tetapi bahasa tubuh serta ekspresi Rehan memang tampak benar-benar tidak tahu-menahu maka membuat Mike terdiam.
"Aeh tak usah loe berdrama, bedebah!" Dimas terbakar emosi sendiri kala Mike tidak melanjutkan kalimatnya, Alih-alih untuk membela sang teman, Dimas gegabah langsung mendorong tubuh Rehan ke arah pintu cukup kuat.
Brak!
"Katakan dimana loe sembunyikan saudara kembar Mike, Hah! Katakan!" Pekik-nya Melotot tajam semasih tangannya mengenggam erat kerah Rehan.
"Aeh Kalem woi, gua kagak ngerti maksud kalian orang, Kampang!" Rehan kian emosi dibuatnya, seraya menangkis tangan Dimas.
Seet!
lantas membenarkan kembali posisi tubuh.
Sementara Dimas hendak mengulanginya lagi, namun terhenti kala Mike menghadangnya dengan satu tangan tepat di dada.
Plek!
"Berhenti, kawan." Lirihnya.
"Tap .. tapi, Mike."
Mike hanya menggelengkan kepala sebagai tanda bahwa 'Jangan dulu kau ikut serta' Lantas beberapa orang didalam rumah itu keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa ini Re" Tanya beberapa diantara mereka petantang-petenteng disaat melihat kelompok lawan yang datang ke markasnya tersebut. (Dimas)
Mike menoleh ke arah mereka jumlahnya tampak tidak lengkap khususnya kelompok utama Bonanza Yakni Anwar dan Satria. Kemudian barulah ia teringat Akan Bonanza yang saat ini sedang di rumahsakit beserta teringat akan sesuatu.
'Oh Tidak.'
Ya, ia teringat suatu keganjilan yang terjadi atas kematian adik-nya Anwar yakni (Andika) Lantas terpikir yang tidak-tidak bila semua itu terhubung dengan sang adik. Apalagi kejadiannya seperti ini. (Penculikan)
"Katakan, Dimana kalian orang membawa adik Gua!" Tanya Mike secara sepontan nan langsung menyimpulkan.
Sementara Rehan beserta orang-orang disana benar-benar tidak tahu-menahu tentang itu maka lekas Rehan menjawabnya. "Apa maksud loe Mike!" Dalam suara cukup lantang.
Semasih semua itu berlangsung, Telephone genggam milik Mike berdering didalam saku, sebabnya Mode dering sudah ia setting.
Kring … Kring …
Cepat-cepat ia raih telephone itu mengira Jovan telah menghubunginya lagi.
"Aissh!"
Rasa kesal memburu didalam kalbu kala mendapati Panggilan itu bukanlah yang sedang ia tunggu, melainkan panggilan dari sang Ayah. (Marvin)
__ADS_1
Akibat rasa bimbang yang kini menerjang pikiran hingga membuatnya mematikan sambungan telephone itu tanpa ia angkat terlebih dahulu.
Bip!
Setelah itu, dilanjutkannya langsung menghubungi Jovan. tetapi, beberapa panggilan tidak dijawab oleh dia lantaran posisi dia saat ini sedang berkendara. Maka, Mike melanjutkannya dengan menghubungi nomor sang Adik.
"Aish! Ya Tuhan." Mike semakin merasa resah kala nomor sang adik tidak dapat di hubungi. Maka lirikan tajam ke arah Rehan sebagai tanda geram sangat dirasakan olehnya.
Sebelum kembali bertanya pertanyaan yang sama kepada Rehan, Tiba-tiba saja ada pesan masuk didalam ponselnya.
Klung!
Yakni, pesan dari Jovan sebuah kiriman lokasi.
'Astaga Tuhan' Gumam batinnya melihat denah lokasi itu sangat jauh dari lokasi ia saat ini.
Dimas, Jejen dan Juga Vidze tidak lepas memandang Mike yang kini fokus terhadap telephone genggamnya, setelah Mike menoleh ke arah mereka, maka mereka pun mengangguk sebagai tanda "Kita siap untuk membantumu, Kawan"
Lantas Mike mengangguk kemudian bergegas langsung menuju kembali ke arah motornya.
"Woi!" Seru beberapa orang disana kala melihat mereka (Kelompok Dimas) pergi begitu saja. Namun, Mike beserta kawan-kawan tidak mempedulikannya.
___
Next
Yang terlintas dipikiran Mike memang benar apa adanya bahwa pelaku penculikan yang terjadi kepada Alan ialah ulah Anwar (Kakak-nya Andika)
Akan tetapi, misi penculikan tersebut bukanlah Anwar secara langsung yang turun tangan melainkan menggunakan orang bayaran.
