Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 107


__ADS_3

Sepanjang perjalanan ke kantor polisi Diko dan Riana tenggelam dalam keheningan. Masing-masing berkutat dengan pikirannya sendiri.


Diko mencoba fokus dengan stir dan jalanan di balik emosinya yang rasanya sudah sampai ke ubun-ubun. Sedangkan Riana sedang berusaha mengontrol dirinya agar tetap tenang, ia juga mempersiapkan dirinya agar kuat ketika nanti berhadapan langsung dengan Devi.


Diko menoleh ke arah istrinya, kemudian dibawanya tangan Riana ke dadanya. Digenggam dan didekapnya. Walaupun ia sedang tak sanggup berkata-kata, setidaknya ia ingin Riana tahu bahwa ia akan selalu melindungi istrinya itu.


"Sejak kapan kamu selidiki ini?" tanya Riana tiba-tiba.


"Hmm, sejak kepolisian tidak melanjutkan kasus ini lagi, hanya stop sampai pelaku saja. Mereka tidak mencari lebih lanjut dalang di balik semua itu" jawab Diko menjelaskan. Ia merasa saat ini sudah tak ada lagi yang perlu ia tutupi dari Riana.


"Aku baru saja ingin menutup semua kepahitan itu. Tapi sekarang harus dihadapkan dengan kenyataan ini" ucap Riana.


"Rasanya semua seperti mimpi buruk dimana aku ingin bangun dan semuanya kembali seperti semula" lanjutnya sambil menerawang.


Diko tak tahu harus menjawab apa, ia hanya bisa mengelus tangan istrinya itu untuk menguatkan. Karena perasaannya kini campur aduk, antara lega, emosi, dan takut jika akhirnya Riana membenci dirinya karena hal ini.

__ADS_1


Sesampainya di kantor polisi, Ferdy dan tim kuasa hukum untuk kasus ini langsung menyambut mereka.


"Makasih banget kalian semua udah gerak cepat dan mengurus ini semua dengan maksimal" ucap Diko penuh rasa terima kasih.


"Sudah tugas kita Dik. Sesuai dengan permintaan kamu, pelaku sudah di amankan dan berada di dalam" jawab Ferdy.


Mereka langsung mengantarkan Diko dan Riana ke dalam. Ternyata Devi masih dalam tahap pemeriksaan oleh yang berwajib.


Riana dan Diko juga di periksa untuk kesaksiannya. Walaupun selama proses tersebut Riana berulang kali hampir lagi lagi terkena serangan paranoidnya. Namun karena tekadnya yang kuat, ia selalu berusaha melawan dan Diko selalu mencoba menenangkannya.


Setelah sekitar dua jam menyelesaikan pemeriksaan, akhirnya mereka selesai dan langsung dibawa ke sebuah ruangan dengan dinding kaca transparant yang terlihat dari luar.


Di sana terlihat ada dua orang polisi laki-laki, kemudian terlihat Devi duduk di sebuah kursi dengan tangan terborgol. Ketika memasuki ruangan itu hati Riana semakin tak karuan. Namun ia percaya bahwa ia kuat dan bisa melewati semua ini. Ia juga mensugesti bahwa dirinya harus bisa tenang.


Melihat wajah Devi dari kejauhan sudah membuat hati Diko mendidih. Bertahun-tahun tak pernah saling bertemu, ketika bertemu saat ini ingin rasanya ia membunuh wanita itu.

__ADS_1


Diko dan Riana duduk berhadapan dengan Devi, hanya berbataskan sebuah meja. Riana memandang wajah Devi yang sedikit tertunduk. Devi tetap dalam keanggunannya walaupun sedang dalam kondisi terpuruk seperti ini. Tak heran banyak lelaki yang tergila-gila padanya. Namun memang sampai saat ini ia dikabarkan belum juga menikah, padahal karirnya cukup bagus.


Yang biasanya Riana selalu hormat dan respect tiap bertemu dengannya, tapi kali ini ia tak lagi punya perasaan tersebut. Kini yang ada hanya perasaan kecewa dan marah namun terselip sedikit rasa tidak percaya dan berharap ini semua adalah sebuah kesalahan.


Tanpa bisa menahan emosinya, Diko yang baru saja duduk langsung memaki Devi dengan bentakannya.


"Brengsek kamu!! Apa maksudmu merencanakan semua ini?Hah?!" bentak Diko dengan keras.


Devi masih terdiam tanpa sepatah katapun. Ia masih sedikit tertunduk seolah tak sanggup menatap keduanya.


"Jangan diam saja kamu!! Jawab!!" ucap Diko tak kalah keras sambil maju mencengkram rahang Devi.


"Lepaskan!!" teriak Devi kesakitan.


Beruntungnya Riana dan polisi langsung menenangkan Diko serta meminta untuk tak memakai kekerasan fisik.

__ADS_1


__ADS_2