Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 101


__ADS_3

'Hukuman yang cocok harusnya hukuman mati, dan aku sendiri yang akan mematikanmu'


Tulis Diko membalas pesan tersebut.


Dengan harap-harap cemas ia menunggu balasan dari orang tersebut.


Tak lagi ia pikirkan tentang pekerjaannya yang sedari tadi ia kerjakan. Pikirannya tak bisa fokus lagi ke sana. Segera dimatikannya laptopnya kemudian kembali menunggu.


Dan benar saja,


'ting'


Terdengar suara pesan masuk. Dengan cepat Diko membukanya.


'Jangan mimpi, pengecut!'


Diko membaca pesan itu dan membuat emosinya meningkat.


'Kau yang pengecut. Tunjukkan dirimu, hadapi aku kalau berani'


Tantang Diko geram.

__ADS_1


Kemudian orang itu tak lagi membalas pesan Diko. Nomor tersebutpun sudah tak aktif. Sepertinya sengaja untuk menghilangkan jejak.


Tak lama kemudian Ferdy menelepon Diko. Dengan sigap Diko menjawabnya menanti kabar baik.


"Dapat Dik, lokasinya di Jakarta Barat. Ini ga mungkin pesan dari si pelaku dari penjara, karena lokasinya di Jakarta Timur. Ini sepertinya memang target kita Dik, semoga. Detailnya aku kirim lewat WhatsApp" ucap Ferdy.


Begitu ia mematikan sambungan teleponnya, Diko membuka pesan yang di kirimkan Ferdy. Tertera data lengkap ponsel yang di gunakan oleh nomor tersebut. Nama yang tertera tertulis 'SFR' pelaku ternyata tidak menggunakan nama asli dalam mendaftaran nomornya.


Diko langsung membalas pesan Ferdy tersebut.


'Segera lakukan pelacakan, aku tunggu info selanjutnya segera'


Tulisnya memberi perintah.


Diko menghela nafas panjang. Ia berharap semoga semua ini bisa segera terselesaikan.


Jujur ada perasaan lega yang menyelinap dalam dirinya. Entah kenapa ia begitu yakin ini akan segera terungkap.


Diko menjamin detektifnya adalah yang terbaik. Ia yakin dengan kemampuan mereka yang tak di ragukan. Mereka pun pasti terbiasa dengan kasus seperti ini.


...***...

__ADS_1


Kemarin Diko mendapat kabar dari Ferdy bahwa lokasi yang telah mereka lacak kemarin ternyata adalah sebuah gedung apartement di bilangan Jakarta Barat, tepatnya di lantai 8. Mereka pun telah mencoba mendatangi gedung apartemen tersebut.


Diko seperti familiar dengan gedung tersebut. Ia rasanya tak asing namun ia tak ingat apakah punya teman atau kliennya yang tinggal di sana, atau mungkin hanya perasaannya saja.


Diko hanya sebentar karena ada pekerjaan yang harus ia lakukan. Ferdy dan rekannya tetap di sana guna mencari informasi.


Mereka berusaha untuk mendapatkan data penghuni yang tinggal di lantai 8 apartemen tersebut untuk mencocokkan dengan data yang mereka punya. Berbekal inisial SFR mereka akan mencoba mencocokkan dengan nama-nama penghuni lantai 8.


Namun sepertinya sulit bagi mereka untuk mendapatkan data tersebut dengan mudah. Resepsionis tak bisa serta merta memberikan data pada sembarangan orang. Sehingga sebelum beraksi, mereka harus benar-benar mempersiapkan strategi dengan matang agar rencana ini berhasil.


Diko di kantor juga tak bisa bekerja dengan konsentrasi. Ia masih belum mendapat kabar dari Ferdy dari semalam.


Ia berusaha tak menghubungi karena Ferdy berpesan untuk tak menguhubunginya sampai Ferdy sendiri yang menghubungi.


Terus diliriknya ponselnya berharap Ferdy segera menghubunginya.


Di tengah rasa gundahnya yang luar biasa, tiba tiba ponselnya berdering. Ia langsung sumringah melihat nama Ferdy tertera di sana.


"Dik, malam ini kita harus ketemu. Aku tunggu di tempat biasa" ucap Ferdy.


"Ok. Tapi bagaimana kemarin?" tanya Diko cepat.

__ADS_1


"Ada titik terang. Tidak begitu sulit ternyata. Sepertinya dia belum profesional, masih sangat amatir dan mudah terlacak" ucap Ferdy yang di susul hela nafas kelegaan dari Diko.


__ADS_2