
Daniel terkejut ketika melihat mata Marvin terlihat nampak sembab.
"Segera Bangunlah Daniel, mari ikut saya"
"Tat..tapi.. aiyayaya baiklah Vin." Jawab Daniel langsung mengerti apa maksud Marvin jika mendengar kalimat Marvin nampak bersikukuh seperti itu.
Kemudian mereka langsung berkemas hendak langsung pergi meninggalkan rumah penginapan tersebut. Daniel langsung memacu kendaraannya hendak menuju kediaman Ferdi sesuai yang Marvin sebutkan. Namun ketika masih didalam perjalanan, Marvin meminta Daniel untuk mencari keberadaan Mesin penarik uang ataupun mini market terdekat yang menyediakan mesin ATM terlebih dahulu.
Namun selama mereka sedang didalam perjalanan hendak menuju kerumah pak Ferdi, tidak ada satupun minimarket ataupun mesin ATM terdekat yang ada dipinggir jalan. Meskipun ada beberapa minimarket yang ada dipinggir yang tertera, namun kebetulan sudah tertutup semua. Karena cuaca malam itu sangat begitu ekstrim. Dan juga didalam perkampungan tersebut sangat jarang ada minimarket yang terbuka hingga 24 jam.
Karena Marvin bersikukuh untuk mencari keberadaan mesin ATM berada, sehingga mereka berjalan cukup jauh, bahkan melewati kediaman pak Ferdi hingga puluhan kilometer jarak tempuh yang mereka lalui.
Ketika yang ia cari telah ditemukan, dengan segera Marvin menyelesaikan urusannya tersebut untuk mengambil beberapa nominal uang didalam mesin ATM tersebut. Karena ia sangatlah jarang memegang uang tunai.
Kemudian, mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju tempat tujuan yang sedang dituju, yaitu dikediaman pak Ferdi. Hingga saatnya tiba dikediaman pak Ferdi, waktu sudah lewat tengah malam, karena ada beberapa diantara jalan yang mereka lintasi terdapat jalanan yang berlubang, menyadari didaerah kawasan tersebut dilintasi oleh kendaraan besar bermuatan barang industri dari berbagai pabrik yang berada disana.
Ketika mereka tiba dikediaman pak Ferdi, disana masih ada beberapa warga yang berjaga diluar rumah sembari masih mempersiapkan beberapa perlengkapan jenazah yang hendak dilaksanakan pemakaman pada esok pagi.
"Eh, pak.." Sambut salah satu warga ketika Marvin dan Daniel kembali jalan kearah mereka sesaat setelah ia keluar dari dalam kendaraanya.
Kemudian, ketika Marvin dan Daniel baru sampai, mereka mendapati Ika belum tertidur dan juga kebetulan ia sedang keluar dari dalam rumah hendak membicarakan sesuatu kepada salah satu warga yang berada di luar rumah tersebut.
Dengan segera Marvin langsung menghampirinya.
"Bu, apakah bisa berbicara sejenak?"
Kemudian Ika mengangguk dan langsung mengambil salah satu kursi plastik yang tertera disana untuk mempersilahkan Marvin duduk.
Sebelum ia memulai percakapan, Marvin masih diam sejenak, dan didalam benaknya sangatlah ingin sekali ia langsung bertanya dan menyatakan bahwa Alan adalah putra kandungnya, namun ia bukanlah orang yang tidak bisa melihat situasi dan kondisi. Alhasil ia menghentikan niatnya tersebut untuk tidak langsung mengatakan yang sesungguhnya.
"Pak, ada apa ya? Bukankah bapak yang tadi sore datang itu ya?" Tanya Ika secara langsung karena Marvin belum jua mengucapkan kalimat apapun hingga beberapa detik.
"Iya Bu, benar sekali."
"Lalu.. ada keperluan apa pak sehingga tengah malam seperti ini bapak kembali hadir kesini? Sementara acara pemakaman hendak berlangsung pada esok pagi?"
Marvin masih terdiam sembari menatap Ika dan sedang berbicara ratusan kata didalam batinnya.
"Pak..?"
"Iya, maaf ini.."
Marvin mengeluarkan uang yang tersemat didalam amplop coklat dalam jumlah cukup besar dari dalam tasnya dan langsung menyodorkannya ke Ika.
"Ini apa ya pak?"
"Ambillah Bu, ini bukan apa-apa dan jua tidak seberapa"
"Tapi, ini.."
