Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 60


__ADS_3

Setelah 7 hari kepergian ayahnya, Diko dan Riana kembali pulang ke rumah mereka. Mau tidak mau mereka harus kembali pulang.


Tia mengundur keberangkatan untuk ikut dengan suaminya, suami Tia sudah berangkat duluan beberapa hari yang lalu.


Diko dan Riana pun berjanji untuk sering-sering menginap. Bu Hesti pun berniat untuk sesekali menginap di rumah Diko dan Riana untuk sekedar ganti suasana.


Tampak wajah murung Diko sejak berpamitan dengan ibunya tadi. Riana paham Diko masih tak tega untuk pulang dan meninggalkan ibunya.


"Kamu mau kita tinggal di rumah mama lebih lama?" tanya Riana pada Diko yang sedang fokus menyetir.


"Kenapa kamu nanya begitu?" tanya Diko balik.


"Hmmm, ga apa-apa. Aku tahu kamu ga tega tadi" jawabnya.


Diko terdiam sejenak,


"Sejujurnya iya. Tapi aku lumayan tenang karena ada Tia. Mungkin nanti kalau Tia sudah berangkat, gantian aku yang jaga mama" jawan Diko kemudian menghela nafas berat pertanda perasaannya sedang tidak begitu baik.


Riana mengangguk mendengar jawaban Diko.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Diko mengangkat barang bawaan mereka dan meletakkannya di kamar. Karena lelah dan ingin berbaring sejenak, ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


Namun tiba-tiba Riana datang.


"Hey, kamu kenapa tidur di sini? Bukannya kita sudah sepakat untuk pisah kamar sampai aku bisa memaafkan kamu?" ucap Riana sambil bertolak pinggang.


Diko langsung bangkit dan tersadar.


"Ri, kamu serius ini kita pisah kamar?" tanya Diko.


"Lha kan ini juga idenya kamu. Gimana sih" jawab Riana.


"Kalau ga mau, aku pulang ke kosan lagi nih" ancamnya.


"Kan bisa di kamar tamu, di ruang kerja, di ruang TV atau di mana kek. Lha waktu itu aja kamu mau kok tidur di ruang kerja, padahal cuma ada sofa" sindir Riana.


"Udah ga usah bahas-bahas itu lagi. Iya aku tidur di kamar tamu" ucap Diko sambil tertunduk melangkah keluar.


Riana kemudian menutup pintu kamarnya dan beristirahat.

__ADS_1


Sebenarnya ia kasihan dengan Diko. Tapi sejujurnya ia masih sakit hati karena apa yang telah Diko lakukan padanya. Ia mau melihat kesungguhan Diko padanya. Diko benar-benar harus belajar menghargai dirinya.


Seketika rasa kantuk melanda Riana saat itu. Mungkin efek kekenyangan setelah makan di rumah ibu mertuanya sebelum pulang tadi. Ia pun mengambil posisi di atas kasur kemudian tertidur.


Saking lelahnya ia tak sadar hari sudah gelap. Kalau saja tak ada ketukan pintu, mungkin ia masih saja terlelap.


Riana terperanjat mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Dilihatnya jam dinding, ternyata sudah jam setengah delapan malam.


"Astaga!" ucapnya sambil mengucek matanya yang masih berat.


Buru-buru ia turun dari tempat tidur kemudian membukakan pintu. Kemudian terlihat Diko sedang berdiri di sana.


"Lapeer" ucapnya seperti anak balita yang merengek pada orang tuanya.


Tanpa sepatah katapun, Riana langsung pergi meninggalkan Diko yang masih berdiri di sana, kemudian menuju dapur.


Dibukanya kulkas, diambilnya beberapa bahan lalu langsung beraksi memasak.


Dari ruang TV, Diko memperhatikan Riana yang sedang berada di dapur.

__ADS_1


"Walaupun irit bicara, yang penting ada di rumah ga kabur-kabur lagi" bathinnya dalam hati sambil tersenyum.


Diko mencoba memahami sikap Riana saat ini. Diko pun sadar atas kesalahan yang ia perbuat, sudah sepantasnya ia menerima semua konsekuensinya.


__ADS_2