
"Ayo sarapan dulu Dik," ajak Bu Hesti pada anaknya yang baru keluar kamar.
"Mama buat sarapan apa hari ini?" tanyanya pada sang Mama.
"Mama buat nasi goreng sosis. Ayo sini makan dulu biar semangat kerjanya" ucap Bu Hesti sambil melambaikan tangannya pada Diko yang sedang memakai jam tangannya.
"Iya Ma, Papa mana Ma? Udah sarapan?" tanyanya sambil celingak celinguk mencari keberadaan papanya yang biasanya pagi-pagi sudah nongkrong di meja makan untuk sarapan dan membaca koran.
"Tuuh," ucap Bu Hesti sambil menunjuk ke arah pintu kamar mandi. Terlihat Pak Ridwan baru keluar dari kamar mandi sehabis buang air kecil.
.
"Ada apa cari-cari Papa?" tanya papanya yang mendengar namanya disebut-sebut.
"Ga apa-apa Pa. Aku kirain papa udah berangkat kerja," jawab Diko sambil menyendok nasi goreng buatan Mamanya ke dalam piring.
"Belum lah, kepagian kalau Papa berangkat jam segini" jawab Pak Ridwan yang kemudian menyeruput teh buatan istrinya.
__ADS_1
"Oh iya, bagaimana kamu dengan Riana? Ada perkembangan?" tanya Pak Ridwan lagi.
Diko terlihat lemas mendengar pertanyaan Papanya. Ia pasti kena omelan pagi ini karena belum ada progres sama sekali dalam perkenalannya dengan Riana.
"Hmmm, belum Pa. Aku masih sibuk Pa, ada beberapa project yang dikejar deadline soalnya" ucap Diko beralasan.
"Memangnya di sela-sela pekerjaan kamu ga bisa meluangkan waktu sebentar hanya untuk mengetik chat di handphone kamu?" tanya Pak Ridwan dengan sedikit kesal.
"Iya aku ga konsentrasi Pa kalau sambil chat-chat gitu" jawabnya dengan alasan lain.
"Kamu mesti ingat, Tia itu bulan depan kalau bisa harus sudah menikah. Dan Papa ga akan mengizinkan Tia menikah kalau kamu dilangkahi. Pamali kalau di keluarga kita." ujar Pak Ridwan yang semakin kesal.
"Iya Pa, iyaa. Diko pasti serius cari jodoh, tapi tunggu dulu project ini kelar biar konsentrasi ya" jawabnya agar Papanya tidak marah.
"Ah perasaan dari tahun lalu papa udah dengar alasan itu. Tapi buktinya sampai sekarang kamu belum juga mau serius" jawab Papanya yang bosan mendengar alasan-alasan Diko.
"Pokoknya, segera kamu hubungi Riana. Tingkatkan progres perkenalan kalian. Jangan buat Papa ga enak sama Riana" lanjut Pak Ridwan.
__ADS_1
"Iya Pa, iyaaa" jawab Diko sambil menyambar kunci mobilnya.
Ia pun berpamitan pada Papa dan Mamanya dam segera berangkat. Karena kalau ia berlama-lama sarapan, bisa-bisa ia kena omel panjang lebar oleh Papanya.
Di jalan menuju kantornya Dikopun melamun memikirkan perkataan Papanya.
Diko kasihan pada Tia, adiknya, yang bisa-bisa batal nikah gara-gara dirinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kesedihan yang akan dialami oleh Tia.
Tia berencana menikah dengan Reza, seorang tentara angkatan darat yang akan dipindahtugaskan ke Sulawesi mulai bulan depan. Oleh karena itu Reza dan Tia berencana mereka akan menikah sebelum Reza pindah. Tapi niat mereka tersebut terhalang karena Diko belum memiliki calon istri.
"Duh, siapa coba yang bersedia gue nikahin sebelum bulan depan?" tanyanya pada diri sendiri.
"Lagian emangnya nikah itu gampang apa? Kalau ga cocok ntar gimana? Cerai?" omelnya sepanjang jalan
...Diko, 30th...
__ADS_1
...Riana, 27th...