Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 149


__ADS_3

"Tapi kan kamu.." belum selesai Diko dengan pertanyaannya, dokter tersebut langsung mengajak Diko untuk duduk dan mendengarkan penjelasannya.


"Silahkan duduk dulu pak, ada yang perlu saya jelaskan sedikit" ucap dokter.


Setelah Diko duduk, dokter segera memberikan penjelasan.


"Begini Pak, sebenarnya istri Bapak bisa di bilang sedikit terlambat memeriksakan diri, karena sudah beberapa hari mengalami flek yang cukup banyak. Istri Bapak mengira flek tersebut adalah darah haid, namun itu adalah salah satu pertanda adanya masalah pada kehamilan. Kalau seandainya cepat ditangani, mungkin masih bisa dengan diberi obat dan rawat jalan. Tetapi karena kondisi keluarnya flek tersebut sudah terjadi berhari-hari dan cukup banyak, oleh sebab itu istri Bapak harus di rawat demi kebaikan ibu dan bayinya. Ada beberapa obat yang harus kami berikan secara intensive untuk menjaga kondisi kehamilannya yang sangat rentan saat ini" jelas dokter pada Diko yang mengangguk paham.


"Tapi Bapak tenang saja, janinnya masih dalam kondisi sehat. Semoga ibunya kuat, dan bayinya juga bisa terus sehat sampai kondisi keduanya stabil" lanjut dokter.


"Kira-kira apa ya dok sebab istri saya bisa sampai flek dan pingsan seperti ini?" tanya Diko penasaran.


"Bisa jadi kelelahan, stress, atau mungkin habis melakukan perjalanan jauh, dan banyak faktor lainnya" jawab dokter.

__ADS_1


"Jadi usia kehamilan istri saya sudah berapa minggu dok?" tanya Diko.


"Sekitar 4 minggu" jawab dokter.


Diko terperanjat. Ia menepuk jidatnya, ia baru tahu bahwa ternyata Riana sedang hamil saat mereka pergi ke Jepang. Ia juga bergidik ngeri saat membayangkan apa yang telah di lalukan Riana saat mereka berada di negeri sakura saat itu. Jalan kaki dengan jarak tempuh yang cukup jauh, bermain roller coaster berulang kali di taman bermain, tiap malam begadang dalam rangka usaha untuk mempunyai anak dan terbang dengan pesawat tanpa surat keterangan dokter.


Jika saja ia tahu dari awal, pasti ia akan dengan benar-benar menjaga Riana dan anaknya. Namun semua telah terjadi, kini yang harus ia lakukan adalah melindungi Riana dan anak mereka.


Setelah selesai mendengarkan penjelasan dari dokter, Diko langsung menghampiri Riana.


"Yang kuat ya sayang, demi anak kita" ucap Diko dengan perlahan.


Riana mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Akhirnya doa kita dikabulkan Tuhan Mas" ucap Riana terharu.


Diko mengangguk penuh haru.


"Maaf ya Mas, aku ga tahu kalau aku sudah hamil saat kita di Jepang" ucap Riana metasa bersalah.


"Kalau saja waktu itu aku tahu, pasti aku aka berhati-hati" lanjutnya.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah begitu, kamu ga salah. Tugas kita sekarang yaitu menjaga buah hati kita ini dengan sebaik-baiknya" jawab Diko untuk menenangkan Riana dari rasa bersalahnya.


"Wajar saja kalau kamu belum peka dengan tanda-tanda hamil, ini kan kehamilan pertama sayang. Udah ya, jangan di pikirin lagi yang sudah berlalu. Yang penting sekarang kamu semangat untuk pulih, supaya anak kita jg kuat di dalam sini" ucap Diko sambil mengelus perut Riana dengan lembut.


"Permisi Pak, Bu. Bu Riana akan di bawa ke ruang rawat inap" ucap seorang perawat yang masuk memotong pembicaraan suami istri itu.

__ADS_1


Kemudian datang seorang perawat lagi yang membantu Riana untuk pindah ke kursi roda dan membawanya ke ruang rawat inap.


__ADS_2