Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 19


__ADS_3

"Hahh?!" ucap Riana kaget.


Sontak ia menarik tangannya dari genggaman Diko.


"Kamu becanda ya Mas?" tanyanya meyakinkan.


"Aku serius, aku beneran" jawab Diko penuh penekanan.


"Tapi kan.. Tapi kan kita baru aja kenal" jawab Riana dengan penuh kebingunan.


"Kenalannya bisa lanjut lagi setelah nikah" ucap Diko sambil tersenyum tak bersalah.


Riana masih tak habis pikir. Semua ini terlalu membuatnya kaget dan bingung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian di cubitnya pahanya, dan ternyata masih terasa sakit menandakan ini nyata bukanlah mimpi.


"Gimana Ri? Kamu mau ga nikah sama aku?" tanya Diko sekali lagi sambil memandang Riana lekat.


Riana memejamkan matanya pertanda sedang berpikir. Ia tak menyangka akan dilamar Diko seperti ini, disaat mereka baru saja memulai berkenalan lebih jauh.


"Mas, jujur ini terlalu mendadak buat aku. Aku bisa pahami mungkin kamu tipe yang tidak mau berlama-lama dan mau langsung serius. Tapi mohon maaf sebelumnya, bahkan kita baru sebatas berkenalan kan? Belum seperti PDKT, kemudian pacaran, atau apalah gitu proses yang biasanya dijalani orang sebelum menikah" jawab Riana jujur.


Diko berkata dalam hati bahwa sebenarnya ini semua bukan hanya mendadak untuk Riana, tapi sejujurnya juga untuk dirinya.

__ADS_1


Tapi ia tak mau Riana tahu jika sebenarnya ia sedang di kejar deadline menikah karena adiknya akan menikah 2 minggu lagi. Tapi dalam hatinya, terselip doa dan harapan bahwa Riana benar-benar orang yang tepat untuk dirinya dan untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.


Diko kembali menarik tangan Riana, di genggamnya erat dan tak ada perlawanan.


"Ri, kamu ada dekat dengan laki-laki yang lain?" tanya Diko sambil memandang fokus wajah Riana.


Riana menggeleng.


"Kamu menginginkan sebuah hubungan yang serius?" tanya Diko lagi.


Riana mengangguk.


"Kamu sudah dalam tahap siap menikah secara mental dan fisik?" tanya Diko terus.


"Kamu sudah punya keinginan dari dalam hati kamu untuk menikah?" tanya Diko lagi.


Riana kembali mengangguk.


"Ayo kita menikah" ucap Diko dengan mantap.


Ia mengeluarkan segala upayanya agar Riana tak menolaknya.

__ADS_1


"Mas, kamu beneran serius?" tanya Riana lagi meyakinkan.


"Aku sangat serius" jawab Diko.


Riana terlihat berfikir keras. Ia memang sudah ingin menikah, tapi bukannya mereka harus berpacaran dulu sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah? Tidak semendadak ini juga.


"Hmmm, Mas.. Aku boleh mikir dulu 1 hari? Aku kasih kamu jawabannya besok malam di kosanku jam 8" ucap Riana dengan tenang.


Diko mengangguk setuju sambil menyunggingkan senyum.


"Kalau kamu seandainya menerima lamaranku, aku ingin kita menikah secepatnya. Hari Rabu mungkin" ucapnya enteng.


"Hahh??! Hari Rabu?" ucap Riana sambil memijit kepalanya yang mendadak migrain gara-gara shocking teraphy yang diberikan oleh Diko padanya.


Diko mengangguk mantap.


"Empat hari lagi??" tanya Riana tak habis pikir.


"Iya, niat baik harus segera dilaksanakan Ri. Tidak boleh di tunda-tunda" jawab Diko beralasan.


"Aku percaya kamu bisa merasakan niat baikku Ri. Pacaran lama atau sebentar tidak menjamin kelanggengan hubungan pernikahan" ucapnya seperti yang dikatakan ayahnya.

__ADS_1


"Aku berharap semoga kamu bisa memikirkan ini dengan baik, dan menerima lamaranku. Aku yakin kita bisa membina rumah tangga yang baik walaupun belum lama kenal. Semoga kamu bisa mempertimbangkannya ya Ri. Aku sangat berharap" ucap Diko.


__ADS_2