
Alan melirik Jovan namun tersimpul senyum khas, bertanda bahwa ia merasa senang atas kehadiran Jovan meskipun mulut Jovan berkata yang tidak enak didengar nan bertingkah konyol.
Sementara posisi Mike tengah memukul Bonanza, alhasil perkelahian mereka berdua pun berlangsung.
"Apa loe siap, Men?" Ucap Jovan kepada Alan sembari Kuda-kuda ketika seluruh orang-orang yang disana hendak maju, namun Jovan masih saja melakukan hal konyol yaitu tetap mengangkat kedua alisnya saat ia tengah berbicara dengan Alan.
Tuing tuing tuing
"Cih," Alan mengangguk, lalu ia menoleh sejenak ke arah Mike yang tengah memukul Bonanza.
Brak! Blug! Brak!
Tenaga Mike kini tidak sempurna mengingat tubuhnya terdapat banyak luka-luka akibat dianiaya oleh Bonanza, alhasil ketika ia tengah memukul Bonanza, ia pun terkena serangan balik dari Bonanza yaitu sebuah tendangan.
Suut!
Braak!
Mike terlempar ke belakang nyaris menabrak Alan. Alhasil kini mereka bertiga berkumpul bak tiga pendekar cilik hendak melawan musuh yang tidak imbang, yaitu dari segi fisik maupun dari segi jumlah.
"Kamu tidak papa Lan," bisik Mike sembari kuda-kuda menghadap ke arah kelompok itu yang sesama tengah kuda-kuda hendak melawan mereka bertiga.
Alan mengangguk, begitupula dengan Jovan. Setelah mereka siap nan musuh pun menyerang alhasil terjadilah sebuah perkelahian.
Ketika perkelahian sudah berlangsung, Mike maupun Jovan selalu menangkis setiap ada serangan yang menuju ke Alan.
Seet!
Seet!
Sementara Alan sendiri diam bukan karena ia tidak ingin ikut dalam perkelahian maupun tidak bisa, melainkan setiap kali ia hendak bergerak, Jovan maupun Mike selalu menangkisnya.
Perkelahian kian memanas, mengingat mereka bertiga hanyalah pemuda remaja yang tidak sebanding dengan orang-orang itu, alhasil Mike maupun Jovan seringkali terkena pukulan demi pukulan hingga membuat mereka tidak bisa lagi menangkis tangan-tangan yang hendak memukul Alan.
Perlahan-lahan, Mike maupun Jovan menyerang lawan dalam posisi jauh dari Alan. Maka, kini tidak ada lagi yang menangkis serangan yang menuju ke arahnya.
***
Kemudian salahsatu kelompok utama geng Bonanza sengaja datang mendekat ke Alan yaitu Anwar.
"Hai Baj*ngan kecil, apa kau tidak rindu akan rasa yang pernah gua berikan kepada engkau beberapa waktu lalu hah?" Ucap dia sembari meniup-niup kepalan tangan.
"Ya, saya merindukannya" Alan senyum menantang, sontak membuat Anwar sedikit melotot sebab ia tidak habis kira bahwa Alan menjawab dengan kalimat seperti itu.
"Baiklah, akan gua buat engkau puas sampai maut datang menjemput!" Anwar sangat antusias untuk menyerang Alan.
Namun, Anwar lengah bahwa sebilah badik masih di genggam erat di tangan Alan.
"Rasakanlah ini wahai bocah tengik!" Ucap dia sembari mengayunkan sebuah pukulan.
"Tapi rasa itu akan berbalik kepadamu." Jawab Alan sembari mengayunkan badik tersebut ke tangan kanan Anwar.
Seet!
Cess!
"Arrggh!"
__ADS_1
Tangan Anwar berhasil Alan tebas, darah pun mengalir deras membanjiri lantai, namun Anwar masih sangat antusias untuk tetap maju menyerang.
"Bedebah kau baj*ngan kecil!" Pekik dia sembari merintih memegangi tangan yang terluka, tetapi dia langsung kembali maju menyerang.
"Jangan memaksaku untuk bertindak lebih jauh" Sahut Alan menghindari serangan dia. Tetapi meskipun Alan telah menghindar, Anwar masih terus antusias menyerang dengan satu tangan. Alhasil, Alan pun kembali menggunakan badik tersebut.
Seet!
Cess!
"Arrgh tanganku.. arrghh!"
