
Riana merasa sudah sangat muak dan benci dengan hubungan rumah tangganya. Diko seperti tak ada ketegasan. Sebentar bisa seperti teman biasa, sebentar bisa baik dan perhatian, bahkan sudah dua kali ia marah dan memelototi Riana seperti tadi malam dan saat Riana pergi dari Rumah. Sepertinya Diko tak belajar dari kesalahan.
Riana berusaha menjaga sikap hanya karena ia sedang di rumah mertuanya. Ia tak berani bersuara keras bahkan membalas ucapan suaminya tadi malam. Hingga pagi ini ia pun masih berusaha terlihat baik-baik saja di depan semuanya, walaupun padahal hatinya sudah hancur lebur.
Ia mengemudikan mobilnya sambil melepaskan rasa amarahnya. Ia sengaja mencari alasan untuk bisa pergi pagi ini, karena melihat Diko saja rasanya ia malas.
Teringat olehnya perlakuan Diko tadi malam padanya. Riana benar-benar marah dan malu. Ia seolah-olah menuntut nafkah bathin dari Diko. Padahal yang sesungguhnya ia inginkan adalah kasih sayang seorang suami.
Ia ingin seperti istri lain yang bisa merasakan rasa sayang suami padanya. Ia tidak pernah sekedar merasakan ciuman di kening dari suaminya kecuali saat selesai akad nikah. Setelah selesai acara pernikahan, sikap Diko pun berubah. Hanya seperti sebatas teman, tidak lebih.
Ini bukanlah pernikahan yang Riana idam-idamkan. Sakit hatinya mengetahui Diko tak mencintainya. Nyeri jika mengingat Diko menikahinya hanya karena keadaan yang memaksa. Seandainya Riana tahu semua ini dari awal, mungkin ia lebih memilih untuk tidak menerima lamaran Diko pada waktu itu.
"Hhhrgth" teriak Riana sambil memukul stir mobilnya.
"Jahat kamu Mas Diko!! Ga punya hati kamu Mas!!" pekiknya dengan air mata yang mulai keluar.
"Seenaknya kamu mainin perasaan aku!!" teriaknya terus sambil meraung.
Riana melepaskan segala rasa kecewa dan emosinya yang terpendam semalam dengan meracau sesuka hatinya.
...***...
Sementara itu di rumah Diko..
__ADS_1
'tok tok tok'
Terdengar suara ketukan di kamar Diko.
Kemudian terlihat Tia masuk ke dalam kamar dan berbasa-basi sedikit.
"Lagi sibuk ya Mas?" tanyanya sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Ga kok, ada apa?" ucap Diko sambil menutup laptopnya karena pekerjaannya baru saja selesai.
"Hmm, maaf ya Mas sebelumnya" ucap Tia berhati-hati.
"Hmmm, Mas dan Mbak Riana lagi berantem?" tanya Tia to the point.
Diko hanya mengeryitkan dahitnya tanpa menjawab.
Lagi-lagi Diko tak menjawab. Ia hanya menghela nafas panjang kemudian tatapannya menerawang ke dinding kamar.
"Kamu ga cinta ya Mas sama Mbak Riana?" tanya Tia tanpa basa-basi.
"Siapa bilang?" ucap Diko mengelak.
"Mas, coba kita inget-inget lagi, semua ini tuh seperti udah diatur Tuhan untuk kita semua Mas" ucap Tia.
__ADS_1
"Hari itu, tiba-tiba Mas Reza ngasih kabar ke aku dia harus pindah lebih cepat dan otomatis jadwal nikah harus dilaksanakan lebih cepat, terus Mas Diko ga di kasih ijin sama Papa untuk dilangkahin sama aku, Terus akhirnya Mas Diko nikah, terus aku nikah, kemudian Papa meninggal" lanjut Tia.
"Coba kamu bayangin kalau aku jadi nikah bulan depan Mas, kamu juga pasti bakal ngulur-ngulur waktu buat nikah. Terus Papa udah ga ada, Papa ga bisa hadir di hari bahagia kita Mas" lanjut Tia lagi.
Ada air mata yang menetes dari sudut mata Diko.
"At least saat ini kita udah bahagiain Papa sebelum Dia meninggal dengan ngeliat dua anaknya udah nikah" ucap Tia sambil menahan rasa sedih.
"Dan Papa juga yang ngenalin kamu dengan Mbak Riana, Mas, pasti kebahagiaan Papa saat itu dua kali lipat karena kamu menikah dengan wanita pilihannya"
"Masa sekarang kamu mau sia-siain apa yang udah Papa pilihkan buat kamu" lanjut Tia mencoba membuka pikiran Diko.
'deg'
Terasa dentuman seperti degub yang cukup keras di dadanya mendengar kata-kata adiknya barusan.
"Percayalah Mas, Mbak Riana adalah orang yang tepat buat kamu. Buang semua ego yang membisiki hal-hal tidak jelas yang kamu takutkan" jelas Tia sambil menggenggam erat tangan Diko.
"Perlakukan Mbak Riana sebagaimana mestinya ya Mas, aku mohon. Kamu harus mulai menyadari bahwa sekarang kamu bukan lagi sendiri, kamu punya istri. Cobalah terbuka sama Mbak Riana, ceritakan apapun bahkan hal receh sekalipun yang sedang kamu rasakan" lanjut Tia.
Diko mulai tertunduk menyadari segalanya.
"Dengan seorang teman saja, kita harus terbuka, bisa cerita apapun, berbagi perasaan senang dan sedih. Apalagi dengan seorang istri Mas. Harusnya lebih dari itu" ucap Tia yang mengetahui hati Diko yang mulai di gelayuti penyesalan.
__ADS_1
Tia berdiri mengambil kunci mobil Diko yang ada di atas nakas. Kemudian di letakkannya di atas tangan Diko.
"Pergilah Mas, selesaikan semuanya" ucap Tia sambil menatap Diko penuh keyakinan.