Story Of The Lives Twins

Story Of The Lives Twins
BAB 82


__ADS_3

Ucap seseorang tersebut dan tak lain dia adalah Joy. Ya, dia adalah Joy sang sopir mobil pickup bermuatan bahan baku makanan berupa pisang mentah yang tengah dalam perjalanan menuju ke ibu kota hendak menurunkan barang yang ia bawa disalah satu tempat yang berada di ibu kota bersama Mike yang tengah menjadi Alan pada hari kemarin.


Joy tersenyum gembira ketika bertemu kembali dengan Alan, karena pada hari kemarin ketika Mike berpamitan hendak membeli air minum ketika mereka sedang berhenti disalah satu pom bensin, Mike tidak kembali ke pom bensin tersebut. Joy sudah kebingungan dan merasa sangat khawatir ketika Mike tidak kembali lagi kesana.


Hingga berjam-jam ia mengelilingi tempat sekitar sana, namun ia tidak menemukan keberadaan Mike sama sekali. Kemudian ia berinisiatif untuk mengantarkan barang yang ia bawa tersebut seorang diri terlebih dahulu.


Kemudian ia melanjutkan pencarian Mike pada pagi harinya. Ya, pada saat ini ia sedang berjalan terburu-buru dan memakirkan kembali mobilnya tidak begitu jauh dari tempat pom bensin kala itu. Dan tiada sangka ia berhasil menemukan Alan. Dan secara kebetulan yang ia temukan adalah Alan yang asli.


"Hey, dari mana saja kau Lan, asal kau tau, pusing nian kepala ku mencari keberadaan kau! Ah!" Ucap Joy sembari memegang pundak Alan. Dan memang tutur kata dalam berbahasa Joy terbilang cukup kasar.


Sementara Alan sendiri masih terdiam karena tidak mengerti apa maksud ucapan Joy.


"Aiih, kenapa pula kau diam saja. Eh tunggu, itu kenapa kau?" Ucap Joy sembari mendekat kearah wajah Alan, karena masih terdapat banyak bekas luka lebam akibat ia dianiaya oleh Bonanza dan jua mata Alan terlihat nampak sembab akibat terlalu lama menangis.


"Ah, tidak. Saya tidak papa. Abang ini.. anu si itu ya?" Ucap Alan ekspresi wajahnya nampak bingung, karena sebelumnya ia memang tidak begitu mengenali Joy. Ia hanya sekedar tau bahwa Joy adalah warga desanya dan jua pekerjaan Joy selalu keluar kota.


"Aih, anu, anu apaan bro, yasudah ayo kita segera pulang, lelah nian badan nih mencari keberadaan kau bro. Mana pula semua barang gau sendiri yang menurunkannya huh! Yasudah tak apalah yang penting loe baik-baik saja. Tadinya Gua pikir loe nyasar. Haha" Ajak Joy sembari menarik tangan Alan dan tertawa. Kemudian Alan langsung melepaskan tangan Joy.


Seet!


"Tunggu bang, Haga Dipa? Dan maksud semua perkataan Abang apa ya?" Tanya Alan. Karena ia sama sekali tidak mengerti maksud Joy.


"Aiih, macam mana pula kau itu bro! Aneh nian, sudahlah tak usah banyak cakap, lihat lah langit tuh sudah nampak mendung pula." Lanjut Joy langsung menarik Alan menuju kembali kearah kendaraannya berada.


Kemudian mereka berdua langsung masuk kedalam mobil tersebut. Dan ketika mereka baru saja masuk kedalam, Alan terdiam tanpa kata walau didalam batinnya berjuta-juta kata yang ia gumamkan. Karena ia sungguh-sungguh merasa bingung.


Didalam pikiran Alan, ia terbayang ketika terakhir kali sebelum ia hilang ingatan yaitu ingatan tentang perkataan Ferdi kala itu, yang menyatakan bahwa dia bukanlah anak kandung dari mereka.


Kemudian ia terbayang jua perkataan Marvin pada pagi hari ketika Marvin menyatakan bahwa dia adalah anak kandungnya yang hilang pada 17 tahun yang lalu.


Lalu disusul terbayang jua perkataan Mike bahwa ayahnya tidak pernah mengatakan bahwa Mike memiliki saudara kandung terlebih lagi saudara kembar. Walaupun pada akhir kalimat Mike mengatakan jika Mike tahu dari dulu bahwa dia memiliki saudara kembar yang hilang pasti dia akan mencarinya. Namun kalimat terakhir yang Mike ucapkan tidak begitu Alan dengarkan dengan baik-baik sehingga ia bersikukuh didalam satu pemikiran yang tidak ada kepastian mana yang harus ia percayai dan mana yang harus ia pilih.

