Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 69


__ADS_3

Teriak Anwar penuh emosi. Setelah Alan mengucapkan kalimat demikian, Ia langsung memegang erat kerah baju Alan seraya melotot kearahnya serta hendak mengayunkan kembali tangannya untuk memukul.


Namun, sebelum hal tersebut terjadi, tangan ia langsung ditangkis oleh Rehan, karena kebetulan ia telah kembali dari sisi jalan yang mana tadi ia sedang mencari mobil taksi.


Seet!


"Aiish! Kenapa loe menghalangi gua Re!" Anwar membentak tidak terima sembari mengibaskan tangannya yang tengah dipegang oleh Rehan.


Seet!


"Sudahlah bro, hentikan kau bermain-main ini, Buruanlah kita cabut, tuh lihatlah mobilnya sudah menunggu dipinggir jalan." Jawab Rehan menelunjuk kearah mobil taksi tersebut.


Mengetahui hal itu, Anwar tampak kesal karena ia merasa belum puas menganiaya Alan yang ia kira saat ini adalah Mike. Karena tengah ditunggu oleh sang sopir yang sedang menunggunya pada bahu jalan, selanjutnya ia bergegas menarik kerah Alan untuk berjalan menuju mobil tersebut.


"Masuklah kau!" Teriak Anwar mendorong Alan masuk kedalam mobil taksi tersebut, dan disusul ia pula masuk kedalamnya.


***


Mobil berjalan hendak menuju langsung ke tempat markas mereka, namun mobil yang tengah mereka naiki berjalan dengan kecepatan sedang cenderung lambat karena jalan licin akibat curah hujan yang cukup lama serta arus lalulintas terbilang masih sangat padat. Menjadikan mereka sedikit lama sampai pada markasnya.


Ketika mereka didalam mobil, posisi Alan duduk dipinggir sebelah jendela kaca. Ia terdiam sembari memegang bibirnya yang telah pecah dan terdapat banyak darah yang mengalir diantara bibirnya tersebut akibat beberapa kali dipukul oleh Anwar.


'Oh Tuhan, takdir apa yang tengah Engkau mainkan sehingga hidupku kian sesulit ini dan sepahit ini"


Batin Alan seraya terbayang segala yang ada didalam kehidupannya karena didalam hidupnya dari ia masih balita hingga kini hanya ada sebuah cacian, penganiayaan, penindasan, ketidakadilan dan yang membuat ia sangat bingung adalah siapakah dirinya hingga selama ini ia hidup bukan bersama orang yang telah melahirkan dia di dunia ini. Dan jua kini segala permasalahan yang sedang ia hadapi bukanlah masalah dirinya.


Alan kini merasa hidupnya bagaikan sebuah boneka permainan takdir yang mana takdir baik tidak pernah berpihak kepadanya walau hanya satu kali. Namun apalah daya, ia hanya mampu pasrah kepada sang Pencipta kemana takdir tersebut akan membawanya.


***


Setelah beberapa saat kemudian, mereka telah sampai pada markas Bonanza, mereka langsung turun dari dalam kendaraan serta Alan jua ditarik keluar khususnya oleh Anwar.


Setelah ia masuk kedalam, Bonanza bersama para kelompoknya yang lain yang telah lolos dari sergapan polisi ketika diarena balap, telah menunggu didalam rumah tersebut.


Seet!


Brak!

__ADS_1


Alan langsung ditarik oleh Anwar dan didorong langsung kehadapan Bonanza hingga jatuh tersungkur tepat dihadapan Bonanza berdiri.


Prok Prok Prok


"Hahahaha bagus Anwar, Rehan, haha bagus!" Bonanza tertawa sembari bertepuk tangan gembira merasa sangat puas akan keberhasilan mereka membawa Alan yang ia kira adalah Mike dihadapannya.


"Yo'i bro" Sahut Anwar merasa bangga.


Lalu Bonanza jongkok tepat didepan Alan yang duduk dilantai sembari langsung memegang kedua pipi Alan menggunakan tangannya seraya ia melihat kearah matanya.


"hey, baj*ngan Lunik! Mau lari kemana kau hah! Mau lari ke ujung duniapun, kau tidak akan pernah bisa lolos dari tanganku! Hahaha."


Alan masih terdiam karena bicara jua ia tak mampu karena Bonanza mencengkram kuat diantara kedua pipinya menggunakan satu tangannya.


Selepas ia mencengkram pipi Alan cukup kuat, ia langsung menamparnya sangat keras hingga Alan langsung jatuh tersungkur.


Prak!


Tidak ada perlawanan satu kalipun oleh Alan setelah apa yang mereka perbuat kepadanya, karena ia menyadari bahwa saat ini posisi ia sangat sulit, jikapun ia melawan pastinya akan semakin berkobar api kemarahan orang berbadan besar dihadapannya tersebut yaitu Bonanza. Terlebih lagi terdapat beberapa jumlah kawanannya yang stay jua didalam ruangan tersebut.


