
Bu Hesti pamit untuk pulang ke rumah setelah seminggu berada di rumah Diko dan Riana. Ia menolak untuk diantar pulang. Pak Bagus, supir yang sudah lama bekerja dengan keluarga mereka segera menjemput.
"Ma, kenapa ga tunggu besok pagi aja sih? Kenapa harus malam ini?" tanya Riana pada Bu Hesti yang baru saja duduk sambil menunggu Pak Bagus datang.
"Besok pagi-pagi Mama ada acara sama ibu-ibu komplek. Kalau pulangnya besok pagi, takutnya Mama telat. Mama kan harus sudah mulai menyibukkan diri lagi Ri" jawab Bu Hesti.
"Lagian sudah seminggu rumah ditinggal, ya walaupun ada Bi Prapti sama Pak Bagus di rumah, tetep aja pikiran Mama ga bisa lama-lama ninggalin rumah" jelasnya lagi.
"Tapi Mama janji ya, kalau ada apa-apa cepat kabari kita" ucap Riana.
Kemudian terdengar suara Diko dari luar.
"Maa, Pak Bagus udah dateng" teriaknya.
Bu Hesti langsung berdiri kemudian melangkah keluar.
Riana mengikut dari belakangnya sambil menyeret koper milik ibu mertuanya itu.
Sesampainya di luar, Diko langsung mengangkat koper ibunya dan memasukkannya ke bagasi.
Bu Hesti memeluk Riana dan Diko bergantian. Kemudian masuk ke dalam mobil dan pulang.
Riana menghela nafas panjang.
"Semoga Mama kuat ya Mas" ucapnya.
"Aamiin" jawab Diko sambil merangkul pundak istrinya.
__ADS_1
Kemudian keduanya segera masuk ke dalam rumah.
"Sepi ya Mas, biasanya ada Mama" ujar Riana sambil mematikan lampu ruang TV kemudian masuk ke dalam kamar.
"Iya, besok pulang kerja kita ke sana" jawab Diko sambil mengikuti Riana masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintunya.
Riana terdiam sejenak.
"Kenapa? Aku udah boleh tidur di sini kan?" tanya Diko heran.
Riana masih terpaku.
Kemudian mengangguk mengiyakan.
Diko tersenyum lega. Akhirnya Riana pelan-pelan mulai memberikan kesempatan padanya.
"Makasih ya" ucap Diko sambil mendekat.
Riana mendekat dan memeluk pinggang Diko dengan mesra.
Dipejamkannya matanya sambil merasakan betapa nyamannya bersandar di dada suaminya. Diciumnya aroma tubuh Diko yang semakin menyamankannya yang semakin membuatnya mengeratkan pelukannya.
Diko mengecup kening istrinya dengan mesra.
"Aku sayang kamu Riana" ucapnya.
Diko menunggu jawaban istrinya.
__ADS_1
"Iya Mas, aku juga sayang sama kamu" jawab Riana sambil mengencangkan pelukannya di pinggang Diko.
Diko langsung menarik lembut dagu Riana. Di dekatkannya ke bibirnya. Nafasnya begitu terasa dekat.
Bibir keduanya sudah hampir bersentuhan. Diko pun langsung mengecup bibir Riana dengan lembut dan hangat. Akhirnya terjadi juga ciuman pertama mereka sejak menikah.
Dipagutnya dengan perlahan. Kemudian Diko melepaskan ciumannya. Di pandangnya wajah Riana dalam-dalam.
Terlihat seutas senyuman pertanda bahwa ia tidak sedang terpaksa. Diko langsung mengulang kembali ciumannya yang kali ini terdengar lebih panas.
Dinikmatinya bibir Riana tanpa tersisa. Di gigitnya sedikit agar bisa lebih terbuka. Ia memainkan lidahnya untuk menuntut balas dari Riana.
Dengan nafas yang sudah menggebu, Riana membalas ciuman Diko. Bibir mereka bersatu, begitu pun dengan lidah mereka yang begitu harmoni sedang berpagut di dalam.
Nafas keduanya kian memburu. Ciuman yang semula lembut kini semakin menuntut. Diko masih berusaha untuk tetap konsisten pada pagutannya tanpa berusaha liar.
Namun nafsu kelaki-lakiannya berkata lain. Tangannya begitu ingin mengeksplore tempat lain yang begitu membuatnya tergoda. Namun hatinya berkata untuk tak terburu-buru agar Riana merasa nyaman.
Lagi-lagi logikanya memenangkan peperangan yang sedang terjadi. Digesernya satu tangannya yang semula berada di punggung menjadi ke perut Riana.
Kemudian dinaikkannya sedikit keatas hingga terpeganglah sebuah gundukan yang begitu kenyal, padat berisi yang semakin membangkitkan sensasi liarnya. Hingga akhirnya dengan memberanikan diri ia meremasnya berulang kali hingga terdengar lenguhan Riana.
"Hmmph" lenguhnya saat Diko meremas payudara yang kini sedang menjadi milik suaminya itu.
Suara itu semakin membuatnya gila. Ditariknya baju atasan Riana ke atas untuk mencoba memegangnya secara langsung tanpa terhalang apapun.
Tiba-tiba Riana menarik dirinya yang sudah terbakar nafsu. Ia mencoba sadar sesadar-sadarnya.
__ADS_1
Ia kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi. Ia tersandar di pintu kamar mandi dengan nafas yang terengah-engah.
'Apakah ini saatnya?' tanyanya dalam hati.