Ika sembari melihat isi didalam amplop coklat tersebut yang Marvin berikan berisi uang dalam jumlah yang banyak.
"Ini maksudnya apa ya pak? Saya sungguh tidak mengerti maksud bapak. Dan juga bapak ini sebenarnya siapa ya pak?"
"Saya adalah.. Ah tidak, ambillah saja uang ini Bu, untuk biaya anak sekolah ibu dan kebutuhan hidup ibu."
"Tapi.. saya tidak mengerti kenapa bapak memberikan saya uang dalam jumlah sebesar ini?"
__ADS_1
"Jumlah uang yang saya berikan ini tidak sebanding dengan kemuliaan ibu dan juga beliau, tolong jangan menolak ini" jawab Marvin.
"Iya, tapi.."
"Sudah Bu, ambillah saja dan saya mengucapkan banyak terimakasih kepada ibu dan juga beliau yang kini sudah tenang didalam surga." Lanjut Marvin.
Sementara Ika masih kebingungan dengan maksud apa yang sedang Marvin bicarakan. Namun Marvin bersikukuh untuk memberikan uang tersebut dan tidak ingin Ika menolak pemberiannya itu.
"Yasudah Bu, saya minta maaf karena tidak bisa ikut dalam upacara pemakaman beliau pada esok pagi, karena saya harus segera kembali ke ibu kota secepatnya." Lanjut Marvin sudah beranjak berdiri dari tempat duduknya dan menyodorkan tangan hendak bersalaman.
Karena Marvin langsung to the point, alhasil Ika membalas salam dia dan masih merasakan kebingungan dengan segala maksud Marvin yang tiba-tiba datang dirumahnya saat kebetulan Ferdi tiada kemudian kini memberikannya uang dalam jumlah yang besar.
Kemudian Marvin bergegas menuju kembali kearah mobilnya terparkir dihalaman depan rumah pak Ferdi bersama dengan Daniel. Namun ketika Marvin sudah sampai dan hendak masuk kembali kedalam kendaraannya, belum jadi ia lakukan ketika tiba-tiba ada pemuda berlari tepat di samping kendaraannya nampak terburu-buru.
Kemudian Marvin melihatnya sejenak ketika pemuda tersebut langsung berlari menuju Ika.
***
"Kenapa kau pulangnya malam sekali nak, mana Alan, kenapa tidak ikut pulang?" Tanya Ika kepada pemuda tersebut yang ternyata itu adalah Yadi.
"Aiih, memang dasar anak sampah itu tidak tau diri ma! Aku samasekali tidak menemukan keberadaannya!" Jawab Yadi.
Sontak membuat Marvin melotot setelah mendengar dengan jelas ketika kalimat tersebut dilontarkan oleh Yadi bahwa menyebut putranya adalah anak sampah.
'Astaga Tuhan, anak sampah?' batin Marvin.
"Haduh! Si Alan kenapa pula pergi sih, kemana sebenarnya dia, tidak tahu diri sekali anak itu! dan juga akhir-akhir ini dia sudah berubah menjadi sok berani." Jawab Ika nampak kesal.
"Aihh memang benar yang ayah bilang, dia emang anak tak tau diuntung, yasudahlah ma, males banget aku ngurusin dia, capek!" Jawab Yadi langsung bergegas masuk kedalam rumah. Dan langsung disusul jua oleh Ika.
Setelah mereka masuk kedalam, Daniel kembali keluar dari dalam kendaraannya, sementara Marvin masih berdiri menghadap kerumah mereka dengan mengepalkan tangannya.
"Vin, mari cepatlah masuk, hujan akan segera turun" ajak Daniel.
***
Kemudian Ketika mereka sudah kembali didalam perjalanan, Marvin tetap terdiam tanpa ada perkataan apapun, Daniel berkali-kali menoleh sembari menyetir dan hendak bertanya-tanya tentang ada perlu apakah sebenarnya Marvin datang ke daerah tersebut, namun Karena Daniel sendiri merasa sungkan, alhasil Daniel pun tidak mengajaknya berbicara dan menilap segala keinginannya hendak bertanya.
Di tengah perjalanan menjelang sampai di Dermaga, hujan turun sangat lebat diiringi suara gemuruh dari Guntur yang sangat menggelegar. Seketika membuat lamunan Marvin menjadi terpecah.
