Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 159


__ADS_3

"Mas, ini lah yang membuatku khawatir untuk menceritakan semuanya. Aku takut kamu emosi" ucap Riana yang begitu khawatir melihat reaksi suaminya.


"Ya suami mana yang tidak emosi jika terjadi hal yang seperti ini?" ucap Diko.


"Iya Mas, aku mengerti. Aku sendiri juga sebenarnya sangat tidak suka. Ini sudah bisa dikatakan mengganggu rumah tangga orang lain, aku juga sangat emosi. Tapi aku mohon kita selesaikan dengan kepala dingin" bujuk Riana.


"Tidak bisa, aku harus temui laki-laki itu. Jangan mentang-mentang dia seorang pimpinan dari perusahaan besar, dikiranya dia bisa melakukan apa saja termasuk mengganggu istri orang" ucap Diko sembari menyambar kunci mobil.


"Mas, aku mohon jangan seperti ini. Pasti ada cara lain selain dengan cara ini. Please Mas, demi aku" cegah Riana sambil memeluk erat tubuh Diko agar tak bisa bergerak.


"Memang ini terlihat sepele, tapi jika terus dibiarkan, dia akan semakin menjadi-jadi" sanggah Diko.


"Iya Mas, iya. Pasti akan kita hentikan. Tapi kamu tenang dulu ya. Aku mohon" ucap Riana memohon.

__ADS_1


Dari luar kamar, Bi Yum mendengar kegaduhan yang terjadi di kamar majikannya.


Bi Yum menjadi risau, karena semenjak bekerja di rumah ini ia tak pernah ia mendengar keduanya bertengkar ataupun sekedar adu mulut. Bi Yum menebak ada masalah yang cukup besar.


Bi Yum pun tak menyangka, karena baru saha keduanya terlihat harmonis sambil menikmati arsik yang baru saja dibeli Diko. Baru selang sebentar, kini Riana dan Diko terdengar seperti sedang bertengkar. Tak heran hal ini membuat Bi Yum khawatir dan risau. Apalagi saat ini Riana sedang hamil.


Hatinya ingin mengetuk pintu dan memastikan keduanya baik-baik saja, namun ia sungkan dan takut terkesan lancang. Akhirnya Bi Yum mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke kamarnya. Ia berharap permasalahan yang sedang di hadapi majikannya itu cepat selesai.


"Ini urusan laki-laki, tak ada laki-laki yang senang jika miliknya di usik, terlebih istrinya. Jangan macam-macam dia" terdengar ucapan Diko sampai keluar.


'Ya Tuhan, laki-laki mana yang sedang menggaggu Bu Riana. Kenapa bapak sampai semarah itu' bathinnya sambil menutup mulut.


Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang terbuka, Bi Yum langsung bergegas pergi. Ia tak enak jika keduanya tahu bahwa Bi Yum bisa mendengar pertengkaran keduanya.

__ADS_1


"Mas, aku mohon jangan bertindak bodoh" teriak Riana sambil terus menahan tubuh Diko.


"Aku juga ingin memastikan, apa yang telah dia perbuat saat kamu pingsan" jawab Diko yang terus saja melangkah ke arah pintu.


"Mas, please. Dengar aku, kalau kamu seperti ini, semua akan semakin kusut" ucap Riana.


"Siapa yang memancing duluan? Siapa yang membuat kusut duluan?" tanya Diko balik dengan begitu kesal.


"Anggap saja kita yang waras mengalah Mas, jangan makin bikin keruh" bujuk Riana yang terus menahan Diko agar tak pergi.


"Kamu mau dia makin semena-mena? Kemarin kue, buah, terus sekarang kue lagi, besok apa? Bunga?" ucap Diko yang semakin kesal.


Bi Yum hanya bisa melihat dari sudut, ingin rasanya ia membantu Riana menahan Diko. Ia bisa merasakan Riana sedang meredam emosi Diko yang sedang membubung tinggi.

__ADS_1


"Maas, jangan pakai emosi. Aku mohon, kita selesaikan baik-baik. Pasti ada cara lain selain dengan emosi" ucap Riana sambil dengan usaha kerasnya untuk menahan Diko yang sulit untuk di cegah.


__ADS_2