Alan mengayunkan badik itu lagi ke arah tangan kiri Anwar, alhasil kedua tangan Anwar kini terluka akibat tertebas. Tetapi sungguh manusia yang memiliki antusias tinggi, meskipun darah membanjiri lantai akibat kedua tangannya terluka, Anwar masih melanjutkan aksinya untuk tetap menyerang Alan.
"Kau pikir, gua takut meskipun kau menggunakan badik itu hah, cuih! Tiada rasa takut bagi gua untuk melawan anak kecil macam kau!" Pekiknya.
Alan hanya diam, tersirat senyum tipis di bibirnya ketika dia mengucapkan kalimat tersebut. Anwar hendak menyerang, namun kali ini ada beberapa orang yang mendekat ikut menyerang Alan semasih salahsatu diantara mereka melihat darah di lantai nan melihat luka tebas dikedua tangan Anwar.
Kini Alan hendak melawan tiga orang, karena keadaanlah yang mengharuskannya untuk melakukan hal yang tidak ia sukai ini yaitu kekerasan.
Tiada sangka, semula Alan tipikal orang yang pendiam cenderung dianggap lemah oleh sebagian orang kini terlihat bak seorang pembunuh yang sangat sadis ketika ia memainkan badik tersebut.
Setiap kali ada serangan yang datang mendekat, Alan langsung mengayunkan badik tersebut bak seseorang yang tengah menebas pohon.
Seet!
Suut!
Usai mengayunkan badik itu nan telah melukai lawannya, Alan pun langsung menendang orang yang sudah terluka tersebut dengan sangat kuat.
Brak!
"Astaga Tuhan, Alan .." Lirih Mike melotot terkejut ketika mengetahui penyebab orang-orang itu terluka disebabkan oleh sang Adik.
Begitupun dengan Jovan, ia terkejut melihat Alan nampak aneh yaitu dia tersenyum setiapkali dia melukai orang-orang itu.
***
Ya beginilah seorang Alan, pemuda memiliki sifat pendiam cenderung misterius, maka tidak heran jika sesuatu yang berbalik dari biasanya dapat ia lakukan tanpa orang lain duga.
Namun bagi Alan sendiri melakukan hal tersebut karena ia merasa muak atas segala tindakan kekerasan yang selalu hadir menimpanya. Apalagi jika harus melibatkan orang lain, karena sejatinya Alan tidak jauh beda dari Mike dalam urusan melindungi orang yang ia sayang.
Tetapi perbedaan ia dan Mike adalah Mike mengutamakan kekuatan fisik untuk melindungi orang-orang yang ia sayang seperti keluarga dan teman. Tetapi semua itu setara dengan pergaulan dia yang masuk dalam kategori Liar.
Sementara Alan sendiri lebih mengutamakan kekuatan hati yaitu lebih mengutamakan perasaan orang lain daripada dirinya sendiri, seperti contohnya dulu saat ia masih dianiaya oleh orang tua angkatnya, ia samasekali tidak melawan secara fisik, bukan karena ia tidak bisa tetapi ia menanamkan suatu kebajikan didalam dirinya bahwa kekerasan tidak harus dilawan dengan kekerasan.
lika-liku pahitnya kehidupan yang ia jalani, yang mana seharusnya masa remaja adalah masa-masa yang paling indah tidak pernah ia rasakan, tetapi ia masih mampu untuk tetap bangkit menjadi diri dia sendiri.
Namun, Alan tetaplah manusia pada umumnya yang mana tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang dapat teguh dalam pendirian sekuat baja, maka ia pun akhirnya melakukan tindakan tersebut.
Anwar terlampau meremehkan Alan karena ia mengetahui bahwa Alan tidak sekuat Mike, tetapi ia kurang mempelajari tentang rumus kehidupan yaitu jangan pernah meremehkan seseorang yang terlihat lemah, karena tidak ada yang lebih menakutkan dari marahnya orang pendiam dan emosinya orang-orang yang tertindas.
***
Next
Posisi Bonanza belum andil dalam perkelahian tersebut, karena saat Ia menendang Mike tadi, lalu rekan-rekannya maju menyerang, ia diam dan menyaksikan sembari menahan rasa sakit di area bekas luka di perutnya.
__ADS_1
Ia melihat adegan di sisi Alan, maka ia pun langsung berinisiatif untuk melakukan hal buruk sedemikian rupa liciknya.
