Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 96


__ADS_3

"Kamu dari mana?" tanya Diko saat Riana masuk ke dalam kamar.


"Dari bawah, abis ketemu Mey sama Bu Devi. Kamu udah mandi?" ucap Riana kemudian.


"Udah tadi. Terus mereka udah pulang?" tanya Diko.


"Udah" jawab Riana sambil memperhatikan Diko yang sedang fokus dengan ponselnya.


"Hmm, Mas" panggilnya sambil duduk di pinggir tempat tidur.


"Hmmm" sahut Diko yang masih saja fokus ke layar ponsel.


"Kamu lagi sibuk?" tanya Riana basa-basi.


Diko langsung meletakkan ponselnya ke atas nakas yang berada di sampingnya.

__ADS_1


"Ada apa sih sayang?" tanya Diko sambil beringsut ke arah Riana lalu memeluk istrinya itu dari belakang.


"Hmmm, gini" ucapnya memulai.


"Ternyata bulan depan Mey nikah sama Mas Heru, dan dia resign dari kantor" ujar Riana.


"Terus tadi Bu Devi menawarkan aku untuk balik lagi ke kantor dan menggantikan posisi Mey karena dia rasa aku sudah paham dalam masalah keuangan di kantor. Terus Bu Devi kasih aku waktu dua hari untuk memutuskan, kalau memang aku tidak bersedia barulah nanti lowongannya akan dibuka dan di share" lanjutnya menjelaskan.


"Menurut kamu gimana Mas?" tanya Riana pada suaminya.


"Kamu sendiri gimana?" tanya Diko balik.


"Yaaah kok balik tanya sih? Aku mau minta pendapat suami aku" jawab Riana cepat.


"Kalau aku sih selama kamu benar-benar bisa bertanggung jawab dengan keputusan kamu aku akan support. Ketika kamu memutuskan kembali kerja, berarti kamu sudah harus bisa terima keadaan yang kamu hadapi akan seperti dulu saat kamu bekerja. Membagi waktu dengan karir dan rumah tangga. Begitu juga sebaliknya, kalau kamu nanti memilih untuk tidak menerima dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga, kamu juga harus siap dengan keadaannya" jelas Diko yag mencoba memberi pandangan pada istrinya.

__ADS_1


"Dalam artian kamu harus bisa bener-bener nerima keadaan. Aku ga mau kalau kamu nanti bekerja, terus kamu ngeluh capek, ga bisa ini ga bisa itu padahal kamu sudah tahu keadaan itu memang akan kamu hadapi kalau bekerja. Begitu juga kalau kamu memutuskan di rumah, apalagi kita nanti bakal pindah, aku juga ga mau nanti kamu stress karena suntuk, ngerasa ga ada kegiatan, karena biasa beraktifitas. Terutama kondisi psikologis kamu, aku ga mau keputusan yang salah akan bikin kondisi kamu jadi lebih buruk" lanjut Diko.


"Coba kamu dalami dulu diri kamu yang sekarang, bukan yang dulu. Pikirkan mana yang membuat kamu lebih happy, lakukan yang itu. Jangan pikirkan aku, pikirkan kamu. Kalau kamu happy, aku juga pasti happy" lanjut Diko lagi.


Riana terdiam.


Ia mencoba menyelami kata-kata suaminya. Ia mulai menimbang-nimbang apakah ia siap jika kembali bekerja, bertemu dengan orang banyak. Bagaimana jika paranoidnya kambuh saat di kantor? Pasti akan membuat susah banyak orang.


Tapi kalau dirinya begini terus, mau sampai kapan? Semakin di rumah, semakin lama untuk move on dari kondisinya saat ini. Sungguh membuatnya bingung.


Riana masih termenung memikirkannya.


"Kan masih ada waktu, kamu pikir-pikir dulu aja ya sayang. Apapun keputusan kamu, aku akan dukung yang penting kamu happy dan bisa bertanggung jawab atas pilihan kamu" ucap Diko.


"Iyaa Mas" jawab Riana kemudian mencium pipi suaminya dan berdiri.

__ADS_1


"Aku ke bawah dulu ya, kayaknya Mama udah pulang" ucapnya kemudian menghilang di balik pintu.


__ADS_2