Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 164


__ADS_3

"Walaupun semua ada prosedurnya, anda kan pimpinan di sini. Saya yakin hal mudah bagi anda untuk hanya sekedar melihat rekaman cctv" ucap Diko.


"Sepertinya karyawan yang bertugas untuk mengurusi rekaman cctv belum datang. Mungkin lain kali akan saya perlihatkan" tolak Pramudya secara halus.


Diko melihat ada yang tak beres karena penolakan Pramudya tersebut. Ia semakin penasaran dengan rekaman cctv tersebut.


"Di perusahaan saya, pimpinan punya akses sendiri untuk mengecek cctv. Itu layar yang menunjukkan rekaman cctv kan?" tunjuk Diko pada sebuah monitor di atas nakas yang terletak di sebelah kanan meja Diko.


"Iya itu hanya layarnya saja, untuk mengakses rekaman beberapa hari lalu perlu karyawan yang memang sudah bertugas untuk hal itu" jawab Pramudya.


"Siang ini kami ke sini untuk melihat rekamannya" ucap Diko sambil berdiri.


"Permisi" ucap Diko kemudian sambil menarik tangan Riana keluar.


Diko dan Riana pun keluar ruangan Pramudya tanpa sepatah kata pun. Diko menahan diri untuk berbicara.


Sesampainya di dalam mobil, barulah ia menumpahkan kekesalannya.


"Tuh, kalau dengan cara baik-baik itu pasti akan susah negosiasinya" ucapnya kesal.

__ADS_1


"Kita ke sini lagi nanti siang ya" jawab Riana menenangkan.


"Aku makin curiga sama orang ini, kenapa dia banyak alasan. Tidak mungkin dia tidak punya akses untuk melihat rekaman cctv. Mustahil" ucap Diko.


"Iya Mas, aku ngerti. Tapi ini kantornya, kita harus berhati-hati dalam bertindak" jawab Riana.


"Sama orang model begini, kita ga bisa kasih kesempatan buat dia ngomong. Kalau bisa terus ditekan biar ga banyak alasan. Makamya tadi aku bilang kita siang ke sini lagi terus langsung ngajak kamu untuk buru-buru pergi. Karena kalau kita beri dia kesempatan bicara, pasti akan ada lagi alasan, siang ini mau meeting lah, tidak ada di kantor lah. Aku sudah hapal tipe laki-laki seperti ini" ucap Diko berapi-api.


"Iya Mas, iya. Kamu sekarang jangan emosi ya, kan kamu udah janji sama aku" ucap Riana mengingatkan janji yang telah di ucapkan Diko.


Diko menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk tenang.


Riana mengambilnya dari tas kemudian melihat siapakah yang mengiriminya pesan.


Wajah Riana langsung berubah.


"Siapa sayang?" tanya Diko.


Riana langsung menyerahkan ponselnya pada Diko.

__ADS_1


Ri, maaf nanti siang aku ada meeting. Besok pagi saja ya. Maaf sebelumnya.


Begitu bunyi pesan yang di kirim Pramudya pada Riana.


Diko menahan geram dan memukul stir mobilnya.


"Sial!!" umpatnya penuh kemarahan.


"Tuh kan, apa aku bilang. Orang seperti ini banyak alasan. Tidak bisa di biarkan. Kalau besok pagi dia masih beralasan, terpaksa aku pakai cara kasar" ucap Diko.


Riana menghela nafas berat.


"Iya Mas, besok pagi kita kesini lagi ya" ucapnya berusaha menenangkan Diko yang terlanjur kesal.


Riana yakin mood suaminya telah hancur hari ini.


"Lho Mas, bukannya kita mau ke kantor kamu" tanya Riana saat melihat Diko mengarahkan mobil ke arah yang tak semestinya.


"Kita pulang aja. Aku ga mood kerja hari ini" jawab Diko.

__ADS_1


Ternyata benar dugaan Riana, mood suaminya hancur berantakan. Ia mengerti akan kekesalan Diko, ia juga kesal melihat Pramudya yang terlihat banyak alasan. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Semoga besok Pramudya memenuhi janjinya.


__ADS_2