Selepas ia jatuh tersungkur, Alan kembali pada posisi duduk dan hendak berdiri namun ia langsung di tekan oleh Bonanza menggunakan telapak kaki yang terbalut sepatu berbahan dasar kulit.


Seet!


"Mau ngapain kau hah! Hey, Mike! Inikah Sang jagoan balap dan sang pahlawan kesiangan hah!" Teriak Bonanza.


Alan belum menjawab satu kalimatpun dari apa yang tengah Bonanza bicarakan, karena ia menyadari bahwa ia bukanlah Mike. Dan segala apapun yang sedang ia alami sama sekali ia tidak mengetahui tentang permasalahan apa sebelumnya. Diantara mereka.


Bonanza semakin geram karena ia sama sekali tidak mendapati perlawanan ataupun ucapan dari orang yang sangat ia benci tersebut.


"Hey! Mike! Kenapa kau diam saja hah? Apakah kau takut? Atau inikah sebenarnya kau jika tanpa kawan-kawan kau hah, dasar pecundang!"


"Tanpa kawan ataupun ada kawan, inilah adanya saya, apapun yang kau ucapkan saya sungguh tidak tahu! Jika kau mengatakan saya seorang pecundang, coba lihatlah diri engkau tetlebih dahulu, bukankah kau sedang membicarakan diri kau sendiri?" Jawab Alan.


"Apa kau bilang hah!" Bonanza terbakar emosi.


"Haruskah saya mengulangi kalimat saya, sementara jarak diantara kita tidak begitu jauh? Ataukah mungkin Indra pendengaran kau yang telah rusak?" Lanjut Alan.

__ADS_1


"Bed*bah kau ******** Lunik! Berani-beraninya kau menghinaku! Rasakanlah ini!" Bonanza kalut dalam emosi ketika mendengar kalimat Alan yang menyinggung dirinya. Alhasil tanpa basa-basi lagi ia langsung memulai untuk menganiaya Alan pada saat itu juga.


***


PADA SISI MIKE


Ketika Mike sedang berada didalam mobil yang mana posisi ia duduk didekat jendela kaca, ia masih belum sadarkan diri. Perjalanan mereka hampir sama seperti perjalanan Anwar dan Rehan kala menemukan Alan.


Ketika mobil taksi yang ditumpangi oleh Anwar, Rehan dan juga Alan berjalan hendak menuju markas, adalah waktu dan detik yang sama ketika Satria dan Andika memasukkan Mike kedalam mobil taksi jua hendak menuju markas mereka.


Namun, didalam perjalanan Satria dan Andika yang tengah membawa Mike, mereka terjebak kemacetan parah dijalan raya, sehingga Anwar dan Rehan lebih dulu sampai di markas ketika membawa Alan.


Karena kemacetan parah, Andika seringkali mengomel kepada sang sopir supaya mereka segera sampai di markas mereka, membuat sang sopir sedikit merasa geram karena penumpang tersebut tidak menyadari posisi saat kemacetan yang sedang terjadi. Namun apalah daya, sang sopir hanya mampu untuk bersabar menahan emosi ketika ia berkali-kali dibentak oleh Andika dari kursi belakang.


**


Beberapa waktu kemudian, mobil taksi yang sedang mereka naiki berjalan cukup pelan ketika menjelang sampai pada markas mereka. Berlahan-lahan namun pasti, Mike kembali membuka matanya, namun ia langsung berteriak-teriak cukup lantang ketika ia mulai sadarkan diri dari pingsannya.


Mengetahui hal tersebut, membuat Andika dan Satria yang posisi duduk disebelahnya sangat terkejut, lalu Andika langsung mengayunkan siku tangannya tepat pada dada Mike.


"Aiish! Berisik kau!"


Seet!


"Aarrggh!" Mike merintih kesakitan ketika dada ia di senggol cukup kuat oleh siku tangan Andika. Seraya ia memegang dadanya tersebut.


Sebuah keajaiban telah terjadi, saat setelah Mike sadarkan diri dengan sempurna, ia telah mendapatkan kembali ingatannya dengan sangat sempurna.


'Oh Tuhan, siapakah Alan ini, kenapa aku menjadi dirinya, oh tidak! Ya Tuhan, kenapa bisa seperti ini' Batin Mike merasa sangat terkejut ketika ia menyadari segala hal yang telah ia lalui dalam beberapa hari ini, ketika ia tidak mengingat siapa dirinya adalah bukan kehidupannya.


Selanjutnya ia menoleh kearah sebelahnya, ia merasa sangat terkejut ketika ia menyadari ia sedang berada didalam mobil yang sama dengan para musuhnya.


"Kau? Ini..loh, kok, Ngapain kau orang." Ucap Mike merasa bingung.


"Tak usah kau melotot macam itu Mike!" Jawab Andika seraya mengayunkan siku tangannya hendak kembali kearah dadanya.


Seet!

__ADS_1


Mike langsung menangkis tangan Andika ketika tengah ia ayunkan kepadanya seraya ia melotot tajam kearah mereka berdua.


"Hey! Apa maksud kau! Beraninya kau!" Bentak Mike.


__ADS_2