Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 87


__ADS_3

Mike menangis histeris ketika ia memeluk Alan, kemudian ia melepaskan sejenak pelukannya untuk melihat kembali ke wajah Alan, setelah ia melihatnya, ia memeluknya kembali dan semakin menangis histeris.


"Kau tidak papa, janganlah takut, masih ada aku disini kamu tenang ya, kamu tenang." Ucap Mike gugup karena ia merasa sangat khawatir, Sembari ia mengusap kepala Alan.


Dia berkata supaya Alan jangan takut pada sebenarnya dia sendirilah yang sedang merasakan ketakutan jika sampai terjadi apa-apa dengan Alan menyadari ia melihat kondisi Alan sangat memprihatinkan.


Ketika ia sedang dalam posisi itu, kemudian ada sebuah batang kayu yang mengelilingi mereka dan sedang terbakar api hendak terjatuh menimpanya. Namun beruntung, Mike langsung bergeser posisi sembari menarik Alan supaya mereka tidak tertimpa kayu yang sedang dilahap si jago merah tersebut menjadikan mereka terjatuh ketanah.


Angin yang berhembus dalam volume sedang membuat api berkobar semakin membesar. Seluruh Orang-orang yang menyaksikan disana telah menduga bahwa kedua pemuda yang berada didalam lingkaran api tersebut telah mati terbakar bersama-sama.


Verza selaku sahabat terbaik Alan langsung berteriak-teriak sembari memanggil-manggil nama Alan ketika kobaran api tersebut semakin membesar, karena posisi Alan bersama pemuda yang menyelamatkannya tadi sudah tidak terlihat lagi karena tertutup kobaran api yang semakin membesar.


"Oh tidak! Ya Tuhan, Alaaaaaan," Verza hendak berlari kearah kobaran api tersebut, namun dia langsung dipegangi oleh para pemuda yang berkumpul semua disana.


"Diam kau Ver!"


"Lepaskan saya bangs*t!"


"Hey Ver! Kau mau kesana hah! Ataukah kau mau ikut bagus terbakar disana hah!" Para pemuda tersebut berkata sembari melotot.


Pada saat yang bersamaan, ketika kobaran api semakin membesar karena tertiup angin, Marvin telah sampai tepat di titik tengah. Ketika ia sampai disana ia masih belum mengerti ada apakah yang sedang terjadi disana, ia berjalan pelan ditengah-tengah kerumunan para warga sembari menoleh kesana dan kemari untuk mencari keberadaan Mike.


Namun, ketika ia menoleh kearah Verza, ia melihat hanya Verza seorang dirilah yang sedang menangis histeris sembari bersikukuh hendak berlari kearah kobaran api tersebut.


Namun Marvin tidak mendengar ketika Verza sedang memanggil-manggil nama Alan, mengingat betapa ramainya disana dan jarak Marvin ketika sampai pada titik tengah lumayan jauh dari keberadaan Verza.


Kemudian, Marvin langsung bergegas berjalan mendekat kearah Verza.


"Dik, ada apa yang sebenarnya terjadi disini?" Tanya Marvin sembari sesekali menoleh kesana dan kemari mencari keberadaan Mike.


"Hiks hiks hiks, itu pak sahabat saya berada didalam sana" jawab Verza singkat.


"Tunggu, apa maksudnya sahabatmu berada didalam sana?" Marvin terheran-heran.


"Sahabat saya telah difitnah, dianiaya dan dibakar! Apakah anda sekarang sudah puas hah, puas kalian semua hah! Kalian semua memang manusia yang sangat kejam! Tidak memiliki hati nurani, tidak memiliki mata dan tidak memiliki telinga! Sehingga kalian tidak bisa melihat dan mendengarkan mana yang benar mana yang salah!" Teriak Verza kepada Marvin dan kepada seluruh warga yang berada disana.


Verza tidak mengetahui bahwa Marvin adalah orang asing alias bukan warga desanya sehingga ia mengira bahwa Marvin sama seperti warga lainnya.


"Astaga Tuhan, benarkah demikian dik?" Tanya Marvin nampak ekspresinya terkejut.


Kemudian Verza menengok kembali kearah kobaran api tersebut sembari menangis histeris, kemudian ia langsung jongkok sembari memegang kepalanya dengan kedua tangan.


"Alaaaaan!" Verza kembali menyebut nama Alan dengan suara lantang.


Mendengar teriakan Verza tersebut sontak membuat Marvin langsung melorot penuh terkejut. Kemudian ia langsung bergegas menarik tangan Verza sampai posisi Verza kembali berdiri.

__ADS_1


"Hey dik, siapa yang kau sebutkan tadi itu, tolong ulangi sekali lagi. Siapa yang kau sebut itu, cepat ulangi!" Marvin gemetar.


"Alan! Nama sahabat saya adalah Alan! Dia berada didalam sana. Siapa anda hah! Kenapa anda pura-pura bodoh seperti ini hah!"