Anwar sudah merencanakan sedemikian rupa rapihnya dalam misi ini hingga Alan sampai dibawa ke luar kota. Semua itu terjadi bukan tidak ada 'Karena' melainkan dendam membara atas kematian adik-nya. (Andika)
Kini, Alan masih didalam mobil bersama 4 orang bayaran tersebut menuju ke lokasi tujuan. Yakni, disebuah gedung kosong nan kumuh berlokasi cukup jauh dari pemukiman penduduk dan tidak jauh dari area pembuangan sampah terbesar di kota itu.
Gedung kosong yang menjadi tempat pilihan Anwar tersebut sering dijadikan tempat transaksi bisnis gelap berupa obat terlarang oleh oknum kelas teri. Dan jua biasa dijadikan tempat mesum oleh para sejoli yang tidak berpendidikan. (Liar, berandal)
Anwar memilih tempat tersebut dikarenakan hingga saat ini kabar mengenai tempat itu tidak terendus oleh pihak kepolisian. Sehingga ia dapat leluasa hendak melakukan perbuatan apapun di tempat itu sesuai tujuannya.
___
Next
Semasih didalam kendaraan, perlahan namun pasti Alan kembali sadarkan diri. Sebabnya Obat bius yang mereka semprotkan kedalam kain untuk membekapnya beberapa saat yang lalu tidak terlampau banyak.
Ya, Alan sampai tidak sadarkan diri sewaktu di bekap tadi karena mereka membekap mulutnya dengan sangat kuat, tentu saja membuat Alan kesulitan bernapas.
__ADS_1
Setelah kedua mata perlahan terbuka, membuatnya bingung dimana posisi ia saat ini. Namun, berhubung ia tipikal orang pendiam, maka membuatnya tak bersuara meskipun didalam hati-nya penuh tanya, apalagi posisi tangannya saat ini sedang terikat tali ke arah depan.
Ke-empat orang itu tidak ada yang menyadari Alan sudah kembali sadarkan diri. Hingga akhirnya kini mereka sampai pada lokasi tempat tujuan.
Sementara Jovan yang saat ini membuntutinya dari belakang sudah berhenti dari jarak yang cukup jauh. Tentu saja dia melakukan itu semata-mata agar keberadaannya tidak diketahui oleh mereka. Kini ia membuntutinya dengan berjalan kaki, nan bersembunyi dibalik dinding diantara bangunan kosong lainnya.
Mesin mobil orang bayaran itu sudah dimatikan, lekas ke-empat orang bayaran tersebut masing-masing keluar mobil, kemudian di raihlah tangan Alan hendak di turunkan jua dari dalam kendaraan.
Namun, begitu kaki Alan berpijak di tanah, tiba-tiba saja Alan mengayunkan sikunya ke arah salahsatu wajah orang itu.
Brak!
"Arrgh!"
Pukulan itu tepat sasaran, Kemudian disusul tendangan maut ke arah perut sebagai tanda perlawanan.
Brak!
Sontak ketiga orang lainnya terkejut "Brengs*k Kau!" Lantas bertindak langsung menghajar Alan.
Brak! Brak! Brak!
Alan pun tersungkur nan berdarah di area hidung. Tentu saja, sulit baginya melawan ketiga orang itu, apalagi posisi tangan masih terikat tali.
Sementara Jovan menyaksikan itu sangatlah geram, hasrat hati ingin terjun menyerang, namun ia tidak gegabah untuk bertindak, melainkan langsung menghubungi aparat kepolisian nan menyebutkan lokasi tempat itu.
___
Setelah Alan tersungkur nan tak berdaya ke-empat orang itu lanjut melakukan aksinya.
"Bawa dan seret dia masuk kedalam"
"Baik"
Semasih di seret paksa, Kaki Alan tergores puing-puing bangunan yang berserakan di tanah meskipun ia memakai celana jeans. Tapi Apalah daya, pukulan keras yang tertuju di wajahnya membuatnya sulit bangkit selama ia di seret beringas oleh orang-orang itu.
Setelah berhasil masuk kedalam ruang gedung kosong tersebut, disana sudah di tunggu oleh beberapa orang, salahsatunya ialah Anwar selaku yang memiliki misi.
Lantas menjelang sampai ke arah Anwar. Alan di lempar oleh mereka hingga ia jatuh tepat dibawah kaki Anwar
Brak!
"Hahaha, Kerja Bagus!" Tawa iblis tersirat dari wajah Anwar diiringi tepukan tangan atas keberhasilan orang-orang yang dibayarnya itu.
Prok! prok! prok!
__ADS_1