
Mereka makan malam berdua dengan suasana sunyi senyap seperti tak ada orang.
"Ri.." panggil Diko pelan.
"Hmm" jawab Riana.
"Mulai besok, kita pergi kerjanya bareng aja ya. Kamu ga usah bawa mobil" ucap Diko menawarkan sambil mencari celah.
"Ga usah. Aku sendiri aja, nanti kamu telat kalau harus ngantar aku dulu" jawabnya ketus.
"Ga kok, emang siapa yang mau marah kalau aku telat?" tanya Diko.
"Oh iya lupa, kamu kan BOSSnya" ucap Riana dengan memberikan penekanaan intonasi.
"Bukan gitu Ri maksudku" ucap Diko tak enak hati, ia bukan bermaksud pamer.
Tapi kan memang benar, ia adalah boss di kantornya sendiri. Diko hanya bisa menggaruk-garuk dahinya yang tak gatal.
"Kamu mau kan kalau mulai besok berangkat kerjanya sama aku? Sebagai suami, aku kan juga pengen nganterin istriku" ujar Diko.
'Kemarin-kemarin kemana ajaa?!" tanya Riana dalam hati.
Riana tahu Diko sedang berusaha mendapatkan hatinya kembali. Ia hargai itu sebagai usaha Diko memperbaiki sikapnya sebagai seorang suami.
__ADS_1
Riana mengangguk pelan menyetujui penawaran Diko.
Diko pun tersenyum puas.
Setelah selesai makan, Riana masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Sejak pulang tadi ia belum ada bersih-bersih.
Diko mengetuk pintu kamar namun tak ada jawaban. Ia kemudian masuk dan menuju ke arah lemari.
Di saat ia asik memilih baju, tiba-tiba Riana keluar dari kamar mandi.
"Ngapain kamu Mas?" tanya Riana kaget.
"Kan aku udah bilang kita kamu jangan tidur di sini" lanjutnya.
Riana terdiam kemudian membiarkan Diko sibuk dengan baju-bajunya.
Riana langsung menuju tempat tidur kemudian berbaring.
"Kalau udah selesai, tutup lagi lemarinya. Jangan lupa tutup pintu kamarnya juga" ucap Riana kemudian membalikkan badan membelakangi Diko.
Diko merasa benar-benar di hukum oleh Riana kali ini. Bagaimana tidak? Padahal ini rumahnya, tapi ia harus mengalah mengikuti semua kemauan Riana.
Setelah mendengar suara pintu lemari yang di tutup, kemudian di susul dengan suara pintu kamar. Riana pun bernafas lega bahwa Diko sudah keluar.
__ADS_1
Ia pun membalikkan badan untuk memastikan. Namun tiba-tiba ia kaget bukan kepalang melihat Diko terbaring di sampingnya sambil tersenyum tak bersalah.
"Mas, apa-apaan kamu! Kenapa di sini?" tanya Riana kesal.
"Lho, kan aku cuma ikutin perintah kamu" jawab Diko dengan pura-pura polos.
"Perintah aku gimana?" tanya Riana kebingungan.
"Lha, tadi kan kamu nyuruh aku nutup pintu lemari, terus jangan lupa tutup pintu kamar. Nah, udah aku tutup tuh" jawab Diko sambil menunjuk arah pintu yang di maksud Riana.
"Kamu kan ga ada bilang aku nutup pintu kamarnya dari luar atau dari dalam. Nah aku maunya dari dalam" lanjutnya sambil memeluk guling dan memejamkan mata.
"Mas Dikooo!!" teriak Riana sambil memukulkan guling ke arah suaminya itu.
Diko tertawa terpingkal-pingkal melihat Riana yang sedang kesal.
"Iya iyaaa, aku keluar" ucapnya sambil berdiri dan hendak keluar.
Sampai di pintu kamar, Diko menghentikan langkahnya.
"Selamat malam istriku" ucapnya pada Riana yang masih memasang wajah galak. Kemudian Diko pun berlalu.
Setelah memastikan Diko telah keluar dan menutup pintunya dengan benar, Riana tersenyum senang. Walaupun masih marah, jujur sebagai wanita ia bahagia melihat tingkah suaminya itu.
__ADS_1