
Pak Tarman sangat terkejut ketika para warga tersebut menyebutkan kalimat jenazah.
"Iya pak, Pak Ferdi telah wafat pada beberapa jam yang lalu pak." Lanjut para warga.
"Astaga Tuhan, pak Ferdi.." Pak Tarman tidak habis kira bahwa kini pak Ferdi telah tiada dan ia langsung terpikir tentang Alan yang kini sedang dalam perjalanan menuju ibu kota dalam tujuan bekerja mencari biaya untuk kesembuhan pak Ferdi.
"Yasudah pak, kami melanjutkan perjalanan kami dahulu sebelum hari semakin petang." Pamit para warga.
"Baiklah pak, oh iya, acara pemakamannya akan dilaksanakan secara langsung kah?" Tanya pak Tarman.
"Tidak langsung saat ini juga pak, kemungkinan esok pagi baru disemayamkan, menunggu keputusan anak tertua karena beliau tidak terlihat dari tadi siang ketika ia baru saja pulang sekolah, dan kini sedang di cari oleh adiknya." Jawab para warga sebelum ia bergegas melanjutkan perjalanan.
"Anu..aaa..yasudah Baiklah jika memang seperti itu pak, ini juga kami akan segera kesana untuk berbelasungkawa." Jawab pak Tarman pada saat para warga selesai bercakap, ia akan mengatakan bahwa Alan kini sedang dalam perjalanan namun belum jadi ia ucapkan karena para warga tersebut nampak sangat terburu-buru.
Ketika mereka saling bercakap-cakap, Marvin terdiam sembari mendengar dan memperhatikan percakapan diantara mereka.
"Mari pak..kita jalan kesana." Ajak pak Tarman kembali kepada Marvin dan Daniel.
"Tunggu dulu pak, Maksud dari para bapak-bapak itu mengatakan bahwa anak tertua pak Ferdi dari pulang sekolah tidak terlihat itu maksudnya bagaimana ya pak? Apakah anak tertua pak Ferdi sebelumnya berada dirumah?" Tanya Marvin karena yang ia pikir itu adalah Michealan sementara yang ia ketahui Michealan sudah kembali pulang dan saat ini sedang berada dirumahnya.
"Benar sekali pak, tapi sejujurnya kini anaknya pak Ferdi sudah pergi keluar kota pada tadi siang pak." Jawab pak Tarman.
"Apa? Maksud bapak...?" Marvin terkejut.
"Anak itu memiliki hati yang sangat mulia pak, walau ia telah mengalami banyak hal didalam keluarganya, namun ia masih sangat mencintai keluarganya, Anaknya pak Ferdi saat ini sudah berangkat pergi hendak menuju ke ibu kota pak mereka berangkat pada beberapa jam yang lalu, dan saya sendiri lah yang menunjukkan pekerjaan itu kepada beliau pak." Jawab pak Tarman.
' oh tidak! Apakah itu Mike? Tapi..mana mungkin bisa terjadi seperti ini. Astaga Tuhan, Apakah yang sedang terjadi kepada kedua anak-anakku Tuhan..' Batin Marvin.
**
"Apakah bapak tidak salah melihat pak, bahwa dia adalah anaknya pak Ferdi yang bapak temui tadi?" Tanya Marvin.
"Walah, bapak itu bicara apa to pak, saya malah tidak maksud pertanyaan bapak ini hehe, anaknya pak Ferdi yang bernama Alan memang anak warga sini pak, ya pastinya dia tinggal disini, jadi yang bapak tanyakan itu saya malah tidak mengerti pak." Lanjut pak Tarman merasa heran dengan pertanyaan Marvin.
__ADS_1
Begitupun dengan Daniel, ia merasa sangat bingung dengan maksud Marvin, namun ia memilih untuk diam seribu bahasa karena itu adalah urusan pribadi Marvin dan ia sama sekali tidak mengetahui bahwa anak yang sedang dibicarakan bernama Alan alias anaknya pak Ferdi tersebut adalah anak kembar dari Marvin yang hilang pada 17 tahun yang lalu.
Selanjutnya Marvin langsung mengambil telepon genggam didalam sakunya dan langsung memperlihatkan foto Mike kepada pak Tarman.
"Coba bapak lihat foto ini, apakah foto ini adalah anaknya pak Ferdi?"
"Ya, itu benar sekali pak, itu adalah Alan anaknya pak Ferdi." Jawab pak Tarman sembari melihat foto tersebut.
"Ya ampun Tuhan.." Ucap Marvin lirih dan nampak matanya sudah berkaca-kaca.
"Akan tetapi..siapakah sebenarnya anda pak, kenapa anda memiliki foto Alan dan dimana anda memfoto Alan? Maaf jika saya telah lancang bertanya." Pak Tarman terheran-heran. Terlebih lagi ketika ia melihat ekspresi marvin nampak sedih dan sudah berkaca-kaca.
"Apakah sebelumnya anaknya pak Ferdi pernah mengalami sesuatu hal pak?" Tanya Marvin secara langsung dan tidak menjawab yang pak Tarman tanyakan. Karena yang Marvin pikir jika benar itu adalah Mike tidak mungkin jika ia tidak kembali pulang kerumahnya sama sekali dalam beberapa hari ini.
