
Jessi mundur satu langkah seraya melotot penuh amarah, akan tetapi tiada kalimat apapun yang ia katakan melainkan tatapan tajam tiada padam.
Sementara Mike memegangi pipinya sendiri sehabis di tampar olehnya, maka hendaklah ia menyuarakan kata lembut kepadanya. "Alangkah ringan Nihan kau punya tangan, Nona …"
"Diam Loe! Apa loe pikir gue cewek gampangan yang mau di peluk oleh siapa aja hah!"
"Maaf, Aku samasekali gak bermaksud seperti itu." Jawab Mike.
Jessi menahan amarah seraya melirik ke arah Alan, Dalam benaknya berpikir disaat seperti ini, Alan masih samasekali tidak meresponnya atau setidaknya ikut andil didalamnya, Maka lekas ia mundur satu langkah lagi kemudian dilanjutkannya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Hei, hei, Jessi Tunggu!" Panggil Mike hendak mengejarnya, namun lima langkah kakinya berpijak, ia menghentikan langkahnya lagi. Lantas menoleh ke arah Alan terlihat diam saja, maka ia langsung menghampirinya.
"Lan." Panggilnya, dalam ekspresinya mengatakan 'Kenapa tidak mengejar dia?'
"Kenapa kamu melakukan itu Kak?" Tanya Alan, berbalik dari yang Mike pikirkan.
"Hah Melakukan ...? Tunggu, melakukan apa yang kamu maksud itu Lan," Jawabnya bingung sebabnya apa yang dipikirnya berbeda dari sang adik, maka lekas ia meraih tangannya. "Kita duduk di situ dulu" mengarah ke kursi taman yang tersedia di sana.
"Lan," Panggil-nya lagi setelah mereka sudah duduk bersama lantaran Alan masih diam saja.
"Apa tujuanmu melakukan itu kak?" Tanya Alan secara To the poin, yang mana semua itu tidak bisa di cerna langsung oleh sang kakak.
"Maksudmu melakukan yang Mana Lan? Kata-kata kamu itu mengarah ke beberapa arti, perjelas dikit napa kalau ngomong." Jawabnya seraya mencabut rumput dari bawah kaki kemudian ia gigit rumput itu menunggu sang Adik berbicara.
Sementara Alan sangat sulit untuk memulai kalimat yang hendak ia katakan kepada sang kakak, yang mana sebenarnya ia hendak bertanya
'Bagaimana bisa ada Jessi disini dan seakan ada sebuah janji sebelumnya untuk bertemu di tempat ini, Bagaimana semua itu terjadi ...? Kenapa kakak melakukan itu dan apa tujuannya? Bukankah kakak sudah tahu bahwa aku samasekali tidak menyukai gadis itu, lalu kenapa kakak seperti membuka harapan sama dia ... ?'
Ya, itulah kalimat-kalimat yang ada didalam benak Alan, namun sulit baginya untuk mulai mengatakannya, sehingga sampai beberapa menit mereka duduk di kursi taman itu, Alan masih diam seribu bahasa.
"Lan, Oeh" Panggil Mike seraya menepuk pundaknya.
Plek!
Membuat Alan terkejut "Eh,"
"Ah, eh, ah, eh, Astaga … kenapa pula kamu masih diam aja, Lan. Buruan ngomong, yang kamu maksud tadi 'Melakukan yang mana?' " Tanya Mike seraya menyemburkan rumput yang digigitnya itu ke arah samping.
"Bruff!"
"Sudah lupakanlah, kak." Jawabnya.
"Aish, Kebiasaan sekali kamu Lan Ngomong belum jelas sudah di pangkas, Huh!" Gerutu Mike.
"Oh ya Lan, Anu … Maafin aku, itu … Tentang Jessi …" Mike ragu-ragu hendak menyatakannya. Dan pada sebenarnya Inilah yang sedang Alan tunggu namun tidak bisa ia tanyakan semenjak tadi.
__ADS_1
"Aku harap kamu jangan terburu menilaiku yang tidak-tidak tentang ini Lan, Aku udah tau alur kisahmu dengan dia (Jessi) dan aku mengerti tentang semuanya, Maafin aku kalau yang ku lakukan ini salah menurut kamu." Ucapnya.
"Apa rencanamu Kak?" Tanya Alan, lagi-lagi secara to the poin.
"Aku hanya sedang berusaha melakukan yang terbaik untukmu." Ucapnya lagi, kali ini Mike-lah yang penuh misteri sehingga sulit di cerna oleh Alan.
"Maksudmu?"
"Ananta." Jawab Mike.
"Maksudnya dengan Ananta?" Ulang Alan, masih belum mengerti.
"Ya, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya padamu, jaga dia sebaik-baiknya. Kamu adik kesayanganku, sementara Dia (Ananta) sahabat terbaikku. Jadi ... Apapun halangan yang menghadang kalian, aku akan melindungi kalian Sampai titik darah penghabisan." Jawabnya sok Cool.
"Cih, Lebay." Jawab Alan meliriknya serta senyum khas tampak malu.
"Heleh, biarpun lebay begini berhasil membuat wajahmu memerah tuh. Ciaa .. Ciaaa Merah tu wajah mu Lan .. ciaaa." Goda sang Kakak yang mana membuat Alan semakin tampak malu.