__ADS_1


Alan terdiam bak orang linglung yang tiada tahu arah dan tujuan hendak kemana takdir kehidupan hendak membawanya dan mana yang harus ia pilih. Dan kini takdir menemukannya dengan Joy yang mana ia sama sekali tidak mengerti kenapa Joy seperti sedang bersama dia sebelumnya. Ya, karena Alan tidak tau menahu bahwa Joy bersama Mike yang menjadi dirinya pada hari kemarin.


Kemudian, Joy langsung memacu kendaraannya hendak memulai perjalanannya kembali menuju ke daerah asalnya.


Disaat Joy memulai melaju kendaraannya, ia berkali-kali menengok kearah Alan, namun Alan sendiri masih saja terdiam. Joy merasa heran, Alan yang sedang bersamanya kini tidak seperti Alan yang kemarin. Yang mana Alan Kemarin lebih banyak bercakap dan bercanda ria dan menyambung jika diajak berbicara dalam pembicaraan kosong yang ia lontarkan.


Namun kini, karena ia melihat ekspresi Alan nampak seperti orang depresi, Joy menjadi merasa tidak enak hendak mengajaknya berbicara. Alhasil ia jua terdiam tidak mengucapkan kalimat apapun kepada Alan. Meskipun ia memiliki banyak pertanyaan yang ada dibenaknya tentang kemana saja Alan pergi pada malam hari yang membuatnya kebingungan mencarinya.


***


Disisi Mike.


Mike melanjutkan perjalananya untuk kembali pulang kerumahnya.


Setelah ia sudah sampai dirumah, ia langsung berlari kembali masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian, menyadari ia masih memakai baju tidur ketika mengejar Alan.


Kemudian, setelah ia sudah selesai berberes, ia langsung kembali turun kelantai bawah dan berlari menuju kearah lemari bufet nampak tergesa-gesa.


"Bu! Bu Tiah! Cepat Kemari..!" Panggil Mike dengan suara lantang kepada Bu Tiah.


"Iya kak, ada apa?" Jawab Bu Tiah setelah dia sampai kepada Mike.


"Dimana kunci mobilnya, biasanya saya taruh disini, tolong carikanlah cepetan!" Ucap Mike nampak tergesa-gesa.


"Ba.. baik kak" jawab Bu Tiah menjadi gemeteran ketika melihat ekspresi Mike nampak marah, walau sebenarnya dia tidak marah melainkan terbawa suasana karena ia sedang sangat tergesa-gesa.


Kemudian, ketika bu Tiah berhasil menemukan kunci mobilnya, Mike langsung menyuruh bu Tiah untuk segera membuka garasi dan pintu gerbang. Kemudian iapun segera bergegas menuju garasi.


Namun, ketika ia tengah melangkah menuju kearah garasi Ayahnya memanggil.


"Mike, Tunggu."

__ADS_1


Kemudian Mike menghentikan langkahnya dan menengok kearah sang ayah.


"Apakah engkau berhasil menemukan Michealan?" Tanya Marvin.


"Bukankah papa bisa melihat sendiri, dia saat ini tidak ada didalam rumah? Aiih pakek nanya segala!" Cetus Mike. Kemudian ia hendak kembali melangkah.


"Tunggu Mike!"


"Apa lagi pa! Tak usah menghalangiku untuk mencari saudaraku! Urus saja sana urusan pekerjaan papa! Yang lebih papa pentingkan itu!"


"Cukup Mike! Kenapa nada bicaramu selalu kasar dengan papa, papa tidak pernah mengajarimu berbicara dengan nada seperti itu!"


"Whatever!"


"Hey Mike! Mau mencari Michealan kemana kau hah!"


"Saya sudah mengerti harus kemana saya mencarinya pa!"


"Mike! Tunggu, papa tidak mengijinkanmu untuk berkendara!"


"Aiih! Apa peduliku pa! Dan apa ini, kenapa papa menghalangiku untuk mencari saudaraku pa! Tidak pedulikah engkau dengan saudaraku pa!"


"Hey Mike! Bukan seperti itu! apakah engkau memiliki SIM untuk berkendara ke daerah itu hah?"


Sontak membuat Mike langsung menghentikan kembali langkah kakinya dan berputar arah berjalan mendekat kepada ayahnya setelah mendengar ayahnya menyebut tentang daerah.


"Apa yang barusan papa bilang?"


"Ya Mike, dengarkanlah, papa sudah tahu semuanya, papa sudah pergi ke daerah sana pada hari kemarin. Dan untuk saat ini Papa tidak mengijinkanmu pergi ke daerah sana jika kau berkendara seorang diri. Sini Berikan kepapa kunci mobilnya." Ucap Marvin.


Sontak membuat Mike yang sebelumnya nampak marah menjadi tersenyum ketika Marvin mengajaknya hendak pergi ke daerah tempat tinggal Alan secara bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2