
Diko tersenyum senang mendengar pembicaraan Riana dan Dira yang sengaja di-loudspeaker.
"Mudah-mudahan mereka berjodoh ya sayang" ucap Diko berharap.
"Iya Mas, semoga saja Alex bisa menerima Dira apa adanya" jawab Riana.
"Memang bagi sebagian laki-laki, keperawanan itu seperti harga mati jika ingin menikahi seorang wanita" ucap Diko.
"Kalau bagi kamu gimana? Dulu sebelum menikah, apakah keperawanan adalah harga mati dalam mencari calon istri?" tanya Riana penasaran.
"Hmmm, gimana ya" ucap Diko menerawang.
"Jujur aku ga berani berekspektasi yang terlalu tinggi dengan masalaluku yang begitu buruk, aku ga berani berharap untuk mempunyai istri yang masih suci belum di jamah orang lain. Aku sadar diri" ucap Diko mengenang kisahnya.
"Tapi ternyata Tuhan begitu sayang padaku. Ia mengirimkan istri yang bisa menjaga dirinya, yang menyerahkan mahkota pertamanya hanya untuk suaminya" ucap Diko sambil mencubit lembut hidung Riana.
Riana pun tersipu malu.
"Tapi menurutku, laki-laki di jaman sekarang ini tidak bisa lagi menjadikan keperawanan sebagai tolak ukur dalam mencari istri. Jodoh adalah cerminan diri, jika banyak kesalahan di masalalu yang telah kita perbuat sebaiknya laki-laki tidak perlu menghakimi calon istrinya yang ternyata sudah tidak perawan. Apalagi kehilangan keperawanan dari seorang wanita itu bisa banyak faktornya, bisa jadi bukan karena keinginan dirinya, karena paksaan, karena merasa terancam, ataupun karena trauma di masalalu" jelas Diko.
__ADS_1
"Semoga Alex bisa berpikiran seperti kamu ya Mas, biar ia bisa menerima Dira dengan segenap kekurangannya" ucap Riana penuh harap.
"Semoga sayang, kita berdoa saja" ucap Diko sambil menggenggam tangan istrinya.
Tiba-tiba Bi Yum datang dari arah dapur sambil membawa piring berisi kue gemblong.
"Ini Bu, ayo cepat di makan mumpung masih anget" ucap Bi Yum sambil menaruh piring tersebut ke atas meja.
"Waaah kayaknya enak banget inii Bi" ucap Riana dengan mata berbinar-binar.
Riana langsung mencomot sepotong kue gemblong hangat dan memakannya dengan begitu lahap.
"Enak banget Biii, Bi Yum memang the best deh" ucap Riana memuji.
Bi Yum pun bernapas lega setelah melihat Riana yang menyukai kue buatannya.
Setelah memakan tiga potong kue gemblong, Riana pun mengembalikan piring kue tersebut pada Bi Yum.
"Ini Bi, bawa yang jauh kuenya" ucap Riana.
__ADS_1
"Lho kenapa Bu? Ibu udah selesai makannya?" tanya Bi Yum heran.
"Sudah Bi, enak. Tapi sekarang aku jadi mual melihat kuenya" jawab Riana.
Diko memandang ke arah Bi Yum heran.
Bi Yum tertawa melihat Diko yang keheranan.
"Berarti Bu Riana ngidam beneran Pak" ucapnya.
"Kok begitu Bi?" tanya Diko.
"Biasanya kalau orang ngidam itu, pas udah dapat apa yang dipengin langsung udah ga mau lagi kadang sampai mual. Padahal sebelumnya penginnya udah kayak ga bisa ditahan, eh sekalinya udah dapat malah jadi ogah" jelas Bi Yum.
Diko pun manggut-manggut mendengar ilmu baru dari Bi Yum.
"Nah beda lagi kalau pas lagi hamil, terus pengin sesuatu, terus besoknya minta itu lagi, besoknya mau lagi, gitu terus tiap hari" ucap Bi Yum.
"Lha, terus kalau begitu berarti apa Bi?" tanya Diko penasaran.
__ADS_1
"Berarti bukan anaknya yang kepengin, tapi memang ibunya yang doyan" ucap Bi Yum sambil terkekeh dan ngacir ke dapur.
Tinggallah Diko dan Riana yang tertawa ngakak di ruang keluarga mendengar ucapan Bi Yum yang ada benarnya.