Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 59


__ADS_3

Setelah Diko lebih tenang, Riana pun buka suara. Walaupun sebenarnya ia tidak sanggup berkata-kata.


"Jujur ini berat buatku Mas" ucap Riana pelan.


Diko mengangguk memahami.


"Aku masih tidak tahu harus bagaimana, jujur dari dalam hatiku pasti ada kekecewaan. Ini adalah hal yang tidak pernah ingin aku dengarkan keluar dari mulut siapapun, terutama suamiku sendiri. Jujur aku benar-benar tidak menyangka kamu pernah melakukan hal-hal yang maaf, tapi menurutku itu menjijikan secara moral" lanjutnya datar.


Diko terlihat semakin tertunduk pasrah.


"Aku juga kecewa kenapa aku harus tahu ini semua sekarang, kenapa tidak dari awal. Itu sama saja dengan kamu berusaha menjebakku terlebih dahulu untuk masuk dalam pernikahan ini, kemudian baru aku tahu semua faktanya. Menurutku sebagai wanita, ini sadis Mas. Wanita manapun pasti akan merasakan hal yang sama jika berada di posisi seperti ini" ujar Riana lagi.


Diko mengangkat kepalanya kemudian menatap ke arah Riana mencoba mencari celah harapan untuk dirinya.

__ADS_1


"Tapi semua telah terjadi, masalalu tidak bisa diperbaiki kembali, pernikahan kita pun sudah terjadi. Menurutku yang harus dilakukan saat ini adalah memperbaiki" lanjutnya.


Diko sedikit berbinar, ia seperti mendengar ada secercah harapan dari ucapan istrinya.


"Aku juga menghargai usaha kamu untuk jujur dan menceritakan semua ini. Aku yakin ini berat buat kamu" ucap Riana sambil menerawang berpikir untuk kebaikan pernikahannya.


Diko mengangguk mengiyakan.


"Tapi aku minta maaf sebelumnya, aku masih perlu waktu untuk mencerna semua ini Mas. Aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku juga butuh waktu untuk menerima kamu, setelah aku tahu bahwa aku ternyata bukanlah yang 'pertama'" ucap Riana sambil kedua jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk gesture tanda kutip.


Lagi-lagi Diko mengangguk pasrah. Ia berjanji akan lapang dada dalam hal ini, karena ia benar-benar tahu bahwa ia salah.


"Aku akan tunggu kamu sampai kamu siap, dan bisa nerima aku dengan semua kesalahan-kesalahan aku. Tapi satu hal, percayalah bahwa aku akan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, termasuk sebagai suami kamu" jawab Diko tulus.

__ADS_1


Riana hanya menghela nafas. Ia berharap apa yang dikatakan Diko adalah sesuatu yang bisa ia buktikan.


"Hmm, tapi nanti ketika kita sudah ga di rumah Mama, aku mau tetap di sini sampai aku bisa menerima semuanya" ucap Riana.


Wajah Diko langsung berubah dan menunjukkan tidak setuju.


"Jangan Ri, aku mohon jangan. Please pulang. Kamu boleh hukum aku dengan cara apapun, kamu minta kita pisah kamar sekalipun aku tidak apa-apa asalkan kamu pulang ke rumah. Aku ga mau kita pisah-pisah rumah lagi seperti ini, aku ga mau. Tolong kamu pulang sama aku, jangan pikir untuk pergi lagi" pinta Diko dengan wajah memelas.


"Oke baik, kita pisah kamar" jawab Riana dengan cepat.


Diko hanya bisa mengangguk pasrah. Dalam hatinya ia menyesal telah menyebutkan alternatif untuk pisah kamar dengan Riana. Ia mengutuk dirinya kenapa berbicara tanpa berpikir dulu sebelumnya.


"Iyaa, tapi selama di rumah Mama, kita masih tetap satu kamar kan?" tanya Diko dengan senyum penuh arti.

__ADS_1


"Hmmm" gumam Riana mengiyakan.


Diko tersenyum lega, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa mendapatkan hati dan kepercayaan Riana lagi.


__ADS_2