
Mumpung hari libur, Diko dan Riana berencana untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. Riana sudah menyiapkan kue spesial buatannya untuk sang mertua.
Sejak tadi malam ia berkutat di dapur hanya untuk membuat kue tersebut. Diko makin kagum pada istrinya itu, walaupun belum mahir membuat kue tapi Riana berusaha untuk belajar.
Berbekal video tutorial dari youtube yang berulang kali di putarnya, akhirnya ia pun mencoba peruntungannya dalam membuat sebuah sponge cake pandan kesukaan ibu mertuanya.
Jarak antara rumah Diko dan rumah orang tuanya hanya berkisar 20 menit jika jalanan sepi dan lancar.
Namun belum setengah perjalanan, Riana minta berhenti pada Diko.
"Mas, aku kebelet pipis nih. Bisa berhenti dimana dulu kek" ucapnya sedikit panik.
"Kamu kenapa ga pipis di rumah tadi??" tanya Diko.
"Tadi belum terasa, ini sekarang udah kebelet banget Mas" rengeknya sambil mengapit kedua pahanya.
"Iya tunggu tunggu, aku liat dulu ini dimana bisa berhenti" jawab Diko sambil memelankan laju mobilnya.
__ADS_1
"Yaudah di sini aja, itu ada cafe tuh. Sekalian aku beli kopi deh, kamu langsung aja ke toilet" ucap Diko sambil mematikan mesin mobilnya kemudian keluar menyusul Riana yang sudah ngacir duluan.
Sesampainya di dalam, Diko pun langsung memesan dua caramel latte. Namun belum selesai memesan, ponselnya berdering.
"Iya Ri, kenapa?" tanya Diko yang heran Riana meneleponnya dari toilet.
"Mas, kamu kesini deh. Cepetan ya, penting" jawab Riana kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Diko bingung ada apa sebenarnya.
"Mas, tunggu dulu ya. Nanti saya kesini lagi" ucapnya pada karyawan cafe tersebut yang sedang menunggu pesanan dari Diko.
"Ri" panggilnya.
"Mas, aku di sini" jawab Riana dari balik toilet wanita.
"Ada apa?" tanya Diko penasaran.
__ADS_1
"Sini dulu agak deket ke pintu" ucap Riana agar Diko mendekat.
"Udah ini, udah nempel di pintu. Ada apa??" ucap Diko makin penasaran.
"Mas, aku dapet" ucap Riana pelan.
"Hah?? Dapet apaan?" tanya Diko heran.
"Ya dapet, haid gitu maksudnya. Mana hampir tembus ke celana. Tolong beliin pembalut ke mini market deket sini dong Mas, please" ucap Riana setengah merengek.
"Ya ampuun Ri, terus gimana belinya? Aku belum pernah beli gituan seumur hidup" ucap Diko yang gantian panik.
"Yaudah kamu pilih aja salah satu di rak pembalut itu. Please. Emangnya kamu mau kalau nanti sampai tembus ke kursi mobil?" ujar Riana merayu.
"Yaudah yaudah, kamu tunggu di sini dulu ya. Aku beliin dulu sebentar" ucap Diko sambil pergi keluar cafe kemudian berjalan beberapa meter ke mini market yang beruntungnya tidak terlalu jauh dari cafe tersebut.
Sesampainya didalam mini market tersebut, Diko menjelajah rak satu persatu untuk mencari dimanakah pembalut wanita itu berada.
__ADS_1
Dan akhirnya ia mendapatkan rak yang dimaksud. Ditelusurinya satu persatu pembalut yang ada di situ. Dilihatnya bermacam-macam, ada yang berwarna hijau, oranye, biru, merah muda, bahkan ungu. Ada yang berukuran 23cm hingga 40cm.
Diko menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena bingung yang manakah yang seharusnya ia beli. Akhirnya ia ambil warna sesuai dengan kesukaannya yaitu biru, dan ukuran yang ditengah-tengah, tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Dengan yakin ia ambil dan langsung dibawanya ke kasir.