Verza nampak geram menjawab pertanyaan Marvin, sembari ia menangis histeris karena ia merasakan kehilangan sahabat satu-satunya yang ia miliki dan bahkan dia menganggap Alan sudah seperti saudara dia sendiri. Dan ia masih menganggap Marvin adalah warga desanya yang berasal dari kecamatan lain.


"Alan? Apakah Maksud kau Alan anaknya pak Ferdi?" Marvin sudah nampak sangat khawatir.


"Benar, dia Alan anaknya pak Ferdi, sahabat terbaik saya, dia telah difitnah oleh seseorang, dan warga telah terprovokasi oleh orang itu, hiks hiks hiks" jawab Verza sembari menyapu air mata yang terus membanjiri kedua pipinya.


Mendengar hal tersebut sontak membuat hati Marvin sangat sakit bak tertusuk seribu badik. Kemudian ia langsung melangkah mundur dari hadapan Verza dan dia nampak sangat cemas sembari menoleh kesana dan kemari.


"Astaga Tuhan, Mike.. dimana kau Mike!"


'Oh Tuhan, putraku Michealan. Tidak! Ini Tidak mungkin dia berada disana.'


"Michealan! Oh tidak! Michealan!" Marvin langsung berteriak-teriak sangat cemas lalu ia mendekat kearah kobaran api tersebut sembari berjalan mondar-mandir.


***


Disisi Alan Vs Mike.


Ketika Mike baru saja bergeser menghindari kayu yang hendak menimpanya, kemudian dari arah sisi kiri dia ada sebuah bambu jenis petung meletus akibat terbakar.


Sontak Mike langsung menunduk untuk menutupi wajah Alan dengan badannya supaya percikan api dari letusan bambu tersebut tidak terkena Alan.


Setelah beberapa detik kemudian Mike kembali dalam posisinya semula, ia diam sejenak untuk mengatur siasat supaya bisa keluar dari kobaran api tersebut, karena api sudah menyala sangat besar.


Rasa panas yang sangat membelenggu seluruh tubuh menjadikan Mike ingin segera keluar dari sana kemudian ia bergegas berdiri, dan disaat ia beranjak berdiri tangan dia dipegang oleh Alan yang mana posisi Alan masih terbaring di tanah.


Kemudian Mike menoleh kearah Alan. Ketika ia menoleh, Alan tersenyum kepadanya.


"Mike.."


Sontak membuat Mike langsung menarik tangan Alan yang sedang memegang tangannya untuk segera berdiri.


"Ya Alan. Ini adalah aku" ucap Mike sembari membuka maskernya ketika Alan sudah berdiri. Kemudian Mike tersenyum.


Ketika Mike tersenyum, Alan sendiri langsung menunduk dan meneteskan air mata.


Melihat itu tanpa basa-basi Mike langsung kembali memeluknya.


"Tenanglah, aku akan selalu berusaha untuk melindungimu dan selalu bersamamu, kamu jangan memikirkan yang tidak-tidak."


Alan semakin menangis ketika Mike mengucapkan kalimat demikian. Yang mana kalimat yang Mike ucapkan tersebut sangat menyejukkan hatinya yang mana saat ini suasana hatinya sedang berada didalam kebimbangan dan keputusasaan.

__ADS_1


"Maafkan aku Alan."


"Maaf?"


"Ya, maafkanlah aku yang terlambat untuk bisa menyelamatkanmu dan melindungimu sebagaimana mestinya, adikku."


"Adik?"


"Ya, engkaulah adikku Michealan, adik yang sangat aku rindukan. Adik Yang sangat ku nantikan kehadirannya didalam hidupku."


"Apakah..?"


"Tidak ada apakah, tidak ada mungkinkah. Kamu memanglah adalah adikku, darahku mengalir pada darahmu begitupun dengan darahmu mengalir jua didalam darahku."


"Tetapi Kenapa Mike?"


"Kenapa apanya Alan?"


"Kenapa kamu membuang waktu dengan banyak berkata pada saat ini, ataukah kamu tidak merasa kepanasan?"


Sontak membuat Mike langsung tertawa ketika Alan dengan cetus berkata demikian.


"Haha baiklah, ayo kamu naik."


"Tapi.."


"Tidak ada tapi-tapian. Segeralah kamu naik ke pundak-ku" Pinta Mike, Namun Alan masih saja terdiam.


"Aissh, kenapa pula kau masih diam saja Alan."


Kemudian Mike langsung menariknya.


Seet!


Dan kemudian Mike menggendongnya secara langsung untuk segera menerobos api yang sudah berkobar-kobar mengelilingi mereka.


Setelah posisi Alan sudah Mike gendong, Mike langsung berancang-ancang hendak menerobos kayu yang sedang dilahap si jago merah tersebut.


"Apakah kamu sudah siap Lan?"


"Hu um"


"Oke, satu, dua, tiga!"


Brak!

__ADS_1


__ADS_2