Ia masih mampu melangkah untuk mendekat ke arena pekelahian didalam ruangan tersebut, lalu ia membisiki salah satu rekannya yakni Satria untuk melawan Mike nan membuat Mike mendekat ke posisi Alan.
Lantas Satria menuruti keinginan Bonanza hendak melawan Mike tetapi mengarahkannya mendekat ke Alan.
'Oh Tidak, itu adalah sebuah tak-tik' Batin Jovan lekas menyadari bahwa Satria menyerang Mike namun ada unsur kesengajaan yang tengah mereka buat.
Sementara Mike sendiri tidak menyadari bahwa ada sebuah tak-tik yang sedang mereka mainkan kepadanya. Ia tetap menyerang sampai titik darah penghabisan.
Hingga akhirnya perlahan-lahan namun pasti posisi Mike semakin dekat, tetapi dalam jarak berlawanan dari Alan yaitu Mike berada di posisi Musuh yang tengah Alan tebas. Namun dari sisi Alan sendiri tidak mengetahui ada unsur kesengajaan dibalik itu, ia tetap fokus ke arah sang lawan.
Ketika Mike tengah fokus melawan Satria, Bonanza melakukan aksinya, Yakni ia hendak mendorong Mike ke arah Alan yang tengah mengayunkan badik ke arah musuh.
Ya, Bonanza melakukan hal itu supaya Mike tertebas Badik sang adik semasih Alan mengayunkan badik tersebut ke arah sang musuh. Tetapi, Jovan menyadari hal itu meskipun ia sendiri masih berkelahi, Lantas ia langsung bergegas untuk mendekat ke Mike walau itu tidaklah mudah.
Ketika Bonanza siap mendorong tubuh Mike, Jovan sudah berhasil mendekat kepadanya.
"Musnahlah kau oleh saudara kembar kau sendiri wahai baj*ngan kecil!" Seru Bonanza semasih mendorong tubuh Mike ke arah Alan.
Seet!
Tetapi, ketika Tubuh Mike terdorong, Jovan langsung mendorong Mike lagi sampai Mike terlempar cukup jauh dari Alan.
Na'as kejadiannya sangatlah singkat, badik yang tengah Alan ayunkan tersebut langsung mengenai lengannya.
Seet!
Suut!
"Arrgh!"
"Oh Tidak!" Alan melotot ketika badik tersebut menebas Jovan. Begitupula dengan Mike, ia langsung berbalik badan saat ia terlempar tadi.
"Ya Tuhan," seru Mike.
"Hahaha" Bonanza tertawa iblis ketika melihat ekspresi Alan maupun Mike terkejut akibat salah sasaran.
Alhasil, emosi Alan semakin meledak, Bonanza lengah akibat tertawa-tertawa hingga ia tidak menyadari saat Alan langsung mendekat dengan kecepatan penuh lalu ia langsung menikamnya.
Jleb!
"Arrgh! Kau," rintih Bonanza seraya melotot.
"Ya, inilah saya!" Seru Alan sembari melotot selama ia tengah menikamnya.
Jovan dalam posisi jongkok sembari memegangi lengannya, sementara Mike sendiri berada di pojok tembok usai terlempar tadi, mereka bengong menyaksikan adegan tersebut.
Kemudian sisa orang-orang yang tidak terkena luka dari Alan, hendak datang mendekat, namun sebelum mereka melangkah semakin mendekat, Alan mencabut kembali badik tersebut dari Bonanza lalu menyodorkannya ke arah mereka.
"Satu langkah lagi kalian mendekat, maka kalian akan melihat resikonya terhadap orang ini" Alan menunjuk ke arah Bonanza dalam artian ia akan memusnahkan Bonanza jika mereka datang mendekat.
Alhasil Bonanza langsung melambaikan tangan memberi kode kepada seluruh rekan-rekannya untuk tidak menyerang Alan. Karena ia jua tidak bisa memprediksi seperti apa seorang Alan ini.
Setelah adegan tersebut usai, Alan mendekat ke Jovan langsung meraih tanganya, lalu membawa Jovan datang mendekat ke Mike, meraih jua tangan Mike.
"Mari, kita segera tinggalkan tempat ini." Ajak Alan.
__ADS_1
Catatan
Ambil hikmah dari setiap bacaan, segala reka adegan bukan untuk ditiru!