
Catatan:
Jangan lupa perhatikan petunjuk pada Tag ya.
__
#Disisi Alan
Kalimat singkat yang keluar dari mulut sang anak kian membuat hati Marvin bagai tersayat. Lantaran kini harus menerima kenyataan sesuai yang dikatakan oleh sang dokter, bahwasanya sang anak kini kehilangan ingatannya.
Memejamkan mata perlahan lantaran terngiang akan segala kesalahan yang dia lakukan pada putranya lantaran dia memang kerapkali tak memperhatikan dia sedari masih balita, bahkan tidak pernah menyisakan waktu untuk bersamanya walau hanya satu jam saja.
Mengulur tangan perlahan hendak menggenggam telapak tangan sang anak. Tetapi kenyataan tidaklah sepadan dengan keinginannya lantaran Alan lekas menyingkirkan tangan dia dari sisinya.
Marvin menyadari semua ini, hingga air mata berlinang membasahi pipi, dia tahan rasa pedih itu perlahan dia menjelaskannya persatu-satu, "Saya adalah Marvin, papa kamu Nak, dan ... kamu adalah Mike, putraku." Membubuhkan senyuman diiringi deraian air mata.
Sementara Sifat terdasar yang dimiliki Alan pendiam, maka membuatnya terdiam seribu bahasa, tetapi sekian mendengar Marvin mengulang kalimatnya, akhirnya dia sedikit berkata "Marvin ...? Mike ...?" tampak bingung bagaikan ling-lung.
"Iya kamu Mike, apakah kamu samasekali tidak ingat papa, Nak?" Mengulur tangannya lagi meraih tangan Alan lekas dia genggam.
Semula Alan hendak menyingkirkannya lagi lantaran sejatinya dia paling enggan bila bersentuhan dengan orang lain, tetapi, melihat mata si pria dewasa disisinya itu nampak tulus, maka dia biarkan si Pria dewasa itu menggenggam telapak tangannya. Dia hanya mampu menggelengkan kepala sebagai tanda tidak ingat siapa dirinya maupun siapa yang sedang berbicara didepannya.
Serasa Marvin ingin mengemukakan banyak kata, tapi terhenti begitu Dokter tiba didalam ruang perawatan putranya. Sang dokter lekas berkata sesuai kondisi yang dialami oleh putranya itu, supaya jangan banyak di tanya-tanya dulu, lantaran semua itu tak baik untuk kesehatan putranya justru akan memperburuk kondisi memori ingatannya.
Tak lupa sang Dokter membubuhkan saran pada Marvin agar pelan-pelan dalam menatih ingatan putranya itu, untuk memperkenalkan kembali lingkungan hidupnya.
Kini, Alan bagaikan bayi yang baru saja di lahirkan. Meski tak semuanya hilang dari dirinya, seperti Sifat, Sikap, Nada bicara, kepintaran dan bakatnya semua itu masih melekat dalam jiwanya. Sehingga meski kini dia tak mengingat siapa dirinya serta meski di ajari dan dididik kembali, Karakternya tak mungkin bisa berubah dan tak mungkin bisa sama seperti saudara kembarnya.
Lantas sang Dokter menyampaikan saran juga Alan sudah bisa di rawat jalan lantaran dia hanya cedera di bagian kepalanya saja, untuk bagian tubuh yang lain tetap aman, karena tidak ada hal yang fatal seperti patah tulang dan lain sebagainya.
#Skip
__
#Disisi Mike
Kecepatan saat dirinya tergelincir di lereng gunung itu sangatlah luar biasa, tangan tak mampu meraih pepohonan kecil berukuran setara genggaman tangannya berujung terguling sampai tiba ke dasar jurang itu.
__ADS_1
Lantas begitu tubuh terguling tiba di dasar jurang, nahas kepalanya terpentok bebatuan berujung tubuhnya terjebur ke sungai yang terletak di ujung jurang itu.
Terseret arus deras dari sungai itu dan hanyut hingga beberapa kilo meter jauhnya dari jarak lereng gunung tersebut, tak heran susah bagi Saga, Dion dan Samuel mencari keberadaannya hingga hari sudah berganti siang.
__
#Pada sisi Lain.
Para warga dan ke-3 temannya terus mencarinya pagi itu, masih tidak bisa menemukannya. Bahkan beberapa tim SAR pun yang telah di kerahkan, tetap tidak bisa menemukan tanda-tanda keberadaannya.
"Kami sudah mencari ke seluruh penjuru tempat ini, tapi teman anda tidak dapat kami temukan, Dik." Ucap salah satu tim SAR kepada Saga, Dion dan Samuel.
"Tapi Pak, apakah masih bisa bapak lanjutkan pencariannya pada hari esok Pak?" Tanya Saga.
"Maaf, seribu maaf dik, kami tidak bisa melanjutkan pencarian ini, kami benar-benar sudah mencari ke seluruh penjuru tempat ini, adik-adik juga sudah melihat sendiri beberapa anjing pelacak saja tidak berhasil menemukan tanda-tanda keberadaan teman kalian," jawab tim SAR.
Lantas para Tim SAR perlahan pergi meninggalkan tempat itu di susul jua para warga berombongan.
"Pak, Pak, tunggu sebentar Pak," panggil Saga kepada Pak RT setempat yang ikut serta dalam pencarian bersama tim SAR. Dia pun menoleh sejenak "Ya Dik?"
"Maaf Dik, tadi kalian sudah lihat sendiri bukan? kita semua telah mencari teman Adik ke seluruh penjuru tempat ini, tapi teman adik tidak bisa kami temukan"
"Tapi pak?" Saga merasa sedih.
