
Sejak tadi Riana masih gelisah, menunggu Diko yang tak kunjung pulang. Jika kalau bukan karena di paksa Bi Yum, mungkin nasi pun tak tertelan di tenggorokannya.
Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi tak ada tanda-tanda kepulangan Diko.
Sudah ratusan kali ia mengintip keluar saat ada suara mobil lewat, tapi tak terlihat mobil Diko yang masuk ke halaman rumah, melainkan hanya mobil tetangga ataupun mobil yang kebetulan lewat saja.
"Bu" panggil Bi Yum dari luar.
"Iyaa Bi" jawab Riana.
Bi Yum masuk ke dalam kamar melihat Riana yang sedang duduk di pinggir tempat tidur.
"Sebaiknya Ibu istirahat" ucap Bi Yum khawatir.
"Saya nunggu Mas Diko pulang dulu Bi, saya ga tenang" jawab Riana.
Bi Yum hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi ia juga mengkhawatirkan Diko, tapi di sisi lain ia juga harus menenangkan Riana.
"Aku ke toilet dulu ya Bi" ucap Riana sambil bangkit dan masuk ke toilet.
Bi Yum pun keluar dari kamar.
Saat beberapa saat di dalam toilet, Riana mendengar seseorang masuk ke dalam kamar.
'Bi Yum ngapain lagi ya?' tanyanya dalam hati.
__ADS_1
'Eh tapi, jangan-jangan Mas Diko' bathinnya.
Riana langsung buru-buru bergegas keliar dari toilet, dan ia melihat Diko sedang terduduk di pinggir tempat tidur dengan muka yang di tekuk ke bawah.
"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Riana pelan sambil berjalan mendekat ke arak Diko.
"Iya" jawab Diko singkat.
Riana duduk di samping Diko dengan hati-hati.
"Kamu sudah makan?" tanya Riana.
Diko mengangguk.
"Kamu dari mana saja mas kenapa jam segini baru pulang?" tanya Riana lagi.
"Kamu tidak menemuinya?" tanya Riana penasaran.
Diko menggeleng.
"Kamu benar, mungkin tidak harus dengan cara seperti itu untuk menyelesaikan ini semua" jawab Diko yang membuat hati Riana begitu lega.
"Terus, kamu kemana saja sampai selarut ini? Aku khawatir Mas" ucap Riana sembari menggenggam tangan suaminya.
"Di pertengahan jalan, aku berubah pikiran, aku telepon Joe. Aku ajak dia bertemu. Aku butuh teman sesama laki-laki untuk bercerita" jawab Diko.
__ADS_1
"Kenapa kamu ga angkat telepon aku?" tanya Riana.
Diko tak bisa menjawab, ia hanya diam. Ia tahu ia salah karena telah mengabaikan telepon istrinya yang pastinya khawatir akan dirinya.
"Kita selesaikan ini bersama ya Mas" ucap Riana pelan.
Diko mengangguk. Ia terlihat berbeda dari Diko yang begitu sangar dan penuh emosi tadi. Kini ia terlihat lebih tenang.
"Kita bicarakan ini besok lagi ya, kamu mau makan lagi? Mau aku panaskan lauknya?" tanya Riana.
Diko menggeleng.
"Ga, aku masih kenyang" jawabnya.
"Yaudah kamu bersih-bersih dulu ya, abis itu kita istirahat" bujuk Riana agar Diko mau beranjak ke kamar mandi.
Diko kemudian bangkit dan hendak ke kamat mandi. Namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.
"Maafin aku ya sayang, tidak seharusnya aku bersikap seperti tadi. Seharusnya aku bisa memikirkan semua ini dengan kepala dingin" ucap Diko.
Riana langsung bangkit dan memeluk Diko erat.
Ia mengangguk, air matanya spontan mengalir.
"Maafkan aku" ucap Diko lirih.
__ADS_1
Riana hanya bisa mengangguk, ia sedang tak bisa berkata-kata.