"Wah, deras sekali hujannya, kira-kira sampai jam berapa kita di ibu kota Daniel?" Tanya Marvin setelah sekian lamanya terdiam sedari beranjak dari daerah perkampungan itu.
"Ya tidak bisa dipastikan sampai jam berapa Vin, kita lihat saja perjalanan lautnya lancar atau tidak."
"Oh.. iya" jawab Marvin singkat dan kembali terdiam.
Kemudian perjalanan pun terus berlanjut walaupun dalam keadaan hujan yang sangat lebat.
(Maklum pak Daniel kan jago berkendara hehe jadinya tancap gas terus)
***
Disisi Alan Vs Mike
Jam sudah menunjukkan tepat pukul 06:00 am. Diantara Mike dan Alan masih tertidur dengan sangat pulas. Disisi Alan sendiri biasanya ia bagun dari subuh, namun karena ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, alhasil iapun masih belum jua bagun.
Di lantai bawah, Bu Tiah telah selesai memasak makanan sesuai yang Mike pinta pada malam hari, yaitu ayam goreng kesukaannya dan beberapa masakan lainnya yang ia pinta untuk Alan. Kemudian Bu Tiah melihat kearah jam sudah tepat pukul 06:00 am.
__ADS_1
'Wah, sudah siang ternyata, hm.. kakak Mike belum juga bangun apa ya.. kok belum terdengar suara apapun dari sana' batin Bu Tiah seraya melihat kearah lantai atas.
Kemudian ia bergegas hendak menuju kamar Mike. Saat setelah ia sampai tepat didepan pintu kamar Mike, ia hendak mengetuk pintu kamar tersebut, namun ia menghentikan sejenak niatnya tersebut.
'Eh, tunggu-tunggu, yang semalam saya lihat itu mimpi atau kenyataan ya, kakak Mike ada dua?' batin Bu Tiah masih belum mempercayai apa yang tengah ia lihat pada malam hari. Kemudian ia langsung mengetuk pintu kamar tersebut.
Tok tok tok
"Kak.. kakak Mike.. kak.. sudah siang kak,"
Tok tok tok
"Lah, kok gak ada suara dari dalam."
Karena Bu Tiah penasaran ia mencoba membuka pintu kamar tersebut.
Clek klek
Kebetulan pintu kamar tersebut tidak dikunci.
"Lah.. kok gak di kunci?"
Kemudian Bu Tiah hendak mengintip kearah dalam untuk menghilangkan rasa penasarannya, namun ia terpikir jika sampai Mike melihat ketika ia mengintip, pastilah ia akan marah menyadari Mike paling tidak suka jika ada orang lain masuk kedalam kamarnya, bahkan ayahnya sendiri.
Alhasil Bu Tiah tidak jadi melakukannya dan ia langsung bergegas turun kembali kelantai bawah dan melanjutkan kembali aktifitas pekerjaannya.
***
Ketika Bu Tiah sudah beranjak pergi dari dalam luar pintu kamar tersebut, tangan sekaligus kaki Mike menimpa wajah dan tubuh Alan dalam posisi masih sesama tidur.
Plak!
Brek!
"Awwh, aih, Kebiasaan sekali kau Verza!" Ucap Alan ketika tangan Mike menimpa wajahnya sekaligus kaki Mike menimpa bagian tubuhnya. Namun posisi mata ia masih terpejam. Dan ia masih terpikir bahwa ia masih didalam asrama tengah beristirahat bersama Verza.
Kemudian ia langsung menyingkirkan kaki sekaligus tangan Mike yang menimpa dirinya.
Seet!
Namun setelah ia singkirkan, tangan Mike malah kembali lagi ke wajah Alan dan bahkan jauh lebih keras
Plek!
Brek!
"Aiissh"
Sontak membuat Alan langsung terbangun dan langsung menoleh kearah Mike.
"Astaga!"
Ia sangat terkejut ketika baru membuka matanya dan menoleh kearah Mike yang mana Mike tertidur menghadap kearahnya. Ia sangat terkejut karena ia melihat wajahnya sendiri didalam wajah orang lain.
(Namanya juga baru bangun tidur, istilahnya nyawa Alan blom sepenuhnya kumpul hehe)
Karena ia sangat terkejut, kemudian ia langsung bergeser kesebelah dan akhirnya menjadikan ia langsung terjatuh dari atas kasur.
__ADS_1
Brak!
"Awwwhh"