"Iya, ada pak, anaknya pak Ferdi telah mengalami amnesia setelah kejadian terjatuh pada beberapa hari yang lalu pak, namun saya sendiri kurang begitu mengetahui pasti penyebab dia terjatuh dan bagaimanakah perkara kejadiannya, karena saya hanya mendengar kabar berita itu pak." Jawab pak Tarman.
"Ya ampun Tuhan..amnesia?" Marvin sangat terkejut dan sudah tak terbendung lagi air matanya langsung mengalir diantara pipinya setelah mendengar peryataan itu.
' Oh Tuhan, anak-anakku, Mike..Michealan..' Batin Marvin bagaikan tersayat seribu badik mengetahui kedua putranya sama-sama mengalami amnesia.
"Tidak, tidak ada apa-apa Daniel, mari kita segera kerumah almarhum. Mari pak.." Pungkas Marvin menyudahi obrolan dan mengajak mereka untuk segera kerumah pak Ferdi sembari menyapu air mata yang terus-menerus mengalir.
Meskipun hati Marvin tengah merasa sangat kacau ketika mengetahui pernyataan dan kenyataan yang telah terjadi kepada kedua anak-anaknya yang posisinya tertukar, dan sama-sama mengalami amnesia ia berusaha untuk tetap tegar dan tabah.
Dan ia segera akan menyelesaikan urusannya yaitu kepada orang tua yang telah mengasuh anaknya selama 17 tahun yang lalu.
***
Di sisi Mike Stevanus Lawrence
Selama didalam perjalanan, Mike tertidur pulas karena rasa sakit di bagian kepalanya membuat ia merasa pusing. Beberapa waktu kemudian mereka telah sampai di Dermaga, Joy turun dari dalam mobil ketika sudah berada didalam kapal dan beristirahat didalam dek kapal khusus para sopir. Namun sebelum ia turun, ia sudah berkali-kali mencoba membangunkan Mike namun Mike sangat sulit untuk dibangunkan. Alhasil ia meninggalkan Mike seorang diri didalam mobil tersebut ketika sedang dalam penyebrangan laut.
Beberapa menit kemudian, kapal telah bersandar di dermaga, karena kebetulan keadaan air laut sangat bersahabat alhasil perjalananpun sangat lancar, tidak jua terjadi antrian panjang dengan kapal lain ketika kapal yang mereka naiki telah sampai di dermaga menuju ke ibu kota. Joy kembali masuk kedalam mobilnya untuk segera melanjutkan kembali perjalanan darat hendak menuju ke Ibukota.
__ADS_1
Ketika Ia masuk, ia mendapati Mike masih dalam kondisi tertidur sangat pulas.
"Walah anak ini, tidurnya kayak kebo juga ternyata." Gumam Joy bersuara lirih.
**
Matahari sudah terbenam dari beberapa menit yang lalu ketika mereka masih didalam perjalanan laut. Mereka melanjutkan kembali perjalanan hendak menuju tempat mobil berkumpul dengan mobil-mobil lain sesama pengangkut barang hasil panen sebelum sampai tepat di ibukota untuk mengantarkan segaligus menurunkan barang bawaannya.
Ketika mereka sampai, Joy seperti biasanya hendak berkumpul dahulu dengan para sopir-sopir lain sembari meminum secangkir kopi dan lain sebagainya.
"Hey bro, kita istirahat sebentar disini, yuk turun dahulu kita ngopi-ngopi." Ajak Joy.
"Hem" sahut Mike singkat.
"Walah Halah.. anak ini." Gumam Joy ketika Mike tidak membuka matanya sama sekali ketika ia mencoba mengajaknya keluar.
Melihat hal tersebut, Joy langsung membiarkannya untuk beristirahat dahulu sebelum Mike akan mulai memakai tenaganya untuk menurunkan barang, Joy menyadari walaupun ia tidak begitu mengenal Alan sebelumnya namun pastilah berat bagi Alan jika bekerja kasar semacam ini. Itulah yang Joy pikirkan.
Beberapa menit kemudian, Joy menyudahi berkumpul dengan teman-teman sesama sopir ditempat tersebut, ia bergegas untuk segera melanjutkan kembali perjalanannya menuju ketempat tujuan yang sedang dituju.
Ketika masih didalam perjalanan, Joy sangat terkejut ketika mendapati Mike tiba-tiba berteriak cukup keras.
"Aarrrggghhhh!"
Mike berteriak sembari memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Alan, kau kenapa, hey Alan." Joy terkejut sekaligus khawatir sembari satu tangannya memegang pundak Mike sementara satu tangannya lagi masih memegang setir mobil.
"Arrrggg! Kepalaku Arrrghhh!"
Mike masih terus-menerus berteriak-teriak sembari masih memegangi kepalanya.
Ketika ia merasakan sakit yang sangat luar biasa di kepalanya, nampak terlihat bayangan ketika ia terjatuh dari atas tebing gunung sebelum kepala ia menatap bebatuan didasar gunung. Karena ketika ia baru saja terjatuh dan sedang terguling ia masih dapat melihat dan masih sadar sebelum kepala ia menatap bebatuan didasar gunung yang membuatnya kini kehilangan ingatannya.
__ADS_1
Ia semakin berteriak-teriak ketika didalam bayangannya tersebut terdengar ada suara beberapa jumlah orang yang memanggil-manggilnya.
"Hey Mike! Awas dibelakang loe Mike, Oh tidak! Mike, Mike."