Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 158


__ADS_3

"Mas, sepertinya kita perlu bicara" ucap Riana pelan.


Diko menatap istrinya heran.


"Tentang apa sayang?" tanya Diko penasaran.


Tanpa basa basi, Riana menarik Diko untuk masuk ke dalam kamar. Ia mengambil posisi duduk menghadap Diko agar lebih nyaman.


"Sebenarnya ada apa? Apa tentang kiriman kue tadi?" tanya Diko makin penasaran.


Riana mengangguk.


"Sebenarnya aku mengenal pimpinan PT. Praja Cipta Informasi" ucap Riana memulai cerita.


"Aku tekankan di sini, aku tidak berniat menyembunyikan apapun dari kamu. Aku hanya belum cerita, karena menunggu waktu yang pas agar aku dapat menceritakan semuanya ke kamu agar kamu tidak salah paham. Tapi melihat kiriman-kiriman itu, sepertinya ini tidak bisa di tunda lagi" jelas Riana.

__ADS_1


Diko hanya diam mencoba mencerna kata-kata Riana.


"Please jangan ada kesalah pahaman di antara kita, aku tidak mau itu terjadi" ucap Riana kemudian.


"Siapa dia?" tanya Diko dengan tegas dan lantang.


"Hmmm" Riana merasa sedikit ada rasa deg-degan yang merasuki jantungnya.


"Namanya Pramudya. Anak dari pimpinan perusahaan itu, yang sepertinya sekarang mengambil alih. Tapi aku berani bersumpah, sampai ketika saat interview aku tidak tahu bahwa Pramudya adalah pimpinan perusahaan itu, bahkan aku juga tidak tahu itu adalah perusahaan ayahnya" jelas Riana dengan lugas.


Diko mulai mengeryitkan dahi tak menyangka lelaki yang ia temui hari itu merupakan mantan kekasih istrinya.


"Apa yang dia lakukan saat interview sampai-sampai kamu pingsan?" tanya Diko.


"Dia tidak menginterviewku sedikitpun, awal aku masuk dan duduk di ruangan Pramudya tidak ada di sana. Saat ia datang masuk ke dalam ruangan barulah aku tahu ternyata ia yang akan menginterviewku. Saat itu aku langsung bangkit dan berniat untuk keluar, tapi dia mencegah dan memohon untuk mendengarkannya" jelas Riana jujur.

__ADS_1


"Dia bersikeras memintaku untuk mendengarkannya, ia ingin menjelaskan kenapa saat itu dia tiba-tiba menghilang beberapa hari sebelum acara lamaran di Surabaya" jelas Riana lagi.


"Lamaran?" tanya Diko terkejut. Ia baru tahu Riana pernah mengalami kegagalan saat sebelum lamaran.


"Iya, tiba-tiba dia menghilang tidak ada kabar. Aku mencoba menghubungi keluarganya juga tidak ada respon. Sampai akhirnya hari interview itu ternyata dia sudah tahu bahwa aku melamar pekerjaan di perusahaannya sehingga dia memanfaatkan moment itu untuk memberikan penjelasan padaku. Saat itu perusahaan ayahnya hampir collaps, orang yang akan membantu keuangan perusahaan minta agar anak mereka dinikahkan. Kira-kira begitu penjelasannya hari itu" jawab Riana.


"Selesai ia menjelaskan semuanya, aku bangkit dan hendak keluar ruangan namun tiba-tiba pandanganku gelap dan aku tidak ingat apapun, yang aku ingat aku bangun di rumah sakit dan ada dokter dan perawat di sana" lanjut Riana.


"Tidak bisa di biarkan! Bisa jadi dia macam-macam saat kamu pingsan!" ucap Diko geram.


"Mas, sudah, jangan emosi. Please, aku mohon. Jangan berpikir yang tidak-tidak" ucap Riana berusaha menenangkan Diko.


"Terus apa maksudnya masih mengirimkan bingkisan ke rumah ini? Mau cari perhatian kamu" tanya Diko marah.


"Itu yang aku tidak mengerti Mas, apa maksudnya mengirim bingkisan seperti ini" jawab Riana jujur.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tinggal diam kalau seperti ini, sama saja dia mengusik rumah tangga kita" jawab Diko dengan tatapan geram.


__ADS_2