"Cih, Apa sih Kamu, Kak. Konyol!" Jawabnya.
"Hahaha"
"Tunggu dulu Kak, lalu itu …" Lanjut Alan sebelum tuntas ia berkata, sudah di jawab langsung oleh Mike. "Jessi kan Maksudmu?"
Alan mengangguk.
"Siasat misteri." Jawab Alan beranjak berdiri dari kursi serta senyum nan melirik sang kakak.
"Oeh, maksudmu siasat misteri apa'an Lan?" Tanya Mike beranjak berdiri juga.
"Wajah kamu memerah tuh." Ledek Alan.
"Aish Sue!" Mike tampak malu, sebabnya sudah tertebak oleh Alan.
"Semakin merah tuh." Ledek Alan lagi seraya memijakkan kaki perlahan meninggalkan kursi duduk itu.
"Aish sue! Apa yang kamu pikirkan itu Lan, Haiyaa … Oih Lan, Mau kemana?" Seru Mike lantaran Alan melangkah jaraknya semakin jauh darinya, Lantas Alan menghentikan langkahnya sejenak.
"Memang mau kemana Lagi? ayo cepatlah, kita pasti sudah di tunggu sama Ayah." Jawabnya lantas melangkah lagi.
"Oh iya, Aku lupa kita kan ... lagi makan malam bareng Papa dan tamunya Papa. Wei Lan, Tunggu! kita naik motor bareng aja biar cepat." Seru Mike, tapi tidak di gubris oleh sang adik lantaran jaraknya semakin jauh.
"Haiyaa … bener-bener dah adik satu ini." Gumam-nya lantas bergegas menuju ke arah motornya.
****
Next
__ADS_1
Saat ini waktu menempati pukul 23:45 Pm.
Perkara yang terjadi di taman tadi cukup memakan waktu tertambah percakapan antara Mike dan Alan nyaris membuat mereka lupa bahwasanya saat ini mereka sedang santap malam bersama sang Ayah.
Jarak antara taman itu dengan lokasi restoran tempat mereka makan malam memang tidak begitu jauh, yakni kurang lebih 250 meter. Namun, bila di tempuh berjalan kaki cukup memakan waktu hingga beberapa menit, apalagi bila berjalannya pelan layaknya Alan ini.
Disisi Mike terdapat kendala pada kendaraan bermotornya, yakni ban bocor sehingga awal mula ia bergegas mencari tambal ban terlebih dahulu, tapi kebetulan di area sana tidak ada tambal ban, Lantas mencari tambal ban yang lokasinya berbalik arah dari restoran itu. Sehingga ia tidak bisa langsung menghampiri Alan yang kini sedang jalan kaki menuju kembali ke restoran tersebut.
Sementara Disisi Alan sudah menjadi kebiasaannya berjalan kaki sembari menundukkan kepala, mengingat ia memang tipikal orang pemalu sekaligus tidak percaya diri bila di ranah publik. Lantas tiba-tiba ia di kejutkan oleh suara klakson motor dari arah sampingnya.
Tin … Tin ..
Suara klakson itu sangatlah nyaring sebabnya pada jalan itu sudah mulai sepi pengendara yang melintas, hingga membuatnya terkejut.
"Wei Bro!" Seru pengendara tersebut, tak lain ialah Jovan.
Alan menolehnya
"Haha kaget yak, Wei Men, jalan tuh liat ke depan, belakang, kanan, kiri, timur ke barat selatan ke utara, haha musti lengkap Men, biar kagak nyungeb loe. Eh, Lagi ngapain loe malam-malam jalan di sini sendirian, kek orang ilang aje." Celotehnya.
Alan hanya tersenyum saja sembari menggelengkan kepala mendengar kekonyolan atas perkataan dia.
"Aish lagi-lagi gua kek ngomong sama tembok dah kagak di jawab, elah …" Celotehnya lagi seraya menstandarkan motornya.
"Kamu sendiri darimana?" Tanya balik Alan.
"Biasa lah .. Hehe, Btw gua serius tanya loe kenapa jalan disini sendirian? apa lagi kesasar? Kuy, naik gih Gua anterin loe balik. Biar sekalian jalan." Tawarannya.
"Terima kasih, aku bersama ayah dan kakak kok." Jawabnya. Lantas membuat Jovan lekas menoleh ke seluruh penjuru arah. "Lah, dimana mereka?"
"Ada di sana. Aku … pergi dulu ya, sudah di tunggu mereka." Pamit Alan.
"Oh, oke, oke .." Pungkas Jovan sedikit melambaikan tangan kemudian ia kembali menyalakan mesin kendaraannya.
Bruum .. Brum ..
Namun, sebelum ia melajukan kembali kendaraannya, tiba-tiba saja ia mendengar suara seseorang teriak terdengar tidak asing di telinganya.
"Arrgh! Lepaskan saya!" Teriak orang itu.
Jovan menoleh ke sumber suara itu yang letaknya ke arah Alan melangkah tadi. Lantas … Setelah ia menoleh ke arah sana membuatnya kian melotot melihat apa yang terjadi.
"Astaga Tuhan, Michealan!" Ia bergegas turun dari atas motor lekas berlari menuju ke arah sana.
"Woi ...! Berhenti, lepaskan Dia!" Teriak-nya.
Bersambung ...
__ADS_1