
Diko beranjak menuju kamarnya dan berniat untuk mandi berharap agar tubuh dan pikirannya bisa menjadi lebih segar. Setelah meletakkan tas laptopnya, ia pun bergegas menyambar handuk yang tergantung di gantungan ganduk.
Begitu kakinya akan melangkah masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba ia mendengar suara dering ponsel Riana.
Dicarinya sumber suara, ternyata ponsel Riana berada di atas tempat tidur. Segera di lihatnya karena siapa tahu itu telepon penting.
Darahnya berdesir setelah melihat nama Dira tertera di sana. Kemudian segera diangkatnya.
"Ada apa kamu telepon istriku?" tanya Diko ketus.
"Istrimu itu sepupuku" jawab Dira cepat.
Diko tertawa sinis mendengar jawaban Dira.
"Dari dulu kemana aja?" tanya Diko sinis.
"Aku cuma ingin bertanya langsung pada Riana sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya" jelas Dira tentang maksud dan tujuannya menelepon.
"Kamu ga perlu tahu" jawab Diko lagi.
"Bagaimanapun hubunganku dan Riana dia tetap sepupuku. Kalau sesuatu yang buruk terjadi, aku juga perlu tahu" jawab Dira lagi.
"Oooh begitu, saat di acara reuni kamu berusaha mempermalukan Riana dan membuat dia jatuh, apa itu bukan suatu yang buruk?" tanya Diko semakin sinis.
"Kan sudah aku bilang aku tidak sengaja" dalih Dira membela diri.
__ADS_1
"Ah sudah lah Dira, kamu ga usah ngeles. Yang jelas, aku cuma mau kamu jangan pernah bertanya ke Riana soal ini. Aku ga mau dia semakin kepikiran. Seandainya memang terbukti kamu tidak ada kaitannya dengan semua ini, aku sendiri yang akan langsung memberitahu apa yang terjadi. Tapi jika terbukti kamu terlibat, jangan harap kamu bisa lepas dariku" jelas Diko geram.
Diko langsung memutus sambungan teleponnya dan segera menghapus riwayat panggilan masuknya agar Riana tak mengetahui bahwa Dira telah meneleponnya.
Kemudian di letakkannya ponsel Riana ditempat semula.
Begitu ia baru saja meletakkan ponsel istrinya itu, tiba-tiba pintu kamar pun terbuka dan membuat Diko terkaget melihat Riana berada di sana.
Jantungnya dag dig dug menduga-duga sejak kapan Riana berada di balik pintu, dan apakah ia mendengar percakapannya dengan Dira tadi.
"Eh, sayang. Udah selesai masaknya?" tanya Diko gugup.
Riana mengangguk.
"Kamu lagi ngapain Mas?" tanya Riana kemudian.
"Tadi pas naik aku dengar kamu kayak lagi ngomong, lagi terima telepon?" tanya Riana lagi.
"Iya sayang, tadi pas aku mau masuk ke kamar mandi, Joe nelepon ya udah aku angkat dulu" jawab Diko berbohong.
"Ya udah aku mandi dulu ya" ucap Diko kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Namun ia lega ternyata Riana tak mendengar percakapannya. Ia tak mau hal ini semakin membebani pikiran istrinya.
Ia ingin ketika nanti kasus sudah mulai menemukan titik terang, barulah ia akan melibatkan Riana. Kalau sekarang, semua masih belum jelas. Ia takut semakin banyak spekulasi maka semakin membuat bingung.
__ADS_1
Namun beruntungnya, tim kuasa hukum yang membantunya benar-benar akan bekerja maksimal untuk membantunya. Diko juga memutuskan menyewa dua orang detektif yang akan bekerja sama dengan pihak kuasa hukumnya agar memudahkannya menyibak kasus ini.
...***...
Diko sedang fokus dengan designnya, sejak tadi pagi hingga menjelang sore ia terlihat sibuk berkutat dengan layar laptopnya. Sudah beberapa hari ini ia hanya sibuk dengan kasus dan kasus sehingga beberapa pekerjaannya menjadi tertunda dan harus segera ia selesaikan.
Diliriknya jam pada pergelangan tangannya. Sebentar lagi pukul 4. Ia sampai lupa makan siang saking fokusnya bekerja. Kini baru terasa perutnya yang keroncongan karena belum di isi.
'ting'
Terdengar bunyi pesan masuk pada ponselnya. Dibiarkannya kemudian ia meneruskan untuk kebali bekerja.
Tapi rasa penasarannya menguat, ia takut kalau itu adalah pesan penting dari ibunya ataupun Riana. Dibukanya pesan tersebut, kemudian Diko terlihat mengeryitkan dahi.
'Terima saja putusan hakim. Jangan keras kepala'
Begitu bunyi pesan dari nomor tak dikenal tersebut.
Diko bersorak dalam hati.
'Yes! Akhirnya keluar juga kamu dari sarangmu. Tak sia-sia lelahku beberapa hari ini sibuk mempersiapkan pengajuan banding ke pengadilan' bathin Diko sambil tersenyum.
Dengan sigap Diko langsung memencet sebuah kontak di ponselnya, kemudian membuat sebuah panggilan.
"Halo, Ferdy. Tolong kamu lacak nomor handphone yang saya kirim lewat WhatsApp. Sepertinya pelaku mulai takut dan berusaha menekanku" ucapnya pada orang di seberang telepon yang ternyata salah satu detektif sewaannya.
__ADS_1
"Baik Dik, usahakan kamu balas pesan tersebut dan pancing dia agar tetap aktif membalas supaya semakin mudah mendeteksi" jawab Ferdy kemudian.
"Ok, aku tunggu kabar darimu" jawab Diko.