"Dik, kami juga tak bisa memastikan antara teman adik itu masih ada atau tidak karena ... di kawasan ini masih ada banyak binatang liarnya dik." Jelas Pak RT.
"Sebaiknya Adik-adik ini secepatnya juga segera tinggalkan tempat ini, karena jika adik hanya bertiga saja berada di kawasan ini, itu sangat berbahaya" Sambung para warga yang lain ikut andil berbicara. Selepas itu, mereka melanjutkan langkahnya pergi dari sana.
Sementara ketiga pemuda itu masih berdiri di tempat yang sama, lantaran masih bimbang dengan keadaan yang ada.
"Saga, ayuk sebaiknya kita juga pergi dari tempat ini." Ajak Dion.
"Benar yang Dion katakan Saga, sebaiknya kita pergi. Kita juga gak tau kayak gimana tempat ini, Ayolah teman" Bujuk Samuel.
Akhirnya Saga mengikuti mereka beranjak pergi meninggalkan kawasan tersebut hendak menuju kembali ke penginapan. Setelah sampai disana, mereka bertiga lekas berbenah beberapa barang yang mereka bawa untuk segera kembali pulang ke ibu kota.
"Maafkan kami-kami Mike ..." Tak henti Saga berkata lantaran dia sesungguhnya masih tak rela pergi sebelum menemukan keberadaan sahabatnya itu, tapi apalah mau di kata, keadaannya memang seperti ini.
__ADS_1
Ya, Saga-lah yang paling utama merasa bimbang selaku dia yang merekomendasikan tempat itu kepada seluruh teman-temannya, ia merasa bertanggung jawab penuh atas segala kejadian yang Menimpa Mike. Walau sebenarnya tidaklah demikian, karena acara mendaki tersebut memanglah sudah jiwa mereka masing-masing. Dan murni dari keinginan dari setiap individu yang bersangkutan.
Saga membawa serta barang milik Mike, berupa tas dan telepon genggam. Yang mana sebelum Mike terpeleset dia memang sempat menaruh hapenya terlebih dahulu di tempat mereka berkumpul di atas gunung sana.
__
Tak selang waktu lama, mereka sudah berada didalam mobil, dalam perjalanan menuju kembali ke Ibu Kota.
"Hei bro gimana nih, jika nanti kita udah sampek di kota apa kita nanti mau ngasih tau orangtuanya Mike langsung tentang ini?" Tanya Dion mengawali perbincangan setelah beberapa jam mereka di perjalanan.
"Iya, itu harus." Singkat Saga meliriknya.
"Lalu kita mau jawab gimana kalo orangtuanya tanya-tanya Bro?" lanjut Samuel.
"Ya Kita kudu ngomong terus teranglah sama orangtuanya Mike, sejelas-jelasnya." Jawab Saga.
"Tapi ... apa kagak apa-apa kita ngomong Mike ilang? lalu, gimana kalo kita ujung-ujungnya di seret ke kantor polisi?" sambung Dion.
"Hah? Loe ngomong apaan si Dion. atas dasar apa kita di seret ke kantor polisi hah? lu ngapa mikir ampek segitunya sik, tanggung jawab loe mana jadi seorang temen hah?" Jawab Saga mulai emosi lantaran kalimat Dion sangatlah tidak etis baginya.
"Ya itu kan cuma seumpama bro, loe kok udah sewot aja sik," lanjut Dion meliriknya melalui kaca spion.
"Gua bukan sewot bro, sekarang gini aja, dengerin baek-baek, kita pergi ke Daerah itu bersama-sama kan? seharusnya kita pulang juga bersama-sama dong? tapi siapa juga yang bakalan nyangka kejadiannya jadi begini? Gak ada yang tau kan? poinnya adalah kita harus konsisten untuk tetap mengatakan kejadian yang sebenarnya sama orang tua-nya Mike. Masalah jawaban orang tua-nya Mike nanti mau ngomong apa ke kita, itu urusan nanti dan jika memang kita di tuntut, itu udah jadi konsekuensi kita. Tapi ... Gua rasa kagak bakalan mungkin sih. Gak masuk akal lah Bray!" Lanjut Saga.
"Heleh, Kagak ada yang kagak mungkin bro, inget-inget, walaupun Mike barbar kayak kita-kita, tapi dia tetep anaknya orang kaya Coy, dan kita juga kan kagak tau orang tua-nya Mike baik apa Kagak." Jawab Dion.
Saga menoleh tampak muram, "Eh, maksud loe apa ngomong begitu? Jadi, loe pikir dan nilai semua orang kaya jahat gitu?" Lanjut Saga.
"Bukan begitu maksud gua bro, aiih ... loe harusnya ngerti lah maksud gua apaan. Duit bro, inget Duit. Logikanya aja jaman sekarang coy, Dengan banyaknya jumlah Duit kebenaran bisa di beli, alias jika posisi kita yang benar dengan mudahnya kita tetap bisa disalahkan karna duit." Jelas Dion.
"Heleh, kagak semuanya orang kaya punya pikiran begitu coy, semua tergantung orangnya. Justru kebanyakan orang-orang yang kekayaannya cuma setengah alias tampangnya doang yang kayak orang KAYA isi dompetnya melompong, utang numpuk dimana-mana itulah yang pikirannya jungkir kayak loe itu." Sindir Saga.
Membuat Samuel terkekeh mendengar perseteruan mereka. Tak terkecuali Dion, semula kukuh dengan pikirannya kini cengegesan sambil garuk-garuk kepala
"Hehehe, sue Loe!"
#Skip
__ADS_1